Memaafkan Bukan Tanda Kelemahan, Melainkan Bukti Kekuatan
Memaafkan Bukan Tanda Kelemahan, Melainkan Bukti Kekuatan Hati
☷ Daftar Isi Artikel
Renungan tentang kemuliaan memaafkan, kekuatan mengendalikan amarah, dan keindahan hati yang lapang dalam cahaya Al-Qur’an dan Sunnah.
Pendahuluan
Tidak semua orang yang diam ketika disakiti adalah orang yang lemah. Tidak semua orang yang memilih mengalah berarti tidak mampu melawan. Dan tidak semua orang yang memaafkan berarti telah kehilangan harga dirinya. Terkadang, di balik sikap diam dan kesediaan memaafkan, terdapat kekuatan jiwa yang jauh lebih besar daripada keberanian seseorang untuk membalas perlakuan buruk orang lain.
Membalas penghinaan dengan penghinaan mungkin terasa mudah. Membalas perkataan kasar dengan perkataan yang lebih kasar terkadang hanya membutuhkan beberapa detik. Namun, menahan lisan ketika hati sedang terluka, mengendalikan emosi ketika amarah memuncak, dan memilih memaafkan padahal memiliki kemampuan untuk membalas merupakan perjuangan batin yang tidak ringan.
Banyak orang mengukur kekuatan dari kemampuan mengalahkan orang lain. Ada yang merasa dirinya kuat apabila mampu membuat orang lain takut, tunduk, atau tidak berani membantah. Padahal, dalam pandangan Islam, kekuatan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan fisik atau keberanian menghadapi musuh, tetapi juga dari kemampuan seseorang menguasai dirinya sendiri.
Orang yang mampu mengalahkan orang lain belum tentu mampu mengalahkan amarahnya sendiri. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan amarahnya telah menunjukkan salah satu bentuk kekuatan jiwa yang sangat mulia.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang lemah dan membiarkan kezaliman. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara keberanian menegakkan keadilan dan kelapangan hati dalam memberikan maaf.
1. Orang yang Kuat Adalah Orang yang Mampu Mengendalikan Amarah
Rasulullah ﷺ telah memberikan ukuran yang sangat indah tentang hakikat kekuatan manusia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
Artinya:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat (mengalahkan orang lain), melainkan orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. Al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Hadis ini mengubah cara pandang manusia tentang kekuatan. Kekuatan bukan hanya kemampuan menaklukkan lawan, melainkan juga kemampuan menundukkan hawa nafsu yang mendorong seseorang melakukan sesuatu yang tidak diridai Allah.
Ketika seseorang dihina, secara naluriah ia mungkin ingin membalas. Ketika diperlakukan tidak adil, ia mungkin tergoda untuk melampiaskan kemarahan. Ketika harga dirinya disinggung, ia mungkin ingin mengucapkan kata-kata yang lebih menyakitkan.
Namun, seorang mukmin yang memiliki kekuatan hati akan mempertimbangkan akibat perbuatannya. Ia tidak membiarkan kemarahan mengambil alih akalnya, menguasai lisannya, dan menentukan seluruh tindakannya.
Mengendalikan amarah bukan berarti tidak pernah marah. Marah adalah bagian dari tabiat manusia. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana seseorang menyikapi amarah tersebut.
Seseorang boleh merasakan kemarahan ketika dizalimi, tetapi ia tidak boleh menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk melakukan kezaliman yang baru.
Dengan demikian, kuat hati bukanlah tidak memiliki perasaan, melainkan mampu mengendalikan perasaan agar tetap berada dalam tuntunan agama.
2. Menahan Amarah dan Memaafkan Merupakan Sifat Orang Bertakwa
Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyebutkan beberapa sifat orang bertakwa, di antaranya kemampuan menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Allah menyebutkan tiga sifat mulia yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba terhadap sesama manusia: menahan amarah, memaafkan, dan berbuat ihsan.
Pertama, menahan amarah (كَظْمُ الْغَيْظِ).
Seseorang mungkin masih merasakan kemarahan di dalam hatinya, tetapi ia berusaha menahannya agar tidak melahirkan perkataan atau perbuatan yang melampaui batas.
Kedua, memaafkan kesalahan (الْعَفْوُ عَنِ النَّاسِ).
