Tatsqif

Kisah Keislaman Amr bin Abasah Radhiyallahu ‘Anhu dan Pelajaran yang Dapat Dipetik

Kisah Keislaman Amr bin Abasah Radhiyallahu ‘Anhu dan Pelajaran yang Dapat Dipetik

☷ Daftar Isi Artikel
0%

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba‘du.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Amr bin Abasah as-Sulami radhiyallahu ‘anhu menuturkan:

“Ketika masih berada pada masa jahiliah, aku beranggapan bahwa manusia berada dalam kesesatan dan tidak berada di atas kebenaran karena mereka menyembah berhala.

Kemudian aku mendengar kabar tentang seorang laki-laki di Makkah yang menyampaikan berbagai berita. Maka aku menaiki hewan tungganganku dan pergi menemuinya.

Ternyata Rasulullah ﷺ ketika itu masih menyembunyikan dakwahnya, sementara kaumnya berani mengganggu dan memusuhi beliau. Aku pun berusaha mendekati beliau dengan hati-hati hingga akhirnya berhasil menemui beliau di Makkah.

Aku bertanya, ‘Siapakah engkau?’

Beliau menjawab:

أَنَا نَبِيٌّ.

‘Aku adalah seorang nabi.’

Aku bertanya, ‘Apa itu nabi?’

Beliau menjawab:

أَرْسَلَنِي اللَّهُ.

‘Allah telah mengutusku.’

Aku bertanya lagi, ‘Dengan membawa ajaran apakah Allah mengutusmu?’

Beliau menjawab:

أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ.

‘Allah mengutusku untuk menyambung hubungan kekerabatan, menghancurkan berhala-berhala, dan mengesakan Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.’

Aku bertanya, ‘Siapakah yang telah mengikutimu dalam ajaran ini?’

Beliau menjawab:

حُرٌّ وَعَبْدٌ.

‘Seorang yang merdeka dan seorang hamba sahaya.’

Pada waktu itu, di antara orang-orang yang telah beriman kepada beliau adalah Abu Bakar dan Bilal.

Aku pun berkata, ‘Sesungguhnya aku ingin mengikutimu.’

Namun, beliau bersabda:

إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا، أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ؟ وَلَكِنِ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَهَرْتُ فَأْتِنِي.

‘Sesungguhnya engkau belum mampu melakukan hal itu pada saat ini. Tidakkah engkau melihat keadaanku dan keadaan orang-orang di sekitarku? Akan tetapi, kembalilah kepada keluargamu. Apabila engkau mendengar bahwa aku telah memperoleh kemenangan dan dakwahku telah berkembang, datanglah menemuiku.’

Maka aku pun kembali kepada keluargaku.

Kemudian Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, sementara aku masih berada di tengah keluargaku. Aku terus mencari berita tentang beliau dan bertanya kepada orang-orang mengenai keadaan beliau setelah tiba di Madinah.

Hingga akhirnya datang kepadaku beberapa orang dari Yatsrib, yaitu penduduk Madinah.

Aku bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana keadaan laki-laki yang telah datang ke Madinah itu?’

Mereka menjawab, ‘Orang-orang berbondong-bondong mendatanginya. Kaumnya dahulu telah berusaha membunuhnya, tetapi mereka tidak berhasil.’

Maka aku berangkat menuju Madinah dan menemui Rasulullah ﷺ.

Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenaliku?’

Beliau menjawab:

نَعَمْ، أَنْتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ.

‘Ya, engkaulah orang yang pernah menemuiku di Makkah.’

Aku menjawab, ‘Benar.’

Kemudian aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, beritahukanlah kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu, sedangkan aku belum mengetahuinya. Jelaskanlah kepadaku tentang salat.’

Beliau bersabda:

صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ.

‘Kerjakanlah salat Subuh. Kemudian berhentilah mengerjakan salat hingga matahari terbit dan naik meninggi. Sebab, ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya.’

Beliau melanjutkan:

ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِنَّ حِينَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ.

‘Kemudian salatlah, karena sesungguhnya salat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat, hingga matahari mendekati titik tertingginya dan bayangan menjadi sangat pendek.

Setelah itu, berhentilah mengerjakan salat, karena pada waktu tersebut Neraka Jahanam sedang dinyalakan dengan sangat panas.’

Beliau melanjutkan:

فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ، فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُورَةٌ حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ.

‘Apabila bayangan mulai kembali memanjang setelah matahari tergelincir, maka salatlah. Sesungguhnya salat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri oleh para malaikat hingga engkau mengerjakan salat Asar.’

