Biografi Ulama

Tonggak-tonggak Sejarah yang Cerah dari Biografi Ibnu Baz rahimahullah.

Tonggak-tonggak Sejarah yang Cerah dari Biografi Ibnu Baz rahimahullah.

Ringkasan Kajian ilmiah yang membahas biografi Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beserta peninggalan kehidupan ilmiah dan amaliahnya, serta pengaruhnya terhadap umat.

Pemateri:

Syaikh Prof. Dr. Abdul Rahman bin Abdul Aziz Al-Aql

– semoga Allah memberinya taufik –

Masjid Jami’ Ibnu Al-Qayyim – Buraidah

17 / 3 / 1448 H

Daftar Isi

Tonggak-tonggak Sejarah yang Cerah dari Biografi Ibnu Baz rahimahullah.

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji hanya bagi Allah semata, dan selawat serta salam semoga tercurah kepada nabi yang tiada nabi setelahnya, adapun setelah itu:

Pada hari Ahad bertepatan dengan tanggal 17/3/1448 H, Yang Mulia Syaikh Prof. Dr. Abdul Rahman bin Abdul Aziz Al-Aql – semoga Allah memberinya taufik – menyampaikan ceramah pembuka untuk daurah ilmiah yang bertema: Tonggak-tonggak Sejarah yang Cerah dari Biografi Ibnu Baz rahimahullah. Acara tersebut dilaksanakan di Masjid Jami’ Ibnu Al-Qayyim di kota Buraidah.

Syaikh memulai ceramahnya dengan memuji dan menyanjung Allah sebagaimana keagungan-Nya, kemudian beliau menyambut dan memberi penghormatan kepada para penuntut ilmu. Beliau berbicara tentang kemuliaan ilmu, keutamaan, dan kedudukannya, sembari menjelaskan bahwa ilmu adalah hal paling mulia yang bisa menjadi kebanggaan manusia, merupakan kemuliaan dan kebanggaan yang tidak ada bandingannya; karena dengan ilmulah syariat dikenali, pemahaman dijaga, dan manusia mendapat petunjuk menuju kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾

(Allah meninggikan orang-ang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat),

Dan Dia berfirman:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾

(Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama).

Dari sudut pandang ini, Syaikh merasa bahagia dapat menemani para hadirin dalam sebuah pertemuan tentang Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah; seorang ulama yang menjadi mercusuar ilmu dan benteng agama. Umat telah bersepakat dalam mencintainya karena keikhlasan yang ada pada dirinya, dan Allah telah menghimpunkan baginya berbagai keutamaan serta penerimaan yang menjadikannya sebagai imam Ahlus Sunnah di abad ini.

Pertama: Pengaruh Biografi Orang-Orang Saleh dalam Meningkatkan Semangat

Menyebut orang-orang saleh dan kisah-kisah mereka adalah hal yang menyejukkan hati, meningkatkan semangat, dan mendorong untuk meneladani mereka. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah adalah salah satu teladan yang cerah di era ini, bahkan termasuk salah satu teladan paling luhur yang dapat diikuti oleh penuntut ilmu. Allah telah menceritakan kepada kita di dalam Al-Qur’an kisah-kisah para nabi seperti Hud, Musa, Isa, dan Muhammad alaihim as-shalatu was-salam, serta menceritakan kisah orang mukmin dari keluarga Yasin, dan orang mukmin dari keluarga Fir’aun. Tujuan dari kisah-kisah ini bukanlah sekadar untuk menikmati ceritanya, melainkan untuk mengambil pelajaran dan meneguhkan hati. Allah berfirman:

﴿وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ﴾

(Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu).

Muhammad bin Wasi’ berkata: “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi makhluk selain mengingat orang-orang saleh”.

Ibnu Al-Jawzi berkata dalam Talbis Iblis: “Barangsiapa yang melihat biografi para pendahulu yang saleh (salaf), ia akan menganggap remeh dirinya sendiri”.

Siapa pun yang melihat biografi para ulama dan keadaan mereka tidak akan terjangkiti rasa bangga diri (ujub), dan tidak akan tertipu oleh ilmu atau amal yang dimilikinya.

Kedua: Mengapa Ibnu Baz Berpengaruh pada Manusia?