Tingkatan ini lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah. Seseorang tidak hanya menahan diri dari membalas, tetapi juga berusaha melepaskan keinginannya untuk menuntut pembalasan atas kesalahan pribadi yang dapat dimaafkan.
Ketiga, berbuat ihsan (الْإِحْسَانُ).
Ini merupakan kedudukan akhlak yang lebih tinggi lagi, yaitu tetap berusaha melakukan kebaikan meskipun pernah menerima perlakuan yang tidak menyenangkan.
Tidak semua orang sanggup mencapai tingkatan tersebut dengan mudah. Oleh sebab itu, seseorang perlu melatih hatinya secara bertahap.
Menahan amarah membutuhkan kesabaran. Memaafkan membutuhkan kelapangan dada. Adapun membalas keburukan dengan kebaikan membutuhkan kekuatan iman dan keikhlasan yang lebih besar.
Perhatikan pula bagaimana Allah menutup ayat tersebut:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Betapa besarnya kemuliaan seseorang yang berusaha menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut. Ia bukan sekadar berusaha memenangkan perselisihan dengan manusia, melainkan mengharapkan sesuatu yang jauh lebih agung, yaitu kecintaan Allah.
3. Memaafkan Tidak Mengurangi Kemuliaan, Justru Menambah Kehormatan
Sebagian orang enggan memaafkan karena menganggap bahwa pemberian maaf akan membuat dirinya dipandang rendah. Ia khawatir orang lain menganggapnya penakut, tidak berdaya, atau mudah diperlakukan semena-mena.
Padahal, Rasulullah ﷺ justru menjelaskan bahwa memaafkan merupakan sebab bertambahnya kemuliaan seorang hamba.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.
Artinya:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim no. 2588)
Perhatikan sabda Nabi ﷺ:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan.”
Hadis ini memberikan jawaban terhadap anggapan bahwa memaafkan merupakan tanda kehinaan.
Kemuliaan yang dijanjikan Allah tidak harus selalu berupa pujian manusia atau penghormatan yang langsung terlihat. Kemuliaan itu dapat berupa pahala dan derajat yang tinggi di sisi Allah, serta kebaikan yang Dia karuniakan dalam kehidupan seorang hamba.
Seseorang mungkin kehilangan kesempatan untuk membalas, tetapi ia memperoleh kesempatan mendapatkan pahala. Ia mungkin tidak memperoleh kepuasan sesaat karena berhasil menyakiti orang yang menyakitinya, tetapi ia dapat memperoleh ketenangan karena berhasil menahan dirinya dari perbuatan tercela.
Memaafkan karena Allah bukanlah kehilangan kehormatan, melainkan menempuh salah satu jalan untuk memperoleh kemuliaan.
4. Memaafkan Termasuk Perkara yang Membutuhkan Keteguhan Hati
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ.
Artinya:
“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”
(QS. Asy-Syura: 43)
Ungkapan عَزْمِ الْأُمُورِ menunjukkan perkara yang membutuhkan keteguhan, kesungguhan, dan kemantapan hati.
Mengapa memaafkan membutuhkan keteguhan?
Karena seseorang yang disakiti sering kali harus menghadapi dua perjuangan sekaligus.
Perjuangan pertama adalah menghadapi perlakuan buruk yang datang dari luar dirinya. Sementara perjuangan kedua adalah menghadapi dorongan yang muncul dari dalam hatinya sendiri, seperti kemarahan, kebencian, dendam, dan keinginan membalas.
Terkadang, perjuangan kedua justru lebih berat.
Ada orang yang mampu bersabar menghadapi kesulitan pekerjaan, beratnya kehidupan, atau kelelahan fisik. Namun, ketika harga dirinya tersinggung, ia sulit mengendalikan perkataannya.
Ada pula seseorang yang mampu menanggung kerugian harta, tetapi tidak mampu melupakan satu kalimat menyakitkan yang pernah diucapkan kepadanya.
Di sinilah seseorang memerlukan kekuatan hati yang sesungguhnya.
Ia harus belajar membedakan antara membela kebenaran dan memperturutkan ego, antara menegakkan keadilan dan memuaskan dendam, serta antara menjaga harga diri dan mempertahankan kesombongan.
Tidak semua yang mampu kita balas harus dibalas. Tidak semua yang menyakiti kita harus kita sakiti kembali. Terkadang, kemenangan terbesar justru terjadi ketika kita berhasil mengalahkan keinginan untuk membalas.
5. Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Islam tidak hanya mengajarkan agar seorang mukmin tidak membalas keburukan secara berlebihan. Islam juga mendorongnya untuk membalas perlakuan buruk dengan cara yang lebih baik apabila hal tersebut membawa kemaslahatan.
Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ.
Artinya:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan dapat menjadi sarana untuk melunakkan hati yang keras dan memperbaiki hubungan yang rusak.
Terkadang, permusuhan semakin panjang bukan semata-mata karena persoalan awalnya sangat besar, melainkan karena masing-masing pihak terus membalas perkataan buruk dengan perkataan yang lebih buruk.
Satu penghinaan dibalas dengan penghinaan berikutnya. Satu kesalahan dibalas dengan kesalahan yang lebih besar. Akhirnya, persoalan kecil berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.
Sebaliknya, ketika salah satu pihak memilih bersikap tenang, berbicara dengan santun, dan memberikan maaf, terbuka kesempatan untuk menghentikan pertengkaran tersebut.
Tentu saja, tidak setiap kebaikan akan langsung mengubah sikap orang yang memusuhi kita. Namun, seorang mukmin tetap berusaha memilih tindakan yang diridai Allah, bukan sekadar mengikuti emosi yang sedang menguasainya.
6. Teladan Memaafkan dari Para Nabi dan Sahabat
Nabi Yusuf ‘alaihissalam memaafkan saudara-saudaranya
Kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam memberikan pelajaran yang sangat indah tentang kemuliaan memaafkan.
Saudara-saudara beliau pernah memperlakukannya dengan sangat buruk. Mereka diliputi kecemburuan, memisahkannya dari ayahnya, dan memasukkannya ke dalam sumur. Peristiwa tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh ujian.
Namun, setelah Allah memberikan kedudukan dan kekuasaan kepada Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau tidak menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan dendam.
Ketika saudara-saudaranya datang dan akhirnya mengakui kesalahan mereka, Nabi Yusuf berkata:
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.
Artinya:
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.’”
(QS. Yusuf: 92)
Perhatikan keadaan Nabi Yusuf ketika memberikan maaf. Beliau bukan berada dalam keadaan lemah atau tidak berdaya. Sebaliknya, beliau telah memiliki kedudukan dan kemampuan untuk mengambil tindakan terhadap saudara-saudaranya.
Akan tetapi, beliau memilih memaafkan.
Inilah salah satu contoh nyata bahwa memaafkan ketika memiliki kemampuan untuk membalas merupakan tanda kemuliaan akhlak dan kekuatan jiwa.
Rasulullah ﷺ menghadapi perlakuan kasar dengan kesabaran
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa beliau pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ yang mengenakan selendang Najran dengan tepian kasar.
Tiba-tiba seorang Arab Badui menarik selendang Nabi ﷺ dengan sangat keras hingga bekas tarikannya terlihat pada bahu beliau.
Orang itu kemudian meminta agar Nabi ﷺ memberikan kepadanya sebagian harta Allah yang berada dalam penguasaan beliau.
Bagaimanakah reaksi Rasulullah ﷺ?
Beliau menoleh, tersenyum, lalu memerintahkan agar orang tersebut diberi sesuatu.
(HR. Al-Bukhari no. 3149)
Sungguh mengagumkan akhlak Rasulullah ﷺ.
Beliau memiliki kedudukan yang mulia, dihormati para sahabat, dan mempunyai kemampuan untuk menegur orang tersebut dengan keras. Akan tetapi, beliau memilih sikap yang penuh kesabaran dan kemurahan hati.
Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan:
وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Artinya:
“Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas karena kepentingan pribadi beliau, kecuali apabila kehormatan atau batasan yang ditetapkan Allah dilanggar.”
(HR. Muslim no. 2327)
Hadis ini menunjukkan keseimbangan akhlak Nabi ﷺ. Dalam urusan pribadi, beliau sangat pemaaf. Namun, beliau tidak mengabaikan pelanggaran terhadap ketentuan Allah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq memaafkan orang yang menyakitinya
Ketika terjadi peristiwa tuduhan dusta terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha, Mistah bin Utsatsah termasuk orang yang terlibat menyebarkan berita tersebut.
Padahal, Mistah merupakan kerabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang selama ini mendapatkan bantuan darinya.
