Tatsqif

Biografi Imam Az-Zarnuji rahimahullah

Imam Az-Zarnuji: Biografi, Guru-Guru, dan Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim

☷ Daftar Isi Artikel

Pendahuluan

Dalam perjalanan sejarah Islam, terdapat ulama yang namanya dikenal luas, karya-karyanya tersebar, dan perjalanan hidupnya tercatat secara terperinci dalam kitab-kitab sejarah dan biografi. Namun, ada pula ulama yang tidak banyak diketahui riwayat kehidupannya, bahkan tahun kelahiran dan wafatnya pun masih diperselisihkan. Meskipun demikian, ilmu dan karya mereka tetap hidup, dipelajari dari generasi ke generasi, serta memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan umat Islam hingga hari ini.

Hal ini menunjukkan bahwa besarnya pengaruh seseorang tidak selalu bergantung pada kemasyhuran namanya atau banyaknya catatan sejarah tentang dirinya. Betapa banyak ulama yang tidak dikenal secara luas oleh masyarakat, tetapi karya dan pemikirannya terus memberikan manfaat selama berabad-abad. Di antara sebab terbesar keberkahan ilmu dan amal adalah keikhlasan kepada Allah Ta‘ala. Sebagaimana ungkapan masyhur yang dinisbatkan kepada Imam Malik rahimahullah:

مَا كَانَ لِلَّهِ بَقِيَ

“Apa yang dilakukan karena Allah akan tetap kekal.”

Ungkapan ini mengandung makna bahwa amal yang dilandasi keikhlasan memiliki keberkahan dan pengaruh yang dapat terus berlangsung, meskipun pelakunya telah lama meninggal dunia. Tentu saja, hakikat keikhlasan seseorang hanya diketahui oleh Allah Ta‘ala, sedangkan keberlangsungan manfaat suatu karya merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan diharapkan menjadi bagian dari amal jariah penulisnya.

Salah satu ulama yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini adalah Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji rahimahullah, penulis kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum. Informasi mengenai kehidupan beliau sangat terbatas, bahkan tahun wafatnya belum dapat dipastikan. Akan tetapi, kitab yang beliau susun tentang adab dan metode menuntut ilmu tetap dipelajari dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan Islam hingga sekarang, termasuk di pesantren-pesantren Indonesia.

Semoga Allah Ta‘ala melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada Imam Az-Zarnuji, menerima segala amal kebaikannya, meninggikan derajatnya di sisi-Nya, menjadikan ilmu yang beliau wariskan sebagai amal jariah yang terus mengalirkan pahala, serta memberikan manfaat kepada kaum Muslimin melalui karya-karyanya hingga akhir zaman. Amin.

1. Nama dan Identitas

Imam Az-Zarnuji (الزَّرْنُوجِي) adalah seorang ulama bermazhab Hanafi yang dikenal melalui karyanya dalam bidang pendidikan Islam, khususnya adab menuntut ilmu dan metode pembelajaran. Beliau dikenal dengan gelar Burhanul Islam (بُرْهَانُ الْإِسْلَامِ) dan dalam sejumlah sumber juga disebut Burhanuddin (بُرْهَانُ الدِّينِ).

Nisbah Az-Zarnuji dinisbatkan kepada Zarnuj, sebuah daerah di kawasan Asia Tengah. Adapun nama lengkap, tempat kelahiran, dan rincian perjalanan hidup beliau tidak banyak dijelaskan dalam kitab-kitab biografi klasik. Oleh karena itu, penyebutan Burhanul Islam Az-Zarnuji lebih tepat digunakan daripada menetapkan nama lengkap yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Az-Zarnuji hidup dalam lingkungan keilmuan mazhab Hanafi yang berkembang di kawasan Transoxiana (Mawaraunnahr). Tradisi keilmuan tersebut memberikan perhatian besar terhadap penguasaan fikih, pembentukan akhlak, penghormatan kepada guru, serta metode pendidikan yang menggabungkan ilmu dan pengamalannya.