Kemudian beliau bersabda:

ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ.

‘Kemudian berhentilah mengerjakan salat hingga matahari terbenam. Sebab, matahari terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya.’

Aku kemudian bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, jelaskanlah kepadaku tentang wudu.’

Beliau bersabda:

مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ، وَخَيَاشِيمِهِ.

‘Tidaklah seseorang di antara kalian menyiapkan air untuk berwudu, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung, lalu mengeluarkannya, melainkan dosa-dosa wajah, mulut, dan rongga hidungnya berguguran.’

Beliau melanjutkan:

ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ.

‘Kemudian apabila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang diperintahkan Allah, dosa-dosa wajahnya akan berguguran bersama air dari ujung-ujung janggutnya.’

ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ.

‘Kemudian apabila ia membasuh kedua tangannya hingga siku, dosa-dosa kedua tangannya akan berguguran bersama air dari ujung-ujung jarinya.’

ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ.

‘Kemudian apabila ia mengusap kepalanya, dosa-dosa kepalanya akan berguguran bersama air dari ujung-ujung rambutnya.’

ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ.

‘Kemudian apabila ia membasuh kedua kakinya hingga mata kaki, dosa-dosa kedua kakinya akan berguguran bersama air dari ujung-ujung jari kakinya.’

Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

‘Apabila setelah itu ia berdiri mengerjakan salat, lalu memuji Allah, menyanjung-Nya, dan mengagungkan-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, serta memusatkan hatinya sepenuhnya kepada Allah, niscaya ia keluar dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ketika ibunya melahirkannya.'”

Setelah Amr bin Abasah menyampaikan hadis tersebut kepada Abu Umamah, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, Abu Umamah berkata kepadanya:

يَا عَمْرَو بْنَ عَبَسَةَ، انْظُرْ مَا تَقُولُ فِي مَقَامٍ وَاحِدٍ يُعْطَى هَذَا الرَّجُلُ.

“Wahai Amr bin Abasah, perhatikanlah apa yang engkau katakan! Betapa besar pahala yang diberikan kepada seseorang hanya dengan satu kali pelaksanaan ibadah seperti itu!”

Amr bin Abasah menjawab:

يَا أَبَا أُمَامَةَ، لَقَدْ كَبِرَتْ سِنِّي، وَرَقَّ عَظْمِي، وَاقْتَرَبَ أَجَلِي، وَمَا بِي حَاجَةٌ أَنْ أَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَلَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ.

“Wahai Abu Umamah, sungguh usiaku telah lanjut, tulang-tulangku telah melemah, dan ajalku semakin dekat. Aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk berdusta atas nama Allah ataupun Rasulullah ﷺ.”

Kemudian ia melanjutkan:

لَوْ لَمْ أَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مَرَّةً، أَوْ مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا حَتَّى عَدَّ سَبْعَ مَرَّاتٍ، مَا حَدَّثْتُ بِهِ أَبَدًا، وَلَكِنِّي سَمِعْتُهُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.

“Seandainya aku hanya mendengarnya dari Rasulullah ﷺ satu kali, dua kali, atau tiga kali—hingga ia menyebut tujuh kali—niscaya aku tidak akan pernah meriwayatkannya. Akan tetapi, aku telah mendengarnya lebih banyak daripada itu.”

Takhrij hadis: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 832, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dari Amr bin Abasah as-Sulami radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini sahih.

Biografi Amr bin Abasah Radhiyallahu ‘Anhu: Keislaman, Hijrah, Riwayat Hadis, dan Wafatnya

Keislaman dan Kepulangan ke Wilayah Bani Sulaim

Muhammad bin Umar al-Waqidi berkata:

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ: لَمَّا أَسْلَمَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ بِمَكَّةَ رَجَعَ إِلَى بِلَادِ قَوْمِهِ بَنِي سُلَيْمٍ.

“Ketika Amr bin Abasah memeluk Islam di Makkah, ia kembali ke daerah tempat tinggal kaumnya, Bani Sulaim.”

Al-Waqidi juga berkata:

أَسْلَمَ قَدِيمًا بِمَكَّةَ.

“Ia telah memeluk Islam sejak masa awal di Makkah.”

Perbedaan Riwayat tentang Keikutsertaannya dalam Perang Badar

Ahmad bin Muhammad bin Isa al-Baghdadi, ketika menyebutkan para sahabat yang menetap di Hims, menyatakan:

عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ، شَهِدَ بَدْرًا.