Mengapa Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin memengaruhi kita, sementara Ahmad bin Hanbal dan para imam salaf lainnya tidak memengaruhi kita dengan kadar yang sama?.

Jawabannya adalah karena Ibnu Baz rahimahullah memberikan pengaruh yang sangat besar, hingga dikatakan tentang beliau: Sesungguhnya beliau adalah pembaharu (mujaddid) abad ini, dan menjadi teladan yang mengingatkan pada generasi pertama (salaf), beliau adalah salah satu contoh kontemporer paling nyata dari seorang ulama yang mengamalkan ilmunya (Al-Alim Al-Amil).

Beliau telah menghabiskan hidupnya untuk menyebarkan ilmu, dan merupakan sosok yang luar biasa. Teladan-teladan agung dalam umat adalah tokoh-tokoh yang luar biasa, sama halnya dengan empat imam mazhab yang juga merupakan tokoh-tokoh luar biasa.

Tidak diragukan lagi bahwa Syaikh rahimahullah termasuk jajaran wali-wali Allah yang terbaik, karena beliau telah menghabiskan seluruh usianya untuk melayani ilmu beserta para penuntutnya, dan melayani Islam serta kaum muslimin.

Salah seorang ulama berkata: “Ahlus Sunnah adalah orang yang paling tahu tentang kebenaran, dan paling penyayang terhadap makhluk”.

Ibnu Baz telah menghabiskan waktu sekitar sembilan puluh tahun dalam melayani Islam dan kaum muslimin, dan tidak ada yang menyamainya dalam hal jumlah murid, maupun dalam kemanfaatan secara umum dan khusus.

Topik pembicaraan mengenai Syaikh sangatlah dikenal, dan banyak buku telah ditulis tentang beliau, hingga mencapai lebih dari tujuh puluh buku yang mengisahkan tentang dirinya.

Tonggak-tonggak dan Sifat-sifat Paling Menonjol yang Menjadikan Syaikh sebagai Imam di Abad Ini

1. Kejujuran kepada Allah dan Keikhlasan

  • Salah satu sifat paling menonjol dari Syaikh Ibnu Baz rahimahullah adalah kejujuran kepada Allah dan keikhlasan kepada-Nya.
  • Imam Ahmad berkata: “Seandainya kejujuran diletakkan di atas luka, niscaya luka itu akan sembuh”.
  • Syaikh senantiasa mencari rida Allah dalam menuntut ilmu, dan hal itu membutuhkan perjuangan terus-menerus dalam menjaga dan meluruskan niat.
  • Syaikh adalah contoh hidup dalam setiap amal, fatwa, dan pertemuannya. Beliau sangat berhati-hati agar seluruh amalnya hanya untuk Allah, tidak berambisi meraih penghargaan, pujian, atau sanjungan, melainkan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam segala perbuatan dan anggota badannya.
  • Media komunikasi sangat berambisi untuk mendapatkan sesuatu dari Syaikh, namun mereka tidak mampu memperoleh apa yang mereka inginkan, karena kehati-hatiannya yang sangat besar terhadap keikhlasan dan menyembunyikan amal.
  • Salah satu kejadian yang menunjukkan hal ini adalah ketika salah seorang muridnya menulis puisi sebanyak lima puluh bait yang memuji Syaikh, ketika Syaikh mengetahuinya, beliau menyuruh muridnya: “Robeklah,” dan beliau pun mulai beristigfar kepada Allah.
  • Inilah keikhlasan yang pemiliknya tidak ingin manusia mengetahui amalnya, dan tidak ingin amal salehnya berubah menjadi jalan menuju popularitas.

