Tatsqif

Karya Imam Az-Zarnuji rahimahullah

Kumpulan Syair Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim

☷ Daftar Isi Artikel

تعليم المتعلم طريق التعلم — الإمام برهان الإسلام الزرنوجي

MUKADIMAH

Karya Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji rahimahullah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Ilmu merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah Ta‘ala berikan kepada manusia. Dengannya, seseorang dapat mengenal Tuhannya, memahami agamanya, membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta menempuh jalan kehidupan dengan petunjuk yang benar. Akan tetapi, ilmu yang bermanfaat tidak cukup diperoleh dengan membaca, mendengar, dan mengumpulkan pengetahuan. Ia membutuhkan niat yang ikhlas, adab yang mulia, kesungguhan, kesabaran, pengulangan, serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara karya para ulama yang memberikan perhatian besar terhadap persoalan tersebut adalah kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum (تعليم المتعلم طريق التعلم) karya Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji rahimahullah. Kitab ini telah lama dikenal dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya di berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, sebagai salah satu rujukan penting dalam mempelajari adab dan metode menuntut ilmu.

Keistimewaan kitab ini bukan hanya terletak pada nasihat dan penjelasan penulisnya, tetapi juga pada berbagai syair Arab yang beliau kutip untuk memperkuat pesan-pesan pendidikan. Syair-syair tersebut mengandung hikmah yang mendalam tentang keutamaan ilmu, keikhlasan, penghormatan kepada guru, pemilihan teman, kesungguhan belajar, pengendalian hawa nafsu, pemanfaatan waktu, tawakal, kesabaran, dan penjagaan akhlak.

Nasihat yang terkandung dalam syair sering kali disampaikan dengan ungkapan yang singkat, indah, dan mudah diingat. Dalam beberapa bait saja, seorang penyair dapat merangkum pengalaman hidup, pemikiran yang mendalam, dan pelajaran berharga yang relevan sepanjang zaman.

Syair dalam Tradisi Keilmuan Islam

Syair memiliki kedudukan penting dalam sejarah bahasa Arab dan peradaban Islam. Sejak sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab telah mengenal syair sebagai sarana mengungkapkan pemikiran, menyampaikan nasihat, mengabadikan peristiwa, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan.

Ketika Islam datang, syair tidak dihapuskan secara mutlak. Islam memberikan arahan agar perkataan, termasuk syair, digunakan untuk tujuan yang baik dan tidak mengandung kebatilan, kedustaan, atau perkara yang bertentangan dengan syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ لَحِكْمَةً

“Sesungguhnya sebagian syair mengandung hikmah.”

(HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa syair dapat menjadi sarana penyampaian hikmah dan nasihat yang bermanfaat. Namun, tidak setiap syair otomatis mengandung kebenaran. Nilai sebuah syair tetap ditentukan oleh kandungan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam.

Dalam sejarah Islam, dikenal sejumlah sahabat yang memiliki kemampuan bersyair, di antaranya Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, yang menggunakan syairnya untuk membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjawab serangan verbal terhadap Islam.

Tradisi tersebut kemudian berkembang dalam dunia keilmuan Islam. Para ulama menggunakan syair bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, pengajaran, dan penguatan hafalan.

Dalam ilmu bahasa Arab, fikih, usul fikih, ilmu hadis, ilmu Al-Qur’an, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, dikenal karya-karya berbentuk nazham, yaitu susunan bait yang dirancang untuk memudahkan penghafalan kaidah dan pokok-pokok pembahasan.

Di antara contoh yang terkenal adalah Alfiyyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu, Al-Baiquniyyah dalam musthalah hadis, dan Asy-Syathibiyyah dalam ilmu qiraat.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa para ulama memahami pentingnya menggabungkan kekuatan hafalan dengan pemahaman. Bait-bait yang singkat dan teratur dapat membantu seorang pelajar mengingat pokok-pokok ilmu, kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk memahami penjelasan yang lebih luas.

Mengapa Syair Perlu Dihafalkan?

Menghafal syair yang mengandung hikmah merupakan salah satu cara yang bermanfaat untuk menanamkan nasihat dalam ingatan dan hati.

Nasihat yang hanya didengar sekali mungkin mudah terlupakan. Namun, apabila nasihat itu dirangkum dalam bait yang indah, kemudian dihafalkan dan diulang, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk mengingatnya ketika menghadapi keadaan yang berkaitan dengan kandungannya.

Ketika seorang pelajar merasa malas, misalnya, ia dapat mengingat bait:

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِي

وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَا سَهِرَ اللَّيَالِي

“Setinggi kesungguhan seseorang, setinggi itulah kemuliaan yang dapat diraihnya. Siapa yang menginginkan kedudukan tinggi, hendaknya rela terjaga pada malam hari.”

Ketika seseorang hendak memilih teman, ia dapat mengingat:

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ

فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Janganlah bertanya tentang seseorang, tetapi perhatikanlah teman dekatnya, karena setiap orang cenderung mengikuti orang yang menjadi temannya.”

Demikian pula ketika seseorang hendak berbicara, ia dapat mengingat:

النُّطْقُ زَيْنٌ وَالسُّكُوتُ سَلَامَةٌ

فَإِذَا نَطَقْتَ فَلَا تَكُنْ مِكْثَارًا

“Berbicara dengan baik merupakan perhiasan, sedangkan diam membawa keselamatan. Apabila engkau berbicara, janganlah terlalu banyak bicara.”

Dengan demikian, syair yang dihafalkan dapat menjadi pengingat yang hadir dalam berbagai keadaan kehidupan.

Manfaat Menghafal Syair bagi Penuntut Ilmu

Setidaknya terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari mempelajari dan menghafalkan syair-syair pilihan.

Pertama, memudahkan mengingat nasihat dan hikmah. Susunan syair yang memiliki irama dan keteraturan bunyi dapat membantu proses penghafalan. Pesan yang panjang terkadang dapat dirangkum dalam satu atau dua bait yang mudah diingat.

Kedua, menumbuhkan semangat menuntut ilmu. Banyak syair dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim mengingatkan pentingnya kesungguhan, ketekunan, dan pengorbanan. Mengulang syair-syair tersebut dapat menjadi sarana memperbarui motivasi ketika semangat belajar mulai melemah.

Ketiga, membantu pembinaan akhlak dan adab. Syair tentang menghormati guru, memilih teman, menjaga lisan, menjauhi kemalasan, dan mengendalikan hawa nafsu mengandung pesan pendidikan yang dapat direnungkan dan diamalkan.

Keempat, memperkaya penguasaan bahasa Arab. Menghafalkan syair Arab dapat membantu pelajar mengenal kosakata, susunan kalimat, ungkapan sastra, dan keindahan bahasa Arab. Manfaat ini akan semakin besar apabila hafalan disertai pemahaman makna dan penjelasan kebahasaannya.

Kelima, melatih ketelitian dan kemampuan mengingat. Proses menghafal menuntut perhatian terhadap susunan kata, ketepatan pengucapan, dan pengulangan. Kebiasaan tersebut dapat menjadi latihan yang bermanfaat dalam kegiatan belajar.

Keenam, menjadi bekal dalam menyampaikan nasihat. Seorang guru, dai, khatib, atau penuntut ilmu dapat menggunakan syair yang sesuai untuk memperjelas suatu pelajaran. Ungkapan yang singkat dan indah terkadang lebih mudah dipahami serta diingat oleh pendengar.

Ketujuh, menghubungkan pelajar dengan warisan keilmuan para ulama. Melalui syair, kita dapat mengenal cara para ulama terdahulu mengungkapkan hikmah, mendidik murid, dan menyampaikan pengalaman mereka dalam menuntut ilmu.

Namun, perlu ditekankan bahwa menghafal syair bukanlah tujuan akhir. Hafalan harus disertai pemahaman, dan pemahaman hendaknya melahirkan pengamalan. Banyaknya bait yang dihafal tidak dengan sendirinya menunjukkan kemuliaan seseorang apabila tidak disertai akhlak yang baik.

