Lima Tingkatan Kemuliaan bagi Orang yang Senantiasa Bersama Al-Qur’an
Lima Tingkatan Kemuliaan bagi Orang yang Senantiasa Bersama Al-Qur’an
☷ Daftar Isi Artikel
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, cahaya bagi orang-orang beriman, penyembuh bagi penyakit hati, dan sumber kebahagiaan di dunia serta akhirat. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.
Amma ba‘du.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca dan dihafalkan, melainkan wahyu Allah yang menjadi pedoman hidup, sumber ilmu, pembinaan akhlak, dan jalan menuju kemuliaan.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Isrā’: 9)
Allah juga berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Ṣād: 29)
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa hubungan seorang muslim dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada bacaan, tetapi juga mencakup pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.
Semakin erat hubungan seorang hamba dengan Al-Qur’an melalui ilmu, tilawah, hafalan, tadabur, dan amal, semakin besar pula peluangnya memperoleh keutamaan yang dijanjikan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Berbagai hadis Nabi ﷺ menjelaskan kemuliaan orang-orang yang senantiasa bersama Al-Qur’an (ṣāḥibul-Qur’ān). Keutamaan tersebut dapat dihimpun dalam lima tingkatan pembahasan: menjadi manusia terbaik, termasuk golongan istimewa di sisi Allah, memperoleh kebersamaan dengan para malaikat yang mulia, mendapatkan ketinggian derajat di akhirat, dan memperoleh syafaat pada hari Kiamat.
Pembagian ini merupakan susunan tematik untuk memudahkan pemahaman, bukan urutan baku yang ditetapkan secara khusus dalam satu nas.
Pertama: Tingkatan Menjadi Manusia Terbaik مرتبة الخيرية
Kemuliaan pertama yang disebutkan dalam pembahasan ini adalah memperoleh predikat sebagai manusia terbaik karena mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Akan tetapi, jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya.”
(QS. Āli ‘Imrān: 79)
Ayat ini menghubungkan kedudukan sebagai seorang rabbānī dengan kegiatan mengajarkan dan mempelajari Kitab Allah. Ilmu yang benar tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melahirkan ketakwaan dan membimbing manusia menuju ketaatan.
Dalil dari Sunnah
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Takhrij: Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya, no. 5027, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān, Bāb Khairukum Man Ta‘allama al-Qur’ān wa ‘Allamahu. Hadis ini sahih.
Keutamaan dalam hadis tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga mencakup usaha memahami petunjuk Al-Qur’an, mengamalkannya, dan menyampaikan ilmunya kepada orang lain.
Hal ini diperkuat oleh hadis dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ.
“Tidakkah salah seorang di antara kalian pergi ke masjid, lalu mempelajari atau membaca dua ayat dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla? Itu lebih baik baginya daripada dua ekor unta. Tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta, dan demikian pula seterusnya sesuai jumlah ayatnya.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 803, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā. Hadis sahih.
Hadis ini menunjukkan bahwa mempelajari Al-Qur’an memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada kekayaan duniawi yang sangat berharga.
Penjelasan Ulama
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:
فَخِيَارُ الْمُسْلِمِينَ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ تَعَلُّمًا وَتَعْلِيمًا وَعَمَلًا وَدَعْوَةً وَتَوْجِيهًا.
“Kaum muslimin yang terbaik adalah Ahlul-Qur’an, baik dalam mempelajari, mengajarkan, mengamalkan, mendakwahkan, maupun memberikan bimbingan dengannya.”
Beliau juga menegaskan bahwa tujuan ilmu dan pembelajaran adalah pengamalan. Oleh karena itu, orang terbaik adalah yang mempelajari Al-Qur’an, mengamalkannya, kemudian mengajarkannya kepada manusia.
Dengan demikian, predikat manusia terbaik bukan semata-mata diperoleh melalui banyaknya hafalan atau luasnya pengetahuan, melainkan melalui perpaduan antara ilmu, amal, dan pengajaran.
Kedua: Tingkatan Menjadi Golongan Istimewa di Sisi Allah مرتبة الأهلية والاختصاص
Kemuliaan berikutnya adalah memperoleh kedudukan sebagai Ahlul-Qur’an, yaitu golongan yang mendapatkan kehormatan khusus karena kedekatannya dengan Kitab Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.”
(QS. Fāṭir: 32)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan pewarisan kitab suci. Namun, kelanjutan ayat tersebut juga menjelaskan bahwa orang-orang yang menerima warisan kitab tidak semuanya berada pada tingkatan pengamalan yang sama. Di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.
