Tatsqif

Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Pahala Orang-Orang yang Berbuat Ihsan

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Pahala Orang-Orang yang Berbuat Ihsan

☷ Daftar Isi Artikel
  1. I. Mukadimah
    1. Makna Ihsan
  2. II. Isi Kajian
    1. Pelajaran Pertama: Kelelahan dalam Ketaatan
    2. Pelajaran Kedua: Kesabaran
    3. Pelajaran Ketiga: Penderitaan dan Kemuliaan
    4. Pelajaran Keempat: Takwa dan Sabar
    Lihat seluruh subjudul kajian
    1. Tadabur QS. At-Taubah: 120
      1. Latar belakang dan kandungan ayat
      2. Pelajaran yang menyentuh hati
      3. Hadis penguat
    2. Tadabur QS. Hud: 115
      1. Hubungan sabar dengan ihsan
      2. Tiga bentuk kesabaran
      3. Hadis penguat
      4. Renungan tentang kesabaran
    3. Tadabur QS. Yusuf: 56
      1. Perjalanan Nabi Yusuf
      2. Pertolongan Allah
      3. Hadis penguat
      4. Renungan untuk kehidupan kita
    4. Tadabur QS. Yusuf: 90
      1. Pertemuan yang mengharukan
      2. Penjelasan Imam Ath-Thabari
      3. Penjelasan Imam As-Sam‘ani
      4. Puncak ihsan Nabi Yusuf
      5. Hadis penguat
      6. Renungan yang menyentuh hati
  3. III. Empat Ayat, Empat Pelajaran Kehidupan
    1. Muhasabah: Untuk Siapa Kita Beramal?
  4. IV. Penutup — Jangan Berhenti Berbuat Baik
    1. Hadis Qudsi: Seluruh Amal Akan Diperhitungkan
    2. Doa Penutup
    3. Kesimpulan akhir kajian

Ayat utama: QS. At-Taubah: 120, Hud: 115, Yusuf: 56, dan Yusuf: 90.

I. MUKADIMAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ، وَلَا يَخِيبُ مَنْ رَجَا رَحْمَتَهُ، وَلَا يَخْسَرُ مَنْ أَخْلَصَ لَهُ وَصَبَرَ عَلَى طَاعَتِهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah yang dirahmati Allah.

Ada kalanya seseorang telah berusaha melakukan kebaikan, tetapi tidak melihat hasil yang diharapkannya.

Seorang ayah bekerja keras untuk keluarganya, tetapi pengorbanannya tidak selalu dihargai.

Seorang ibu menghabiskan waktunya untuk mendidik anak-anak, tetapi tidak seorang pun mengetahui betapa banyak air mata yang ditahannya.

Seorang dai menghabiskan waktu mempersiapkan kajian, tetapi yang hadir hanya beberapa orang.

Seorang penuntut ilmu bersungguh-sungguh belajar, tetapi hasilnya belum sebagaimana yang dicita-citakannya.

Ada pula seseorang yang berusaha meninggalkan maksiat, menahan hawa nafsunya, bersabar menghadapi ujian, dan tetap berbuat baik meskipun orang lain membalasnya dengan keburukan.

Dalam keadaan seperti itu, hati manusia terkadang bertanya:

Apakah semua pengorbanan ini ada nilainya? Apakah kesabaran ini akan membuahkan hasil? Apakah Allah mengetahui apa yang sedang aku perjuangkan?

Allah telah memberikan jawaban yang menenangkan hati melalui sebuah kalimat agung yang disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Kalimat ini bukan sekadar ungkapan penghibur. Ia merupakan janji dari Allah, Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Mahaadil dalam keputusan-Nya, dan tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Menariknya, janji ini muncul dalam empat ayat dengan konteks yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan satu hakikat: tidak ada amal kebaikan yang diterima Allah yang akan disia-siakan.

Manusia mungkin melupakan jasa kita. Orang lain mungkin tidak mengetahui pengorbanan kita. Bahkan orang yang kita bantu mungkin tidak pernah mengucapkan terima kasih.

Akan tetapi, Allah tidak pernah lalai terhadap amal hamba-Nya.

Makna Ihsan: Berbuat Baik dengan Kesadaran bahwa Allah Mengawasi

Dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, dalam hadis Jibril yang panjang, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang ihsan, beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 8, Kitab Al-Iman, dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه. Hadis sahih.

Inilah fondasi ihsan.

Seorang muhsin bukan sekadar orang yang melakukan perbuatan baik. Ia berusaha memperbaiki niatnya, menyempurnakan amalnya, dan menyadari bahwa Allah senantiasa melihatnya.