Keistimewaan Syair dalam Kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim

Syair-syair yang terdapat dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim memiliki keistimewaan karena berkaitan langsung dengan kehidupan seorang penuntut ilmu.

Imam Az-Zarnuji tidak sekadar mengutip syair sebagai penghias tulisan. Dalam banyak pembahasan, syair digunakan untuk memperkuat nasihat, memberikan gambaran yang mudah dipahami, dan menanamkan nilai-nilai pendidikan.

Ketika membahas kesungguhan, beliau mengutip syair tentang perjuangan meraih kemuliaan. Ketika membahas pergaulan, beliau menghadirkan syair tentang pengaruh teman. Ketika menjelaskan pentingnya menjaga hafalan, beliau menyebutkan syair tentang meninggalkan kemaksiatan.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam pandangan kitab tersebut tidak terbatas pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan kepribadian, pengelolaan waktu, pengendalian diri, hubungan dengan guru, dan sikap terhadap sesama manusia.

Karena itu, syair-syair dalam kitab ini layak dipelajari bukan hanya oleh para santri dan pelajar, tetapi juga oleh para pendidik, orang tua, dan siapa saja yang ingin memperbaiki adab serta meningkatkan kualitas dirinya.

Cara Memanfaatkan Kumpulan Syair Ini

Agar kumpulan syair ini memberikan manfaat yang lebih besar, pembaca dianjurkan untuk tidak hanya membacanya sepintas, tetapi menjadikannya sebagai bahan pembelajaran yang berkelanjutan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menghafalkan satu atau dua bait setiap hari, membaca terjemahannya, memahami pesan yang terkandung di dalamnya, kemudian berusaha mengamalkan nasihat tersebut.

Syair yang telah dihafal sebaiknya diulang secara berkala agar tidak mudah terlupakan. Pembaca juga dapat mendiskusikan kandungannya bersama guru atau teman belajar.

Bagi para pendidik, kumpulan ini dapat digunakan sebagai bahan pembuka pelajaran, nasihat singkat, kegiatan hafalan, atau bahan diskusi tentang adab menuntut ilmu.

Akan tetapi, syair tidak boleh dijadikan dalil syariat yang berdiri sendiri. Kandungannya tetap perlu dipahami berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama. Demikian pula, tidak semua syair yang dikutip dalam sebuah kitab dapat dipastikan berasal dari orang yang namanya disebut sebagai periwayatnya.

Tentang Penyusunan Kumpulan Ini

Kumpulan ini disusun untuk memudahkan pembaca mempelajari syair-syair yang terdapat dalam kitab Ta‘lim Al-Muta‘allim Thariq At-Ta‘allum karya Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji rahimahullah.

Syair-syair disajikan berdasarkan urutan pembahasan dalam kitab, dengan dilengkapi judul tematik, teks Arab, terjemahan bahasa Indonesia, keterangan penyair atau periwayat apabila diketahui, serta faidah ringkas yang dapat diambil dari kandungannya.

Judul setiap syair merupakan judul tematik yang diberikan untuk memudahkan pembaca memahami pokok pembahasannya, bukan judul asli yang selalu tercantum dalam kitab.

Penyebutan nama penyair juga memerlukan ketelitian. Seseorang yang meriwayatkan atau membacakan syair kepada Imam Az-Zarnuji tidak selalu merupakan pengarangnya. Oleh karena itu, keterangan mengenai pengarang dan periwayat perlu dibedakan, sedangkan syair yang belum diketahui pengarangnya tidak dinisbatkan kepada tokoh tertentu tanpa dasar yang jelas.

Kumpulan awal ini memuat 51 entri syair hasil inventarisasi, termasuk satu bait yang tercatat berulang. Sebagian redaksi dan atribusinya masih memerlukan pemeriksaan kembali terhadap naskah sumber sebelum diterbitkan sebagai edisi yang telah ditahkik.

Terjemahan yang disajikan dimaksudkan untuk mendekatkan makna syair kepada pembaca berbahasa Indonesia. Adapun faidah ringkas yang menyertainya merupakan penjelasan untuk membantu memahami pesan pendidikan yang terkandung dalam setiap syair, bukan selalu merupakan penjelasan langsung dari Imam Az-Zarnuji.

Dengan penyusunan ini, diharapkan pembaca dapat menikmati keindahan ungkapan para ulama sekaligus mengambil manfaat dari nasihat yang mereka sampaikan.

Pasal Pertama: Hakikat Ilmu, Fikih, dan Keutamaannya

فصل في ماهية العلم والفقه وفضله

1. Keutamaan Ilmu

Penyair: Tidak disebutkan.

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِوَكُنْ مُسْتَفِيدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِي بُحُورِ الْفَوَائِدِتَفَقَّهْ فَإِنَّ الْفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدٍ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَأَعْدَلُ قَاصِدِهُوَ الْعِلْمُ الْهَادِي إِلَى سُنَنِ الْهُدَى هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِي مِنْ جَمِيعِ الشَّدَائِدِفَإِنَّ فَقِيهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Terjemahan:

Belajarlah, karena ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya, keutamaan, dan tanda segala sifat terpuji.

Jadilah orang yang setiap hari memperoleh tambahan ilmu dan menyelamlah dalam lautan berbagai manfaat.

Pelajarilah fikih, karena fikih merupakan sebaik-baik pembimbing menuju kebajikan dan ketakwaan serta penuntun menuju jalan yang lurus.

Ilmulah yang menunjukkan jalan petunjuk dan menjadi benteng yang menyelamatkan dari berbagai kesulitan.

Sesungguhnya seorang ahli fikih yang memiliki sifat wara lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah.

Faidah: Ilmu merupakan perhiasan yang sesungguhnya bagi seorang Muslim. Ilmu yang bermanfaat tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membimbing seseorang menuju ketakwaan dan amal saleh.

Pasal Kedua: Niat dalam Menuntut Ilmu

فصل في النية في حال التعلم

2. Ulama yang Rusak Akhlaknya

Riwayat: Burhanuddin Al-Marghinani; penyair tidak disebutkan.

فَسَادٌ كَبِيرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُهُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِينَ عَظِيمَةٌ لِمَنْ بِهِمَا فِي دِينِهِ يَتَمَسَّكُ

Terjemahan:

Kerusakan besar adalah seorang berilmu yang tidak menjaga akhlak dan kehormatannya. Namun, yang lebih besar kerusakannya adalah orang bodoh yang menampilkan diri sebagai ahli ibadah.

Keduanya merupakan fitnah besar bagi manusia yang menjadikan mereka sebagai panutan dalam urusan agama.

Faidah: Ilmu harus disertai akhlak dan pengamalan. Seseorang tidak layak dijadikan panutan hanya karena banyak beribadah apabila ia tidak memiliki ilmu yang benar.

3. Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu

Riwayat: Hammad bin Ibrahim Ash-Shaffar Al-Anshari; penyair belum dipastikan.

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِفَيَا لَخُسْرَانِ طَالِبِيهِ لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِبَادِ

Terjemahan:

Barang siapa menuntut ilmu untuk kehidupan akhirat, sungguh ia memperoleh keutamaan berupa petunjuk.

Betapa meruginya orang yang menuntut ilmu hanya untuk memperoleh kedudukan dan kelebihan di hadapan manusia.

Faidah: Keikhlasan merupakan dasar keberkahan ilmu. Menuntut ilmu hendaknya bertujuan mencari keridaan Allah, bukan semata-mata pujian, popularitas, atau kedudukan.

4. Kehinaan Dunia

Penyair: Tidak disebutkan.