2. Sikap Wara’ dan Berhati-hati (Tatsabbut)

  • Syaikh adalah salah satu manusia yang paling wara’, dan wara’ adalah ciri khas orang-orang yang jujur, serta bukti keimanan dan keyakinan akan negeri akhirat.
  • Wara’ adalah pelampung keselamatan dan rahasia kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Di antara sifat wara’ beliau rahimahullah adalah beliau tidak pernah tergesa-gesa dalam berfatwa, melainkan tenang dan berhati-hati. Jika ada suatu perkara yang musykil baginya, beliau tidak malu untuk mengatakan: “Saya tidak tahu”.
  • Sejumlah ulama dan syaikh telah lulus dan mengambil manfaat darinya, di antaranya Ibnu Utsaimin, Saleh Al-Fawzan, Ibnu Jibreen, dan Saleh Al-Luhaidan.
  • Syaikh Al-Aql berulang kali mendengar Syaikh Ibnu Baz berkata: “Saya tidak tahu”.
  • Pada tahun 1402 H, Syaikh Ibnu Baz sedang memberikan pelajaran di Masjidil Haram, dan ditanya: Apakah memotong rambut perempuan aturannya sama dengan laki-laki? Beliau menjawab: “Saya tidak tahu”.
  • Kejadian ini sendiri merupakan pelajaran besar dalam sifat wara’, seorang ulama tidak dituntut untuk menjawab setiap pertanyaan, namun ia dituntut untuk mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu ada dalam perkataan: Saya tidak tahu.
  • Keyakinan kepada Allah, Kepercayaan kepada-Nya, dan Kesabaran Atas Kesulitan
  • Ibnu Baz rahimahullah memiliki keyakinan yang luar biasa kepada Allah, sangat percaya kepada-Nya, serta sabar menanggung kesulitan.
  • Ibnu Qayyim berkata: “Pokok kepemimpinan dalam agama adalah kesabaran dan keyakinan”.
  • Posisi keyakinan dalam kepemimpinan agama ibarat kedudukan roh bagi jasad, bahkan dikatakan: “Keyakinan adalah keseluruhan iman”.
  • Syaikh Ibnu Baz memiliki keyakinan yang sangat besar, oleh karena itu beliau memberi kepada orang miskin dan fakir dengan pemberian orang yang sangat yakin.
  • Sejak kecil beliau terdidik dengan kesungguhan dan ketekunan, hingga mencapai tingkat yang tidak dicapai oleh banyak pemuda.
  • Salah satu sahabatnya menyebutkan bahwa ia menemani beliau dari pagi hingga malam, orang itu merasa lelah, sementara tidak terlihat bekas kelelahan sedikitpun pada diri Syaikh.
  • Seorang dari suku Syinqith sangat kagum dengan kesabaran dan ketahanan Syaikh, lalu bertanya pada suatu hari: “Demi Allah, bagaimana Anda bisa sabar terhadap apa yang tidak tertahankan?”.
  • Syaikh menjawab: “Wahai anakku, jika roh bekerja, maka anggota tubuh tidak akan merasa lelah, keikhlasan adalah bahan bakar, penggerak, dan pendorong, sedangkan anggota badan adalah pelayannya”.
  • Pernah suatu kali dalam pelajaran hari Kamis, Syaikh memulainya sejak ba’da Subuh dan berlanjut hingga pukul 9. Beliau berkata: “Seandainya tidak ada kesibukan lain, niscaya kita akan duduk bersama saudara-saudara sekalian hingga waktu Zuhur”.
  • Syaikh Al-Aql pernah menghadiri salah satu pelajarannya, para hadirin merasa bosan, bahkan ada yang tertidur hingga Syaikh selesai, sementara Syaikh tidak berubah raut wajahnya, dan tidak terlihat lelah sama sekali.
  • Dengan banyaknya kesibukan Syaikh, seseorang bertanya: “Dari mana Anda mendapatkan waktu sebanyak ini?”.
  • Beliau menghafal Alfiyyah Al-Iraqi dalam ilmu hadis saat sedang berwudu; dalam setiap wudu beliau menghafal dua bait.
  • Program hariannya dimulai satu jam sebelum Subuh, dan berlanjut hingga tengah malam tanpa rasa bosan atau lelah, hal ini diketahui oleh siapa pun yang dekat dengan Syaikh.
  • Ada yang membacakan kitab untuknya saat beliau bepergian pulang-pergi, dan pada pukul 01:30 beliau pulang ke rumah untuk menerima tamu, orang yang meminta fatwa, dan pengunjung.
  • Pada tahun 1410 H, beliau merasakan sakit di kakinya dan terpaksa mengambil cuti, tetapi beliau menolak dan memilih untuk terus bekerja membawa bukunya, dan beliau tidak pernah merasa bosan rahimahullah.
  • Syaikh Saleh Al-Fawzan mengunjunginya ketika beliau sakit, dan berkata kepadanya: “Wahai Syaikh, cuti macam apa ini?”.
  • Syaikh menjawab: “Saya tidak merasa tenang kecuali saat bekerja”. Beliau enggan menuruti perkataan dokter untuk meninggalkan pekerjaannya.
  • Anaknya, Abdullah, berkata: “Bahkan hingga saat-saat terakhir dalam hidupnya, beliau masih memenuhi kebutuhan manusia, dan orang-orang tidak merasa bahwa beliau sedang lelah”.
  • Ini adalah pengorbanan yang sangat menakjubkan.

