Sebab-Sebab Husnul Khatimah dan Suul Khatimah
Sebab-Sebab Husnul Khatimah dan Suul Khatimah
☷ Daftar Isi Artikel
- Mukadimah
- Allah Mahakaya dan Tidak Membutuhkan Amal Hamba-Nya
- Amal Saleh sebagai Jalan Menuju Akhir Kehidupan yang Baik
- Kemaksiatan dan Pengaruh Buruknya terhadap Kehidupan
- Mengapa Husnul Khatimah Sangat Penting?
- Perhatian Orang-Orang Saleh terhadap Husnul Khatimah
-
Sebab-Sebab Memperoleh Husnul Khatimah
Lihat 10 sebab memperoleh husnul khatimah
- Memperbaiki Niat dan Mengikhlaskan Ibadah
- Menjaga Salat Lima Waktu
- Memelihara Iman dan Melakukan Perbaikan
- Bertakwa dalam Keadaan Tersembunyi maupun Terang-Terangan
- Menjauhi Dosa-Dosa Besar
- Mengikuti Sunah Rasulullah dan Petunjuk Para Sahabat
- Menjauhi Kezaliman
- Memperbanyak Kebaikan kepada Sesama
- Menjaga Agama dari Bidah
- Memperbanyak Doa Memohon Keteguhan dan Husnul Khatimah
- Ketakutan Generasi Salaf terhadap Suul Khatimah
- Gambaran Husnul Khatimah
- Gambaran Suul Khatimah dan Pelajaran darinya
-
Sebab-Sebab yang Dikhawatirkan Mengantarkan kepada Suul Khatimah
Lihat 8 sebab yang perlu diwaspadai
- Meninggalkan Kewajiban dan Terus-Menerus Melakukan Kemaksiatan
- Melakukan Bidah dan Menyimpang dari Petunjuk Rasulullah
- Berbuat Zalim kepada Manusia
- Enggan Berbuat Baik dan Lalai Berdoa
- Terlalu Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
- Memelihara Penyakit-Penyakit Hati
- Durhaka kepada Orang Tua dan Memutuskan Silaturahmi
- Membuat Wasiat yang Zalim
- Jangan Merasa Aman dan Jangan Berputus Asa
- Penutup
- Doa Memohon Husnul Khatimah
Menjemput Akhir Kehidupan yang Baik dan Menjauhi Sebab-Sebab Akhir Kehidupan yang Buruk
Mukadimah
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala, Rabb seluruh alam. Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalnya. Dialah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, meneguhkan hati hamba-hamba-Nya di atas keimanan, serta memberikan taufik kepada mereka untuk mengakhiri kehidupan dalam keadaan yang diridai-Nya.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.
Kehidupan dunia merupakan perjalanan sementara menuju kehidupan akhirat yang kekal. Setiap manusia akan menghadapi kematian, tetapi tidak seorang pun mengetahui kapan, di mana, dan dalam keadaan bagaimana ajalnya akan tiba.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan balasan kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Referensi: QS. Ali ‘Imran: 185.
Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan manusia yang sesungguhnya bukan semata-mata diukur berdasarkan kekayaan, kedudukan, kesehatan, panjangnya usia, atau banyaknya pencapaian duniawi. Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang meninggalkan dunia dalam keadaan beriman, memperoleh keridaan Allah, dan akhirnya dimasukkan ke dalam surga-Nya.
Oleh karena itu, salah satu perkara terpenting yang harus diperhatikan seorang muslim adalah bagaimana kehidupannya akan berakhir.
Dalam ajaran Islam, akhir kehidupan yang baik dikenal dengan istilah husnul khatimah (حُسْنُ الْخَاتِمَةِ), sedangkan akhir kehidupan yang buruk disebut suul khatimah (سُوءُ الْخَاتِمَةِ).
Husnul khatimah merupakan karunia Allah yang sangat agung. Ia tidak dapat diperoleh hanya dengan angan-angan, melainkan harus diupayakan melalui keimanan, keikhlasan, ketakwaan, amal saleh, istikamah, pertobatan, serta doa yang terus-menerus dipanjatkan kepada Allah.
Sebaliknya, suul khatimah merupakan keadaan yang sangat ditakuti oleh orang-orang beriman. Kemaksiatan, kezaliman, penyimpangan akidah, penyakit hati, dan kelalaian terhadap akhirat merupakan perkara-perkara yang dapat membahayakan keselamatan seseorang apabila terus dipelihara hingga akhir kehidupannya.
