Tarbawi

Bersabar Bersama: Merawat Ukhuwah di Tengah Beragam Karakter dalam Dakwah dan Amal Jama‘i

Bersabar Bersama Manusia: Merawat Ukhuwah di Tengah Beragam Karakter dalam Dakwah dan Amal Jama‘i

Belajar menerima perbedaan, mengelola perselisihan, melapangkan hati, dan tetap istiqamah dalam perjuangan bersama.
☷ Daftar Isi Artikel
0%

Pendahuluan: Berjuang Bersama Manusia Berarti Bersiap Menghadapi Perbedaan

Salah satu ujian besar dalam perjalanan dakwah bukan hanya menghadapi penolakan dari luar, keterbatasan sarana, kekurangan dana, atau beratnya tanggung jawab. Ada ujian lain yang sering kali lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu bersabar menghadapi manusia yang bersama kita dalam perjuangan itu sendiri.

Setiap manusia hadir dengan karakteristik, watak, tabiat, sifat, sikap, temperamen, kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, perasaan, pemikiran, pandangan, pendapat, usulan, pertimbangan, keputusan, tindakan, ucapan, harapan, keinginan, kepentingan, kemampuan, keterbatasan, kelebihan, kekurangan, kelemahan, tingkat pemahaman, pengalaman hidup, latar belakang pendidikan, budaya, lingkungan keluarga, tingkat kedewasaan, kepekaan, semangat, komitmen, cara berkomunikasi, cara bekerja, cara memimpin, cara menerima arahan, cara menghadapi masalah, cara menyampaikan kritik, serta cara merespons perbedaan.

Ada yang lembut, ada yang tegas. Ada yang banyak berbicara, ada yang lebih suka diam. Ada yang cepat mengambil keputusan, ada yang membutuhkan pertimbangan panjang. Ada yang sangat teliti, ada yang lebih mengutamakan kecepatan. Ada yang terbuka menerima kritik, ada pula yang mudah tersinggung. Ada yang bersemangat mengusulkan banyak program, tetapi kurang mampu melaksanakannya. Sebaliknya, ada yang jarang memberikan usulan, tetapi sangat tekun bekerja.

Ada yang disiplin terhadap waktu, ada yang masih berjuang memperbaiki kedisiplinannya. Ada yang mudah memahami arahan, ada yang perlu dijelaskan berulang kali. Ada yang mampu bekerja tanpa banyak apresiasi, ada pula yang membutuhkan perhatian dan penguatan. Ada yang mengutamakan hasil, ada yang lebih memperhatikan proses. Ada yang ingin segala sesuatu sempurna, ada pula yang merasa cukup dengan sesuatu yang sudah dapat berjalan.

Semua itu merupakan kenyataan yang akan dihadapi ketika seseorang memilih hidup dan berjuang bersama manusia.

Jika kita hanya sanggup bekerja sama dengan orang yang selalu sepemikiran, sependapat, sewatak, dan sekehendak dengan kita, sesungguhnya kita belum benar-benar belajar tentang kesabaran dalam amal jama‘i.

Sebab, kebersamaan bukanlah keadaan ketika semua orang memiliki karakter yang sama. Kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap bekerja sama dalam kebaikan di tengah perbedaan yang tidak dapat dihindari.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa tidak semua perbedaan harus dibenarkan. Ada perbedaan yang perlu dihargai, kekeliruan yang harus diluruskan, dan kezaliman yang wajib dicegah. Karena itulah, kesabaran dalam dakwah membutuhkan ilmu, kebijaksanaan, ketegasan, keikhlasan, dan keluasan hati.

1. Bersabar Bersama Orang-Orang Saleh Merupakan Perintah Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Artinya:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Allah tidak sekadar memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar menghadapi kesulitan, tetapi juga memerintahkan Nabi ﷺ untuk bersabar bersama orang-orang yang beribadah kepada Allah dan mengharapkan wajah-Nya.

Dalam konteks ayat ini, terdapat perintah untuk tetap membersamai orang-orang beriman yang ikhlas, tanpa memandang rendah kedudukan duniawi mereka. Dari prinsip tersebut, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa membersamai orang-orang yang baik membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati.

Orang yang saleh tetaplah manusia. Seorang penuntut ilmu masih mungkin memiliki kekurangan. Seorang aktivis dakwah masih bisa melakukan kesalahan. Seorang pengurus organisasi masih dapat keliru dalam mengambil keputusan. Seorang guru, murid, pemimpin, maupun anggota tetap memiliki keterbatasan sebagai manusia.