3. Kesabaran Terhadap Gangguan

  • Syaikh tidak luput dari orang-orang yang mendengki dan iri hati, tetapi beliau menghadapinya dengan kesabaran, keyakinan, dan kelembutan.
  • Seseorang pernah mengafirkannya, ketika Syaikh mengetahui hal itu, beliau berkata: “Semoga Allah memberinya hidayah, semoga Allah memberinya hidayah”.
  • Beberapa tetangganya mengambil sebagian tanah miliknya, dan beliau berkata: “Alhamdulillah, semoga mereka rida”. Kemudian beliau berkata: “Sisa dari tanah ini akan diberkahi oleh Allah”.
  • Dalam salah satu pertemuan di Makkah, seseorang berbicara tentang aib orang-orang yang ia sebut sebagai Wahabi, lalu Syaikh berkata kepadanya: “Semoga Allah memberimu hidayah, Syaikh Fulan, bertasbihlah”.
  • Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengajak orang-orang fakir dan yang membutuhkan saat menunaikan haji, dan akhlaknya cukup luas untuk merangkul semua orang.
  • Pada suatu tahun, jumlah jemaah haji yang bersamanya mencapai lebih dari 800 orang jemaah, namun beliau tetap bersabar dan menanggung semua kesulitan itu.

4. Kesucian Hati dan Berbaik Sangka kepada Orang Lain

  • Salah satu sifat teragung Syaikh adalah kesucian hatinya dari rasa benci, dendam, dan iri hati, serta prasangka baiknya terhadap orang lain.
  • Ini adalah sifat yang sangat agung, sebab manusia yang paling suci hatinya dan paling bersih dadanya adalah para nabi dan rasul Allah.
  • Allah Ta’ala berfirman:

﴿إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

(Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci), dan berfirman:

﴿أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ﴾

(Bukankah Kami telah melapangkan dadamu untukmu?).

  • Para salaf (pendahulu yang saleh) banyak bekerja dan sedikit bicara karena kesucian hati mereka. Syaikh Ibnu Baz telah memberikan contoh paling luar biasa tentang kesucian hati.
  • Beberapa orang merendahkan kedudukan beberapa syaikh di hadapannya, jika mereka melakukan itu, Syaikh justru semakin bertambah kasih sayang, kelembutan, dan belas kasihnya terhadap para syaikh tersebut, berbeda dengan keadaan kita jika seseorang membicarakan keburukan orang lain di hadapan kita.
  • Beliau selalu berhati-hati untuk mengecek kebenaran (tatsabbut) dan memberikan nasihat.
  • Di antara kisah tentang kesucian hatinya adalah bahwa prinsip dasarnya selalu berprasangka baik (husnudzan), dan beliau tidak membuka peluang untuk membicarakan orang lain, serta menghadapinya dengan kesabaran (hilm).
  • Suatu kali beliau menuliskan nasihat untuk seseorang, lalu ada yang berkata kepadanya: “Orang itu mencelamu, wahai Syaikh.” Syaikh pun berkata kepada penulisnya: “Berhenti, khawatir itu menjadi balas dendam demi diri sendiri”.
  • Bahkan dalam hal memberi nasihat, beliau khawatir jika kepentingan pribadi (hawa nafsu) ikut campur dalam urusan tersebut.