Karena itu, ia tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang memuji, tetap menjaga amanah meskipun tidak ada yang mengawasi, dan tetap bersabar meskipun manusia tidak memahami keadaannya.

II. ISI KAJIAN

Pelajaran Pertama: Tidak Ada Kelelahan dalam Ketaatan yang Sia-Sia

Tadabur QS. At-Taubah: 120

Allah Ta‘ala berfirman:

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.

“Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka untuk tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka untuk lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasul. Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. At-Taubah: 120, terjemahan makna)

1. Latar belakang dan kandungan ayat

Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan mengenai perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat, khususnya dalam konteks kewajiban menyertai beliau ketika diperintahkan berangkat berperang.

Allah menyebutkan tiga bentuk kesulitan yang dialami mereka:

  • ظَمَأٌ — kehausan.
  • نَصَبٌ — keletihan dan kepayahan.
  • مَخْمَصَةٌ — kelaparan.

Menariknya, Allah tidak hanya menyebutkan hasil akhir perjuangan mereka, tetapi juga kesulitan yang mereka alami selama perjalanan.

Kehausan dicatat. Kelelahan dicatat. Kelaparan dicatat.

Bahkan langkah-langkah yang mereka tempuh dalam menjalankan perintah Allah pun tidak diabaikan.

Ayat ini mengajarkan bahwa pengorbanan yang menyertai ketaatan memiliki nilai di sisi Allah.

2. Pelajaran yang menyentuh hati

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Perhatikan bagaimana Allah menghargai pengorbanan hamba-Nya.

Allah tidak hanya mengetahui hasil yang berhasil dicapai seseorang, tetapi juga seluruh perjuangan yang mendahuluinya.

Manusia melihat seseorang datang ke masjid, tetapi tidak mengetahui bahwa ia harus melawan rasa kantuk dan kelelahan.

Manusia melihat seorang penuntut ilmu duduk di majelis, tetapi tidak mengetahui kesulitan yang harus dilaluinya.

Manusia melihat seorang ibu mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia harus mengulang pelajaran dengan penuh kesabaran.

Apabila semua itu dilakukan dalam ketaatan kepada Allah dengan niat yang benar, kita berharap tidak ada pengorbanan tersebut yang sia-sia.

3. Hadis penguat

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, ataupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian kesalahannya dengan sebab itu.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 5641–5642, Kitab Al-Mardha, dan Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2573, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, dari Abu Sa‘id Al-Khudri dan Abu Hurairah رضي الله عنهما. Hadis muttafaq ‘alaih.

Hadis ini menunjukkan keluasan rahmat Allah. Bahkan penderitaan yang tidak secara khusus dipilih seseorang dapat menjadi sebab penghapusan dosa.

Terlebih lagi pengorbanan yang dilakukan untuk menjalankan ketaatan yang benar.

Namun, pahala dan penghapusan dosa tetap berada di bawah ketentuan Allah. Tidak setiap kesulitan otomatis menjadikan suatu perbuatan benar.

Renungan: Jangan meremehkan kelelahan dalam ketaatan. Mungkin manusia tidak melihatnya, tetapi Allah mengetahuinya.

Pelajaran Kedua: Kesabaran Tidak Pernah Kehilangan Pahalanya

Tadabur QS. Hud: 115

Allah Ta‘ala berfirman:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud: 115)

Ayat ini sangat singkat, tetapi mengandung pelajaran yang luar biasa.

Allah mengawali ayat dengan satu perintah:

وَاصْبِرْ — Bersabarlah!

Kemudian Allah menyebutkan alasan yang menguatkan hati:

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

1. Hubungan sabar dengan ihsan

Dalam ayat sebelumnya, Allah memerintahkan untuk mendirikan salat pada dua ujung siang dan pada bagian-bagian awal malam, kemudian menjelaskan bahwa kebaikan dapat menghapus keburukan.

Setelah itu, Allah memerintahkan kesabaran.

Ini mengajarkan bahwa istiqamah dalam ketaatan memerlukan kesabaran.

Tidak semua kebaikan mudah dilakukan.

Ada orang yang harus bersabar untuk bangun melaksanakan salat Subuh.

Ada yang harus bersabar untuk menjaga lisannya dari perkataan buruk.

Ada yang harus bersabar menghadapi gangguan ketika berdakwah.

Ada yang harus bersabar meninggalkan harta haram meskipun kebutuhan hidupnya sangat mendesak.

Ada pula yang harus bersabar menghadapi ujian keluarga, penyakit, kehilangan, dan berbagai kesulitan hidup.

Kesabaran bukan berarti hati tidak merasakan kesedihan. Kesabaran berarti tetap menjaga diri dalam batas-batas yang diridai Allah ketika menghadapi keadaan yang menyakitkan.

