Tarbawi

Akulah yang Membutuhkan-Mu Bag 4

Akulah yang Membutuhkan-Mu (Bagian 4)

☷ Daftar Isi Artikel
  1. Mengoreksi dan Mencela Diri Sendiri
  2. Kefakiran adalah Kunci Dikabulkannya Doa
    Subjudul pembahasan
    1. Perkataan Ibnu Rajab
    2. Bait-Bait Syair tentang Doa dan Kefakiran kepada Allah
    3. Faedah
  3. Di antara Konsekuensi Merasa Fakir dan Membutuhkan Allah
    Subjudul pembahasan
    1. Apabila Engkau Meminta Pertolongan, Mintalah Pertolongan kepada Allah
      1. Janganlah Meminta kepada Selain Allah
      2. Az-Zubair, Orang yang Kaya karena Tuhannya

Mengoreksi dan Mencela Diri Sendiri (اتهام النفس)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai firman Allah:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka diliputi rasa takut, karena mereka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.’

(QS. Al-Mu’minun: 60)

Aisyah bertanya:

‘Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamar dan mencuri?’

Rasulullah ﷺ menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

‘Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan salat, dan bersedekah, sementara mereka merasa takut jika amal-amal tersebut tidak diterima dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam melakukan berbagai kebaikan.’

(Hadis sahih)

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadis ini dengan penuh ketepatan dan kecermatan.

Tidaklah seseorang yang termasuk golongan tabi’in membaca dan merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

‘Kemudian, Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.’

(QS. Fatir: 32)

Aisyah rahimahallah berkata:

‘Mereka semua akan berada di surga.

Adapun orang-orang yang bersegera dalam kebaikan adalah para sahabat Nabi ﷺ yang menemani beliau dan berjuang bersama beliau.

Sedangkan golongan pertengahan adalah mereka yang mengikuti para sahabat dengan baik.

Adapun orang-orang yang menzalimi diri sendiri adalah orang-orang seperti aku dan kalian!’

Mahasuci Allah!

Demikianlah yang diucapkan oleh Aisyah, padahal ketika Rasulullah ﷺ wafat, beliau berada di antara dada dan leher Aisyah.

Aisyah adalah salah seorang manusia yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ.

Bahkan, salah satu peristiwa terakhir yang terjadi antara beliau dan Rasulullah ﷺ adalah ketika Nabi ﷺ menyentuh air liur Aisyah dengan air liur beliau, saat Aisyah melunakkan siwak untuk beliau.

Aisyah pula istri Nabi ﷺ yang ketika Rasulullah wafat, beliau dalam keadaan rida kepadanya.

Namun, dengan segala keutamaan dan kedudukannya itu, Aisyah tetap merendahkan dirinya di hadapan Allah, Rabb semesta alam, karena merasa betapa fakir dan membutuhkannya dirinya kepada-Nya.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kefakiran adalah Kunci Dikabulkannya Doa (الفقر مفتاح الإجابة)

Perkataan Ibnu Rajab رحمه الله

Ibnu Rajab berkata:

“Sesungguhnya apabila seorang mukmin merasa bahwa kelapangan dan kebahagiaan yang dinantikannya datang begitu lambat, lalu ia berputus asa terhadap datangnya kelapangan itu, terlebih setelah ia banyak berdoa dan merendahkan diri kepada Allah, sementara ia belum melihat tanda-tanda dikabulkannya doa tersebut, maka ia akan kembali mencela dirinya sendiri.

Ia berkata kepada dirinya:

‘Sesungguhnya semua ini terjadi karena dirimu sendiri. Seandainya terdapat kebaikan dalam dirimu, tentu doamu telah dikabulkan.’

Sikap mencela diri sendiri seperti ini lebih dicintai Allah daripada banyaknya amal ketaatan.

Sebab, sikap tersebut melahirkan ketundukan dan kehancuran hati seorang hamba di hadapan Tuhannya, serta pengakuannya bahwa dirinya tidak pantas untuk mendapatkan pengabulan doa.

Oleh karena itu, keadaan seperti ini dapat menjadikan doa lebih cepat dikabulkan dan kesulitan lebih cepat dihilangkan.

Sebab, Allah Subhanahu wa Ta‘ala senantiasa dekat dengan orang-orang yang hatinya hancur dan merendahkan diri karena mengharap-Nya.”