Pembahasan ini akan menguraikan keutamaan amal saleh, pentingnya menjaga akhir kehidupan, sebab-sebab memperoleh husnul khatimah, perhatian generasi salaf terhadapnya, serta berbagai perkara yang dapat mengantarkan seseorang kepada suul khatimah.
1. Allah Mahakaya dan Tidak Membutuhkan Amal Hamba-Nya
Landasan pertama dalam memahami hubungan antara amal manusia dan akhir kehidupannya adalah menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala Mahakaya dan sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Ketaatan seluruh manusia tidak akan menambah kesempurnaan kekuasaan Allah, sebagaimana kemaksiatan mereka tidak akan mengurangi sedikit pun keagungan-Nya.
Dalam hadis qudsi, Allah Ta‘ala berfirman:
يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي.
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencapai sesuatu yang dapat membahayakan-Ku sehingga kalian dapat memberikan mudarat kepada-Ku. Kalian juga tidak akan mampu mencapai sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberikan manfaat kepada-Ku.”
Referensi: HR. Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, no. 2577, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
Allah Ta‘ala juga berfirman:
﴿ وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴾
“Janganlah engkau (Muhammad) disedihkan oleh orang-orang yang bersegera dalam kekafiran. Sesungguhnya mereka tidak akan sedikit pun merugikan Allah. Allah berkehendak agar mereka tidak memperoleh bagian di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar.”
Referensi: QS. Ali ‘Imran: 176.
Dengan demikian, setiap ketaatan yang dilakukan manusia pada hakikatnya kembali memberikan manfaat kepada dirinya sendiri. Demikian pula, setiap kemaksiatan yang dilakukannya akan mendatangkan kerugian bagi dirinya, kecuali apabila Allah memberikan ampunan dan rahmat-Nya.
Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beramal karena Allah membutuhkan amalnya, tetapi karena dirinya sangat membutuhkan rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah.
2. Amal Saleh sebagai Jalan Menuju Akhir Kehidupan yang Baik
Amal saleh merupakan salah satu sebab utama datangnya kebaikan di dunia dan akhirat. Namun, amal saleh tidak terbatas pada ibadah yang tampak secara lahiriah, seperti salat, puasa, zakat, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.
Amal saleh juga mencakup amalan hati yang menjadi fondasi seluruh bentuk ketaatan.
Di antara amalan hati yang paling agung adalah iman kepada Allah, keikhlasan, tawakal, rasa takut terhadap azab-Nya, harapan terhadap rahmat-Nya, kecintaan kepada-Nya, serta ketergantungan hati hanya kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan karunia itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Referensi: QS. Yunus: 107.
Amalan anggota badan memiliki hubungan yang sangat erat dengan keadaan hati. Hati yang dipenuhi keimanan dan keikhlasan akan mendorong pemiliknya untuk melaksanakan ketaatan, sedangkan hati yang dikuasai hawa nafsu akan lebih mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
Referensi: HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 1; Muslim, Shahih Muslim, no. 1907, dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini menunjukkan bahwa nilai suatu amal tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, tetapi juga oleh niat yang melatarbelakanginya.
Seseorang mungkin melakukan amal yang tampak besar di hadapan manusia, tetapi tidak memperoleh pahala karena kehilangan keikhlasan. Sebaliknya, suatu amal yang tampak sederhana dapat memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena itu, memperbaiki hati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha meraih husnul khatimah.
3. Kemaksiatan dan Pengaruh Buruknya terhadap Kehidupan
Sebagaimana amal saleh menjadi sebab datangnya kebaikan, kemaksiatan juga dapat menjadi sebab munculnya berbagai keburukan dalam kehidupan manusia.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian.”
Referensi: QS. asy-Syura: 30.
Allah Ta‘ala juga berfirman:
﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”
Referensi: QS. ar-Rum: 41.
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa dosa dan kemaksiatan memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Akan tetapi, tidak setiap musibah yang menimpa seseorang dapat langsung dinyatakan sebagai hukuman atas dosa tertentu. Musibah juga dapat menjadi ujian, penghapus kesalahan, atau sebab diangkatnya derajat seorang mukmin.