Karena itu, jangan menjadikan satu kekurangan sebagai alasan untuk melupakan banyak kebaikan seseorang.

Kita tidak dituntut untuk menganggap seluruh tindakan saudara kita benar. Akan tetapi, kita dituntut berlaku adil dalam menilai mereka, menghargai kebaikannya, memperbaiki kesalahannya, dan menjaga hak-haknya sebagai sesama Muslim.

2. Keutamaan Bergaul dengan Manusia dan Bersabar Menghadapi Gangguan Mereka

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

Artinya:

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka mendapatkan pahala lebih besar daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.”

(HR. Ibnu Majah no. 4032; hadis sahih. Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi no. 2507 dengan redaksi yang sedikit berbeda.)

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan dakwah.

Ketika seseorang bekerja seorang diri, mungkin ia dapat mengatur segala sesuatu sesuai keinginannya. Ia menentukan jadwal sendiri, memilih cara kerja sendiri, menetapkan keputusan sendiri, dan tidak harus menghadapi banyak perbedaan.

Akan tetapi, ketika ia bergabung dalam suatu lembaga pendidikan, organisasi dakwah, kepanitiaan, pengelolaan masjid, kegiatan sosial, atau program pembinaan umat, ia harus berinteraksi dengan manusia yang beragam.

Di situlah kesabaran diuji.

Seseorang mungkin mampu bersabar ketika kekurangan dana, tetapi sulit bersabar ketika usulannya ditolak. Ia mungkin mampu menghadapi perjalanan jauh untuk berdakwah, tetapi mudah marah ketika menerima kritik. Ia mungkin kuat menghadapi kelelahan fisik, tetapi merasa berat ketika hasil pekerjaannya kurang dihargai.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa kesabaran menghadapi manusia bukanlah sesuatu yang sia-sia. Justru di dalamnya terdapat kesempatan memperoleh pahala besar.

Tentu keutamaan ini tidak berarti seseorang wajib membiarkan dirinya terus-menerus mengalami tindakan berbahaya atau kezaliman. Pergaulan yang dianjurkan tetap harus berjalan dalam batas-batas syariat dan kemaslahatan.

3. Dakwah Membutuhkan Kesabaran terhadap Proses dan Manusia

Dalam dakwah, kita tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadapi manusia yang memiliki tingkat pemahaman dan kesiapan berbeda-beda.

Ada yang langsung memahami nasihat. Ada yang memerlukan penjelasan berulang kali. Ada yang mudah menerima perubahan. Ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk meninggalkan kebiasaan lama.

Demikian pula dalam amal jama‘i, tidak semua orang memiliki kemampuan, kecepatan, atau daya tahan yang sama.

Ada orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan dalam satu hari, sementara orang lain membutuhkan beberapa hari. Ada yang mahir menyampaikan gagasan, tetapi kesulitan menyusun laporan. Ada yang pandai merancang program, tetapi belum terampil mengelola pelaksanaannya.

Perbedaan seperti ini perlu dihadapi dengan pemahaman, pembinaan, dan pembagian amanah yang sesuai kemampuan.

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

Artinya:

“Dan bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah.”

(QS. An-Nahl: 127)

Kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan perasaan. Kesabaran merupakan ibadah yang membutuhkan pertolongan Allah.

Karena itu, seorang dai hendaknya tidak hanya memohon kemudahan dalam menyampaikan dakwah, tetapi juga memohon hati yang lapang ketika menghadapi orang-orang yang didakwahinya dan rekan-rekan yang bekerja bersamanya.

4. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kelembutan Meskipun Para Sahabat Melakukan Kesalahan

Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.”

Kemudian Allah melanjutkan:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”

(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini turun dalam rangkaian pembahasan tentang peristiwa Perang Uhud, ketika sebagian kaum Muslimin melakukan kesalahan yang berdampak besar terhadap jalannya peperangan.

Meskipun demikian, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk tetap bersikap lembut, memaafkan, memohonkan ampunan, dan bermusyawarah dengan para sahabat.

Betapa agung pelajaran ini bagi para pemimpin, pengurus, pembina, guru, dan aktivis dakwah.

Dari ayat tersebut, terdapat empat sikap penting dalam menjaga kebersamaan.

Pertama, bersikap lembut. Ketegasan dalam prinsip tidak harus disertai kekasaran dalam ucapan. Kesalahan dapat diperbaiki tanpa merendahkan pelakunya.