هِيَ الدُّنْيَا أَقَلُّ مِنَ الْقَلِيلِ وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيلِتُصِمُّ بِسِحْرِهَا قَوْمًا وَتُعْمِي فَهُمْ مُتَحَيِّرُونَ بِلَا دَلِيلِ

Terjemahan:

Dunia ini lebih rendah daripada sesuatu yang paling rendah, sedangkan orang yang terlalu mencintainya lebih hina daripada orang yang hina.

Dunia menulikan dan membutakan sebagian manusia dengan pesonanya sehingga mereka kebingungan tanpa petunjuk.

Faidah: Kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Dunia hendaknya dijadikan sarana untuk beramal, bukan tujuan tertinggi kehidupan.

Pasal Ketiga: Memilih Ilmu, Guru, dan Teman Belajar

فصل في اختيار العلم والأستاذ والشريك والثبات

5. Keteguhan dalam Meraih Cita-Cita

Penyair: Tidak disebutkan.

لِكُلٍّ إِلَى شَأْوِ الْعُلَا حَرَكَاتٌ وَلَكِنْ عَزِيزٌ فِي الرِّجَالِ ثَبَاتُ

Terjemahan:

Setiap orang memiliki usaha untuk mencapai kedudukan yang tinggi, tetapi keteguhan merupakan sifat yang langka di antara manusia.

Faidah: Memulai suatu kebaikan tidaklah cukup. Keberhasilan membutuhkan keteguhan dan istiqamah hingga tujuan tercapai.

6. Bahaya Hawa Nafsu

Penyair: Tidak disebutkan.

إِنَّ الْهَوَى لَهُوَ الْهَوَانُ بِعَيْنِهِ وَصَرِيعُ كُلِّ هَوًى صَرِيعُ هَوَانِ

Terjemahan:

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu merupakan kehinaan itu sendiri. Siapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, ia telah terjerumus ke dalam kehinaan.

Faidah: Mengendalikan hawa nafsu merupakan bagian penting dalam pendidikan jiwa. Penuntut ilmu harus membiasakan diri mendahulukan kebenaran daripada keinginan pribadi.

7. Enam Syarat Memperoleh Ilmu

Penyair: Masyhur dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi‘i.

أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوعِهَا بِبَيَانِذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ

Terjemahan:

Ketahuilah, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.

Yaitu kecerdasan, semangat yang kuat, kesabaran, bekal yang mencukupi, bimbingan seorang guru, dan waktu yang panjang.

Faidah: Ilmu tidak diperoleh secara instan. Seorang pelajar memerlukan kesungguhan, kesabaran, bimbingan guru, dan proses belajar yang berkelanjutan.

8. Memilih Teman

Penyair: Tidak disebutkan.

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِيفَإِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِي

Terjemahan:

Janganlah bertanya tentang kepribadian seseorang, tetapi perhatikanlah siapa teman dekatnya, karena setiap orang cenderung mengikuti orang yang menjadi temannya.

Apabila temannya adalah orang yang buruk, segeralah menjauhinya. Namun, apabila ia orang yang baik, bertemanlah dengannya agar engkau memperoleh petunjuk.

Faidah: Lingkungan pergaulan sangat memengaruhi akhlak dan kebiasaan seseorang. Memilih teman yang saleh merupakan salah satu cara menjaga agama dan semangat belajar.

9. Menjauhi Teman yang Buruk

Penyair: Tidak disebutkan.

لَا تَصْحَبِ الْكَسْلَانَ فِي حَالَاتِهِ كَمْ صَالِحٍ بِفَسَادِ آخَرَ يَفْسُدُعَدْوَى الْبَلِيدِ إِلَى الْجَلِيدِ سَرِيعَةٌ كَالْجَمْرِ يُوضَعُ فِي الرَّمَادِ فَيَخْمُدُ

Terjemahan:

Janganlah berteman dengan orang yang malas dalam berbagai keadaannya. Betapa banyak orang baik menjadi rusak karena pengaruh orang lain.

Pengaruh kebodohan terhadap orang yang cerdas dapat menyebar dengan cepat, sebagaimana bara api yang diletakkan dalam abu hingga akhirnya padam.

Faidah: Kemalasan dan kebiasaan buruk dapat menular melalui pergaulan. Karena itu, penuntut ilmu hendaknya memilih lingkungan yang mendorong kesungguhan dan kebaikan.

10. Memilih Teman yang Baik

Penyair: Tidak disebutkan.

إِنْ كُنْتَ تَبْغِي الْعِلْمَ مِنْ أَهْلِهِ أَوْ شَاهِدًا يُخْبِرُ عَنْ غَائِبِفَاعْتَبِرِ الْأَرْضَ بِأَسْمَائِهَا وَاعْتَبِرِ الصَّاحِبَ بِالصَّاحِبِ

Terjemahan:

Apabila engkau ingin memperoleh ilmu dari ahlinya, atau mencari bukti yang dapat memberitahukan sesuatu yang tidak terlihat, maka perhatikanlah tanah melalui tanda-tanda dan namanya, serta kenalilah seseorang melalui teman-temannya.

Faidah: Teman dekat sering mencerminkan kecenderungan dan karakter seseorang. Memperhatikan pergaulan dapat membantu kita memilih sahabat yang baik.

Pasal Keempat: Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya

فصل في تعظيم العلم وأهله

11. Menghormati Guru

Penyair: Tidak disebutkan.

رَأَيْتُ أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِلَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدَى إِلَيْهِ كَرَامَةً لِتَعْلِيمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ

Terjemahan:

Aku memandang bahwa hak yang paling patut ditunaikan adalah hak seorang guru, dan hak tersebut wajib dijaga oleh setiap Muslim.

Sungguh pantas seorang guru diberikan penghormatan berupa seribu dirham karena telah mengajarkan satu huruf saja.

Faidah: Menghormati guru merupakan bagian dari adab menuntut ilmu. Penghormatan tersebut diwujudkan melalui kesopanan, kesungguhan belajar, dan menghargai jasa pengajaran.

Pasal Kelima: Kesungguhan, Ketekunan, dan Cita-Cita

فصل في الجد والمواظبة والهمة

12. Kesungguhan dalam Menuntut Ilmu

Penyair: Tidak disebutkan.

الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي

Terjemahan:

Ilmu itu seakan memerangi orang yang menyombongkan diri, sebagaimana aliran air tidak mudah mencapai tempat yang tinggi.

Faidah: Kesombongan merupakan penghalang memperoleh ilmu. Seorang pelajar harus bersikap tawaduk dan bersedia menerima kebenaran dari siapa pun.

13. Kesungguhan dan Kedudukan Seseorang

Penyair: Tidak disebutkan.

بِجِدٍّ لَا بِجَدٍّ كُلُّ مَجْدٍ فَهَلْ جَدٌّ بِلَا جِدٍّ بِمُجْدِيفَكَمْ مِنْ عَبْدٍ يَقُومُ مَقَامَ حُرٍّ وَكَمْ حُرٍّ يَقُومُ مَقَامَ عَبْدِ

Terjemahan:

Segala kemuliaan diperoleh melalui kesungguhan, bukan semata-mata karena nasib atau kedudukan keturunan. Apakah kedudukan yang tinggi dapat memberikan manfaat tanpa kesungguhan?

Betapa banyak seorang hamba yang mencapai kedudukan orang merdeka, dan betapa banyak orang merdeka yang justru menempati kedudukan seorang hamba.

Faidah: Kemuliaan tidak hanya ditentukan oleh keturunan atau kedudukan sosial. Kesungguhan dan kualitas diri dapat mengangkat derajat seseorang.

14. Semangat yang Tinggi

Riwayat: Burhanul Islam; penyair tidak disebutkan.