Kemaksiatan yang terus dilakukan tanpa pertobatan dapat melemahkan keimanan, mengeraskan hati, dan menjauhkan seseorang dari ketaatan.
Apabila keadaan tersebut dibiarkan, dikhawatirkan seseorang akan menghadapi kematian ketika masih berada dalam kebiasaan buruk yang selama ini menguasai kehidupannya.
Oleh sebab itu, menjaga diri dari dosa dan segera bertobat merupakan bagian penting dari persiapan menghadapi kematian.
4. Mengapa Husnul Khatimah Sangat Penting?
Setiap muslim diperintahkan untuk beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya. Tidak ada masa tertentu ketika seorang hamba diperbolehkan meninggalkan kewajiban agama selama dirinya masih memiliki kemampuan dan terkena beban syariat.
Akan tetapi, perhatian terhadap amal saleh menjadi semakin penting ketika seseorang menyadari bahwa usianya terus berkurang dan kematiannya semakin dekat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.
“Sesungguhnya amal-amal itu ditentukan oleh penutupnya.”
Referensi: HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Qadar, no. 6607, dari Sahl bin Sa‘d radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini mengandung pelajaran bahwa akhir kehidupan memiliki kedudukan yang sangat penting.
Seseorang tidak boleh merasa aman hanya karena telah melakukan banyak amal saleh pada masa lalu. Sebaliknya, orang yang pernah terjerumus dalam kemaksiatan tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah selama pintu pertobatan masih terbuka.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Referensi: QS. Ali ‘Imran: 102.
Perintah agar tidak meninggal kecuali dalam keadaan muslim mengandung tuntutan untuk senantiasa memelihara keislaman sepanjang kehidupan. Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang.
Dengan demikian, husnul khatimah bukan hanya persoalan ucapan atau keadaan seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya, tetapi juga berkaitan erat dengan keimanan, keikhlasan, dan istikamah yang dipelihara selama hidup.
5. Perhatian Orang-Orang Saleh terhadap Husnul Khatimah
Para nabi dan orang-orang saleh memberikan perhatian besar terhadap akhir kehidupan mereka. Mereka tidak hanya berusaha memperbanyak amal saleh, tetapi juga memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan beriman.
Allah Ta‘ala mengisahkan wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya‘qub ‘alaihimassalam kepada anak-anak mereka:
﴿ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Ibrahim mewasiatkan agama itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya‘qub. Ia berkata, ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian. Maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.’”
Referensi: QS. al-Baqarah: 132.
Wasiat tersebut menunjukkan bahwa salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua kepada anak-anaknya adalah mengarahkan mereka agar menjaga agama hingga akhir hayat.
Demikian pula, Allah mengabadikan doa orang-orang beriman:
﴿ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴾
“Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.”
Referensi: QS. Ali ‘Imran: 193.
Dalam ayat lain disebutkan:
﴿ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ ﴾
“Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.”
Referensi: QS. al-A‘raf: 126.
Doa-doa tersebut mengajarkan bahwa keselamatan pada akhir kehidupan merupakan perkara yang harus terus dimohonkan kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
“Ya Allah, Zat Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk senantiasa menaati-Mu.”
Referensi: HR. Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, no. 2654, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma.
Doa tersebut menunjukkan bahwa keteguhan hati bukan semata-mata hasil kekuatan manusia. Hati manusia berada dalam kekuasaan Allah, sehingga setiap hamba membutuhkan pertolongan-Nya agar tetap berada di atas kebenaran.
Orang-orang saleh memahami bahwa amal yang telah dilakukan bukan alasan untuk merasa pasti selamat. Mereka menggabungkan kesungguhan beramal dengan rasa takut terhadap kekurangan diri sendiri dan harapan yang besar terhadap rahmat Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Referensi: QS. al-Baqarah: 218.
Sikap inilah yang seharusnya dimiliki setiap muslim: bersungguh-sungguh dalam beramal, tidak merasa bangga terhadap amal sendiri, dan terus berharap agar Allah menerima seluruh amal tersebut serta memberikan akhir kehidupan yang baik.
6. Sebab-Sebab Memperoleh Husnul Khatimah
Husnul khatimah merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Meskipun demikian, Allah telah mensyariatkan berbagai sebab yang dapat diusahakan seorang hamba untuk memperoleh karunia tersebut.