2. Tahun Wafat

Para peneliti berbeda pendapat mengenai tahun wafat Imam Az-Zarnuji. Di antara tahun yang disebutkan dalam sejumlah sumber adalah 591 H, 593 H, 597 H, 600 H, dan 620 H.

Sebagian katalog dan tulisan biografi mencantumkan tahun 600 H/1203 M sebagai tahun wafat beliau. Namun, penetapan tersebut belum dapat dianggap pasti karena keterbatasan informasi sejarah mengenai kehidupannya.

Dengan demikian, pendapat yang lebih hati-hati adalah menyebut bahwa Az-Zarnuji hidup pada akhir abad keenam hingga awal abad ketujuh Hijriah, sedangkan tahun wafatnya masih diperselisihkan.

3. Guru-Guru Imam Az-Zarnuji dan Karya Mereka

Dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim, Az-Zarnuji menyebut sejumlah ulama yang menjadi sumber keilmuannya. Sebagian disebut dengan ungkapan أستاذنا (guru kami), شيخنا (syekh kami), atau ungkapan periwayatan langsung seperti أنشدني (membacakan syair kepadaku) dan أنشدنا (membacakan syair kepada kami).

Di antara guru-guru yang disebut dalam kitab tersebut dan sumber-sumber biografinya adalah sebagai berikut.

1. Burhanuddin Al-Marghinani (w. 593 H)

بُرْهَانُ الدِّينِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمَرْغِينَانِيُّ

Beliau merupakan salah seorang ulama besar mazhab Hanafi yang terkenal dalam bidang fikih. Az-Zarnuji menyebutnya sebagai pengarang kitab Al-Hidayah dan meriwayatkan syair darinya.

Di antara redaksi yang terdapat dalam Ta‘lim Al-Muta‘allim adalah:

أَنْشَدَنِي الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّ الْأُسْتَاذُ صَاحِبُ الْهِدَايَةِ

Artinya: “Guru yang mulia, seorang syekh dan imam, pengarang kitab Al-Hidayah, membacakan syair kepadaku.”

Karya-karyanya yang terkenal:

  • Al-Hidayah fi Syarh Bidayat Al-Mubtadi (الهداية في شرح بداية المبتدي).
  • Bidayat Al-Mubtadi (بداية المبتدي).
  • Kifayat Al-Muntahi (كفاية المنتهي).

Kitab Al-Hidayah merupakan salah satu rujukan utama dalam fikih Hanafi yang banyak dipelajari, diajarkan, dan disyarah oleh para ulama setelahnya.

2. Fakhruddin Qadhi Khan (w. 592 H)

فَخْرُ الدِّينِ الْحَسَنُ بْنُ مَنْصُورٍ الْفَرْغَانِيُّ، الْمَعْرُوفُ بِقَاضِي خَانَ

Beliau merupakan ulama besar mazhab Hanafi yang dikenal karena keluasan ilmunya dalam bidang fikih dan fatwa.

Az-Zarnuji menyebutnya dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim dengan ungkapan:

وَكَانَ أُسْتَاذُنَا الْقَاضِي الْإِمَامُ الْأَجَلُّ فَخْرُ الدِّينِ الْمَعْرُوفُ بِقَاضِي خَانَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ

Artinya: “Guru kami, seorang kadi dan imam yang mulia, Fakhruddin yang dikenal dengan Qadhi Khan, semoga Allah Ta‘ala merahmatinya, pernah berkata ….”

Karya beliau yang paling terkenal adalah:

  • Al-Fatawa Al-Khaniyyah (الفتاوى الخانية), dikenal pula dengan nama Fatawa Qadhi Khan.

Kitab tersebut merupakan salah satu referensi penting dalam fatwa dan fikih mazhab Hanafi.