2. Tiga bentuk kesabaran

Para ulama menjelaskan bahwa kesabaran mencakup tiga bentuk utama.

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan, yaitu tetap melaksanakan perintah Allah meskipun terasa berat.

Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat, yaitu menahan diri dari perkara yang diharamkan meskipun hawa nafsu menginginkannya.

Ketiga, sabar menghadapi takdir Allah yang menyakitkan, yaitu menahan diri dari sikap yang diharamkan ketika menghadapi musibah, sembari tetap melakukan ikhtiar yang dibenarkan.

Ketiganya merupakan bagian penting dari kehidupan seorang mukmin.

3. Hadis penguat

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.

“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1469, Kitab Az-Zakah, dan Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1053, Kitab Az-Zakah, dari Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه. Hadis muttafaq ‘alaih.

Hadis ini mengandung kabar gembira bahwa kesabaran dapat dilatih dengan pertolongan Allah.

Seseorang mungkin merasa dirinya lemah. Akan tetapi, ketika ia berusaha bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah, Allah dapat menguatkan hatinya.

4. Renungan tentang kesabaran

Jamaah yang dirahmati Allah.

Ada kesabaran yang tidak diketahui siapa pun.

Seseorang menahan amarahnya padahal ia mampu membalas.

Seseorang memilih diam daripada mengucapkan perkataan yang menyakitkan.

Seseorang menangis dalam doanya, tetapi tetap berprasangka baik kepada Allah.

Seseorang telah bertahun-tahun berusaha mendidik keluarganya dalam ketaatan, meskipun hasilnya belum terlihat.

Jangan menganggap semua itu tidak bernilai.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Renungan: Sabar bukan berarti tidak terluka. Sabar adalah menjaga ketaatan kepada Allah meskipun hati sedang terluka.

Pelajaran Ketiga: Allah Mampu Mengubah Penderitaan Menjadi Kemuliaan

Tadabur QS. Yusuf: 56

Allah Ta‘ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. Dia dapat tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. Yusuf: 56, terjemahan makna)

1. Perjalanan Nabi Yusuf عليه السلام

Untuk memahami keindahan ayat ini, kita perlu mengingat perjalanan hidup Nabi Yusuf عليه السلام.

Beliau pernah mengalami berbagai ujian berat.

Ketika masih kecil, saudara-saudaranya diliputi kecemburuan hingga bersepakat menyingkirkannya. Beliau dilemparkan ke dalam sumur, jauh dari ayah yang sangat mencintainya.

Kemudian beliau dibawa ke Mesir dan dijual sebagai seorang budak.

Ketika tumbuh dewasa, beliau menghadapi ujian kehormatan. Seorang perempuan mengajaknya melakukan perbuatan yang diharamkan Allah.

Dalam keadaan itu, Yusuf عليه السلام berkata:

مَعَاذَ اللَّهِ

“Aku berlindung kepada Allah.” (QS. Yusuf: 23)

Beliau memilih menjaga kehormatannya meskipun harus menghadapi ancaman dan kesulitan.

Kemudian beliau dipenjara, padahal tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan kepadanya.

Bayangkan perjalanan tersebut.

Dari rumah ayah yang penuh kasih sayang menuju dasar sumur.

Dari dasar sumur menuju kehidupan sebagai budak.

Dari rumah pembesar Mesir menuju penjara.

Akan tetapi, dalam setiap fase kehidupannya, Yusuf عليه السلام tetap menjaga hubungan dengan Allah.

Di tengah godaan, beliau menjaga ketakwaan.

Di tengah kezaliman, beliau menjaga kesabaran.

Di tengah penderitaan, beliau tidak meninggalkan kebaikan.

Hingga akhirnya Allah memberikan kedudukan kepadanya di negeri Mesir.

2. Pertolongan Allah datang pada waktu yang Dia kehendaki

Jamaah yang dirahmati Allah.

Seandainya seseorang hanya melihat Yusuf ketika berada di dasar sumur, mungkin ia mengira bahwa masa depannya telah berakhir.

Seandainya seseorang hanya melihat Yusuf ketika berada di penjara, mungkin ia mengira bahwa seluruh pengorbanannya sia-sia.

Namun, Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia.

Allah sedang menetapkan perjalanan hidup hamba-Nya berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Perhatikan bahwa Allah tidak berfirman bahwa Yusuf mencapai kedudukan tersebut semata-mata karena kecerdasannya atau kemampuannya.

Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ

“Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri itu.” (QS. Yusuf: 56)

Allah menisbatkan pemberian kedudukan tersebut kepada diri-Nya.

