Akulah yang Membutuhkan-Mu Bag 2
Akulah yang Membutuhkan-Mu
Munajat Orang-Orang yang Membutuhkan Allah
Umar bin Dzarr berkata:
“Ya Allah, kami telah menaati-Mu dalam perkara yang paling Engkau cintai: beriman kepada-Mu dan mengakui-Mu. Kami pun tidak mendurhakai-Mu dalam perkara yang paling Engkau benci: mengingkari-Mu dan menyangkal keberadaan-Mu. Maka, ya Allah, ampunilah kesalahan kami di antara keduanya.”
Ya Rabb, Engkau telah berfirman:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang telah mati.’”
Surah An-Nahl: 38Sementara kami bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh bahwa Engkau pasti membangkitkan orang yang telah mati. Akankah Engkau menghimpun kedua kelompok yang bersumpah itu dalam satu tempat?!
Ketika mendengar firman Allah سبحانه وتعالى:
“Berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia mengambil pelajaran atau merasa takut.”
Surah Thaha: 44Yahya bin Mu‘adz berucap:
“Wahai Tuhanku, jika demikian perkataan-Mu kepada orang yang berkata, ‘Akulah tuhan kalian yang paling tinggi,’ bagaimana kelembutan-Mu kepada orang yang tidak menyekutukan-Mu dengan apa pun, bahkan mengetahui bahwa Engkaulah Allah, tiada tuhan selain Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu?”
Beliau juga berkata:
“Seandainya ampunan bukan perkara yang paling Engkau cintai, niscaya Engkau tidak menguji makhluk-Mu yang paling mulia dengan dosa.”
Ya Rabb, Engkaulah harapanku,
dan kepada-Mu aku berbaik sangka.
Ya Rabb, ampunilah dosa-dosaku,
anugerahkanlah keselamatan kepadaku dan maafkanlah aku.
Ampunan datang dari-Mu, wahai Tuhanku,
sedangkan dosa datang dariku.
Prasangkaku terhadap-Mu sungguh indah;
maka wujudkanlah harapanku dengan karunia-Mu.
Penduduk Damaskus keluar untuk memohon hujan. Di antara mereka ada Bilal bin Sa‘d. Ia berkata, “Wahai sekalian yang hadir, apakah kalian mengakui bahwa kalian telah berbuat buruk?”
Kami menjawab, “Ya.”
Ia pun berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau berfirman, ‘Tidak ada alasan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.’ Kami telah mengakui perbuatan buruk kami. Maka, maafkanlah kami dan turunkanlah hujan kepada kami.”
Tak lama kemudian, hujan pun turun.
Di pintu-Mu berdiri seorang hamba-Mu yang berdosa,
membawa banyak kesalahan, datang memohon ampunan.
Maka limpahkanlah ampunan kepadanya sebagai karunia-Mu,
wahai Yang menganugerahkan manna dan burung salwa kepada kaum Musa.
Akulah hamba-Mu yang tak berdaya; kasihanilah permohonanku,
dan janganlah Engkau menjadikan neraka sebagai tempat tinggalku, ya Rabb.
Ringankanlah punggungku dari beban kedurhakaan;
sungguh, beban dosa itu telah mencapai puncaknya.
Adakah di Antara Kalian Orang Seperti Ini
Syamsuddin adalah guru Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel yang agung. Dialah yang menanamkan dalam hati Muhammad Al-Fatih sejak kecil bahwa dirinyalah yang dimaksud dalam hadis:
“Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.”
Hadis ini dinilai lemah, sebagaimana disebutkan dalam Dha‘if Al-Jami‘, nomor 4655.
Ketika penaklukan berlangsung, Sultan ingin menemui gurunya yang berada di sebuah tenda di sampingnya. Ia mengutus seseorang untuk memanggil sang guru. Namun, penjaga tenda melarang utusan Sultan masuk.
Muhammad Al-Fatih marah, lalu pergi sendiri ke tenda gurunya. Penjaga tetap melarangnya masuk atas perintah sang guru.
Al-Fatih pun mengambil belatinya, merobek dinding tenda, lalu masuk. Ia mendapati gurunya tenggelam dalam sujud yang panjang. Serbannya telah terlepas dari kepalanya, dan rambut putihnya terurai menyentuh tanah.
Sultan kemudian melihat gurunya bangkit dari sujud dengan air mata mengalir di pipinya. Sang guru sedang berdoa kepada Allah agar menurunkan pertolongan dan memohon kemenangan yang segera.
Sultan keluar dari tenda dan memandang tembok-tembok kota yang tengah dikepung. Saat itu, para prajurit telah merebut menara-menara pertama dan dari sana bergerak memasuki Konstantinopel.
Sultan pun bergembira dan berkata:
“Bukan karena penaklukan kota ini aku bergembira! Aku bergembira karena pada zamanku ada seorang lelaki seperti ini.”
Mereka yang Tidak Merasa Butuh kepada Allah pun Tersesat
Manshur An-Numairi berkata dalam syair yang memuji Harun Ar-Rasyid:
Jika hujan tak kunjung datang, jemarinya menggantikannya;
jika suatu urusan terasa sempit, cukup kami menyebut namanya, niscaya menjadi lapang.