الْجِدُّ يُدْنِي كُلَّ أَمْرٍ شَاسِعٍ وَالْجِدُّ يَفْتَحُ كُلَّ بَابٍ مُغْلَقِوَأَحَقُّ خَلْقِ اللَّهِ بِالْهَمِّ امْرُؤٌ ذُو هِمَّةٍ يُبْلَى بِعَيْشٍ ضَيِّقِوَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَى الْقَضَاءِ وَحُكْمِهِ بُؤْسُ اللَّبِيبِ وَطِيبُ عَيْشِ الْأَحْمَقِلَكِنْ مَنِ رُزِقَ الْحِجَا حُرِمَ الْغِنَى ضِدَّانِ يَفْتَرِقَانِ أَيَّ تَفَرُّقِ

Terjemahan:

Kesungguhan mendekatkan segala sesuatu yang jauh, dan kesungguhan membuka setiap pintu yang tertutup.

Orang yang paling pantas merasakan kegelisahan adalah seseorang yang memiliki cita-cita tinggi, tetapi diuji dengan kehidupan yang sempit.

Di antara tanda ketetapan dan hikmah Allah adalah adanya orang cerdas yang hidup dalam kesulitan, sementara orang yang kurang berakal menikmati kehidupan yang menyenangkan.

Namun, terkadang orang yang dianugerahi kecerdasan justru tidak memperoleh kekayaan. Keduanya seolah merupakan dua hal yang saling berjauhan.

Faidah: Kesungguhan dapat membuka banyak jalan menuju keberhasilan. Namun, penuntut ilmu juga perlu memahami bahwa kecerdasan dan kemuliaan tidak selalu disertai kelapangan harta.

15. Cita-Cita Tinggi dan Kemuliaan

Penyair: Tidak disebutkan.

دَعِ الْمَكَارِمَ لَا تَرْحَلْ لِبُغْيَتِهَا وَاقْعُدْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الطَّاعِمُ الْكَاسِي

Terjemahan:

Tinggalkanlah cita-cita meraih kemuliaan dan jangan bersusah payah mencarinya. Duduklah saja, karena engkau sudah mendapatkan makanan dan pakaian.

Faidah: Syair ini merupakan sindiran terhadap sikap malas dan cepat merasa puas. Kemuliaan membutuhkan usaha, bukan sekadar mencukupkan diri dengan kenyamanan hidup.

16. Kesungguhan Mencari Ilmu

Penyair: Tidak disebutkan secara pasti.

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِي وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَا سَهِرَ اللَّيَالِيتَرُومُ الْعِزَّ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلًا يَغُوصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ اللَّآلِيعُلُوُّ الْكَعْبِ بِالْهِمَمِ الْعَوَالِي وَعِزُّ الْمَرْءِ فِي سَهَرِ اللَّيَالِيوَمَنْ رَامَ الْعُلَا مِنْ غَيْرِ كَدٍّ أَضَاعَ الْعُمْرَ فِي طَلَبِ الْمُحَالِتَرَكْتُ النَّوْمَ رَبِّي فِي اللَّيَالِي لِأَجْلِ رِضَاكَ يَا مَوْلَى الْمَوَالِيفَوَفِّقْنِي إِلَى تَحْصِيلِ عِلْمٍ وَبَلِّغْنِي إِلَى أَقْصَى الْمَعَالِي

Terjemahan:

Setinggi kesungguhan seseorang, setinggi itulah kemuliaan yang dapat diraihnya. Siapa yang menginginkan kedudukan tinggi, hendaknya rela terjaga pada malam hari.

Engkau menginginkan kemuliaan, tetapi tidur sepanjang malam. Padahal, orang yang mencari mutiara harus menyelam ke dalam lautan.

Ketinggian kedudukan diperoleh dengan cita-cita yang tinggi, sedangkan kemuliaan seseorang diraih melalui kesungguhan pada malam hari.

Barang siapa menginginkan kemuliaan tanpa bersusah payah, sungguh ia telah menyia-nyiakan umurnya untuk mengejar sesuatu yang mustahil.

Wahai Tuhanku, aku meninggalkan tidur pada malam hari demi mengharapkan keridaan-Mu, wahai Tuhan Yang Mahamulia.

Maka berilah aku taufik untuk memperoleh ilmu dan sampaikanlah aku kepada puncak kemuliaan.

Faidah: Keberhasilan menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, dan kenyamanan. Namun, seluruh usaha itu hendaknya tetap diarahkan untuk mencari keridaan Allah.

17. Kesungguhan dan Cita-Cita

Penyair: Tidak disebutkan.

يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بَاشِرِ الْوَرَعَا وَجَانِبِ النَّوْمَ وَاتْرُكِ الشِّبَعَادَاوِمْ عَلَى الدَّرْسِ لَا تُفَارِقْهُ فَالْعِلْمُ بِالدَّرْسِ قَامَ وَارْتَفَعَا

Terjemahan:

Wahai penuntut ilmu, biasakanlah dirimu bersikap wara, jauhilah terlalu banyak tidur, dan tinggalkanlah kebiasaan makan hingga terlalu kenyang.

Tekunilah pelajaran dan jangan meninggalkannya, karena ilmu akan tegak dan berkembang melalui pembelajaran yang terus-menerus.

Faidah: Menuntut ilmu membutuhkan kedisiplinan dalam ibadah, makan, tidur, dan belajar. Kebiasaan sederhana yang dijaga secara konsisten dapat membantu keberhasilan belajar.

18. Kesungguhan dan Keberhasilan

Penyair: Tidak disebutkan.

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُعْطَى مَا تَرُومُ فَمَنْ رَامَ الْمُنَى لَيْلًا يَقُومُوَأَيَّامَ الْحَدَاثَةِ فَاغْتَنِمْهَا أَلَا إِنَّ الْحَدَاثَةَ لَا تَدُومُ

Terjemahan:

Sesuai kadar kesungguhanmu, engkau akan memperoleh apa yang engkau cita-citakan. Siapa yang menginginkan tercapainya harapan, hendaknya bangun pada malam hari.

Manfaatkanlah masa mudamu sebaik-baiknya, karena sesungguhnya masa muda tidak berlangsung selamanya.

Faidah: Masa muda merupakan kesempatan berharga untuk membangun ilmu dan amal. Jangan menunda kebaikan, karena waktu yang berlalu tidak dapat dikembalikan.

19. Menghargai Waktu dan Meninggalkan Kemalasan

Penyair: Abu Ath-Thayyib Al-Mutanabbi.

عَلَى قَدْرِ أَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِي الْعَزَائِمُ وَتَأْتِي عَلَى قَدْرِ الْكِرَامِ الْمَكَارِمُ

Terjemahan:

Besarnya tekad dan pekerjaan yang agung sebanding dengan kekuatan orang-orang yang memiliki keteguhan. Kemuliaan pun datang sesuai dengan keluhuran orang-orang yang mulia.

Faidah: Cita-cita besar membutuhkan tekad dan kesiapan menghadapi tantangan yang besar pula.

Catatan: Keberadaan bait ini dalam edisi kitab yang dibahas sebelumnya belum terverifikasi.

20. Ilmu, Kesungguhan, dan Menjauhi Kemalasan

Penyair: Tidak disebutkan.

دَعِي نَفْسِي التَّكَاسُلَ وَالتَّوَانِي وَإِلَّا فَاثْبُتِي فِي ذَا الْهَوَانِفَلَمْ أَرَ لِلْكَسَالَى الْحَظَّ يُعْطَى سِوَى نَدَمٍ وَحِرْمَانِ الْأَمَانِي

Terjemahan:

Wahai jiwaku, tinggalkanlah kemalasan dan sikap menunda-nunda. Jika tidak, engkau akan tetap berada dalam kehinaan.

Aku tidak melihat orang-orang malas memperoleh keberuntungan selain penyesalan dan kegagalan meraih cita-cita.

Faidah: Kemalasan sering menjadi penyebab hilangnya kesempatan. Melawan kebiasaan menunda pekerjaan merupakan langkah penting untuk meraih keberhasilan.

21. Akibat Kemalasan

Penyair: Tidak disebutkan; redaksi Arab belum terverifikasi.