Pertama: Memperbaiki Niat dan Mengikhlaskan Ibadah
Keikhlasan merupakan fondasi utama amal saleh. Setiap ibadah hendaknya dilakukan untuk mencari keridaan Allah, bukan untuk memperoleh pujian, kedudukan, atau keuntungan duniawi.
Keikhlasan harus disertai dengan kesesuaian amal terhadap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seseorang yang membiasakan diri memperbaiki niat akan lebih mudah menjaga amalnya dari riya, sumah, dan berbagai penyakit hati lainnya.
Kedua: Menjaga Salat Lima Waktu
Salat merupakan salah satu ibadah terpenting dalam kehidupan seorang muslim. Menjaga salat pada waktunya, menyempurnakan syarat dan rukunnya, serta melaksanakannya secara berjamaah bagi yang diwajibkan atau dianjurkan merupakan bagian penting dari istikamah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barang siapa melaksanakan dua salat pada waktu yang sejuk, ia akan masuk surga.”
Referensi: HR. al-Bukhari, no. 574, dan Muslim, no. 635, dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu.
Yang dimaksud dengan al-bardain adalah salat Subuh dan Asar.
Kedua salat ini mendapatkan perhatian khusus karena waktu pelaksanaannya sering kali bertepatan dengan keadaan ketika manusia sedang beristirahat atau sibuk dengan urusan dunia.
Orang yang mampu menjaga kedua salat tersebut diharapkan lebih mampu menjaga salat-salat lainnya.
Ketiga: Memelihara Iman dan Melakukan Perbaikan
Keimanan harus disertai dengan usaha memperbaiki diri, keluarga, dan lingkungan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾
“Barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Referensi: QS. al-An‘am: 48.
Perbaikan tersebut mencakup memperbaiki akidah, ibadah, akhlak, hubungan dengan sesama manusia, serta mengajak kepada kebaikan dengan ilmu dan hikmah.
Keempat: Bertakwa dalam Keadaan Tersembunyi maupun Terang-Terangan
Ketakwaan yang sebenarnya tidak hanya tampak ketika seseorang berada di hadapan manusia, tetapi juga ketika dirinya sendirian dan tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴾
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Referensi: QS. al-Qashash: 83.
Allah Ta‘ala juga berfirman:
﴿ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى ﴾
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”
Referensi: QS. Thaha: 132.
Ketakwaan yang dijaga secara terus-menerus merupakan salah satu sebab terbesar seseorang memperoleh kesudahan yang baik.
Kelima: Menjauhi Dosa-Dosa Besar
Menjauhi dosa-dosa besar merupakan bagian penting dari usaha menjaga keselamatan agama.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا ﴾
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang untuk kalian lakukan, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia.”
Referensi: QS. an-Nisa’: 31.
Termasuk dosa-dosa besar yang harus dijauhi adalah kesyirikan, pembunuhan tanpa hak, zina, riba, durhaka kepada orang tua, kezaliman, dan berbagai pelanggaran berat lainnya.
Apabila seseorang telah terjerumus ke dalam dosa, kewajibannya adalah segera bertobat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan dosa tersebut, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Keenam: Mengikuti Sunah Rasulullah dan Petunjuk Para Sahabat
Mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan jalan keselamatan dalam beragama.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
Referensi: QS. al-Ahzab: 21.
Allah juga memuji generasi Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik:
﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
Referensi: QS. at-Taubah: 100.
Mengikuti sunah berarti menjadikan Al-Qur’an dan petunjuk Nabi sebagai pedoman dalam akidah, ibadah, akhlak, dan seluruh aspek kehidupan.
Ketujuh: Menjauhi Kezaliman
Kezaliman merupakan dosa yang sangat berbahaya, terutama apabila berkaitan dengan hak-hak manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ.
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Adapun orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah.”
Referensi: HR. al-Bukhari, no. 10, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ.
“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah.”
Referensi: HR. al-Bukhari, no. 2448, dan Muslim, no. 19, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Dalam hadis lain disebutkan:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ.
“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk Allah segerakan hukumannya kepada pelakunya di dunia, di samping hukuman yang disimpan baginya di akhirat, daripada perbuatan zalim dan memutuskan hubungan silaturahmi.”
Referensi: HR. Abu Dawud, no. 4902; at-Tirmidzi, no. 2511; dan Ibnu Majah, no. 4211, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
Karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menyelesaikan tanggungan hak orang lain sebelum kematian datang, baik berupa utang, harta yang diambil tanpa hak, penghinaan, maupun bentuk kezaliman lainnya.
