Seni Menjaga Perasaan dan Memahami Keadaan Jiwa Manusia dalam Islam
مُرَاعَاةُ النُّفُوسِ: Seni Menjaga Perasaan dan Memahami Keadaan Jiwa Manusia dalam Islam
☷ Daftar Isi Artikel
Pengertian Murā‘āt an-Nufūs
Murā‘āt an-Nufūs (مُرَاعَاةُ النُّفُوسِ) adalah sikap memperhatikan keadaan jiwa, perasaan, karakter, kemampuan, dan kondisi psikologis seseorang ketika berbicara, menasihati, mendidik, mengambil keputusan, atau berinteraksi dengannya.
Secara bahasa:
- مُرَاعَاةٌ berarti memperhatikan, mempertimbangkan, dan menjaga.
- النُّفُوسُ adalah jiwa-jiwa atau diri manusia.
Dalam konteks akhlak dan pendidikan Islam, pengertiannya dapat dirumuskan:
مُرَاعَاةُ أَحْوَالِ النُّفُوسِ وَمَشَاعِرِهَا وَطَبَائِعِهَا، وَالتَّعَامُلُ مَعَهَا بِالْحِكْمَةِ وَالرِّفْقِ، دُونَ مُخَالَفَةِ الشَّرْعِ.
Memperhatikan keadaan jiwa manusia, perasaan dan tabiatnya, serta memperlakukannya dengan hikmah dan kelembutan tanpa menyelisihi syariat.
Definisi tersebut adalah rumusan penjelasan, bukan kutipan literal dari seorang ulama tertentu.
Prinsip ini sangat penting dalam dakwah, tarbiyah, kepemimpinan, kehidupan rumah tangga, persahabatan, dan hubungan sosial.
Landasannya antara lain firman Allah Ta‘ala:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran yang disampaikan harus disertai cara penyampaian yang penuh hikmah. Kebenaran tidak boleh dikorbankan, tetapi hati manusia juga tidak boleh diabaikan.
A. Contoh dari Sirah Rasulullah ﷺ
1. Rasulullah ﷺ memendekkan salat karena tangisan seorang bayi
Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mengimami salat dan sebenarnya ingin memanjangkan bacaannya. Namun, ketika mendengar tangisan seorang bayi, beliau memendekkan salat.
Beliau bersabda:
إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ.
“Sesungguhnya aku memulai salat dengan keinginan untuk memanjangkannya. Namun, ketika aku mendengar tangisan bayi, aku meringankan salatku karena mengetahui betapa gelisahnya ibunya akibat tangisan tersebut.”
(HR. Al-Bukhari no. 709). Sunnah
Pelajaran murā‘āt an-nufūs:
Rasulullah ﷺ tidak hanya memikirkan kesempurnaan ibadah dari sisi panjangnya bacaan, tetapi juga mempertimbangkan kegelisahan seorang ibu.
Ini adalah teladan luar biasa bagi imam, guru, orang tua, dan pemimpin: jangan sampai keinginan melakukan sesuatu yang baik justru mengabaikan kondisi orang lain.
2. Orang Badui kencing di masjid, tetapi Nabi ﷺ melarang para sahabat membentaknya
Seorang Arab Badui masuk masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat segera bangkit untuk menghentikannya.
Namun, Rasulullah ﷺ bersabda:
دَعُوهُ، وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ
“Biarkan dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air.”
(HR. Al-Bukhari no. 6128). Sunnah
Beliau kemudian mengajarkan bahwa mereka diutus untuk memudahkan, bukan mempersulit.
Perhatikan, orang tersebut jelas melakukan kesalahan. Akan tetapi, Nabi ﷺ tidak membiarkan kemarahan para sahabat mengubah proses pendidikan menjadi tindakan yang kasar.
Pelajaran: Kesalahan orang yang belum mengetahui suatu hukum tidak selalu harus ditanggapi dengan kemarahan. Terkadang, kelembutan justru lebih berhasil menanamkan kebenaran.
3. Rasulullah ﷺ tidak membentak sahabat yang berbicara ketika salat
Mu‘awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu ‘anhu pernah salat bersama Nabi ﷺ.
Ketika seseorang bersin, Mu‘awiyah mengucapkan, “Yarhamukallah!” Para sahabat memandangnya dengan pandangan tidak suka karena berbicara dalam salat dilarang.
Setelah salat, Rasulullah ﷺ memanggilnya.
Mu‘awiyah mengenang:
مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ.
“Aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum ataupun sesudah beliau yang lebih baik pengajarannya daripada beliau.”
(HR. Muslim no. 537). Sunnah
Beliau tidak membentak, memukul, ataupun mencelanya. Beliau hanya menjelaskan bahwa salat bukan tempat untuk percakapan manusia.