كَمْ مِنْ حَيَاءٍ وَكَمْ مِنْ عَجْزٍ وَكَمْ جَمٍّ تَوَلَّدَ لِلْإِنْسَانِ مِنْ كَسَلِإِيَّاكَ عَنْ كَسَلٍ فِي الْبَحْثِ عَنْ مَا عَلِمْتَ وَمَا قَدْ عَلِمْتَ عَنْ سَأَلِ

Terjemahan sementara:

Betapa banyak rasa malu, kelemahan, dan kesedihan yang menimpa seseorang akibat kemalasan.

Karena itu, jauhilah kemalasan dalam mencari pengetahuan dan menanyakan perkara yang belum engkau ketahui.

Faidah: Kemalasan tidak hanya menghambat ilmu, tetapi juga dapat menimbulkan penyesalan. Seorang pelajar hendaknya aktif belajar, meneliti, dan bertanya.

22. Kemuliaan Ilmu

Penyair: Dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib.

رَضِينَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِينَا لَنَا عِلْمٌ وَلِلْأَعْدَاءِ مَالُفَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيبٍ وَإِنَّ الْعِلْمَ يَبْقَى لَا يَزَالُ

Terjemahan:

Kami menerima pembagian Allah Yang Mahaperkasa kepada kami. Kami dianugerahi ilmu, sedangkan musuh-musuh kami memperoleh harta.

Sesungguhnya harta akan segera habis dan lenyap, sedangkan ilmu akan tetap bertahan dan tidak mudah hilang.

Faidah: Ilmu yang bermanfaat lebih berharga daripada harta yang bersifat sementara. Manfaat ilmu bahkan dapat terus dirasakan setelah pemiliknya meninggal dunia.

23. Kemuliaan Ilmu dan Orang yang Berilmu

Penyair: Tidak disebutkan.

حَيَاةُ الْقَلْبِ عِلْمٌ فَاغْتَنِمْهُ وَمَوْتُ الْقَلْبِ جَهْلٌ فَاجْتَنِبْهُ

Terjemahan:

Kehidupan hati adalah ilmu, maka raihlah dan manfaatkanlah ilmu itu. Sedangkan kematian hati adalah kebodohan, maka jauhilah kebodohan.

Faidah: Ilmu yang benar menghidupkan hati dengan iman dan petunjuk. Sebaliknya, kebodohan dapat membuat seseorang jauh dari kebenaran.

24. Ilmu dan Kemuliaan

Penyair: Tidak disebutkan; redaksi Arab belum terverifikasi.

ذَا الْعِلْمُ أَعْلَى رُتْبَةً فِي الْمَرَاتِبِ وَمِنْ دُونِهِ عِزُّ الْعُلَا فِي الْمَوَاكِبِفَذُو الْعِلْمِ يَبْقَى عِزُّهُ مُتَضَاعِفًا وَذُو الْجَهْلِ بَعْدَ الْمَوْتِ تَحْتَ التُّرَابِ

Terjemahan sementara:

Ilmu menempati kedudukan tertinggi di antara berbagai tingkatan kemuliaan, sedangkan kedudukan lainnya berada di bawahnya.

Orang yang berilmu akan terus memperoleh kemuliaan yang bertambah, sedangkan orang yang tidak berilmu akan dilupakan setelah kematiannya.

Faidah: Kemuliaan yang bersumber dari ilmu dan manfaatnya lebih langgeng daripada kemuliaan yang hanya bergantung pada kedudukan duniawi.

25. Kemuliaan Orang Berilmu

Penyair: Tidak disebutkan; redaksi Arab belum terverifikasi.

فَهَيْهَاتَ لَا يُرْجَى مَدَاهُ مِنَ الرُّقَى رَقِيٌّ وَوَلِيُّ الْمُلْكِ وَالْكُتُبِسَأُمْلِي عَلَيْكُمْ بَعْضَ مَا فِيهِ فَاسْمَعُوا فَحَقٌّ بِعِلْمِ الْمَرْءِ فِي ذِكْرِ كُلِّ الْكُتُبِ

Terjemahan sementara:

Sungguh jauh perbedaan antara kedudukan ilmu dan berbagai bentuk kedudukan duniawi, meskipun seseorang mencapai kekuasaan dan kemuliaan.

Aku akan menyampaikan sebagian keutamaan ilmu kepada kalian, maka dengarkanlah, karena ilmu memiliki kedudukan yang patut disebutkan dalam berbagai pembahasan.

Faidah: Kedudukan ilmu tidak dapat diukur hanya dengan pangkat dan kekuasaan. Ilmu memiliki kemuliaan tersendiri karena manfaatnya bagi kehidupan manusia.

26. Keutamaan Ilmu Dibandingkan Harta

Penyair: Tidak disebutkan.

فَإِنْ فَاتَكَ الدُّنْيَا وَطِيبُ نَعِيمِهَا فَغَمِّضْ فَإِنَّ الْعِلْمَ خَيْرُ الْمَرَاهِبِ

Terjemahan:

Apabila engkau tidak memperoleh kenikmatan dunia dan segala kesenangannya, maka relakanlah hal itu, karena ilmu merupakan sesuatu yang lebih baik untuk dicari dan diutamakan.

Faidah: Penuntut ilmu tidak seharusnya berkecil hati ketika tidak memperoleh kemewahan dunia. Keberhasilan dalam ilmu merupakan nikmat yang besar.

27. Kemuliaan Ilmu dan Fikih

Penyair: Tidak disebutkan.

إِذَا مَا اعْتَزَّ ذُو عِلْمٍ بِعِلْمٍ فَعِلْمُ الْفِقْهِ أَوْلَى بِاعْتِزَازِفَكَمْ طِيبٍ يَفُوحُ وَلَا كَمِسْكٍ وَكَمْ طَيْرٍ يَطِيرُ وَلَا كَبَازِي

Terjemahan:

Apabila seseorang yang berilmu merasa bangga dengan bidang ilmu yang dimilikinya, maka ilmu fikih lebih pantas menjadi kebanggaannya.

Betapa banyak wewangian yang menyebarkan aroma harum, tetapi tidak ada yang seperti minyak kasturi. Betapa banyak burung yang dapat terbang, tetapi tidak semuanya seperti burung elang.

Faidah: Ilmu fikih memiliki kedudukan penting karena membimbing manusia memahami hukum agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

28. Pentingnya Mempelajari Ilmu

Penyair: Tidak disebutkan; bagian akhir redaksi belum terverifikasi.

الْفِقْهُ أَنْفَسُ شَيْءٍ أَنْتَ دَاخِرُهُ مَنْ يَدْرُسِ الْعِلْمَ لَمْ تُدْرَسْ مَفَاخِرُهُفَاكْسِبْ لِنَفْسِكَ مَا أَصْبَحْتَ تَجْهَلُهُ فَأَوَّلُ الْعِلْمِ إِقْبَالٌ وَآخِرُهُ

Terjemahan sementara:

Fikih merupakan salah satu simpanan paling berharga yang dapat engkau miliki. Barang siapa mempelajari ilmu, kemuliaannya tidak akan mudah terhapus.

Maka berusahalah memperoleh pengetahuan yang belum engkau ketahui.

Faidah: Ilmu merupakan bekal berharga yang harus terus ditambah. Jangan merasa cukup dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

29. Menjaga Pola Makan

Penyair: Tidak disebutkan.

فَعَارٌ ثُمَّ عَارٌ ثُمَّ عَارٌ شَقَاءُ الْمَرْءِ مِنْ أَجْلِ الطَّعَامِ

Terjemahan:

Sungguh merupakan kehinaan, kehinaan, dan sekali lagi kehinaan, apabila seseorang mengalami kesengsaraan hanya karena urusan makanan.

Faidah: Makan berlebihan dapat menimbulkan kemalasan dan mengganggu kesungguhan belajar. Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga pola makan secara seimbang.

Pasal Keenam: Permulaan Belajar, Ukuran Pelajaran, dan Urutannya

فصل في بداية السبق وقدره وترتيبه

30. Pentingnya Memahami Ilmu

Riwayat: Imam Burhanuddin; penyair tidak disebutkan.