5. Bersungguh-sungguh dalam Ketaatan dan Langgeng dalam Beribadah

  • Allah membukakan pintu kesungguhan bagi Syaikh dalam ketaatan, dan beliau adalah bagian dari ulama Rabbani.
  • Di tengah banyaknya kesibukan, beliau tetap menjaga salat malam (qiyamullail), wirid harian, mengerjakan haji dan umrah, mengharapkan pahala dalam memberikan pertolongan (syafaat) dan melayani kaum muslimin, hingga tiada duanya.
  • Beliau meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak berzikir, mudah menangis, berhati lembut, dan selalu tepat dalam pendapat, fatwa, dan ucapannya, berkat kuatnya hubungan beliau dengan Allah Ta’ala.
  • Aku yakin bahwa jika Syaikh mengetahui kematiannya akan tiba pada hari tertentu, niscaya beliau tidak akan menambah amal perbuatan dari apa yang sudah beliau lakukan selama ini; karena beliau sangat menjaga rutinitas (keistikamahan) dalam ibadah dan hubungannya dengan Allah Ta’ala.
  • Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja dalam hidupnya, melainkan sudah menjadi kebiasaannya sejak beliau masih muda.
  • Salah satu murid dekatnya berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau satu haripun berada di saf kedua atau ketiga saat salat, melainkan beliau selalu berada tepat di belakang Imam”. Ini adalah salah satu rahasia taufik Allah kepadanya, dan sebab mengapa beliau diterima di hati umat.

6. Mengagungkan Syiar-syiar Allah

  • Syaikh rahimahullah sangat mengagungkan syiar-syiar Allah.
  • Di antaranya adalah beliau akan menghentikan pembicaraan dengan orang yang berbicara padanya atau meneleponnya jika beliau mendengar azan, dan berkata: “Azan sedang berkumandang, artinya tunggulah sampai muazin selesai”.
  • Pernah seorang penanya meneleponnya, lalu azan salat pun berkumandang, beliau tetap mengikuti muazin, lalu kembali kepada penanya dan menjawab pertanyaannya.
  • Sangat menarik jika ditanyakan: Berapa kali Anda tertinggal salat Subuh dalam hidup Anda?.
  • Syaikh rahimahullah bangun satu jam sebelum Subuh, dan rutinitas ini tidak pernah berubah kecuali satu kali saja; ketika beliau berbaring setelah salat malam, dan tidak terbangun kecuali setelah orang-orang selesai melaksanakan salat jamaah.
  • Beliau pun berkata: “Ini adalah pertama kalinya aku tertinggal salat”.
  • Beliau menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah satu kali tertinggal salat.
  • Zikir kepada Allah tidak pernah lepas darinya bahkan di saat beliau sedang sakit, dan beliau mempraktikkan hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang banyaknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berzikir.
  • Seseorang sedang membacakan kitab di majelis pelajaran, sementara lisan Syaikh tidak pernah henti dari berzikir kepada Allah.
  • Lisannya tidak pernah henti memuji Allah saat makan, pada setiap suapannya, dan beliau tidak memaksakan diri dalam melakukan hal tersebut.
  • Disebutkan bahwa beberapa ulama salaf ketika dilihat, mereka mengingatkan pada Allah, dan Syaikh Ibnu Baz adalah salah satu di antaranya.
  • Beliau banyak memohon dan merengek kepada Allah pada setiap hajat yang beliau inginkan.
  • Di akhir masa hidupnya, pada tahun 1419 H, salah seorang syaikh bersamanya dan beliau berdoa: “Ya Tuhanku, perbaikilah hatiku, Ya Tuhanku, jagalah akalku”.
  • Ketika hal itu diceritakan kepada Syaikh Abdul Rahman Al-Barrak, beliau bertakbir dan bertahlil, seraya berkata: “Aku sudah mendengarnya sejak tahun 1367 H, dan aku mendengarnya lagi pada tahun 1388 H”.
  • Ini memberi kita pelajaran yang sangat agung tentang rutinitas (keistikamahan) dalam mengingat Allah. Mungkin ini adalah salah satu rahasia kecintaan manusia terhadap beliau.

7. Teladan dalam Pintu-pintu Kebaikan

  • Syaikh Ibnu Baz adalah teladan dalam segala hal.
  • Tidak ada satupun pintu kebaikan yang tidak beliau ketuk dan beramal di dalamnya, dan ini adalah kondisi orang yang hatinya tertaut pada Allah; jika kondisi seseorang sudah demikian, maka segala perbuatan akan menjadi mudah baginya.
  • Beliau tidak hanya menempuh satu pintu kebaikan saja, melainkan menempuh semua pintu kebaikan, dan bersungguh-sungguh di setiap ranah yang dengannya beliau dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

8. Pengorbanan yang Menakjubkan dalam Melayani Manusia dan Memenuhi Kebutuhan Mereka

  • Salah satu sifat paling agung dari Syaikh rahimahullah adalah pengorbanan yang menakjubkan dalam melayani umat dan memenuhi kebutuhan mereka.
  • Barangkali beliau mengamalkan firman Allah Ta’ala:

﴿وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

(dan berbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan),

dan firman-Nya:

﴿مَن يَشْفَعُ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِنْهَا﴾

(Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian daripadanya).