Kedua, memberikan maaf. Tidak semua kesalahan harus terus diungkit. Ada kesalahan yang cukup diluruskan, kemudian diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.

Ketiga, mendoakan kebaikan. Orang yang pernah mengecewakan kita masih berhak mendapatkan doa. Bahkan, mendoakannya dapat membantu membersihkan hati dari dendam.

Keempat, tetap bermusyawarah. Kesalahan seseorang tidak selalu berarti seluruh pendapat dan kemampuannya tidak lagi bernilai. Selama ia masih layak mendapatkan kepercayaan, kesempatan berkontribusi hendaknya tetap terbuka.

Sungguh, apabila Rasulullah ﷺ diperintahkan menjaga kelembutan terhadap para sahabat setelah terjadinya kesalahan besar, betapa kita lebih membutuhkan kelembutan dalam menghadapi kekurangan kecil di tengah kegiatan dakwah sehari-hari.

5. Perbedaan Pendapat Tidak Boleh Menghilangkan Ukhuwah

Allah berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Artinya:

“Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

(QS. Asy-Syura: 38)

Musyawarah menunjukkan bahwa dalam urusan yang terbuka bagi pertimbangan manusia, perbedaan pendapat merupakan kenyataan yang harus dikelola.

Apabila semua orang selalu mempunyai pandangan yang sama, musyawarah tidak akan banyak diperlukan.

Dalam rapat dakwah, misalnya, seseorang mengusulkan kegiatan dilaksanakan secara daring karena jangkauannya lebih luas. Orang lain mengusulkan secara luring karena interaksi langsung dianggap lebih efektif. Ada yang ingin mengutamakan kualitas program, sementara yang lain mengutamakan perluasan peserta.

Selama usulan tersebut berada dalam ruang yang dibenarkan syariat, perbedaan demikian tidak seharusnya langsung dipandang sebagai pertentangan pribadi.

Kita perlu membedakan antara berbeda pendapat dan bermusuhan, antara memberikan kritik dan merendahkan, serta antara mempertahankan argumentasi dan memaksakan kehendak.

Sebuah usulan boleh ditolak tanpa harus merendahkan pengusulnya. Sebuah keputusan boleh dikritik dengan adab tanpa harus dianggap sebagai pembangkangan.

Setelah musyawarah menghasilkan keputusan yang sah dan baik, setiap anggota hendaknya membantu pelaksanaannya sesuai amanah, sekalipun usulan pribadinya tidak dipilih.

Namun, musyawarah bukan berarti semua pendapat memiliki bobot yang sama dalam seluruh persoalan. Masalah agama harus dikembalikan kepada dalil dan penjelasan orang yang berilmu. Masalah teknis memerlukan pertimbangan keahlian, pengalaman, kemampuan, dan kemaslahatan.

Kedewasaan berjamaah bukan diukur dari seberapa sering pendapat kita diterima, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap ketika pendapat kita tidak dipilih.

6. Mengendalikan Emosi dan Memilih Ucapan yang Baik

Allah memuji orang-orang bertakwa:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

Artinya:

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

(QS. Ali Imran: 134)

Dalam kehidupan organisasi, banyak masalah kecil berubah menjadi persoalan besar bukan karena beratnya masalah itu sendiri, melainkan karena cara manusia meresponsnya.

Pesan yang terlambat dibalas dianggap sebagai bentuk pengabaian. Kalimat singkat dianggap sebagai kemarahan. Kritik terhadap pekerjaan dianggap sebagai serangan terhadap pribadi. Perbedaan usulan dianggap sebagai penolakan terhadap keberadaan seseorang.

Padahal, penilaian seperti itu belum tentu benar.

Terkadang masalah cukup diselesaikan dengan bertanya baik-baik. Namun, karena emosi, seseorang memilih menyindir, menyebarkan keluhan, atau memberikan tanggapan yang menyakitkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Artinya:

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”

(HR. Muslim no. 2594)

Hadis ini mengajarkan bahwa kelembutan bukanlah tanda kelemahan. Justru kelembutan dapat menjadikan nasihat lebih mudah diterima, perbedaan lebih mudah diselesaikan, dan hubungan lebih terjaga.

Seorang pemimpin dapat menegur tanpa menghina. Seorang anggota dapat menyampaikan keberatan tanpa mempermalukan. Seorang guru dapat mengoreksi tanpa merendahkan. Seorang rekan dapat mengingatkan tanpa membangkitkan permusuhan.

Tidak semua hal yang benar harus disampaikan dengan nada keras. Tidak semua kesalahan harus diumumkan kepada banyak orang.