Karena itu, kemuliaan menerima Al-Qur’an harus disertai kesungguhan untuk mengamalkannya.
Dalil dari Sunnah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ.
Para sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟
Beliau menjawab:
هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ.
“Sesungguhnya Allah memiliki golongan istimewa di antara manusia.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?”
Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul-Qur’an, golongan Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
Takhrij: HR. Ibnu Majah, no. 215, dalam Al-Muqaddimah, Bāb Faḍl Man Ta‘allama al-Qur’ān wa ‘Allamahu. Diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Al-Musnad. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ahli hadis, termasuk Al-Albani.
Penyandaran Ahlul-Qur’an kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan (iḍāfah tasyrīf), bukan hubungan nasab atau keturunan.
Kemuliaan ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang menjaga hubungan dengan Al-Qur’an melalui bacaan, hafalan, pemahaman, dan pengamalan.
Penjelasan Ulama
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah membedakan tilawah Al-Qur’an menjadi dua bentuk:
تِلَاوَةٌ حُكْمِيَّةٌ وَهِيَ تَصْدِيقُ أَخْبَارِهِ وَتَنْفِيذُ أَحْكَامِهِ بِفِعْلِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ.
“Tilawah secara hukum, yaitu membenarkan berita-beritanya dan melaksanakan hukum-hukumnya dengan menjalankan perintah-perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.”
Beliau juga menjelaskan bentuk kedua, yaitu tilāwah lafẓiyyah, membaca lafaz-lafaz Al-Qur’an.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an mencakup dua aspek yang saling melengkapi: membaca lafaznya dan mengikuti kandungan petunjuknya.
Dengan demikian, seorang muslim tidak sepatutnya merasa cukup hanya dengan menghafal atau melantunkan Al-Qur’an, sementara perilaku dan kehidupannya jauh dari tuntunan wahyu.
Ketiga: Tingkatan Kebersamaan dengan Para Malaikat yang Mulia مرتبة الصحبة العلوية
Salah satu kemuliaan terbesar yang dijanjikan kepada orang yang mahir membaca Al-Qur’an adalah kebersamaannya dengan para malaikat yang mulia.
Allah Ta‘ala berfirman:
فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ بِأَيْدِي سَفَرَةٍ كِرَامٍ بَرَرَةٍ
“Di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan (di sisi Allah), yang ditinggikan (dan) disucikan, di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”
(QS. ‘Abasa: 13–16)
Ayat ini menjelaskan kemuliaan para malaikat yang disebut as-safarah al-kirām al-bararah.
Dalil dari Sunnah
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ.
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan membacanya, maka baginya dua pahala.”
Takhrij: HR. Al-Bukhari, no. 4937, dan Muslim, no. 798. Hadis muttafaq ‘alaih.
Hadis ini mengandung dua kabar gembira.
Pertama, orang yang mahir membaca Al-Qur’an memperoleh kemuliaan berupa kebersamaan dengan para malaikat yang mulia.
Kedua, orang yang belum lancar membaca Al-Qur’an tidak kehilangan kesempatan mendapatkan pahala. Bahkan, apabila ia bersungguh-sungguh meskipun mengalami kesulitan, Allah memberinya dua pahala.
Penjelasan Ulama
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
وَالْأَجْرَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى التِّلَاوَةِ، وَالثَّانِي عَلَى مَشَقَّتِهَا عَلَى الْقَارِئِ.
“Dua pahala tersebut, yang pertama adalah pahala atas tilawahnya, sedangkan yang kedua adalah pahala atas kesulitan yang dialami pembacanya.”
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga menasihati orang yang mengalami kesulitan membaca Al-Qur’an agar terus bersungguh-sungguh dan belajar kepada orang yang lebih menguasai bacaannya.
Beliau menjelaskan bahwa kesulitan membaca tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan tilawah. Sebaliknya, seseorang harus terus belajar karena proses pembelajaran akan menambah kebaikannya.
Oleh karena itu, orang yang belum mahir tidak sepatutnya merasa rendah diri atau berhenti membaca Al-Qur’an. Kesungguhan untuk memperbaiki bacaan merupakan ibadah yang bernilai besar di sisi Allah.
Di sisi lain, orang yang telah mahir hendaknya menjaga kemampuannya dengan terus membaca, menghafal, dan mengajarkan Al-Qur’an.