Kedelapan: Memperbanyak Kebaikan kepada Sesama
Berbuat baik kepada sesama manusia merupakan salah satu amalan mulia yang mendatangkan rahmat Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Referensi: QS. al-Baqarah: 274.
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ.
“Perbuatan-perbuatan baik dapat melindungi seseorang dari akhir kehidupan yang buruk.”
Referensi: Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/124). Al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘, no. 3795. Riwayat ini memiliki sejumlah jalur yang pembahasan kekuatannya perlu memperhatikan keseluruhan sanad.
Kebaikan kepada sesama dapat diwujudkan melalui sedekah, membantu orang yang membutuhkan, memudahkan urusan orang lain, menyambung silaturahmi, serta menahan diri dari menyakiti sesama.
Kesembilan: Menjaga Agama dari Bidah
Menjaga kemurnian ibadah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian penting dari usaha memperoleh keselamatan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ﴾
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat membenarkan kebenaran, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.”
Referensi: QS. an-Nisa’: 69.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya mempelajari agama berdasarkan dalil yang benar, mengikuti petunjuk Rasulullah, serta berhati-hati terhadap keyakinan dan bentuk ibadah yang tidak memiliki landasan syariat.
Kesepuluh: Memperbanyak Doa Memohon Keteguhan dan Husnul Khatimah
Doa merupakan salah satu sebab terbesar untuk memperoleh pertolongan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾
“Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’”
Referensi: QS. Ghafir: 60.
Seorang muslim hendaknya memperbanyak doa agar Allah menjaga keimanannya, mengampuni dosa-dosanya, dan mewafatkannya dalam keadaan Islam.
Selain berdoa untuk diri sendiri, seorang muslim juga dianjurkan mendoakan saudaranya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ.
“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata, ‘Amin, dan bagimu juga seperti apa yang engkau doakan.’”
Referensi: HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 2732, dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
7. Ketakutan Generasi Salaf terhadap Suul Khatimah
Generasi salaf yang saleh merupakan orang-orang yang sangat memperhatikan keselamatan iman dan akhir kehidupan mereka.
Meskipun memiliki banyak amal saleh, mereka tidak merasa aman dari kemungkinan terjatuh dalam kemunafikan, penyimpangan, atau akhir kehidupan yang buruk.
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata:
أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ.
“Aku telah menjumpai tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya merasa takut terhadap kemunafikan yang mungkin ada pada diri mereka.”
Referensi: Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Khauf al-Mu’min min an Yahbatha ‘Amaluhu wa Huwa la Yasy‘ur.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga menyebutkan keadaan Sufyan ats-Tsauri:
وَكَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يَشْتَدُّ قَلَقُهُ وَخَوْفُهُ مِنَ السَّوَابِقِ وَالْخَوَاتِمِ، فَكَانَ يَبْكِي وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أَكُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا، وَيَبْكِي وَيَقُولُ: أَخَافُ أَنْ أُسْلَبَ الْإِيمَانَ عِنْدَ الْمَوْتِ.
“Sufyan ats-Tsauri sangat gelisah dan takut terhadap ketetapan terdahulu dan akhir kehidupannya. Beliau menangis seraya berkata, ‘Aku takut jika dalam Ummul Kitab aku telah ditetapkan sebagai orang yang celaka.’
Beliau juga menangis sambil berkata, ‘Aku takut jika keimanan dicabut dariku ketika kematian tiba.’”
Referensi: Ibnu Rajab, Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam, hlm. 57, berdasarkan edisi yang dirujuk dalam naskah asal.
Diriwayatkan pula bahwa Malik bin Dinar rahimahullah biasa menghidupkan malamnya dengan ibadah sambil berkata:
يَا رَبِّ، قَدْ عَلِمْتَ سَاكِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَفِي أَيِّ مَنْزِلٍ مَالِكٌ؟
“Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah mengetahui siapa yang akan menjadi penghuni surga dan neraka. Lalu, di tempat manakah Malik akan berada?”
Referensi: Ahmad bin Hanbal, az-Zuhd, hlm. 321; Ibnu al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah (3/285).
Kisah-kisah tersebut menggambarkan besarnya perhatian generasi salaf terhadap keselamatan akhir kehidupan.