Sering kali, nasihat empat mata jauh lebih bermanfaat daripada teguran terbuka yang membuat seseorang kehilangan harga diri di hadapan rekan-rekannya.

7. Belajar dari Kesabaran Rasulullah ﷺ Menghadapi Beragam Perilaku Manusia

Salah satu teladan Rasulullah ﷺ adalah ketika seorang Arab Badui menarik pakaian beliau dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas pada pundak beliau.

Orang tersebut kemudian meminta harta dengan ucapan yang tidak santun. Namun, Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya sambil tersenyum dan memerintahkan agar ia diberi sesuatu.

Peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, hadis no. 3149 dan 6088.

Dalam peristiwa lain, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat bereaksi terhadap tindakan tersebut. Namun, Rasulullah ﷺ mengarahkan agar orang itu dibiarkan menyelesaikannya, kemudian tempat tersebut dibersihkan dengan air.

Beliau mengingatkan bahwa mereka diutus untuk memberikan kemudahan, bukan mempersulit. (HR. Al-Bukhari no. 220)

Kedua peristiwa ini menunjukkan kesabaran, kebijaksanaan, dan kemampuan Rasulullah ﷺ memahami keadaan manusia.

Beliau tidak membenarkan tindakan yang salah, tetapi memilih cara yang tepat untuk memperbaikinya.

Inilah pelajaran penting bagi orang-orang yang terlibat dalam pembinaan umat. Tujuan menasihati bukan sekadar membuktikan bahwa kita benar, melainkan membantu seseorang kembali kepada kebenaran.

Ketika menghadapi anggota yang kurang terampil, kita perlu membimbingnya. Ketika menghadapi orang yang belum memahami aturan, kita perlu menjelaskannya. Ketika menghadapi orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, kita perlu mempertimbangkan keadaan dan cara terbaik untuk mengajarinya.

Kesabaran yang disertai kebijaksanaan akan membuka jalan perbaikan. Sebaliknya, kemarahan yang tidak terkendali dapat menutup hati orang yang sebenarnya masih ingin belajar.

8. Menjaga Persatuan tanpa Mengorbankan Kebenaran

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

Artinya:

“Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah.”

(QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini memperingatkan bahaya perselisihan yang melemahkan kekuatan dan menghilangkan semangat kebersamaan.

Dalam dakwah, perselisihan yang tidak dikelola dapat menghabiskan waktu, tenaga, dan perhatian.

Program yang seharusnya berjalan terhambat karena pertengkaran. Persoalan kecil berkembang menjadi perpecahan. Pekerjaan yang seharusnya diselesaikan bersama akhirnya terbengkalai karena masing-masing sibuk mempertahankan harga dirinya.

Namun, menjaga persatuan tidak berarti menutup ruang nasihat dan koreksi.

Persatuan yang baik dibangun di atas ketaatan kepada Allah, keadilan, amanah, kejujuran, dan saling menasihati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Artinya:

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik.”

(HR. Al-Bukhari no. 7257 dan Muslim)

Karena itu, disiplin organisasi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kemaksiatan. Demikian pula ukhuwah tidak boleh dijadikan alasan untuk menyembunyikan kezaliman, penyalahgunaan amanah, atau pelanggaran hak orang lain.

Kesabaran harus berjalan bersama nasihat, perbaikan, keadilan, dan tanggung jawab.

9. Jangan Mudah Berprasangka Buruk terhadap Rekan Seperjuangan

Allah berfirman:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya:

“Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

(QS. Al-Hujurat: 12)

Dalam amal jama‘i, prasangka buruk merupakan salah satu penyebab rusaknya hubungan.

Ketika seseorang tidak hadir dalam kegiatan, kita langsung menganggapnya tidak peduli. Ketika seseorang tidak memberikan tanggapan, kita menuduhnya sombong. Ketika seorang pengurus mengambil keputusan berbeda dari harapan kita, kita mengira ia memiliki kepentingan pribadi.

Padahal, belum tentu demikian.

Bisa jadi ia memiliki tanggung jawab keluarga, menghadapi masalah kesehatan, mengalami keterbatasan waktu, belum memahami informasi, atau mempunyai pertimbangan yang belum kita ketahui.

Karena itu, ketika muncul persoalan, dahulukan klarifikasi yang baik sebelum mengambil kesimpulan.

Prasangka baik bukan berarti menolak bukti kesalahan. Ketika terdapat indikasi yang jelas mengenai pelanggaran amanah, perkara tersebut tetap harus diperiksa secara adil.