اِخْدِمِ الْعِلْمَ خِدْمَةَ الْمُسْتَفِيدِ وَأَدِمْ دَرْسَهُ بِفِعْلٍ حَمِيدِوَإِذَا مَا حَفِظْتَ شَيْئًا أَعِدْهُ ثُمَّ أَكِّدْهُ غَايَةَ التَّأْكِيدِثُمَّ عَلِّقْهُ كَيْ تَعُودَ إِلَيْهِ وَإِلَى دَرْسِهِ عَلَى التَّأْبِيدِوَإِذَا مَا أَمِنْتَ مِنْهُ فَوَاتًا فَانْتَدِبْ بَعْدَهُ لِشَيْءٍ جَدِيدِمَعَ تَكْرَارِ مَا تَقَدَّمَ مِنْهُ وَاعْتِنَاءٍ بِهَذَا الْمَزِيدِذَاكِرِ النَّاسَ بِالْعُلُومِ لِتَحْيَا لَا تَكُنْ مِنْ أُولِي النُّهَى بِبَعِيدِإِنْ كَتَمْتَ الْعُلُومَ أُنْسِيتَ حَتَّى لَا تَرَى غَيْرَ جَاهِلٍ وَبَلِيدِثُمَّ أُلْجِمْتَ فِي الْقِيَامَةِ نَارًا وَتَلَهَّبْتَ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ

Terjemahan:

Berbaktilah kepada ilmu dengan kesungguhan seorang yang ingin mengambil manfaat darinya, dan tekunilah pelajaran dengan cara yang baik.

Apabila engkau telah menghafal sesuatu, ulangilah hafalan itu dan kuatkanlah dengan pengulangan yang sungguh-sungguh.

Kemudian catatlah agar engkau dapat kembali mempelajari dan mengulanginya sepanjang waktu.

Apabila engkau telah yakin bahwa ilmu tersebut tidak mudah hilang dari ingatanmu, beralihlah untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Namun, tetaplah mengulangi pelajaran sebelumnya dan berikan perhatian terhadap tambahan ilmu yang baru.

Diskusikanlah ilmu bersama orang lain agar ilmumu tetap hidup. Janganlah engkau menjauh dari orang-orang yang berakal.

Apabila engkau menyembunyikan ilmu, engkau dapat kehilangan ilmu itu hingga akhirnya menjadi orang yang tidak mengetahui dan tidak memahami.

Kemudian engkau diancam dengan kekang dari api pada hari Kiamat dan azab yang sangat berat.

Faidah: Metode belajar yang baik mencakup hafalan, pengulangan, pencatatan, penambahan ilmu, dan diskusi. Ilmu yang dipelajari juga hendaknya disampaikan kepada orang lain secara bertanggung jawab.

31. Menyampaikan Ilmu dengan Bijaksana

Penyair: Tidak disebutkan.

الْعِلْمُ مِنْ شَرْطِهِ لِمَنْ خَدَمَهُ أَنْ يَجْعَلَ النَّاسَ كُلَّهُمْ خَدَمَهُ

Terjemahan:

Di antara sifat ilmu bagi orang yang benar-benar mengabdi kepadanya adalah bahwa ilmu tersebut dapat menjadikan manusia menghormati dan membutuhkan pemiliknya.

Faidah: Orang yang bersungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan ilmu akan memperoleh manfaat dan kedudukan yang baik. Namun, penghormatan manusia tidak boleh menjadi tujuan utama menuntut ilmu.

32. Menjaga Ucapan

Penyair: Tidak disebutkan.

أُوصِيكَ فِي نَظْمِ الْكَلَامِ بِخَمْسَةٍ إِنْ كُنْتَ لِلْمُوصِي الشَّفِيقِ مُطِيعَالَا تَغْفُلَنْ سَبَبَ الْكَلَامِ وَوَقْتَهُ وَالْكَيْفَ وَالْكَمَّ وَالْمَكَانَ جَمِيعَا

Terjemahan:

Aku menasihatimu agar memperhatikan lima perkara dalam menyusun dan menyampaikan perkataan, apabila engkau bersedia menerima nasihat dari orang yang menyayangimu.

Janganlah engkau mengabaikan sebab suatu perkataan disampaikan, waktu penyampaiannya, cara mengucapkannya, kadar atau panjangnya, serta tempat menyampaikannya.

Faidah: Berbicara dengan bijaksana membutuhkan perhatian terhadap tujuan, waktu, cara, kadar, dan tempat. Kebenaran suatu perkataan perlu disampaikan dengan cara yang tepat.

Pasal Ketujuh: Tawakal

فصل في التوكل

33. Tawakal dan Tidak Diperbudak Urusan Rezeki

Penyair: Tidak disebutkan; pengulangan syair nomor 15.

دَعِ الْمَكَارِمَ لَا تَرْحَلْ لِبُغْيَتِهَا وَاقْعُدْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الطَّاعِمُ الْكَاسِي

Terjemahan:

Tinggalkanlah usaha meraih kemuliaan dan jangan bepergian untuk mencarinya. Duduklah saja, sebab engkau telah memperoleh makanan dan pakaian.

Faidah: Bait ini menyindir sikap malas dan merasa cukup dengan kebutuhan hidup semata. Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi bersandar kepada Allah sambil melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.

Pasal Kedelapan: Waktu Memperoleh Ilmu

فصل في وقت التحصيل

Tidak ada syair yang tercatat dalam pengumpulan sebelumnya.

Pasal Kesembilan: Kasih Sayang dan Nasihat

فصل في الشفقة والنصيحة

34. Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan

Riwayat: Syaikh Yusuf Al-Hamdani; penyair tidak disebutkan.

وَلَا تَجْزِ إِنْسَانًا عَلَى سُوءِ فِعْلِهِ سَيَكْفِيهِ مَا فِيهِ وَمَا هُوَ فَاعِلُهُ

Terjemahan:

Janganlah engkau membalas seseorang atas perbuatan buruknya. Cukuplah keburukan yang ada pada dirinya dan akibat perbuatannya menjadi balasan baginya.

Faidah: Tidak setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan. Memaafkan dan menahan diri sering kali lebih mendatangkan ketenangan dan menjaga persaudaraan.

35. Orang Berilmu Tidak Lepas dari Kedengkian

Penyair: Tidak disebutkan.

إِذَا شِئْتَ أَنْ تَلْقَى عَدُوَّكَ رَاغِمًا وَتَقْتُلَهُ غَمًّا وَتُحْرِقَهُ هَمًّافَرُمْ لِلْعُلَا وَازْدَدْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّهُ مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا زَادَ حَاسِدُهُ غَمًّا

Terjemahan:

Apabila engkau ingin melihat musuhmu merasa terhina, dipenuhi kesedihan, dan terbakar oleh kegelisahan,

maka kejarlah kemuliaan dan tambahlah ilmumu. Sesungguhnya, semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula kesedihan orang yang mendengkinya.

Faidah: Hadapi kedengkian dengan memperbaiki diri dan menambah ilmu, bukan dengan membalas permusuhan. Kesungguhan dalam kebaikan lebih bermanfaat daripada menyibukkan diri menghadapi orang yang dengki.

36. Menghindari Permusuhan

Penyair: Tidak disebutkan.

بَلَوْتُ النَّاسَ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَمْ أَرَ غَيْرَ خَتَّالٍ وَقَالِيوَلَمْ أَرَ فِي الْخُطُوبِ أَشَدَّ وَقْعًا وَأَصْعَبَ مِنْ مُعَادَاةِ الرِّجَالِوَذُقْتُ مَرَارَةَ الْأَشْيَاءِ طُرًّا فَمَا شَيْءٌ أَمَرُّ مِنَ السُّؤَالِ

Terjemahan:

Aku telah menguji manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi aku mendapati banyak orang yang berkhianat dan menyimpan kebencian.