“Amr bin Abasah termasuk golongan Muhajirin yang pertama dan turut serta dalam Perang Badar.”

Ahmad juga berkata bahwa Baqiyyah menyebutkan:

أَنَّهُ نَزَلَهَا أَرْبَعُمِائَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، مِنْهُمْ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ أَبُو نَجِيحٍ.

“Sebanyak empat ratus sahabat pernah menetap di Hims. Di antara mereka adalah Amr bin Abasah, Abu Najih.”

Menanggapi kedua keterangan tersebut, Ibnu Asakir berkata:

كَذَا قَالَا، وَلَمْ يُتَابَعَا عَلَى شُهُودِهِ بَدْرًا.

“Demikianlah yang dikatakan oleh keduanya. Akan tetapi, tidak ada riwayat lain yang mendukung pernyataan mereka bahwa Amr bin Abasah turut serta dalam Perang Badar.”

Sementara itu, al-Waqidi berkata:

هَاجَرَ بَعْدَ خَيْبَرَ، وَقَبْلَ الْفَتْحِ، فَشَهِدَهَا.

“Ia berhijrah setelah Perang Khaibar dan sebelum penaklukan Makkah, sehingga ia turut menyaksikan peristiwa penaklukan tersebut.”

Amr bin Abasah juga digolongkan sebagai salah seorang sahabat yang menetap di wilayah Syam.

Tempat Tinggal dan Pertemuannya Kembali dengan Rasulullah ﷺ

Muhammad bin Umar berkata:

لَمَّا أَسْلَمَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ بِمَكَّةَ رَجَعَ إِلَى بِلَادِ قَوْمِهِ بَنِي سُلَيْمٍ، وَكَانَ يَنْزِلُ بِصَفْنَةَ وَحَاذَةَ وَهِيَ مِنْ أَرْضِ بَنِي سُلَيْمٍ.

“Ketika Amr bin Abasah memeluk Islam di Makkah, ia kembali ke wilayah tempat tinggal kaumnya, Bani Sulaim. Ia biasa menetap di Shafnah dan Hadzah, dua tempat yang termasuk wilayah Bani Sulaim.”

Muhammad bin Umar melanjutkan:

فَلَمْ يَزَلْ مُقِيمًا هُنَاكَ حَتَّى مَضَتْ بَدْرٌ وَأُحُدٌ وَالْخَنْدَقُ وَالْحُدَيْبِيَةُ وَحُنَيْنٌ، ثُمَّ قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ الْمَدِينَةَ، فَصَحِبَهُ وَسَمِعَ مِنْهُ وَرَوَى عَنْهُ.

“Ia terus menetap di sana hingga berlalu berbagai peristiwa besar, yaitu Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perjanjian Hudaibiyah, dan Perang Hunain.

Setelah itu, ia datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah ﷺ. Ia pun menyertai beliau, mendengarkan hadis-hadis langsung dari beliau, dan meriwayatkannya.”

Para Sahabat dan Tabiin yang Meriwayatkan Hadis Darinya

Di antara para sahabat yang meriwayatkan hadis dari Amr bin Abasah adalah Abdullah bin Mas‘ud, Abu Umamah al-Bahili, dan Sahl bin Sa‘d as-Sa‘idi.

Adapun dari kalangan tabiin, di antaranya adalah Abu Idris al-Khaulani, Sulaim bin Amir, Katsir bin Murrah, Adi bin Artha’ah, Jubair bin Nufair, dan selain mereka.

Hadis tentang Keutamaan Uban dalam Islam, Berjihad, dan Memerdekakan Budak

Abdurrahman bin Yazid meriwayatkan bahwa ia mendengar Amr bin Abasah berkata:

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ رَمَى سَهْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَلَغَ الْعَدُوَّ أَوْ قَصَّرَ، كَانَ لَهُ عَدْلَ رَقَبَةٍ، وَمَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً، أَعْتَقَ اللَّهُ تَعَالَى بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ الْمُعْتِقِ مِنَ النَّارِ.

“Barang siapa tumbuh sehelai uban pada dirinya ketika berada dalam Islam, maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari Kiamat.

Barang siapa melepaskan satu anak panah di jalan Allah, baik anak panah itu mencapai musuh maupun tidak sampai kepadanya, maka ia memperoleh pahala yang setara dengan memerdekakan seorang budak.