Keempat: Tingkatan Ketinggian Derajat di Akhirat مرتبة الرفعة في الآخرة
Al-Qur’an merupakan salah satu sebab Allah mengangkat derajat seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)
Ayat ini menunjukkan keutamaan iman dan ilmu sebagai sebab diangkatnya derajat seorang hamba. Ilmu tentang Al-Qur’an termasuk ilmu yang paling mulia karena berkaitan langsung dengan kalam Allah.
Dalil dari Sunnah
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُ بِهَا.
“Akan dikatakan kepada orang yang senantiasa bersama Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil ketika di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’”
Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 1464, dan At-Tirmidzi, no. 2914. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Hadis ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjadi sebab peningkatan derajat seorang hamba di akhirat.
Ungkapan iqra’ warqa’ (bacalah dan naiklah) menggambarkan hubungan antara kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an selama hidup di dunia dan kemuliaan yang diperolehnya kelak.
Namun, hadis tersebut tidak sepatutnya dipahami bahwa sekadar banyaknya bacaan, tanpa keimanan dan pengamalan, sudah menjamin tingginya kedudukan seseorang.
Hadis lain mempertegas bahwa Al-Qur’an dapat menjadi sebab kemuliaan sekaligus kehinaan.
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ.
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan kitab ini dan merendahkan kaum yang lain dengannya.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 817, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā. Hadis sahih.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan ukuran kemuliaan yang berkaitan dengan sikap manusia terhadap petunjuk Allah.
Orang yang beriman, mempelajari, dan mengamalkannya memperoleh kemuliaan. Sebaliknya, orang yang berpaling dari petunjuknya terancam memperoleh kehinaan.
Penjelasan Ulama
Ibnu Juzay Al-Kalbi rahimahullah (w. 741 H) mencantumkan hadis tentang Allah mengangkat dan merendahkan suatu kaum dengan Al-Qur’an dalam pembahasan keutamaan Al-Qur’an.
Beliau menyebutkan hadis tersebut bersama berbagai riwayat tentang keutamaan membaca, mempelajari, dan menjaga Kitab Allah.
Dengan demikian, ketinggian derajat di akhirat hendaknya menjadi motivasi untuk terus menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, menambah hafalan, memahami maknanya, dan mengamalkan petunjuknya.
Kelima: Tingkatan Memperoleh Syafaat pada Hari Kiamat مرتبة الشفاعة
Salah satu kemuliaan terbesar bagi orang yang senantiasa bersama Al-Qur’an adalah memperoleh syafaatnya pada hari Kiamat dengan izin Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh syafaat berada di bawah kekuasaan dan izin Allah. Tidak seorang pun dapat memberikan syafaat secara mandiri tanpa izin-Nya.
Dalil dari Sunnah
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ.
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa membacanya.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 804, Kitāb Ṣalāt al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bāb Faḍl Qirā’at al-Qur’ān wa Sūrat al-Baqarah. Hadis sahih.
Dalam kelanjutan hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan Surah Al-Baqarah dan Ali Imran:
اقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا.
“Bacalah dua surah yang bercahaya, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan dua awan, atau dua naungan, atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya, yang membela orang-orang yang senantiasa membaca keduanya.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 804, dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih.
Hadis ini memberikan gambaran tentang besarnya manfaat Al-Qur’an bagi orang-orang yang senantiasa menjaganya.
Namun, keutamaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan pengamalan Al-Qur’an.
Dalam hadis lain, dari An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ، تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ.
“Pada hari Kiamat akan didatangkan Al-Qur’an bersama orang-orang yang dahulu mengamalkannya di dunia. Surah Al-Baqarah dan Ali Imran berada di depannya.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 805. Hadis sahih.
Perhatikan sabda Nabi ﷺ:
الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ
“Orang-orang yang dahulu mengamalkannya.”
Ungkapan ini menunjukkan pentingnya pengamalan Al-Qur’an, bukan hanya membacanya.
Penjelasan Ulama
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa tujuan ilmu dan pembelajaran adalah pengamalan. Ketika menerangkan hadis tentang keutamaan Al-Qur’an, beliau juga mengingatkan sabda Nabi ﷺ:
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ.
“Al-Qur’an menjadi hujah yang membelamu atau justru menjadi hujah yang memberatkanmu.”
Takhrij: HR. Muslim, no. 223, dari Abu Malik Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu. Hadis sahih.
Syaikh Ibnu Baz menjelaskan:
وَالْمَعْنَى أَنَّهُ حُجَّةٌ لَكَ إِنْ عَمِلْتَ بِهِ، أَوْ حُجَّةٌ عَلَيْكَ إِنْ لَمْ تَعْمَلْ بِهِ.