Akan tetapi, jangan sampai hubungan antarsaudara dirusak oleh dugaan yang tidak memiliki dasar.

Sering kali kita meminta orang lain memahami keadaan kita, tetapi lupa bahwa mereka pun memiliki keadaan yang belum sepenuhnya kita pahami.

10. Amal Jama‘i Adalah Sarana Saling Melengkapi, Bukan Saling Mengalahkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya:

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan.”

(HR. Al-Bukhari no. 481)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang-orang beriman sebagai satu tubuh. Ketika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan penderitaannya. (HR. Muslim no. 2586)

Kedua hadis ini menggambarkan hubungan ideal dalam kebersamaan kaum Muslimin.

Seorang anggota yang pandai berbicara tidak seharusnya merendahkan orang yang lebih banyak bekerja di belakang layar. Orang yang memiliki kemampuan administrasi tidak sepatutnya meremehkan mereka yang masih belajar. Orang yang mampu menyumbangkan dana tidak boleh menganggap kecil sumbangan tenaga orang lain.

Demikian pula, pengurus yang memikul banyak tanggung jawab tidak boleh merasa dirinya paling berjasa, sementara anggota yang masih memiliki keterbatasan tidak boleh menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk mengabaikan amanah.

Masing-masing memiliki kesempatan berkontribusi sesuai kemampuan.

Ada yang berdakwah melalui lisan, ada yang menulis, ada yang mengajar, ada yang mengelola kegiatan, ada yang menyediakan fasilitas, ada yang membantu secara finansial, dan ada yang bekerja tanpa banyak diketahui orang.

Selama dilakukan dengan ikhlas, sesuai syariat, dan penuh tanggung jawab, semua dapat menjadi bagian dari amal saleh.

Perbedaan kemampuan seharusnya melahirkan kerja sama, bukan persaingan untuk menunjukkan siapa yang paling penting.

11. Bersabar Tidak Berarti Membiarkan Segala Kesalahan

Pembahasan mengenai kesabaran perlu disertai satu prinsip penting: bersabar terhadap manusia tidak sama dengan membenarkan setiap tindakan manusia.

Ada perbedaan watak yang cukup diterima dengan lapang dada. Ada kelemahan yang memerlukan pembinaan. Ada kelalaian yang membutuhkan teguran. Ada pelanggaran yang membutuhkan penanganan lebih tegas.

Seseorang yang memiliki cara komunikasi berbeda perlu dipahami. Namun, orang yang terbiasa menghina harus diingatkan.

Anggota yang belum terampil perlu dilatih. Akan tetapi, penyalahgunaan amanah tidak boleh dibiarkan.

Perbedaan pandangan dalam persoalan ijtihadiyah perlu disikapi dengan ilmu dan adab. Sebaliknya, ajakan kepada kemaksiatan harus ditolak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Artinya:

“Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi.”

Para sahabat bertanya bagaimana cara menolong orang yang zalim. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa caranya adalah dengan mencegahnya melakukan kezaliman.

(HR. Al-Bukhari no. 2444)

Hadis ini menunjukkan bahwa bentuk persaudaraan bukan hanya membela, memuji, atau memaafkan, tetapi juga mencegah saudara kita dari perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain.

Apabila terdapat pelanggaran yang membahayakan, perlindungan terhadap pihak yang dirugikan, pemeriksaan yang adil, dan tindakan perbaikan harus didahulukan.

Terkadang seseorang juga perlu membatasi interaksi, berpindah amanah, atau meninggalkan lingkungan kerja tertentu apabila terdapat mudarat serius yang tidak dapat diatasi. Langkah demikian tidak otomatis berarti meninggalkan dakwah. Jalan untuk melakukan kebaikan tidak terbatas pada satu organisasi.

Kesabaran yang benar bukanlah sikap pasrah terhadap semua keadaan, melainkan keteguhan menjalankan kebenaran dengan cara yang dibenarkan Allah.

12. Menjaga Hati dari Ego, Keinginan Diakui, dan Rasa Paling Berjasa

Tidak sedikit perselisihan dalam organisasi berawal dari persoalan yang sebenarnya kecil, tetapi kemudian membesar karena ego.

Seseorang merasa pendapatnya selalu diabaikan. Orang lain merasa jasanya tidak dihargai. Ada yang kecewa karena tidak diberikan jabatan. Ada yang tidak rela ketika gagasan orang lain lebih diterima. Ada pula yang merasa dirinya paling banyak berkorban.