Pelajaran: Seorang pendidik tidak cukup hanya membuat murid mengetahui kesalahannya. Ia juga perlu menjaga agar murid tidak kehilangan keberanian untuk bertanya dan belajar.
4. Rasulullah ﷺ tidak mengubah bangunan Ka’bah karena mempertimbangkan kondisi masyarakat
Ini salah satu contoh terpenting dari murā‘āt an-nufūs, khususnya dalam masalah kepemimpinan dan dakwah.
Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa bangunan Ka’bah saat itu tidak sepenuhnya mengikuti fondasi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Beliau sebenarnya ingin membangunnya kembali. Namun, beliau bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:
لَوْلَا حَدَاثَةُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْبَيْتَ
“Seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan kekufuran, niscaya aku akan merobohkan bangunan Ka’bah.”
(HR. Al-Bukhari no. 1585). Sunnah
Beliau mempertimbangkan bahwa masyarakat yang baru masuk Islam mungkin belum siap menerima perubahan besar terhadap bangunan yang mereka muliakan.
Pelajaran: Tidak setiap hal baik harus dilakukan seketika. Memperhatikan kesiapan masyarakat, kemungkinan kesalahpahaman, serta dampak suatu perubahan juga merupakan bagian dari hikmah.
Ini bukan berarti mengabaikan kewajiban syariat demi menjaga perasaan, melainkan mempertimbangkan maslahat dan mafsadat dalam perkara yang memberi ruang untuk itu.
5. Rasulullah ﷺ memperhatikan perasaan kaum Anshar setelah Perang Hunain
Setelah Perang Hunain, Rasulullah ﷺ memberikan sejumlah harta rampasan kepada beberapa tokoh yang baru memeluk Islam untuk menguatkan hati mereka.
Sebagian kaum Anshar merasa sedih karena tidak memperoleh bagian sebagaimana orang lain.
Ketika mendengar keadaan tersebut, Nabi ﷺ tidak langsung memarahi mereka. Beliau mengumpulkan kaum Anshar secara khusus, tanpa mengundang kelompok lain.
Beliau menjelaskan alasan pembagian itu, mengingatkan nikmat persaudaraan mereka, serta mengungkapkan betapa beliau mencintai kaum Anshar.
Di antara perkataan beliau:
أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالدُّنْيَا، وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ
“Tidakkah kalian rida ketika manusia pergi membawa harta dunia, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah?”
(HR. Al-Bukhari no. 4331). Sunnah
Kaum Anshar akhirnya menyatakan keridaan mereka.
Pelajaran: Ketika bawahan, murid, atau anggota keluarga merasa tidak diperhatikan, seorang pemimpin bijaksana tidak serta-merta menganggap perasaan itu sebagai pembangkangan. Ia mendengar, menjelaskan, dan memulihkan hubungan.
Perhatikan pula bahwa Nabi ﷺ memilih berbicara khusus dengan mereka. Tidak semua persoalan hati perlu dibuka di hadapan banyak orang.
6. Rasulullah ﷺ menegur Mu‘adz yang memanjangkan salat
Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah mengimami salat dengan bacaan yang panjang.
Salah seorang makmum yang telah bekerja keras merasa keberatan sehingga memisahkan diri dari salat berjamaah tersebut.
Ketika persoalan itu sampai kepada Nabi ﷺ, beliau menegur Mu‘adz:
أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟
“Apakah engkau hendak menimbulkan fitnah (kesulitan bagi manusia), wahai Mu‘adz?”
(HR. Al-Bukhari no. 705). Sunnah
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa di belakang imam terdapat orang lanjut usia, orang lemah, dan orang yang memiliki keperluan.
Pelajaran: Semangat ibadah pribadi tidak boleh dipaksakan kepada semua orang. Seorang pemimpin harus memperhatikan kemampuan orang yang dipimpinnya.
7. Nabi ﷺ memperhatikan perasaan seorang anak kecil yang kehilangan burungnya
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mempunyai seorang adik kecil yang dipanggil Abu ‘Umair. Anak tersebut memiliki seekor burung kecil yang biasa dimainkan.
Rasulullah ﷺ sering menyapanya:
يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟
“Wahai Abu ‘Umair, bagaimana keadaan burung kecilmu?”
(HR. Al-Bukhari no. 6203). Sunnah
Bayangkan, seorang Rasul yang memikul tanggung jawab dakwah besar masih memberikan perhatian kepada dunia seorang anak kecil.
Pelajaran: Sesuatu yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa sangat berarti bagi anak-anak. Memperhatikan kesenangan dan kesedihan mereka merupakan bagian dari kasih sayang.