3. Zhahiruddin Al-Marghinani (w. sekitar 600 H)

ظَهِيرُ الدِّينِ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَرْغِينَانِيُّ

Beliau merupakan seorang ulama Hanafi yang dikenal dalam bidang fikih dan fatwa.

Az-Zarnuji menyebutnya dengan ungkapan:

أَنْشَدَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ ظَهِيرُ الدِّينِ مُفْتِي الْأُمَّةِ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْرُوفُ بِالْمَرْغِينَانِيِّ

Artinya: “Syekh dan imam Zhahiruddin, mufti umat, Al-Hasan bin Ali yang dikenal dengan Al-Marghinani, membacakan syair kepada kami.”

Di antara karya yang dinisbatkan kepadanya adalah:

  • Syarh Az-Ziyadat (شرح الزيادات).

Nisbah karya tersebut perlu diperiksa lebih lanjut melalui katalog manuskrip dan sumber biografi untuk memastikan identitas pengarangnya.

4. Muhammad bin Abi Bakr Al-Jughi (w. 573 H)

مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْجُوغِيُّ

Beliau termasuk ulama yang disebut dalam sejumlah penelitian biografi sebagai guru Az-Zarnuji.

Karya yang dinisbatkan kepadanya adalah:

  • Syir‘at Al-Islam ila Dar As-Salam (شرعة الإسلام إلى دار السلام).

Kitab tersebut membahas tuntunan kehidupan seorang Muslim, meliputi ibadah, akhlak, adab, dan berbagai amalan sehari-hari.

Akan tetapi, hubungan keguruan serta ketepatan identifikasi pengarang kitab ini masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sumber-sumber primer.

5. Mas‘ud bin Al-Husain Al-Kasytani (w. 573 H)

مَسْعُودُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْكَشْتَانِيُّ

Beliau termasuk ulama Hanafi yang disebut dalam sejumlah penelitian mengenai jaringan keilmuan Az-Zarnuji.

Di antara karya yang dinisbatkan kepadanya adalah:

  • Al-Mukhtashar As-Sa‘udi (المختصر السعودي).

Informasi mengenai karya dan hubungan keguruannya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

6. Hammad bin Ibrahim Ash-Shaffar (w. 576 H)

حَمَّادُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّفَّارُ

Beliau disebut dalam sebagian sumber sebagai salah seorang guru Az-Zarnuji.

Meskipun namanya dikenal dalam lingkungan keilmuan Hanafi, belum dapat dipastikan sebuah karya terkenal yang dapat dinisbatkan kepadanya secara meyakinkan.

4. Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum

تَعْلِيمُ الْمُتَعَلِّمِ طَرِيقَ التَّعَلُّمِ

Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum merupakan karya Imam Az-Zarnuji dalam bidang adab dan metode pendidikan Islam. Kitab ini membahas berbagai prinsip yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu agar proses belajarnya menghasilkan ilmu yang bermanfaat dan dapat diamalkan.

Dalam pendahuluannya, Az-Zarnuji menjelaskan bahwa beliau menyaksikan banyak penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh belajar, tetapi tidak berhasil memperoleh manfaat ilmu sebagaimana yang diharapkan. Menurut beliau, salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam menempuh metode belajar dan pengabaian terhadap syarat-syarat memperoleh ilmu.

Az-Zarnuji menyatakan:

فَلَمَّا رَأَيْتُ كَثِيرًا مِنْ طُلَّابِ الْعِلْمِ فِي زَمَانِنَا يَجِدُّونَ إِلَى الْعِلْمِ وَلَا يَصِلُونَ، وَمِنْ مَنَافِعِهِ وَثَمَرَاتِهِ – وَهِيَ الْعَمَلُ بِهِ وَالنَّشْرُ – يُحْرَمُونَ، لِمَا أَنَّهُمْ أَخْطَؤُوا طَرَائِقَهُ وَتَرَكُوا شَرَائِطَهُ.