Karena sangat terluka oleh peristiwa itu, Abu Bakar bersumpah untuk menghentikan bantuan kepada Mistah.
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Artinya:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka kalau Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nur: 22)
Mendengar ayat tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa beliau sangat menginginkan ampunan Allah. Kemudian beliau kembali memberikan bantuan kepada Mistah sebagaimana sebelumnya.
(Kisah ini diriwayatkan dalam HR. Al-Bukhari no. 4757 dan Muslim no. 2770)
Peristiwa ini mengandung pelajaran bahwa seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan kemarahan pribadinya sebagai penghalang untuk menjalankan kebaikan yang diridai Allah.
Abu Bakar tidak menganggap bahwa memaafkan Mistah akan mengurangi kehormatannya. Beliau justru mendahulukan harapan memperoleh ampunan Allah daripada mempertahankan kemarahan pribadi.
7. Memaafkan Tidak Berarti Membiarkan Kezaliman
Satu hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa Islam tidak mewajibkan seseorang untuk selalu melepaskan haknya dalam setiap keadaan.
Allah berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ.
Artinya:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
(QS. Asy-Syura: 40)
Ayat ini memberikan keseimbangan yang sangat penting.
Di satu sisi, seseorang yang dizalimi mempunyai hak untuk mencari keadilan melalui cara yang dibenarkan syariat. Di sisi lain, Allah memberikan keutamaan yang besar kepada orang yang memilih memaafkan dan melakukan perbaikan.
Perhatikan firman Allah:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.”
Kata وَأَصْلَحَ menunjukkan pentingnya unsur perbaikan.
Karena itu, memaafkan hendaknya dilakukan dengan mempertimbangkan kemaslahatan. Apabila pemberian maaf dapat memperbaiki hubungan, menghentikan permusuhan, atau menyadarkan orang yang bersalah, maka hal tersebut merupakan kebaikan yang sangat dianjurkan.
Namun, apabila sikap memaafkan justru dimanfaatkan untuk mengulangi kezaliman, merugikan orang lain, atau membahayakan pihak yang lemah, maka menuntut hak dan mengambil langkah perlindungan yang dibenarkan dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.
Allah juga berfirman:
وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ.
Artinya:
“Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka.”
(QS. Asy-Syura: 41)
Dengan demikian, perlu dibedakan beberapa perkara.
- Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Suatu kezaliman tetaplah kezaliman meskipun korbannya memilih memberikan maaf.
- Memaafkan bukan berarti harus kembali mempercayai seseorang tanpa pertimbangan. Kepercayaan dapat dibangun kembali dengan bukti perubahan sikap dan tanggung jawab.
- Memaafkan bukan berarti menghapus seluruh konsekuensi hukum. Terutama apabila berkaitan dengan hak orang lain atau kepentingan masyarakat.
- Memaafkan bukan berarti membiarkan diri terus disakiti. Seseorang tetap boleh menetapkan batasan, menjaga jarak, meminta pertolongan, dan mencari perlindungan apabila diperlukan.
- Memaafkan tidak selalu harus disertai hubungan yang kembali seperti semula. Hubungan yang sehat memerlukan keamanan, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati.
Oleh karena itu, kekuatan hati tidak hanya tampak ketika seseorang memilih memberikan maaf, tetapi juga ketika ia mampu mengambil keputusan secara adil, bijaksana, dan tidak dikendalikan oleh dendam.
8. Mengapa Kita Sulit Memaafkan?
Ada berbagai alasan mengapa seseorang sulit memberikan maaf.
Pertama, karena luka yang dirasakan terlalu dalam. Semakin besar pengkhianatan atau kezaliman yang dialami, semakin berat pula perjuangan batin untuk memaafkan.
Kedua, karena harga diri sering kali bercampur dengan kesombongan. Seseorang terkadang merasa bahwa memberikan maaf sama dengan mengakui kekalahan.
Ketiga, karena keinginan untuk melihat orang yang menyakitinya mendapatkan balasan. Ia merasa belum puas selama orang tersebut belum merasakan penderitaan yang serupa.
Keempat, karena seseorang terus mengingat dan mengulang peristiwa menyakitkan di dalam pikirannya. Akibatnya, kemarahan yang seharusnya mulai mereda justru terus dipelihara.
Kelima, karena adanya kekhawatiran bahwa kesalahan yang sama akan terulang kembali.