8. Nabi ﷺ tidak pernah berkata kasar kepada Anas selama sepuluh tahun
Anas bin Malik melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun.
Ia mengisahkan:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ.
“Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan ‘ah’ kepadaku.”
(HR. Muslim no. 2309). Sunnah
Anas juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak terus-menerus menyalahkannya dengan pertanyaan mengapa ia melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Pelajaran: Seorang anak atau bawahan membutuhkan arahan, tetapi bukan celaan yang terus-menerus. Akhlak Nabi ﷺ memperlihatkan bagaimana hubungan yang penuh penghormatan dapat membekas sepanjang hidup seseorang.
9. Rasulullah ﷺ menghibur Fatimah yang menangis
Ketika Rasulullah ﷺ sakit menjelang wafat, putrinya, Fatimah radhiyallahu ‘anha, datang mengunjungi beliau.
Nabi ﷺ menyambutnya dan mempersilakannya duduk di sisi beliau.
Kemudian beliau membisikkan sesuatu yang membuat Fatimah menangis. Beliau kembali membisikkan sesuatu sehingga Fatimah tertawa.
Setelah Nabi ﷺ wafat, Fatimah menjelaskan bahwa tangisan pertamanya disebabkan kabar dekatnya wafat Rasulullah ﷺ. Adapun kebahagiaannya disebabkan kabar gembira yang disampaikan beliau.
(HR. Al-Bukhari no. 3623–3624). Sunnah
Pelajaran: Dalam menyampaikan berita berat, Nabi ﷺ memperhatikan keadaan hati orang yang menerimanya. Beliau tidak hanya menyampaikan kenyataan, tetapi juga memberikan penghiburan.
10. Nabi ﷺ menghadapi orang Badui yang menarik pakaiannya dengan kasar
Seorang Arab Badui pernah menarik pakaian Rasulullah ﷺ dengan sangat kuat sampai bekas tarikan itu terlihat pada pundak beliau.
Orang tersebut kemudian meminta harta dengan perkataan yang kurang sopan.
Alih-alih membalas dengan kemarahan, Nabi ﷺ menoleh, tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.
(HR. Al-Bukhari no. 3149). Sunnah
Pelajaran: Tidak semua kekasaran harus dijawab dengan kekasaran. Ada orang yang lebih membutuhkan kesabaran dan pendidikan daripada pembalasan.
11. Nabi ﷺ mempertimbangkan pandangan masyarakat dalam menghadapi Abdullah bin Ubay
Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul mengucapkan perkataan yang menyulut permusuhan, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk membunuhnya.
Namun, Nabi ﷺ tidak mengizinkannya. Beliau mempertimbangkan akibat sosial dan pandangan orang-orang yang mungkin mengatakan bahwa Muhammad membunuh orang yang dianggap sebagai sahabatnya.
(HR. Al-Bukhari no. 4905). Sunnah
Pelajaran: Kebijaksanaan pemimpin juga mencakup kemampuan memperkirakan bagaimana suatu tindakan akan dipahami masyarakat dan dampaknya terhadap dakwah.
B. Contoh dari Kisah Sahabat dan Sejarah Ulama
12. Abu Bakar tetap membantu orang yang pernah menyakiti keluarganya
Dalam peristiwa Hadīts al-Ifk (fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha), Misthah bin Utsatsah termasuk orang yang ikut menyebarkan berita dusta tersebut.
Padahal, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu biasa memberikan bantuan kepadanya karena hubungan kekerabatan dan keadaannya yang miskin.
Abu Bakar sangat terluka dan sempat bersumpah menghentikan bantuan tersebut.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)
Mendengar ayat ini, Abu Bakar menyatakan bahwa beliau menginginkan ampunan Allah dan kembali memberikan bantuan kepada Misthah.
(HR. Al-Bukhari no. 4750). Sunnah
Pelajaran: Memperhatikan keadaan orang lain tidak berarti kesalahannya dibenarkan. Abu Bakar tetap menyadari beratnya perbuatan Misthah, tetapi beliau tidak membiarkan luka hati menghapus kepedulian kepada kerabat yang membutuhkan.
13. Ali bin Abi Thalib mengajarkan agar berbicara sesuai pemahaman manusia
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟
“Sampaikanlah kepada manusia apa yang dapat mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm, no. 127). HadithWeb
Pelajaran: Seorang ustaz atau pendidik harus memperhatikan kesiapan intelektual pendengarnya. Materi yang cocok untuk mahasiswa tingkat lanjut belum tentu cocok untuk anak-anak atau masyarakat umum.
Inilah murā‘āt an-nufūs dari sisi kemampuan memahami ilmu.