Al-‘Attabi bertemu An-Numairi dalam keadaan murung. Ia bertanya, “Ada apa denganmu? Semoga Allah memuliakanmu.”
An-Numairi menjawab, “Istriku sudah tiga hari mengalami kesulitan melahirkan, dan kami hampir kehilangan harapan.”
Al-‘Attabi berkata kepadanya, “Doanya lebih dekat kepada Allah daripada doamu. Apa yang dikatakan Harun Ar-Rasyid?”
An-Numairi menjawab, “Ia berkata, ‘Anak itu akan lahir!’”
Al-‘Attabi pun berkata, “Engkau mengadukan keadaanmu kepadanya, lalu ia memberimu jawaban seperti itu?!”
An-Numairi menjawab, “Ia mengambil perkataan itu dari syairmu sendiri:
Jika hujan tak kunjung datang, jemarinya menggantikannya;
jika suatu urusan terasa sempit, cukup kami menyebut namanya, niscaya menjadi lapang.”
Memohon Pertolongan
Tawanan dosa ini berdiri di pintu-Mu,
diliputi ketakutan atas segala yang Engkau ketahui.
Ia takut akan dosa yang tak tersembunyi dari-Mu,
dan berharap kepada-Mu dengan penuh harap sekaligus takut.
Siapakah selain-Mu yang dapat diharapkan dan ditakuti,
sedangkan dalam keputusan takdir-Mu tak seorang pun dapat menentang-Mu?
Wahai Tuhanku, janganlah Engkau menghinakanku melalui catatan amalku,
ketika pada hari perhitungan Engkau membuka lembaran-lembarannya.
Kegelisahan Hati
Ibnu Al-Qayyim berkata:
“Sesungguhnya di dalam hati ada ketercerai-beraian yang hanya dapat dihimpun kembali dengan menghadapkan diri kepada Allah. Ada kesepian yang hanya dapat dihilangkan dengan merasakan kedekatan dengan-Nya saat menyendiri.
Ada kesedihan yang hanya dapat dilenyapkan oleh kegembiraan mengenal-Nya dan ketulusan dalam berhubungan dengan-Nya. Ada kegelisahan yang hanya dapat ditenangkan dengan memusatkan hati kepada-Nya dan berlari dari-Nya menuju-Nya.
Ada kobaran penyesalan yang hanya dapat dipadamkan oleh keridaan terhadap perintah, larangan, dan ketetapan-Nya, serta kesabaran dalam menjalaninya hingga tiba saat perjumpaan dengan-Nya.
Ada pencarian yang begitu kuat, yang tidak akan berhenti sebelum Allah semata menjadi tujuan yang dicari.
Ada kefakiran yang hanya dapat dipenuhi oleh cinta kepada-Nya, senantiasa mengingat-Nya, dan keikhlasan kepada-Nya. Sekalipun seluruh dunia beserta isinya diberikan kepada hati itu, kefakiran tersebut tidak akan pernah terpenuhi.”
Wahai Saudaraku
Pernahkah engkau merasa sedih tanpa sebab, merasakan sakit tanpa alasan yang jelas, merasa asing di tengah keluarga, kesepian di antara sahabat, atau jenuh di tengah segala kenikmatan?
Jika engkau pernah mengalami salah satunya, ketahuilah bahwa engkau sungguh membutuhkan-Nya. Tanpa-Nya, engkau akan binasa. Tanpa rahmat-Nya, engkau akan mati. Jika kelembutan-Nya terputus darimu, engkau akan lenyap. Jika kasih sayang-Nya berhenti meliputimu, engkau akan tersiksa.
Inilah seruan fitrahmu yang lurus, yang dengannya Allah menolongmu menghadapi setanmu. Tanpa Allah, engkau seperti ikan yang dikeluarkan dari air, seperti orang tercekik yang tak mendapatkan udara.
Mencari Hati
Seorang saleh berjalan berkeliling sambil berseru, “Hatiku… hatiku! Di manakah hatiku? Siapakah yang menemukan hatiku?”
Suatu hari, ia memasuki sebuah gang. Ia mendapati seorang anak lelaki menangis sementara ibunya memukulnya. Sang ibu kemudian mengusirnya dari rumah dan menutup pintu di hadapannya.
Anak itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak tahu ke mana harus pergi atau ke mana harus menuju. Akhirnya, ia kembali ke pintu rumah. Ia menangis sambil berkata:
“Ibu… siapa yang akan membukakan pintu untukku jika Ibu menutup pintu di hadapanku? Siapa yang akan menaungiku jika Ibu mengusirku? Siapa yang akan menyayangiku jika Ibu marah kepadaku?”
Ibunya berdiri dan mengintip melalui lubang pintu. Lalu ia mengambil anak itu, mendudukkannya di pangkuan, dan menciuminya sambil berkata:
“Wahai penyejuk mataku, wahai belahan jiwaku, engkaulah yang membuatku memperlakukanmu demikian. Engkaulah yang menyebabkan semua ini menimpamu. Seandainya engkau menaatiku, tentu engkau tidak akan menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dariku.”
Anak itu pun bergembira karena ibunya telah rida kepadanya. Ia berseru riang.
Orang saleh itu berkata:
“Alhamdulillah… sekarang aku telah menemukan hatiku. Sekarang aku telah menemukan hatiku.”