Artinya:

“Ketika aku melihat banyak penuntut ilmu pada zaman kita bersungguh-sungguh mencari ilmu, tetapi tidak berhasil mencapainya dan terhalang dari manfaat serta buahnya, yaitu mengamalkan dan menyebarkannya, karena mereka keliru dalam menempuh jalan-jalannya dan meninggalkan syarat-syaratnya.”

Oleh karena itu, beliau menyusun kitab ini untuk menjelaskan metode menuntut ilmu berdasarkan pengalaman, bacaan, dan pelajaran yang diperolehnya dari para guru.

Sistematika Kitab

Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim terdiri atas 13 pasal (فصول), yaitu:

  1. Hakikat Ilmu, Fikih, dan Keutamaannya في ماهية العلم والفقه وفضله
  2. Niat dalam Menuntut Ilmu في النية في حال التعلم
  3. Memilih Ilmu, Guru, Teman Belajar, dan Keteguhan dalam Belajar في اختيار العلم والأستاذ والشريك والثبات عليه
  4. Mengagungkan Ilmu dan Orang-Orang yang Berilmu في تعظيم العلم وأهله
  5. Kesungguhan, Ketekunan, dan Cita-Cita yang Tinggi في الجد والمواظبة والهمة
  6. Permulaan Belajar, Ukuran Pelajaran, dan Urutan Pembelajarannya في بداية السبق وقدره وترتيبه
  7. Tawakal dalam Menuntut Ilmu في التوكل
  8. Waktu-Waktu yang Tepat untuk Memperoleh Ilmu في وقت التحصيل
  9. Kasih Sayang dan Sikap Saling Menasihati في الشفقة والنصيحة
  10. Cara Mengambil Manfaat dari Ilmu dan Pembelajaran في الاستفادة
  11. Sikap Wara’ dalam Menuntut Ilmu في الورع في حال التعلم
  12. Faktor-Faktor yang Memperkuat Hafalan dan Menyebabkan Lupa فيما يورث الحفظ وفيما يورث النسيان
  13. Faktor-Faktor yang Mendatangkan dan Menghalangi Rezeki serta yang Menambah dan Mengurangi Umur فيما يجلب الرزق وما يمنعه وما يزيد في العمر وما ينقص

Melalui ketiga belas pasal tersebut, Az-Zarnuji menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan banyaknya pengetahuan, tetapi juga oleh niat yang benar, penghormatan terhadap ilmu dan guru, kesungguhan, ketekunan, serta pengamalan ilmu.

Kitab ini memperoleh perhatian luas dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan tradisional dan pesantren di Indonesia. Hingga sekarang, Ta‘lim Al-Muta‘allim masih diajarkan sebagai salah satu rujukan utama dalam pembinaan adab dan etika menuntut ilmu.

5. Kesimpulan

Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji merupakan ulama Hanafi yang hidup sekitar akhir abad keenam hingga awal abad ketujuh Hijriah. Meskipun informasi mengenai kehidupan dan tahun wafatnya masih terbatas, hubungan keilmuannya dengan sejumlah ulama Hanafi dapat ditelusuri melalui penyebutan mereka dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim.

Di antara guru yang paling jelas disebut dalam kitab tersebut adalah Burhanuddin Al-Marghinani, pengarang Al-Hidayah; Fakhruddin Qadhi Khan, pengarang Al-Fatawa Al-Khaniyyah; dan Zhahiruddin Al-Marghinani.

Karya Az-Zarnuji, Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum, merupakan salah satu kitab penting dalam sejarah pemikiran pendidikan Islam. Melalui kitab tersebut, beliau menegaskan bahwa keberhasilan menuntut ilmu memerlukan perpaduan antara metode belajar yang benar, adab yang baik, penghormatan kepada guru, kesungguhan, dan pengamalan ilmu.

Referensi Utama

Az-Zarnuji, Burhanul Islam. Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum, khususnya bagian pendahuluan, pasal-pasal pembahasan, serta keterangan tentang guru-gurunya.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Bagikan