14. Abdullah bin Mas‘ud memperingatkan bahaya menyampaikan sesuatu yang belum mampu dipahami
Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.
“Tidaklah engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang tidak mampu dijangkau oleh akal mereka, kecuali hal tersebut dapat menjadi fitnah bagi sebagian mereka.”
(Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya). مصدر: صحيح مسلم
Pelajaran: Hikmah bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi juga mengetahui kepada siapa, kapan, dan bagaimana penjelasan diberikan.
15. Imam Asy-Syafi‘i tetap menjaga persaudaraan meskipun berbeda pendapat
Ini salah satu kisah yang sangat indah dari sejarah ulama.
Yunus ash-Shadafi menceritakan bahwa ia pernah berdiskusi dan berbeda pendapat dengan Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah.
Setelah mereka berpisah, Imam Asy-Syafi‘i bertemu kembali dengannya, menggenggam tangannya, lalu berkata:
يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟
“Wahai Abu Musa, tidakkah kita tetap bisa menjadi saudara meskipun tidak sepakat dalam satu persoalan?”
Kisah ini dicantumkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’ (10/16–17 dalam salah satu cetakan). الإمام الشافعي- الجزء رقم10
Adz-Dzahabi mengomentari bahwa peristiwa tersebut menunjukkan kesempurnaan akal Imam Asy-Syafi‘i dan kedalaman pemahamannya terhadap jiwa manusia.
Pelajaran: Perbedaan pendapat ilmiah tidak harus berubah menjadi permusuhan pribadi. Terutama dalam masalah ijtihadiyyah yang memang memungkinkan adanya perbedaan.
Catatan sumber: Kisah ini merupakan laporan dalam literatur sejarah dan biografi ulama; kedudukannya tidak otomatis sama dengan hadis sahih dalam Shahih Al-Bukhari atau Muslim.
C. Bagaimana Menerapkan Murā‘āt an-Nufūs Sekarang?
| Keadaan | Contoh penerapannya |
|---|---|
| Anak melakukan kesalahan | Menasihatinya tanpa mempermalukannya di depan teman |
| Istri atau suami sedang sedih | Mendengarkan dan menenangkan sebelum memberikan kritik |
| Murid lambat memahami pelajaran | Mengulangi penjelasan dengan cara yang lebih sederhana |
| Orang baru belajar agama | Mengajarkan dasar-dasar secara bertahap |
| Sahabat berbeda pendapat | Menjaga penghormatan dan persaudaraan |
| Anggota organisasi merasa tersisih | Mendengar keluhannya dan menjelaskan keputusan secara baik |
| Masyarakat belum siap menerima perubahan | Memilih pendekatan bertahap selama tidak meninggalkan kewajiban |
D. Batasan Penting: Menjaga Perasaan Bukan Berarti Membenarkan Semua Keinginan
Murā‘āt an-nufūs bukan berarti harus selalu menyenangkan orang lain, diam terhadap kemungkaran, atau mengorbankan prinsip agama.
Ada perbedaan antara:
مُرَاعَاةُ النُّفُوسِ
Mempertimbangkan keadaan dan perasaan manusia dengan cara yang dibenarkan syariat.
مُدَاهَنَةُ النَّاسِ
Mengorbankan kebenaran atau melakukan kompromi yang tercela demi mendapatkan keridaan manusia.
Contohnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, kita tetap menyampaikan nasihat yang benar, tetapi memilih kata-kata, waktu, tempat, dan cara penyampaian yang tepat.
Kesimpulan
Dari berbagai kisah tersebut, terlihat bahwa Rasulullah ﷺ dan para ulama tidak memperlakukan semua orang dengan satu pola yang kaku.
Orang yang belum mengerti dibimbing. Orang yang lemah diringankan. Orang yang sedih dihibur. Anak kecil diperhatikan. Orang yang marah dihadapi dengan kesabaran. Orang yang berbeda pendapat tetap dihormati.
Prinsipnya dapat diringkas dengan ungkapan:
لَيْسَتِ الْحِكْمَةُ فِي أَنْ تَقُولَ الْحَقَّ فَحَسْبُ، بَلْ فِي أَنْ تَقُولَهُ بِالطَّرِيقَةِ الْمُنَاسِبَةِ، وَفِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ، وَلِلشَّخْصِ الْمُنَاسِبِ.
“Hikmah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga menyampaikannya dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, dan kepada orang yang tepat.”
Ini adalah rumusan pelajaran, bukan hadis atau kutipan ulama tertentu.
Inti murā‘āt an-nufūs ialah menjaga hati manusia tanpa mengorbankan kebenaran. Sebab tujuan dakwah dan pendidikan bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan membimbing manusia menuju kebaikan.