Aku tidak menemukan di antara berbagai kesulitan sesuatu yang lebih berat dan lebih menyakitkan daripada permusuhan dengan sesama manusia.

Aku telah merasakan pahitnya berbagai perkara, tetapi tidak ada yang lebih pahit daripada meminta-minta kepada orang lain.

Faidah: Permusuhan dapat menghabiskan waktu dan ketenangan jiwa. Menjaga hubungan baik dan memelihara kehormatan diri merupakan sikap yang patut diutamakan.

37. Bahaya Prasangka Buruk

Penyair: Abu Ath-Thayyib Al-Mutanabbi.

إِذَا سَاءَ فِعْلُ الْمَرْءِ سَاءَتْ ظُنُونُهُ وَصَدَّقَ مَا يَعْتَادُهُ مِنْ تَوَهُّمِوَعَادَى مُحِبِّيهِ بِقَوْلِ عُدَاتِهِ وَأَصْبَحَ فِي لَيْلٍ مِنَ الشَّكِّ مُظْلِمِ

Terjemahan:

Apabila perbuatan seseorang buruk, prasangkanya pun menjadi buruk. Ia akan membenarkan berbagai khayalan dan dugaan yang biasa muncul dalam pikirannya.

Ia bahkan memusuhi orang-orang yang mencintainya karena mempercayai perkataan musuh-musuhnya, hingga hidup dalam kegelapan keraguan.

Faidah: Prasangka buruk dapat merusak hubungan yang sebenarnya baik. Seorang Muslim hendaknya menghindari tuduhan tanpa bukti dan membiasakan diri melakukan tabayun.

38. Menjauhi Orang yang Berperangai Buruk

Penyair: Tidak disebutkan.

تَنَحَّ عَنِ الْقَبِيحِ وَلَا تُرِدْهُ وَمَنْ أَوْلَيْتَهُ حُسْنًا فَزِدْهُسَتُكْفَى مِنْ عَدُوِّكَ كُلَّ كَيْدٍ إِذَا كَادَ الْعَدُوُّ فَلَا تَكِدْهُ

Terjemahan:

Jauhilah perbuatan buruk dan janganlah menginginkannya. Kepada orang yang telah engkau perlakukan dengan baik, tambahkanlah kebaikanmu.

Engkau akan dicukupkan dari berbagai tipu daya musuhmu. Apabila musuhmu merencanakan keburukan terhadapmu, janganlah engkau membalasnya dengan tipu daya.

Faidah: Akhlak yang baik hendaknya tetap dijaga meskipun menghadapi perlakuan buruk. Jangan sampai keburukan orang lain mendorong kita melakukan perbuatan yang sama.

39. Bersabar Menghadapi Orang Bodoh

Riwayat: Syaikh Al-‘Amid Abul Fath Al-Busti; penyair tidak disebutkan.

ذُو الْعَقْلِ لَا يَسْلَمُ مِنْ جَاهِلٍ يَسُومُهُ ظُلْمًا وَإِعْنَاتَافَلْيَخْتَرِ السِّلْمَ عَلَى حَرْبِهِ وَلْيَلْزَمِ الْإِنْصَاتَ إِنْ صَاتَا

Terjemahan:

Orang yang berakal tidak selalu terbebas dari gangguan orang bodoh yang memperlakukannya dengan kezaliman dan kesulitan.

Karena itu, hendaklah ia memilih perdamaian daripada memeranginya dan tetap diam apabila orang bodoh tersebut berteriak atau berkata-kata kasar.

Faidah: Kesabaran menghadapi orang yang berkata kasar merupakan tanda kematangan akal. Tidak semua perkataan perlu ditanggapi, terutama apabila tanggapan hanya memperbesar perselisihan.

Pasal Kesepuluh: Mengambil Manfaat Ilmu

فصل في الاستفادة

40. Penyesalan atas Waktu yang Berlalu

Penyair: Tidak disebutkan.

لَهْفِي عَلَى فَوْتِ التَّلَاقِي لَهْفًا مَا كُلُّ مَا فَاتَ وَيَفْنَى يُلْفَى

Terjemahan:

Betapa besar penyesalanku atas kesempatan pertemuan yang telah berlalu. Tidak semua yang telah hilang dan lenyap dapat ditemukan kembali.

Faidah: Kesempatan bertemu ulama, menghadiri majelis ilmu, dan memperoleh manfaat hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidak semua kesempatan dapat terulang.

41. Kemuliaan Tidak Diperoleh dengan Bermalas-malasan

Penyair: Tidak disebutkan.

أَرَى لَكَ نَفْسًا تَشْتَهِي أَنْ تُعِزَّهَا فَلَسْتَ تَنَالُ الْعِزَّ حَتَّى تُذِلَّهَا

Terjemahan:

Aku melihat engkau memiliki jiwa yang ingin engkau muliakan. Namun, engkau tidak akan memperoleh kemuliaan sebelum menundukkan jiwa itu melalui kesungguhan dan perjuangan.

Faidah: Kemuliaan diperoleh dengan mendidik jiwa agar mampu menahan keinginan yang tidak bermanfaat. Disiplin dan pengendalian diri merupakan bagian penting dari keberhasilan.

Pasal Kesebelas: Bersikap Wara ketika Menuntut Ilmu

فصل في الورع في حالة التعلم

42. Menjaga Perintah Allah dan Bersungguh-sungguh Menuntut Ilmu

Penyair: Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi.

كُنْ لِلْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي حَافِظًا وَعَلَى الصَّلَاةِ مُوَاظِبًا وَمُحَافِظًاوَاطْلُبْ عُلُومَ الشَّرْعِ وَاجْهَدْ بِالطَّيِّبَاتِ تَصِرْ فَقِيهًا حَافِظًاوَاسْأَلْ إِلَهَكَ حِفْظَ حِفْظِكَ رَاغِبًا فِي فَضْلِهِ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا

Terjemahan:

Jagalah perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, serta senantiasalah memelihara salat.

Pelajarilah ilmu-ilmu syariat dengan sungguh-sungguh. Dengan menjaga perkara-perkara yang baik, engkau akan menjadi seorang ahli fikih yang kuat hafalannya.

Mohonlah kepada Allah agar Dia menjaga hafalanmu, dengan penuh harapan terhadap karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga.

Faidah: Keberhasilan menuntut ilmu tidak terpisah dari ketaatan kepada Allah. Menjaga salat, menjauhi larangan, dan memperbanyak doa merupakan bagian dari adab seorang penuntut ilmu.

43. Kesungguhan dan Menghindari Kemalasan

Penyair: Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi.

أَطِيعُوا وَجِدُّوا وَلَا تَكْسَلُوا وَأَنْتُمْ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَوَلَا تَهْجَعُوا فَخِيَارُ الْوَرَى قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Terjemahan:

Taatlah kepada Allah, bersungguh-sungguhlah, dan jangan bermalas-malasan, karena kalian semua akan kembali kepada Tuhan kalian.

Janganlah terlalu banyak tidur, sebab orang-orang terbaik hanya sedikit tidur pada malam hari.

Faidah: Kesadaran bahwa manusia akan kembali kepada Allah seharusnya mendorong kesungguhan dalam ibadah dan menuntut ilmu. Waktu hendaknya dimanfaatkan dengan baik tanpa mengabaikan kebutuhan istirahat.

Pasal Kedua Belas: Hal-Hal yang Menguatkan dan Melemahkan Hafalan

فصل فيما يورث الحفظ

44. Mengadukan Lemahnya Hafalan kepada Waki‘

Penyair: Masyhur dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi‘i.

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيفَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنْ إِلَهِي وَفَضْلُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Terjemahan:

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waki‘, lalu beliau membimbingku agar meninggalkan kemaksiatan.

Sesungguhnya hafalan merupakan karunia dari Tuhanku, sedangkan karunia Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Faidah: Menjauhi kemaksiatan merupakan bagian dari menjaga keberkahan ilmu. Selain menggunakan metode belajar yang baik, seorang pelajar hendaknya memperhatikan kebersihan hati dan ketakwaannya.