Sebagian alasan tersebut merupakan reaksi yang dapat dipahami, terutama dalam menghadapi kezaliman yang berat. Karena itu, proses memaafkan tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat.
Akan tetapi, seorang mukmin perlu terus membina hatinya agar tidak dikuasai kebencian yang mendorongnya melakukan sesuatu yang dilarang Allah.
Hati yang terluka membutuhkan penyembuhan. Hati yang dipenuhi dendam membutuhkan bimbingan. Dan hati yang ingin memaafkan membutuhkan pertolongan Allah.
9. Bagaimana Melatih Hati agar Mudah Memaafkan?
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk melatih sifat pemaaf.
Pertama, mengingat bahwa kita juga membutuhkan ampunan Allah.
Tidak seorang pun terbebas dari kesalahan dan dosa. Setiap manusia membutuhkan rahmat serta ampunan Allah. Karena itu, ketika kita sulit memberikan maaf kepada orang lain, ingatlah pertanyaan Allah:
أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Apakah kamu tidak suka kalau Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)
Pertanyaan ini patut direnungkan berulang kali. Kita berharap Allah mengampuni begitu banyak kesalahan kita. Maka, sudah sepantasnya kita juga berusaha memiliki hati yang lapang terhadap kesalahan orang lain.
Kedua, tidak mengambil keputusan ketika amarah sedang memuncak.
Ketika marah, seseorang hendaknya menahan lisannya, menghindari ucapan yang menyakitkan, dan menenangkan dirinya sebelum mengambil keputusan penting. Jangan sampai kemarahan sesaat melahirkan penyesalan yang berkepanjangan.
Ketiga, membedakan antara hak pribadi dan kewajiban menegakkan keadilan.
Untuk perkara pribadi yang dapat dimaafkan, berusahalah memilih sikap yang paling dekat kepada ketakwaan. Namun, apabila menyangkut keselamatan, hak orang lain, atau pelanggaran yang harus ditangani, jangan mengabaikan tanggung jawab untuk mencari penyelesaian yang benar.
Keempat, mengingat pahala besar yang Allah janjikan.
Seseorang mungkin sulit memaafkan apabila hanya mempertimbangkan apakah orang yang menyakitinya pantas mendapatkan maaf. Akan tetapi, ketika ia mengingat janji Allah, ia akan menyadari bahwa keputusan memaafkan juga berkaitan dengan hubungan dirinya kepada Allah.
Kelima, berdoa agar Allah membersihkan hati.
Hati manusia berada dalam kekuasaan Allah. Karena itu, mintalah kepada-Nya agar diberikan kesabaran, kelembutan, keikhlasan, dan kemampuan mengendalikan amarah.
Keenam, belajar memaafkan tanpa memaksakan diri untuk mengabaikan kenyataan.
Memaafkan tidak mengharuskan seseorang berpura-pura bahwa dirinya tidak pernah terluka. Ia boleh mengakui kesedihannya, membicarakan masalah dengan cara yang baik, meminta penyelesaian, dan menjaga batasan yang diperlukan.
Yang terpenting adalah tidak membiarkan luka tersebut mendorong dirinya kepada tindakan zalim.
10. Kemenangan Terbesar Adalah Kemenangan atas Diri Sendiri
Di antara bentuk kemenangan yang sering tidak terlihat oleh manusia adalah kemenangan seseorang atas kemarahan dan hawa nafsunya.
Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang berhasil menahan kata-kata kasar yang hampir keluar dari lisannya. Tidak selalu ada orang yang memuji ketika seseorang memilih tidak membalas penghinaan. Bahkan, terkadang orang lain justru salah memahami kesabarannya sebagai kelemahan.
Namun, Allah mengetahui perjuangan tersebut.
Allah mengetahui betapa beratnya seseorang menahan amarah ketika harga dirinya direndahkan. Allah mengetahui betapa sulitnya seseorang memilih memaafkan ketika memiliki kemampuan untuk membalas.
Dan Allah mengetahui keikhlasan seorang hamba yang lebih memilih mengharapkan keridaan-Nya daripada memperturutkan keinginan untuk membalas dendam.
Karena itu, jangan menganggap remeh perjuangan mengendalikan diri.
Kekuatan fisik dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Kekuasaan dan jabatan dapat hilang. Kemampuan seseorang mengalahkan orang lain pun memiliki batas.