Perasaan kecewa adalah sesuatu yang mungkin dialami manusia. Namun, kita harus berhati-hati agar perasaan tersebut tidak berkembang menjadi kedengkian, kesombongan, permusuhan, atau keinginan membalas.

Dakwah bukan tempat mencari kemenangan pribadi. Dakwah adalah jalan mengajak manusia kepada Allah.

Apabila tujuan utama kita adalah rida Allah, maka keberhasilan kebaikan yang dilaksanakan orang lain seharusnya tetap menggembirakan kita.

Tidak semua pekerjaan harus menggunakan gagasan kita. Tidak semua keputusan harus sesuai keinginan kita. Tidak semua keberhasilan harus mencantumkan nama kita.

Terkadang keikhlasan benar-benar diuji ketika kita bekerja keras, tetapi orang lain lebih mendapatkan perhatian.

Pada saat seperti itulah seorang hamba perlu mengingat bahwa penilaian Allah tidak bergantung pada banyaknya pujian manusia.

Namun, hal ini tidak membebaskan pemimpin dari kewajiban bersikap adil. Menghargai kerja anggota, membagi tugas dengan jelas, dan memberikan pengakuan secara proporsional tetap merupakan bagian dari akhlak serta pengelolaan amanah yang baik.

13. Kesabaran Harus Dimiliki oleh Pemimpin dan Anggota

Kesabaran dalam amal jama‘i tidak boleh hanya dituntut dari anggota. Pemimpin pun harus menjadi orang pertama yang meneladankannya.

Seorang pemimpin perlu bersabar menghadapi perbedaan tingkat kemampuan anggota, keterbatasan sumber daya, kesalahan pelaksanaan, serta banyaknya kritik dan masukan.

Ia harus mampu mendengarkan sebelum menilai, menjelaskan sebelum menyalahkan, dan membina sebelum memberikan hukuman yang tidak diperlukan.

Sementara itu, anggota juga perlu bersabar terhadap beratnya amanah, keterbatasan lembaga, keputusan yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya, serta proses perbaikan yang membutuhkan waktu.

Anggota hendaknya memberikan masukan dengan santun, melaksanakan amanah secara bertanggung jawab, dan tidak mudah mengembangkan kekecewaan menjadi permusuhan.

Keduanya harus saling menasihati dan saling memperbaiki.

Pemimpin bukan manusia yang tidak pernah salah. Anggota pun bukan orang yang harus selalu dianggap benar hanya karena menyampaikan kritik.

Kepemimpinan membutuhkan kerendahan hati untuk mendengar, sedangkan kebersamaan membutuhkan kedewasaan untuk bekerja sama.

14. Menjadikan Perbedaan sebagai Sarana Pendidikan Jiwa

Salah satu hikmah besar dari kebersamaan adalah kesempatan memperbaiki diri.

Mungkin Allah mempertemukan kita dengan orang yang banyak berbicara agar kita belajar mendengarkan.

Mungkin kita bekerja dengan orang yang sangat teliti agar kita belajar lebih cermat.

Mungkin kita bertemu dengan orang yang lambat memahami arahan agar kita belajar menjelaskan dengan sabar.

Mungkin kita menghadapi kritik agar kita belajar menerima kekurangan.

Mungkin pula kita dipertemukan dengan orang yang berbeda pandangan agar kita menyadari bahwa pengetahuan dan pengalaman kita masih terbatas.

Ini merupakan bahan perenungan, bukan kepastian tentang maksud Allah dalam setiap peristiwa.

Orang yang matang tidak hanya bertanya, “Mengapa dia seperti itu?” Akan tetapi, ia juga bertanya, “Apa yang perlu saya perbaiki dari diri saya ketika menghadapi keadaan ini?”

Dengan cara demikian, perbedaan tidak selalu menjadi sumber pertengkaran, tetapi dapat menjadi sarana latihan kesabaran, ketawadukan, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.

Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.”

(QS. Fussilat: 34)

Pada ayat berikutnya, Allah menjelaskan bahwa sifat mulia tersebut tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bersabar dan memiliki keberuntungan besar (QS. Fussilat: 35).

Membalas ucapan keras dengan kelembutan, menghadapi kesalahan dengan bimbingan, serta menyikapi perbedaan dengan kebijaksanaan merupakan akhlak agung yang membutuhkan latihan sepanjang kehidupan.

15. Langkah Praktis Menumbuhkan Kesabaran dalam Amal Jama‘i

Agar kesabaran tidak berhenti sebagai nasihat, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersama.