45. Menghilangkan Kesedihan dengan Ilmu

Penyair: Imam Nashr bin Al-Hasan Al-Marghinani.

اعْتَنِ نَصْرَ بْنَ حَسَنٍ بِكُلِّ عِلْمٍ يُحْتَزَنْذَاكَ الَّذِي يَنْفِي الْحَزَنْ وَغَيْرُهُ لَا يُؤْتَمَنْ

Terjemahan:

Wahai Nashr bin Hasan, bersungguh-sungguhlah mengumpulkan berbagai ilmu yang berharga.

Ilmulah yang dapat menghilangkan kesedihan, sedangkan selainnya tidak selalu dapat diandalkan.

Faidah: Kesibukan dengan ilmu yang bermanfaat dapat mengisi kehidupan dengan kegiatan yang bernilai dan membantu seseorang menghadapi kegelisahan.

46. Ilmu sebagai Penghibur Hati

Penyair: Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi.

سَلَامٌ عَلَى مَنْ تَيَّمَتْنِي بِطَرْفِهَا وَلَمْعَةِ خَدَّيْهَا وَلَمْحَةِ طَرْفِهَاسَبَتْنِي وَأَصْبَتْنِي فَتَاةٌ مَلِيحَةٌ تَحَيَّرَتِ الْأَوْهَامُ فِي كُنْهِ وَصْفِهَافَقُلْتُ ذَرِينِي وَاعْذِرِينِي فَإِنَّنِي شُغِفْتُ بِتَحْصِيلِ الْعُلُومِ وَكَشْفِهَاوَلِي فِي طِلَابِ الْعِلْمِ وَالْفَضْلِ وَالتُّقَى غِنًى عَنْ غِنَاءِ الْغَانِيَاتِ وَعُرْفِهَا

Terjemahan:

Salam kepada seseorang yang telah memikat hatiku dengan pandangannya, kilauan kedua pipinya, dan lirikan matanya.

Seorang gadis cantik telah memikat dan menawan hatiku, hingga pikiran pun kebingungan menggambarkan kecantikannya.

Aku berkata kepadanya, “Biarkanlah aku dan maafkanlah aku, karena sesungguhnya aku telah mencurahkan kecintaanku untuk memperoleh dan mendalami ilmu.”

Bagiku, mencari ilmu, keutamaan, dan ketakwaan telah mencukupiku dari nyanyian dan pesona perempuan-perempuan cantik.

Faidah: Kecintaan terhadap ilmu dapat membantu seseorang mengendalikan keinginan yang mengalihkan perhatian dari tujuan utamanya. Penuntut ilmu perlu memiliki prioritas yang jelas.

Pasal Ketiga Belas: Hal-Hal yang Mendatangkan dan Menghalangi Rezeki

فصل فيما يجلب الرزق وما يمنعه وما يزيد في العمر وما ينقص

47. Mencari Ilmu dan Meninggalkan Ketergantungan kepada Manusia

Penyair: Tidak disebutkan.

سُرُورُ النَّاسِ فِي لُبْسِ اللِّبَاسِ وَجَمْعُ الْعِلْمِ فِي تَرْكِ النُّعَاسِ

Terjemahan:

Kesenangan manusia terletak pada mengenakan pakaian yang indah, sedangkan mengumpulkan ilmu memerlukan kesediaan meninggalkan banyak tidur.

Faidah: Menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan dan pengaturan waktu. Kenyamanan duniawi tidak seharusnya membuat seseorang lalai dari kegiatan yang lebih bermanfaat.

48. Penyesalan atas Malam yang Tidak Dimanfaatkan

Penyair: Tidak disebutkan.

أَلَيْسَ مِنَ الْخُسْرَانِ أَنَّ لَيَالِيَا تَمُرُّ بِلَا نَفْعٍ وَتُحْسَبُ مِنْ عُمْرِي

Terjemahan:

Bukankah termasuk kerugian apabila malam-malamku berlalu tanpa manfaat, padahal semuanya tetap dihitung sebagai bagian dari umurku?

Faidah: Setiap waktu yang berlalu merupakan bagian dari umur yang tidak dapat kembali. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berusaha mengisinya dengan ilmu, ibadah, dan kegiatan yang bermanfaat.

49. Malam yang Terbuang

Penyair: Tidak disebutkan.

قُمْ اللَّيْلَ يَا هَذَا لَعَلَّكَ تَرْشُدُ إِلَى كَمْ تَنَامُ اللَّيْلَ وَالْعُمْرُ يَنْفَدُ

Terjemahan:

Bangunlah pada malam hari, wahai engkau, semoga memperoleh petunjuk. Sampai kapan engkau terus tidur sepanjang malam, sedangkan umur terus berkurang?

Faidah: Malam merupakan kesempatan untuk beribadah, bermuhasabah, dan belajar. Memanfaatkan sebagian waktu malam dapat menjadi kebiasaan yang sangat berharga.

50. Sedikit Bicara Merupakan Tanda Kesempurnaan Akal

Penyair: Tidak dipastikan.

إِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ وَأَيْقِنْ بِحُمْقِ الْمَرْءِ إِنْ كَانَ مُكْثِرًا

Terjemahan:

Apabila akal seseorang telah sempurna, sedikitlah perkataannya. Dan yakinlah akan kebodohan seseorang apabila ia terlalu banyak berbicara.

Faidah: Orang yang bijaksana mempertimbangkan manfaat sebelum berbicara. Banyaknya perkataan tidak selalu menunjukkan keluasan ilmu atau kecerdasan.

51. Keutamaan Diam dan Menjaga Lisan

Penyair: Tidak disebutkan.

النُّطْقُ زَيْنٌ وَالسُّكُوتُ سَلَامَةٌ فَإِذَا نَطَقْتَ فَلَا تَكُنْ مِكْثَارًامَا إِنْ نَدِمْتُ عَلَى سُكُوتِي مَرَّةً وَلَقَدْ نَدِمْتُ عَلَى الْكَلَامِ مِرَارًا

Terjemahan:

Berbicara dengan baik merupakan perhiasan, sedangkan diam membawa keselamatan. Apabila engkau berbicara, janganlah terlalu banyak bicara.

Aku tidak pernah menyesal karena diam, tetapi sungguh aku telah berkali-kali menyesal karena berbicara.

Faidah: Menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Berbicaralah ketika ada manfaat dan hindarilah perkataan yang dapat menimbulkan penyesalan.

Penutup

Warisan keilmuan para ulama tidak hanya tersimpan dalam kitab-kitab yang panjang, tetapi juga dalam bait-bait syair yang singkat dan sarat makna. Terkadang satu bait yang dipahami dan diamalkan dapat menjadi pengingat yang sangat berharga sepanjang kehidupan seseorang.

Oleh karena itu, marilah kita menghidupkan kembali kebiasaan mempelajari dan menghafalkan syair-syair yang mengandung hikmah, terutama yang berkaitan dengan ilmu, adab, akhlak, dan pendidikan jiwa.

Hendaknya setiap bait yang dihafalkan menjadi pengingat untuk memperbaiki diri, setiap nasihat yang dipahami mendorong kita kepada amal, dan setiap ilmu yang diperoleh semakin mendekatkan kita kepada Allah Ta‘ala.

Semoga kumpulan syair ini menjadi sarana yang bermanfaat bagi para penuntut ilmu, guru, santri, mahasiswa, dan kaum Muslimin secara umum. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, hafalan yang kuat, akhlak yang mulia, serta kemampuan mengamalkan ilmu dalam kehidupan.

Kita memohon kepada Allah agar memberikan rahmat kepada Imam Az-Zarnuji dan seluruh ulama yang telah mewariskan ilmu serta hikmah kepada generasi setelah mereka.

اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.

Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

↑ Kembali ke atas

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Bagikan