“Maknanya, Al-Qur’an menjadi hujah yang membelamu apabila engkau mengamalkannya, atau menjadi hujah yang memberatkanmu apabila engkau tidak mengamalkannya.”
Dengan demikian, syafaat Al-Qur’an merupakan karunia besar yang diharapkan oleh setiap muslim. Akan tetapi, harapan tersebut harus disertai kesungguhan dalam membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Istiqamah: Kunci Menjaga Hubungan dengan Al-Qur’an
Kelima keutamaan tersebut seharusnya mendorong seorang muslim untuk terus menjaga hubungan dengan Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.”
(QS. Fāṭir: 29–30)
Ayat ini menggambarkan orang-orang yang menjadikan tilawah dan amal saleh sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Perintah Menjaga Al-Qur’an
Dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا.
“Jagalah Al-Qur’an ini. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat terlepas daripada unta yang terikat pada tali pengikatnya.”
Takhrij: HR. Al-Bukhari, no. 5033, dan Muslim, no. 791. Hadis muttafaq ‘alaih.
Hadis ini menekankan pentingnya mengulang hafalan dan menjaga bacaan Al-Qur’an secara berkesinambungan.
Di samping itu, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkesinambungan, meskipun sedikit.”
Takhrij: HR. Al-Bukhari, no. 6464, dan Muslim, no. 783. Hadis muttafaq ‘alaih.
Hadis ini memberikan landasan penting dalam membangun kebiasaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Seorang muslim yang membaca beberapa ayat setiap hari dengan penuh kesungguhan dan istiqamah telah menempuh jalan kebaikan yang besar.
Oleh karena itu, hubungan dengan Al-Qur’an tidak sepatutnya dibatasi pada Ramadan atau waktu-waktu tertentu saja.
Betapa banyak orang yang bersemangat membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan, tetapi kemudian meninggalkannya setelah bulan tersebut berlalu.
Padahal, Rabb yang memerintahkan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an pada bulan Ramadan adalah Rabb yang sama yang memerintahkan ketaatan sepanjang tahun.
Orang yang benar-benar senantiasa bersama Al-Qur’an tidak hanya dikenal melalui semangatnya pada musim tertentu, tetapi melalui keteguhan hubungannya dengan Kitab Allah dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Penutup
Lima tingkatan kemuliaan bagi orang yang senantiasa bersama Al-Qur’an memberikan gambaran tentang betapa agungnya kedudukan Kitab Allah dalam kehidupan seorang mukmin.
Pertama: Menjadi manusia terbaik.
Dengan mempelajari Al-Qur’an, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.
Kedua: Menjadi golongan istimewa di sisi Allah.
Dengan menjaga hubungan yang benar dan erat dengan Kitab-Nya.
Ketiga: Memperoleh kebersamaan dengan para malaikat yang mulia.
Dengan memperbaiki bacaan dan bersungguh-sungguh dalam tilawah.
Keempat: Memperoleh ketinggian derajat di akhirat.
Dengan senantiasa menjaga dan membersamai Al-Qur’an.
Kelima: Memperoleh syafaat pada hari Kiamat.
Dengan membaca Al-Qur’an, menjaga hubungannya, dan mengamalkan petunjuknya.
Kelima keutamaan ini tidak seharusnya dipisahkan dari tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an, yaitu memberikan petunjuk kepada manusia agar mereka beriman, bertakwa, dan mengamalkan perintah Allah.
Oleh karena itu, barang siapa ingin menjadi bagian dari Ahlul-Qur’an, hendaklah ia menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan proyek pembinaan sepanjang hayatnya.
Jangan sampai seseorang hanya memperindah suaranya dengan Al-Qur’an, tetapi tidak memperindah akhlaknya dengan petunjuk Al-Qur’an. Jangan pula seseorang hanya berusaha menghafal ayat-ayatnya, tetapi mengabaikan hukum dan adab yang terkandung di dalamnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan benar, memahami maknanya, mengamalkan kandungannya, dan memperoleh kemuliaan serta syafaatnya pada hari Kiamat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ، وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ، وَفَهْمَ مَعَانِيهِ، وَالْعَمَلَ بِأَحْكَامِهِ، وَاجْعَلْهُ حُجَّةً لَنَا لَا عَلَيْنَا.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk Ahlul-Qur’an, yaitu golongan istimewa dan orang-orang pilihan-Mu. Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk membacanya pada waktu malam dan siang, memahami maknanya, dan mengamalkan hukum-hukumnya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai hujah yang membela kami, bukan hujah yang memberatkan kami.”
Amin, ya Rabbal-‘alamin.