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dikatakan oleh Khadijah radhiyallahu ‘anha tentangnya: “Sesungguhnya engkau senantiasa menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang yang lemah, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah untuk menegakkan kebenaran”.
  • Maka Syaikh rahimahullah adalah orang yang paling terdepan dalam memenuhi kebutuhan orang lain, apa pun jenis penanyanya, bentuknya, maupun jenis kelaminnya.
  • Beliau memberikan puluhan syafaat (rekomendasi/bantuan) dalam satu hari untuk diselesaikan bagi masyarakat.
  • Beliau memberikan semua itu tanpa mengungkit-ungkit, dengan penuh ketawadukan dan niat yang baik, serta tidak menginginkan pujian maupun sanjungan.
  • Beliau tidak pernah merasa bosan dalam menerima permintaan bantuan, dan rahasia di balik semua itu adalah keikhlasan.
  • Bahkan saat berada di rumah sakit pun, beliau masih menunaikan kebutuhan orang-orang.
  • Telah ditemukan dokumen-dokumen rekomendasi bantuan dari Syaikh yang tertanggal 26 Muharram 1421 H.

9. Ketawadukan (Rendah Hati)

  • Salah satu sifatnya yang paling menonjol rahimahullah adalah sifat tawaduk.
  • Di antara kisah yang menunjukkan hal itu adalah ketika seorang anak berusia 13 tahun menelepon dan mengusulkan kepadanya agar di setiap daerah ditunjuk seorang Mufti.
  • Syaikh tidak mengatakan: “Apa urusan seorang anak kecil dalam perkara semacam ini?” Melainkan beliau menanggapi usulan tersebut dengan serius, menyampaikannya kepada Dewan Ulama Senior (Kibar al-Ulama), dan kemudian usulan itu pun diterapkan.
  • Di antara sifat tawaduknya adalah pernah suatu ketika beliau pergi untuk menyampaikan ceramah, lalu disiapkanlah sajadah khusus untuk beliau di sebuah masjid yang hanya beralaskan tikar, maka yang beliau lakukan hanyalah melipat sajadah tersebut dan salat bersama jamaah di atas tikar.
  • Beliau tidak merasa memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan manusia lainnya.

10. Toleransi Jiwa dan Candaan yang Lugu

  • Meskipun Syaikh dikenal karena kewibawaan, ketegasan, dan tekadnya, beliau juga memiliki jiwa yang toleran dan suka bercanda secara lugu.
  • Beliau bercanda dengan hal-hal yang melegakan dada namun tidak keluar dari batas adab. Di antaranya adalah ketika seseorang menyapanya, beliau menanyakan namanya, dan orang itu menjawab: “Dzeeb” (Serigala). Syaikh bertanya kepadanya: “Lalu siapa nama istrimu?” Ia menjawab: “Dzeebah” (Serigala betina). Maka Syaikh berkata: “Kami memohon keselamatan kepada Allah: akan jadi seperti apa anak-anakmu kelak?”.
  • Beliau juga pernah berkata kepada seseorang yang bernama Ghazi: “Ghazi fi Sabilillah” (Pejuang di jalan Allah).
  • Di antara kisah lucu yang disebutkan dalam bab ini adalah: “Ahmad bin Nasr dan Jin Ahlus Sunnah”.