Rasa takut mereka bukanlah keputusasaan terhadap rahmat Allah, melainkan dorongan untuk terus memperbaiki amal, memperbanyak pertobatan, dan memohon keteguhan iman.
8. Gambaran Husnul Khatimah
Di antara tanda akhir kehidupan yang baik adalah ketika seseorang diberikan taufik untuk menutup kehidupannya dengan keimanan dan amal saleh.
Salah satu keadaan yang disebutkan secara jelas dalam hadis adalah ketika seseorang meninggal dengan kalimat tauhid sebagai ucapan terakhirnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barang siapa ucapan terakhirnya adalah la ilaha illallah, ia akan masuk surga.”
Referensi: HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 3116, dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Dalam sejumlah kisah disebutkan bahwa sebagian orang yang menghadapi kematian masih membaca Al-Qur’an, berzikir, atau membicarakan persoalan ilmu.
Kisah-kisah semacam ini dapat menjadi pengingat tentang pentingnya membiasakan diri dengan ketaatan. Namun, kisah yang tidak memiliki sumber dan sanad yang jelas tidak boleh dipastikan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi.
Selain itu, keadaan lahiriah seseorang ketika meninggal bukan satu-satunya dasar untuk memastikan kedudukannya di akhirat. Pengetahuan tentang hakikat iman, keikhlasan, dan kesudahan setiap manusia berada di sisi Allah.
Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya berharap memperoleh akhir kehidupan yang baik tanpa merasa berhak memastikan keselamatan dirinya sendiri.
9. Gambaran Suul Khatimah dan Pelajaran darinya
Sebagaimana terdapat kisah tentang orang-orang yang mengakhiri kehidupan dalam ketaatan, terdapat pula berbagai kisah yang menggambarkan keadaan orang-orang yang menghadapi kematian ketika masih dikuasai kebiasaan buruk.
Di antara kisah yang dinukil dalam literatur nasihat adalah cerita seseorang yang sulit mengucapkan kalimat tauhid karena telah terbiasa dengan minuman keras, transaksi riba, atau perbuatan maksiat lainnya.
Terdapat pula kisah seseorang yang ketika menghadapi kematian justru mengucapkan perkataan yang berkaitan dengan kebiasaan buruknya selama hidup.
Namun, kisah-kisah semacam itu harus disikapi secara ilmiah. Tidak semua kisah memiliki sanad yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak boleh disampaikan sebagai kejadian yang pasti terbukti tanpa penelitian.
Pelajaran yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga kebiasaan sehari-hari. Apa yang sering dipikirkan, dicintai, diucapkan, dan dilakukan seseorang dapat memberikan pengaruh besar terhadap keadaan hatinya.
Meskipun demikian, tidak boleh memastikan bahwa seseorang mengalami suul khatimah hanya karena ia tampak kesulitan berbicara, tidak mampu mengucapkan syahadat, atau menunjukkan keadaan tertentu ketika sakaratulmaut. Kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh kondisi fisik dan tidak selalu mencerminkan keadaan iman seseorang.
Penilaian akhir terhadap seorang hamba merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
10. Sebab-Sebab yang Dikhawatirkan Mengantarkan kepada Suul Khatimah
Pertama: Meninggalkan Kewajiban dan Terus-Menerus Melakukan Kemaksiatan
Meninggalkan kewajiban agama, terutama salat, serta membiasakan diri melakukan perkara-perkara haram merupakan keadaan yang sangat berbahaya bagi seorang muslim.
Dosa yang dilakukan berulang-ulang tanpa pertobatan dapat mengeraskan hati dan melemahkan keinginan untuk melakukan ketaatan.
Apabila seseorang terus mempertahankan kebiasaan tersebut, dikhawatirkan kematian datang ketika dirinya belum sempat bertobat.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh menunda pertobatan dengan alasan masih muda, masih sehat, atau merasa memiliki waktu yang panjang.
Kedua: Melakukan Bidah dan Menyimpang dari Petunjuk Rasulullah
Penyimpangan dalam akidah dan ibadah merupakan perkara yang harus diwaspadai.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang sebagian orang yang dihalau dari telaga beliau karena melakukan perubahan terhadap ajaran agama sepeninggal beliau.
Dalam salah satu redaksi hadis disebutkan:
سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي.