Dan barang siapa memerdekakan seorang budak yang beriman, maka Allah Ta‘ala akan membebaskan setiap anggota tubuh orang yang memerdekakannya dari api neraka, sebagai balasan atas setiap anggota tubuh budak yang dimerdekakannya.”

Kisah Awan yang Menaungi Amr bin Abasah

Abdurrahman bin Imran bin al-Harits meriwayatkan dari seorang maula (mantan budak yang telah dimerdekakan) milik Ka‘b. Ia berkata:

انْطَلَقْنَا مَعَ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ، وَعَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ، وَشَافِعِ بْنِ حَبِيبٍ الْهُذَلِيِّ.

“Kami pernah bepergian bersama al-Miqdad bin al-Aswad, Amr bin Abasah, dan Syafi‘ bin Habib al-Hudzali.”

Ia melanjutkan:

فَخَرَجَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ يَوْمًا لِلرَّعِيَّةِ، فَانْطَلَقْتُ نِصْفَ النَّهَارِ، يَعْنِي لِأَرَاهُ، فَإِذَا سَحَابَةٌ قَدْ أَظَلَّتْهُ، مَا فِيهَا عَنْهُ مَفْصِلٌ.

“Pada suatu hari, Amr bin Abasah pergi untuk menggembalakan ternak. Ketika tengah hari, aku berangkat untuk melihat keadaannya.

Ternyata ada segumpal awan yang menaunginya dengan sempurna, sehingga tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang luput dari naungan awan tersebut.”

Kemudian ia berkata:

فَأَيْقَظْتُهُ، فَقَالَ: إِنَّ هَذَا شَيْءٌ إِنْ عَلِمْتُ أَنَّكَ أَخْبَرْتَ بِهِ أَحَدًا لَا يَكُونُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ خَيْرٌ.

“Aku pun membangunkannya. Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah suatu perkara yang apabila aku mengetahui bahwa engkau menceritakannya kepada seseorang, maka hubungan antara aku dan engkau tidak akan baik lagi.’”

Perawi tersebut melanjutkan:

فَوَاللَّهِ مَا أَخْبَرْتُ بِهِ حَتَّى مَاتَ.

“Demi Allah, aku tidak pernah menceritakan peristiwa tersebut kepada siapa pun hingga ia meninggal dunia.”

Tempat Tinggal dan Wafatnya Amr bin Abasah

Al-Hakim Abu Ahmad berkata:

قَدْ سَكَنَ عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ الشَّامَ، وَيُقَالُ: إِنَّهُ مَاتَ بِحِمْصَ.

“Amr bin Abasah pernah menetap di wilayah Syam. Ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat di Hims.”

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

وَأَظُنُّهُ مَاتَ فِي أَوَاخِرِ خِلَافَةِ عُثْمَانَ؛ فَإِنَّنِي لَمْ أَرَ لَهُ ذِكْرًا فِي الْفِتْنَةِ، وَلَا فِي خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ.

“Menurut perkiraanku, ia wafat pada akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Sebab, aku tidak menemukan penyebutan namanya dalam berbagai peristiwa fitnah yang terjadi setelah itu, ataupun pada masa kekhalifahan Muawiyah.”

Disebutkan pula pendapat lain:

وَقِيلَ: خَرَجَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الشَّامِ فَنَزَلَهَا إِلَى أَنْ مَاتَ بِهَا.

“Ada pula yang mengatakan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, Amr bin Abasah berangkat menuju Syam, lalu menetap di sana hingga meninggal dunia.”

Pelajaran dari Kisah Keislaman Amr bin Abasah Radhiyallahu ‘Anhu

Di antara pelajaran dan faedah yang dapat dipetik dari kisah keislaman Amr bin Abasah radhiyallahu ‘anhu adalah sebagai berikut.

1. Islam pada Awal Kemunculannya Memiliki Sedikit Pengikut

Amr bin Abasah bertanya kepada Nabi ﷺ:

مَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا الْأَمْرِ؟

“Siapakah yang mengikutimu dalam perkara ini?”

Nabi ﷺ menjawab:

حُرٌّ وَعَبْدٌ.

“Seorang yang merdeka dan seorang hamba sahaya.”

Yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Bilal radhiyallahu ‘anhuma.

Mengenai keadaan tersebut, Nabi ﷺ bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

“Islam bermula dalam keadaan asing dan kelak akan kembali asing sebagaimana awal kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing.”