Bait-Bait Syair tentang Doa dan Kefakiran kepada Allah

Perbanyaklah mengingat-Nya di bumi setiap hari,
Niscaya Dia akan mengingat kita di langit ketika kita mengingat-Nya.

Dan serulah Dia ketika engkau bersujud kepada-Nya dengan penuh pengakuan akan kelemahanmu,
Dengan memanggil-Nya: Wahai Zat Yang Maha Pengasih, Wahai Zat Yang Maha Pemberi.

Mintalah kepada Tuhanmu taufik dan pertolongan dalam segala urusan,
Sebagaimana kita memohon kepada-Nya pada saat menghadapi berbagai pertanyaan dan kesulitan.

Dan senantiasalah berada di depan pintu-Nya, ketuklah pintu itu dengan sungguh-sungguh,
Niscaya pintu itu akan dibukakan untukmu, meskipun sebelumnya tertutup.

Faedah

Ibnu Najid, seorang syekh di Naisabur, berkata:

“Tidaklah seseorang benar-benar tulus dalam penghambaan kepada Allah hingga seluruh perbuatannya menjadi seperti angin yang berembus, dan seluruh keadaannya menjadi seperti pengakuan-pengakuan seorang hamba yang berdoa.”

Di antara Konsekuensi Merasa Fakir dan Membutuhkan Allah (من لوازم الفقر)

1. Apabila Engkau Meminta Pertolongan, Mintalah Pertolongan kepada Allah

وإذا استعنت فاستعن بالله

“Apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.”

Apabila kebutuhan hidup membuatmu mengeluh, maka berlindunglah kepada Allah Yang Maha Kaya.

Apabila kekeringan dan kekurangan menimpamu, sedangkan engkau telah kehilangan kemuliaan dan harga dirimu, maka ketuklah pintu Allah Yang Mahaperkasa.

Apabila kelemahan mulai menjalar ke seluruh tubuhmu, maka mintalah kekuatan kepada Allah Yang Mahakuat.

Dialah satu-satunya Zat yang memberi dan menahan pemberian.

Dialah satu-satunya Zat yang menyambung dan memutuskan.

Dialah satu-satunya Zat yang di tangan-Nya terdapat kunci-kunci segala sesuatu.

“Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.”

Ketika para sahabat mendengar hadis ini, salah seorang di antara mereka pernah berada dalam keadaan ketika cambuknya terjatuh saat menunggang kuda. Ia enggan meminta orang lain mengambilkannya, bahkan ia sendiri yang turun untuk mengambilnya.

Janganlah Meminta kepada Selain Allah

Dikisahkan bahwa Shilah bin Asyyam pernah berada dalam suatu peperangan. Tiba-tiba kudanya mati sehingga ia tetap berdiri di dekatnya dalam keadaan bersedih.

Kemudian ia berdoa:

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan makhluk memiliki jasa pemberian kepadaku, karena sesungguhnya aku merasa malu untuk meminta kepada selain-Mu.”

Lalu Allah menghidupkan kembali kudanya sehingga ia dapat menungganginya.

Ketika ia sampai kepada keluarganya, ia berkata kepada pelayannya:

“Lepaskan pelana kuda ini, karena sesungguhnya kuda ini hanyalah pinjaman.”

Ketika pelananya dilepaskan, kuda itu pun langsung jatuh dalam keadaan mati!

-Az-Zubair, Orang yang Kaya karena Tuhannya (الزبير غني بربه)

Ketika Az-Zubair bin Al-Awwam berada dalam keadaan sakit menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada putranya, Abdullah, agar melunasi utang-utangnya.

Ia berkata:

“Wahai anakku, apabila engkau tidak mampu menyelesaikan sesuatu dari utang-utangku, maka mintalah pertolongan kepada Maulaku (Pelindungku).”

Putranya berkata:

“Aku terus memikirkan perkataan itu hingga akhirnya aku bertanya, ‘Wahai Ayah, siapakah Maulamu?’”

Az-Zubair menjawab:

“Allah ‘Azza wa Jalla.”

Abdullah berkata:

“Demi Allah, tidaklah aku mengalami kesulitan dalam melunasi utang-utang beliau, melainkan aku berkata, ‘Wahai Maula Az-Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah pun memberikan jalan untuk melunasinya.”

(Diterjemahkan dari kitab Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button