  1. Memperbarui niat. Ingatlah bahwa tujuan utama bekerja dalam dakwah adalah mencari rida Allah, bukan memenangkan pendapat, mempertahankan kedudukan, atau memperoleh pujian.
  2. Mengenali karakter rekan kerja. Pahami kemampuan, kebiasaan, kelebihan, dan keterbatasannya tanpa tergesa-gesa memberikan penilaian buruk.
  3. Mendengarkan hingga selesai. Jangan terburu-buru membantah sebelum memahami maksud pembicaraan seseorang.
  4. Membedakan prinsip dan persoalan teknis. Tegaslah dalam perkara yang telah ditentukan syariat, tetapi lapangkan dada terhadap pilihan teknis yang sama-sama dibenarkan.
  5. Memberikan nasihat dengan cara yang tepat. Pertimbangkan waktu, tempat, bahasa, keadaan orang yang dinasihati, dan dampak dari cara penyampaian.
  6. Melakukan klarifikasi sebelum menyimpulkan. Jangan membangun sikap berdasarkan prasangka, potongan pesan, atau cerita sepihak.
  7. Membagi amanah secara adil. Sesuaikan tugas dengan kemampuan dan kesanggupan. Hindari membebankan pekerjaan secara berlebihan kepada orang tertentu.
  8. Membiasakan evaluasi dan permintaan maaf. Kesalahan perlu diperbaiki, tetapi hubungan yang sempat terganggu juga membutuhkan upaya pemulihan.
  9. Mendahulukan penyelesaian langsung daripada menyebarkan keluhan. Apabila memungkinkan dan aman, bicarakan persoalan kepada pihak terkait melalui jalur yang tepat, bukan memperluasnya menjadi gunjingan.
  10. Memelihara doa dan hubungan baik. Jangan biarkan interaksi hanya berisi tugas, laporan, perintah, dan teguran. Sisihkan perhatian untuk saling menyapa, membantu, mendoakan, dan menghargai.

Kesepuluh langkah ini tidak akan menghilangkan seluruh perbedaan. Akan tetapi, dapat membantu menjadikan perbedaan lebih mudah dikelola dan mencegah persoalan kecil berkembang menjadi perpecahan.

16. Jangan Sampai Sibuk Berdakwah kepada Orang Lain, tetapi Gagal Menjaga Akhlak kepada Rekan Sendiri

Ada suatu keadaan yang perlu kita renungkan.

Kita mengajak umat untuk saling mencintai, tetapi mudah membenci saudara sendiri hanya karena berbeda pendapat.

Kita mengajarkan pentingnya memaafkan, tetapi sulit memaafkan kesalahan rekan seperjuangan.

Kita menyerukan persatuan, tetapi mudah memutus komunikasi ketika keputusan tidak sesuai keinginan.

Kita mengajarkan kesabaran, tetapi segera marah ketika menerima kritik.

Kita menasihati orang lain agar berprasangka baik, tetapi terkadang begitu mudah menuduh niat saudara kita.

Karena itu, dakwah harus menjadi jalan pendidikan bagi diri sendiri sebelum menjadi sarana memperbaiki orang lain.

Keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dengan banyaknya program, jumlah peserta, luasnya jaringan, atau besarnya kegiatan. Akhlak para pelakunya juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan.

Jangan sampai kita berhasil menyelesaikan banyak program, tetapi meninggalkan terlalu banyak hati yang terluka karena ucapan, sikap, atau tindakan yang sebenarnya dapat diperbaiki.

Sebaliknya, jangan pula menjadikan keinginan menjaga perasaan sebagai alasan untuk meninggalkan amanah atau mengabaikan kebenaran.

Dakwah membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dalam prinsip, ketelitian dalam pekerjaan, dan kelembutan dalam memperlakukan manusia.

17. Istiqamah dalam Kebersamaan Membutuhkan Sabar yang Terus Diperbarui

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga, serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(QS. Ali Imran: 200)

Ayat ini mengandung perintah untuk bersabar, memperkuat kesabaran, tetap teguh, dan bertakwa kepada Allah.

Dari perintah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kesabaran bukan hanya diperlukan pada permulaan perjuangan, tetapi sepanjang perjalanan.

Sebab, setiap tahap dakwah memiliki ujiannya masing-masing.