“Jauh, jauh orang-orang yang mengubah ajaran sepeninggalku.”
Referensi: HR. al-Bukhari, no. 6585, dan Muslim, no. 2291, dalam riwayat-riwayat hadis tentang telaga Nabi.
Hadis ini mengandung peringatan agar umat Islam senantiasa menjaga agama sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, penerapan ancaman tersebut kepada individu tertentu memerlukan ilmu, ketelitian, dan pemahaman terhadap ketentuan syariat.
Ketiga: Berbuat Zalim kepada Manusia
Kezaliman terhadap manusia dapat berupa mengambil harta tanpa hak, menyakiti orang lain, merusak kehormatan, melakukan penipuan, atau menahan hak yang seharusnya diberikan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.”
Referensi: QS. al-An‘am: 21.
Seseorang yang ingin memperoleh akhir kehidupan yang baik hendaknya berusaha membersihkan dirinya dari kezaliman dan menyelesaikan hak-hak manusia yang masih menjadi tanggungannya.
Keempat: Enggan Berbuat Baik dan Lalai Berdoa
Keengganan melakukan kebaikan, kekikiran, dan kelalaian dalam mengingat Allah dapat menjadi tanda lemahnya perhatian seseorang terhadap kehidupan akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ﴾
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka sama dengan sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat mungkar dan mencegah perbuatan makruf serta menggenggamkan tangannya karena kikir. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah pun membiarkan mereka.”
Referensi: QS. at-Taubah: 67.
Ayat ini mengingatkan tentang bahaya sifat-sifat kemunafikan yang harus dijauhi oleh setiap muslim.
Kelima: Terlalu Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
Kehidupan dunia merupakan tempat manusia beramal, mencari rezeki, membangun keluarga, dan melaksanakan berbagai tanggung jawab.
Islam tidak melarang seseorang memiliki harta atau menikmati rezeki yang halal. Yang tercela adalah ketika kecintaan terhadap dunia menguasai hati hingga seseorang melupakan Allah dan kehidupan akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat Kami, mereka itulah yang tempat tinggalnya neraka karena apa yang telah mereka kerjakan.”
Referensi: QS. Yunus: 7–8.
Ayat ini mengingatkan agar kesibukan dunia tidak menjadikan seseorang lalai dari tujuan penciptaannya dan persiapan menuju akhirat.
Keenam: Memelihara Penyakit-Penyakit Hati
Di antara perkara yang sangat berbahaya bagi keselamatan seseorang adalah penyakit hati yang dibiarkan berkembang tanpa usaha memperbaikinya.
Penyakit tersebut antara lain kesombongan, kedengkian, kebencian, dendam, ujub, riya, khianat, tipu daya, serta kecintaan kepada perkara yang dimurkai Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾
“Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Referensi: QS. asy-Syu‘ara’: 87–89.
Ayat ini menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan hati, sebab keselamatan di akhirat berkaitan erat dengan keimanan dan keadaan batin seseorang.
Ketujuh: Durhaka kepada Orang Tua dan Memutuskan Silaturahmi
Durhaka kepada kedua orang tua dan memutuskan hubungan kekerabatan merupakan dosa besar yang harus dihindari.
Seorang muslim hendaknya menjaga hubungan baik dengan kedua orang tuanya, memenuhi hak-hak mereka, serta menyambung hubungan kekeluargaan sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.
Perbuatan durhaka dan pemutusan silaturahmi dapat mendatangkan akibat buruk apabila seseorang tidak segera bertobat dan memperbaiki hubungannya.
Kedelapan: Membuat Wasiat yang Zalim
Wasiat merupakan salah satu tanggung jawab yang perlu diperhatikan, terutama ketika berkaitan dengan harta dan hak-hak ahli waris.
Seseorang tidak diperbolehkan menggunakan wasiat sebagai sarana untuk menzalimi ahli waris atau mengambil hak orang lain.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ﴾
“Takutlah kalian kepada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa diberi balasan secara sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”
Referensi: QS. al-Baqarah: 281.
Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh perbuatan manusia, termasuk pengelolaan harta dan pemenuhan hak-hak orang lain, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
11. Jangan Merasa Aman dan Jangan Berputus Asa
Pembahasan tentang husnul khatimah dan suul khatimah harus melahirkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan.