Akan tetapi, kekuatan iman, kesabaran, dan kelapangan hati merupakan kemuliaan yang dapat terus dibina sepanjang kehidupan.
Orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu memenangkan pertengkaran, melainkan orang yang mampu menjaga dirinya agar tidak melanggar batasan Allah ketika menghadapi pertengkaran.
Penutup: Memaafkan Adalah Kemuliaan Orang yang Berjiwa Besar
Memaafkan bukanlah alamat kelemahan, melainkan salah satu bukti kekuatan hati. Ia bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu membalas, melainkan dapat menjadi bukti bahwa seseorang lebih mampu mengendalikan dirinya daripada mengikuti dorongan amarahnya.
Memaafkan bukan berarti kehilangan harga diri, karena Allah justru menjanjikan tambahan kemuliaan bagi hamba yang memaafkan. Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kezaliman, karena Islam tetap memberikan hak kepada orang yang dizalimi untuk mencari keadilan.
Kekuatan hati yang sesungguhnya terletak pada kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya: bersikap tegas ketika diperlukan, berlaku adil ketika menghadapi perselisihan, bersabar ketika diuji, dan memberikan maaf ketika maaf itu membawa kebaikan.
Jangan sampai karena satu kesalahan orang lain, kita kehilangan kemampuan berbuat baik. Jangan sampai karena satu perkataan yang menyakitkan, kita mengotori lisan dengan perkataan yang lebih buruk. Dan jangan sampai keinginan mempertahankan harga diri membuat kita kehilangan kesempatan memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Belajarlah menjadi pribadi yang kuat tanpa harus menjadi kasar, tegas tanpa harus menjadi zalim, berani tanpa harus menjadi sombong, dan pemaaf tanpa harus mengabaikan kebenaran.
Sebab, tidak semua luka harus dibalas dengan luka. Tidak semua penghinaan harus dijawab dengan penghinaan. Dan tidak semua kemenangan harus diperoleh dengan menjatuhkan orang lain.
Terkadang, kemenangan yang paling indah adalah ketika seseorang mampu berkata dalam hatinya:
“Aku mampu membalas, tetapi aku memilih memaafkan karena mengharapkan rida Allah.”
Doa Memohon Kelapangan dan Kebersihan Hati
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْبَغْضَاءِ، وَارْزُقْنَا الْحِلْمَ وَالصَّبْرَ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْمَقْدِرَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى كَظْمِ الْغَيْظِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ الَّذِينَ تُحِبُّهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِمَنْ ظَلَمَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Artinya:
“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari dendam, kedengkian, dan kebencian. Karuniakanlah kepada kami kelembutan, kesabaran, dan kemampuan memaafkan ketika kami mampu membalas. Bantulah kami menahan amarah. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbuat ihsan yang Engkau cintai. Ampunilah kami dan orang-orang yang telah menzalimi kami. Perbaikilah hubungan di antara kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Doa ini merupakan susunan permohonan yang baik maknanya, bukan lafaz hadis khusus dari Nabi ﷺ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Daftar Rujukan
Al-Qur’an
- QS. Ali ‘Imran: 134.
- QS. Yusuf: 92.
- QS. An-Nahl: 126.
- QS. An-Nur: 22.
- QS. Fussilat: 34.
- QS. Asy-Syura: 40–43.
Hadis
- Shahih Al-Bukhari, no. 6114 — Kekuatan adalah kemampuan mengendalikan amarah.
- Shahih Muslim, no. 2609 — Hadis tentang orang kuat.
- Shahih Muslim, no. 2588 — Allah menambah kemuliaan orang yang memaafkan.
- Shahih Al-Bukhari, no. 3149 — Kesabaran Rasulullah ﷺ menghadapi seorang Arab Badui.
- Shahih Muslim, no. 2327 — Rasulullah ﷺ tidak membalas karena urusan pribadi.
- Shahih Al-Bukhari, no. 4757; Shahih Muslim, no. 2770 — Kisah Abu Bakar dan Mistah bin Utsatsah.
Kitab Tafsir
- Tafsir Ath-Thabari, penafsiran QS. Asy-Syura: 40.
- Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. An-Nur: 22 dan QS. Fussilat: 34.
- Tafsir Al-Qurthubi, penafsiran QS. Asy-Syura: 43.
Wallahu a‘lam bish-shawab.