Ketika baru memulai, kita diuji oleh keterbatasan. Ketika kegiatan berkembang, kita diuji oleh bertambahnya tanggung jawab. Ketika banyak orang bergabung, kita diuji oleh keberagaman karakter. Ketika muncul keberhasilan, kita diuji oleh kesombongan. Ketika terjadi kegagalan, kita diuji oleh kekecewaan.

Kesabaran perlu diperbarui, sebagaimana niat juga perlu terus diperbaiki.

Jangan mengharapkan perjalanan dakwah selalu mudah. Jangan pula mengharapkan setiap orang selalu memahami kita dengan sempurna.

Kita pun belum tentu selalu mampu memahami orang lain dengan baik.

Karena itu, dibutuhkan kelapangan dada untuk menerima kekurangan yang wajar, keberanian memperbaiki kesalahan, dan keteguhan melanjutkan kebaikan meskipun tidak semua keadaan sesuai harapan.

Penutup: Kita Tidak Harus Sama untuk Berjuang Bersama

Pada akhirnya, salah satu tanda kematangan dalam dakwah adalah kemampuan memandang manusia secara lebih adil dan menyeluruh.

Kita menyadari bahwa setiap orang mempunyai kekurangan, termasuk diri kita sendiri.

Kita mungkin tidak menyukai cara seseorang berbicara, tetapi dapat menghargai ketulusannya dalam bekerja. Kita mungkin tidak sependapat dengan usulannya, tetapi tetap mengakui keilmuannya. Kita mungkin pernah kecewa terhadap tindakannya, tetapi tidak harus menghapus seluruh kebaikannya.

Kita belajar bahwa persaudaraan tidak menuntut kesamaan dalam segala hal, sebagaimana kerja sama tidak mengharuskan setiap gagasan diterima.

Kita belajar memaafkan tanpa kehilangan prinsip, bersikap lembut tanpa mengabaikan ketegasan, dan menjaga persatuan tanpa menutupi kesalahan.

Jangan mengharapkan seluruh manusia memiliki watak seperti kita, memahami persoalan seperti kita, berbicara seperti kita, bekerja seperti kita, berpikir seperti kita, dan mengambil keputusan seperti kita.

Sebab, kita pun belum tentu menjadi pribadi yang mudah dihadapi oleh semua orang.

Mungkin ada orang yang selama ini bersabar menghadapi kekurangan kita, memaklumi kelemahan kita, menahan diri terhadap ucapan kita, dan tetap menghargai kita meskipun mengetahui banyak kesalahan kita.

Maka, sebagaimana kita membutuhkan kesabaran orang lain, mereka pun membutuhkan kesabaran kita.

Dakwah bukan hanya tentang seberapa jauh kita mampu berjalan membawa kebaikan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang berjalan bersama kita.

Teruslah berusaha menjaga ukhuwah, memperbaiki akhlak, menunaikan amanah, dan menegakkan kebenaran dengan hikmah.

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena manusia tidak selalu sesuai dengan harapan. Jangan pula menganggap seluruh perbedaan sebagai permusuhan.

Selama masih terbuka jalan kerja sama yang benar, tetaplah berusaha saling menguatkan.

Sebab, salah satu perjuangan terberat dalam amal jama‘i bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan bersama manusia, melainkan menjaga hati, lisan, dan akhlak ketika menghadapi beragam sifat manusia selama pekerjaan itu berlangsung.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَهَا، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالصَّبْرَ وَالْحِلْمَ وَالرِّفْقَ، وَأَعِنَّا عَلَى التَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَجَنِّبْنَا الْكِبْرَ وَالْحَسَدَ وَالْبَغْضَاءَ وَالشِّقَاقَ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، وَاهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ.

Ya Allah, perbaikilah hati kami, satukanlah hati kami, karuniakanlah kepada kami keikhlasan, kesabaran, kelapangan jiwa, dan kelembutan. Bantulah kami untuk saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan. Jauhkanlah kami dari kesombongan, kedengkian, kebencian, dan perpecahan. Jadikanlah kami sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan dan bimbinglah kami menuju akhlak yang terbaik.

Amin, ya Rabbal ‘alamin.


Rujukan Utama

Al-Qur’an: QS. Al-Kahfi: 28; An-Nahl: 127; Ali Imran: 134, 159, 200; Asy-Syura: 38; Al-Anfal: 46; Al-Hujurat: 12; Fussilat: 34–35.

Hadis: Shahih Al-Bukhari no. 220, 481, 2444, 3149, 6088, dan 7257; Shahih Muslim no. 2586 dan 2594; Sunan Ibnu Majah no. 4032; Jami‘ At-Tirmidzi no. 2507.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button