Seseorang tidak boleh merasa pasti selamat hanya karena telah melakukan banyak amal saleh. Akan tetapi, ia juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah hanya karena pernah melakukan banyak dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar melakukan amalan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Namun, ketetapan yang telah tertulis mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni neraka sehingga ia masuk ke dalamnya.
Sesungguhnya salah seorang di antara kalian juga benar-benar melakukan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Namun, ketetapan yang telah tertulis mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni surga sehingga ia masuk ke dalamnya.”
Referensi: HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6594, dan Muslim, Shahih Muslim, no. 2643, dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.
Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga keikhlasan, memohon keteguhan iman, dan tidak merasa aman terhadap keadaan diri sendiri.
Namun, hadis tersebut tidak boleh dipahami bahwa Allah menzalimi hamba-Nya atau menyia-nyiakan amal saleh yang benar-benar ikhlas dan diterima.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا ﴾
“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan amal dengan baik.”
Referensi: QS. al-Kahfi: 30.
Karena itu, seorang muslim harus terus beramal saleh, memperbaiki niat, memperbanyak istigfar, dan memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan hingga akhir hayat.
Penutup
Husnul khatimah merupakan cita-cita agung setiap muslim. Ia adalah karunia Allah yang harus diupayakan dengan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, amal saleh, pertobatan, dan istikamah.
Sebaliknya, suul khatimah merupakan keadaan yang sangat ditakuti. Oleh karena itu, setiap muslim harus berhati-hati terhadap kemaksiatan, kezaliman, penyakit hati, penyimpangan agama, serta kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Pelajaran terpenting dari pembahasan ini adalah bahwa persiapan menghadapi kematian tidak boleh ditunda.
Kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang. Kita juga tidak mengetahui dalam keadaan bagaimana kehidupan kita akan berakhir.
Oleh sebab itu, selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, hendaknya kesempatan tersebut digunakan untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya, menunaikan kewajiban, menjauhi larangan, menyelesaikan hak-hak manusia, dan memperbanyak amal saleh.
Orang yang pernah melakukan dosa tidak boleh berputus asa. Pintu pertobatan masih terbuka selama syarat-syaratnya terpenuhi dan ajal belum tiba. Sebaliknya, orang yang telah banyak melakukan amal saleh tidak boleh merasa cukup dengan amalnya, tetapi harus terus memohon agar Allah menerima dan menjaganya hingga akhir kehidupan.
Akhirnya, yang paling penting bukanlah sekadar bagaimana seseorang memulai kehidupannya, melainkan bagaimana ia menjalani kehidupan dengan iman dan bagaimana Allah mewafatkannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha memperbaiki amal dan memperoleh husnul khatimah.
Doa Memohon Husnul Khatimah
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
“Ya Allah, Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Wahai Zat Yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk senantiasa menaati-Mu.”
Referensi: Doa pertama diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2140; doa kedua diriwayatkan oleh Muslim, no. 2654.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ.
“Ya Allah, jadikanlah kesudahan seluruh urusan kami baik, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia serta azab akhirat.”
Keterangan: Doa ini baik secara makna. Riwayat yang mengandung lafaz tersebut terdapat dalam al-Mu‘jam al-Kabir karya ath-Thabarani (2/33), tetapi sanad yang disebutkan dalam sumber asal memiliki perawi majhul. Karena itu, doa ini dapat dipanjatkan sebagai doa umum tanpa memastikan keutamaan khusus yang tidak terbukti.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ.
“Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.”
Referensi: QS. al-A‘raf: 126.
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
“Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.”
Referensi: QS. Ali ‘Imran: 193.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, jadikanlah sisa umur kami sebagai masa yang lebih baik daripada masa-masa yang telah berlalu. Berikanlah kepada kami keikhlasan dalam beramal, keteguhan dalam beragama, dan kekuatan untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Ya Allah, janganlah Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun sekejap mata. Lindungilah kami dari fitnah kehidupan dan kematian, dari kesesatan setelah memperoleh petunjuk, serta dari segala sebab yang dapat mengantarkan kepada suul khatimah.
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami sebagai penutup amal kami, sebaik-baik hari kami sebagai hari ketika kami berjumpa dengan-Mu, dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman, bertauhid, dan memperoleh keridaan-Mu.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ.
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik, dan kami berlindung kepada-Mu dari akhir kehidupan yang buruk.”
Amin ya Rabbal ‘alamin.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.