2. Kejujuran Nabi ﷺ dalam Menyampaikan Keadaan Dakwah

Dalam kisah ini terdapat bukti kejujuran Nabi ﷺ ketika menyebutkan sedikitnya jumlah pengikut beliau.

Beliau tidak mengaku memiliki banyak pengikut yang sebenarnya tidak ada, sekalipun pengakuan semacam itu mungkin dianggap menguntungkan kepentingan dakwah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.

3. Memperhatikan Kemampuan Pengikut dalam Berdakwah

Amr bin Abasah berkata kepada Nabi ﷺ:

إِنِّي مُتَّبِعُكَ.

“Sesungguhnya aku ingin mengikutimu.”

Nabi ﷺ menjawab:

إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ يَوْمَكَ هَذَا، أَلَا تَرَى حَالِي وَحَالَ النَّاسِ؟ وَلَكِنِ ارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ، فَإِذَا سَمِعْتَ بِي قَدْ ظَهَرْتُ فَأْتِنِي.

“Sesungguhnya engkau belum mampu melakukan hal itu pada saat ini. Tidakkah engkau melihat keadaanku dan keadaan orang-orang di sekitarku? Akan tetapi, kembalilah kepada keluargamu. Apabila engkau mendengar bahwa aku telah memperoleh kemenangan dan dakwahku telah tampak, datanglah menemuiku.”

Dari peristiwa ini dapat diambil beberapa pelajaran:

a. Dakwah Islam pada awal kemunculannya menghadapi penentangan.

Dakwah Islam ketika itu berlangsung di tengah kekuasaan orang-orang yang memerangi kebenaran. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menghadapi keadaan tersebut yang dapat bergabung secara langsung dalam perjuangan dakwah.

b. Seorang pemimpin tidak boleh membebani pengikutnya di luar kemampuan mereka.

Seorang pemimpin hendaknya memperhatikan kemampuan masing-masing pengikutnya dan tidak memberikan tugas atau tanggung jawab yang tidak sanggup mereka pikul.

c. Keyakinan Nabi ﷺ terhadap pertolongan Allah.

Perkataan Nabi ﷺ tersebut menunjukkan besarnya keyakinan beliau kepada Rabb-nya bahwa Allah akan menolong beliau dan memenangkan serta menampakkan agama-Nya.

4. Kesungguhan Amr bin Abasah dalam Mengikuti Perkembangan Dakwah Nabi ﷺ

Amr bin Abasah radhiyallahu ‘anhu sangat bersungguh-sungguh mencari dan mengikuti berita tentang Nabi ﷺ.

Ia senantiasa menantikan kabar mengenai keadaan beliau dan berharap agar kemenangan serta kejayaan dakwah Islam segera terwujud.

5. Keluhuran Akhlak Nabi ﷺ dalam Mengingat Sahabat Lamanya

Amr bin Abasah berkata:

فَقَدِمْتُ الْمَدِينَةَ، فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَعْرِفُنِي؟ قَالَ: «نَعَمْ، أَنْتَ الَّذِي لَقِيتَنِي بِمَكَّةَ؟».

“Aku pun datang ke Madinah, lalu menemui beliau. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenaliku?’

Beliau menjawab, ‘Ya, engkaulah orang yang pernah menemuiku di Makkah, bukan?’”

Dalam peristiwa ini terdapat pelajaran tentang keluhuran akhlak Rasulullah ﷺ.

Berbagai peristiwa besar yang telah beliau lalui tidak membuat beliau melupakan seseorang yang pernah menemui beliau pada masa lalu.

Oleh karena itu, hendaknya kita menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam menjaga hubungan baik, menghargai orang lain, dan tidak melupakan orang-orang yang pernah dekat dengan kita.

Penutup

Hadis tentang Amr bin Abasah ini sangat menakjubkan, mengandung banyak sekali pelajaran dan faedah.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ دِينَكَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِينَ.

“Ya Allah, muliakanlah agama-Mu, tinggikanlah kalimat-Mu, dan tolonglah hamba-hamba-Mu yang beriman.”

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya.

Pertanyaan Evaluasi

  • Ceritakanlah kisah keislaman Amr bin Abasah radhiyallahu ‘anhu.
  • Sebutkan beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah keislaman Amr bin Abasah radhiyallahu ‘anhu.
  • Apakah pada masa jahiliah terdapat orang-orang yang mengingkari perbuatan syirik kepada Allah? Sebutkan beberapa orang yang diketahui termasuk golongan tersebut.
  • Siapakah di antara para sahabat yang paling awal memeluk Islam?

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button