11. Wawasan yang Luas dan Pandangan Jauh ke Depan

  • Syaikh menonjol dengan wawasan yang luas dan pandangan yang jauh ke depan, baik dalam hal fatwa, dakwah, berinteraksi dengan para dai, maupun dalam menghadapi berbagai peristiwa dan tragedi.
  • Contohnya adalah peristiwa yang termuat dalam buku “Al-Mubtada’ wal Khabar” pada tahun 1386 H; saat seorang mahasiswa Arab mendaftar ke universitas, ia mengancam bahwa jika ia tidak diterima, ia akan menjadi kafir, maka Syaikh memerintahkan agar ia diterima.
  • Hal ini menyingkapkan lapangnya dada Syaikh, rasa takutnya dari penyimpangan, serta pemahaman beliau yang sangat teliti dalam mewujudkan kemaslahatan.
  • Fakih yang sesungguhnya bukanlah orang yang hanya sekadar menghafal teks/dalil, melainkan orang yang memahami maksud Allah, mengerti tujuan-tujuan syariat (maqasid asy-syari’ah), dan memikirkan hasil akhir dari berbagai perkara.

12. Zuhud terhadap Dunia

  • Salah satu ciri khas dari kepribadian Syaikh Ibnu Baz rahimahullah adalah sikap zuhud terhadap kehidupan dunia.
  • Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat, dan ini merupakan makna yang pernah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  • Syaikh tidak memiliki rumah pribadi di Makkah, padahal dengan harta yang beliau miliki hal itu sangatlah mungkin, tetapi beliau menyalurkan hartanya pada hal-hal yang lebih bermanfaat, dan untuk memfasilitasi para penuntut ilmu.
  • Ketika negara menghibahkan sebidang tanah kepadanya, beliau menjadikan tanah tersebut sebagai masjid.
  • Raja Faisal mengunjunginya di Kota Nabi (Madinah), dan melihat kezuhudan Syaikh, maka Raja memerintahkan agar dibangunkan rumah untuknya.
  • Seorang pejabat ingin agar sertifikat tanah itu diatasnamakan Syaikh, namun Syaikh menolaknya, dan beliau ingin sertifikat itu diatasnamakan Rektor Universitas agar rumah tersebut dapat ditempati oleh siapa pun yang menjabat sebagai Rektor sepanjang masa, bukan menjadi hak milik pribadinya.
  • Ketika beliau memenangkan Penghargaan Raja Faisal, beliau tidak menggunakan uang tersebut untuk urusan pribadinya, melainkan beliau mengumumkan agar uang itu diwakafkan di Makkah untuk melayani ilmu dan para penuntutnya.
  • Demikianlah, Syaikh adalah sebuah madrasah dalam hal ketawadukan, dedikasi, kesabaran, kelembutan, pemberian syafaat (bantuan), serta dalam berbagai pintu kebaikan.

Ibnu Baz dan Abdullah bin Al-Mubarak: Teladan Ulama yang Mengamalkan Ilmunya

Di antara tokoh yang disebutkan dalam konteks ini adalah Abdullah bin Al-Mubarak, salah satu Imam yang mengamalkan ilmunya (Al-Amilin) dan ahli ibadah.

Biografi Syaikh Ibnu Baz adalah salah satu biografi yang paling mirip dengan biografi Abdullah bin Al-Mubarak, semoga Allah merahmati mereka semua. Keduanya menggabungkan antara ilmu, amal, ibadah, melayani manusia, zuhud di dunia, dan semangat tinggi untuk memberi manfaat bagi kaum muslimin. Dan ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Penutup

Apa yang telah kami sebutkan ini hanyalah setetes air dari lautan biografi Imam yang mulia ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Ini adalah biografi seorang ulama yang hidup untuk Allah, yang mencurahkan jiwa, waktu, dan ilmunya demi melayani Islam dan kaum muslimin, maka Allah mengumpulkan baginya sifat ikhlas, penerimaan di hati umat, wara’, keyakinan, kesabaran, kelembutan, kesucian hati, ketawadukan, kezuhudan, serta pelayanan kepada masyarakat, yang menjadikannya sebagai teladan masa kini untuk seorang Ulama Rabbani.

Semoga Allah merahmati Syaikh Ibnu Baz dengan rahmat yang luas, mengampuninya, dan membalas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan balasan yang sebaik-baiknya, meninggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, dan mengumpulkan kita bersamanya di negeri kemuliaan-Nya bersama para nabi, orang-orang jujur (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Ditulis dan diringkas oleh

Dr. Muhammad bin Saleh Al-’Uyaidi.

Al-Qassim – Buraidah. 17 / 3 / 1448 H.

↑ Kembali ke Atas

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button