Kemudian Allah menegaskan:

وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)

Inilah hubungan antara ihsan dan pertolongan Allah.

Namun, kita harus memahami bahwa pertolongan Allah tidak selalu berbentuk kedudukan, kekayaan, atau keberhasilan duniawi sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Yusuf.

Ada orang saleh yang hidup dalam kesederhanaan sampai wafatnya.

Ada orang yang bersabar menghadapi penyakit sepanjang hidupnya.

Ada orang yang berbuat baik, tetapi tidak memperoleh penghargaan dari manusia.

Semua itu tidak bertentangan dengan janji Allah.

Sebab, balasan Allah kepada orang-orang yang berbuat ihsan tidak terbatas pada kehidupan dunia. Balasan akhirat jauh lebih agung dan lebih kekal.

Allah berfirman:

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ.

“Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yusuf: 57)

Ayat ini datang tepat setelah ayat yang sedang kita renungkan.

Rangkaian kedua ayat tersebut mengajarkan bahwa kedudukan dunia yang diberikan kepada Yusuf merupakan nikmat besar, tetapi pahala akhirat tetap lebih utama.

3. Hadis penguat

Dari Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2999, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq, dari Shuhaib bin Sinan رضي الله عنه. Hadis sahih.

Hadis ini tidak menjanjikan bahwa setiap kesulitan akan segera diganti dengan kesenangan dunia.

Akan tetapi, hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin dapat memperoleh kebaikan dalam kedua keadaan melalui syukur dan sabar.

4. Renungan untuk kehidupan kita

Barangkali hari ini seseorang sedang berada dalam fase kehidupan yang berat.

Ia belum memperoleh pekerjaan yang diharapkan.

Usahanya belum berhasil.

Keluarganya sedang diuji.

Cita-citanya belum tercapai.

Doa yang terus dipanjatkannya belum terlihat jawabannya sebagaimana yang ia inginkan.

Kisah Yusuf mengajarkan agar seseorang tidak menjadikan keadaan hari ini sebagai ukuran seluruh masa depannya.

Bisa jadi Allah membukakan jalan keluar yang tidak pernah dibayangkannya.

Bisa jadi Allah mengganti kesulitannya dengan kebaikan yang lebih besar.

Bisa pula Allah menyimpan balasan yang jauh lebih agung untuk kehidupan akhirat.

Yang terpenting adalah jangan sampai ujian membuat kita meninggalkan ketakwaan dan ketaatan.

Renungan: Jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dari keadaan hidup hari ini. Sebab, kita tidak mengetahui apa yang Allah siapkan untuk hari esok dan kehidupan akhirat.

Pelajaran Keempat: Takwa dan Sabar Adalah Jalan Menuju Ihsan

Tadabur QS. Yusuf: 90

Allah Ta‘ala berfirman:

قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.

“Mereka berkata, ‘Apakah engkau benar-benar Yusuf?’ Dia menjawab, ‘Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.’”

(QS. Yusuf: 90, terjemahan makna)

1. Pertemuan yang mengharukan

Bayangkan pertemuan Nabi Yusuf عليه السلام dengan saudara-saudaranya.

Dahulu, merekalah yang telah menyingkirkannya dari keluarga.

Mereka menjadi sebab perpisahannya dengan sang ayah selama bertahun-tahun.

Namun, kini keadaan telah berubah.

Yusuf memiliki kedudukan dan kekuasaan.

Saudara-saudaranya justru datang dalam keadaan membutuhkan bantuan.

Secara manusiawi, ini merupakan kesempatan untuk membalas perbuatan mereka.

Yusuf mampu mengingatkan mereka tentang seluruh kesalahan masa lalu.

Beliau mampu mempermalukan mereka.

Namun, perhatikan kalimat yang beliau ucapkan:

قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا

“Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” (QS. Yusuf: 90)

Beliau tidak menyombongkan keberhasilannya.

Beliau tidak mengatakan bahwa semua itu semata-mata hasil kecerdasan dan perjuangannya.

Beliau justru mengembalikan segala karunia kepada Allah.

Kemudian beliau menjelaskan rahasia agung yang menjadi pelajaran bagi setiap mukmin:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

2. Penjelasan Imam Ath-Thabari

Imam Abu Ja‘far Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan makna firman Allah:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ

Beliau berkata:

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ اللَّهَ فَيُرَاقِبْهُ بِأَدَاءِ فَرَائِضِهِ، وَاجْتِنَابِ مَعَاصِيهِ.

Maknanya, siapa yang bertakwa kepada Allah dengan merasa diawasi-Nya, melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya, dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

Kemudian beliau menjelaskan kesabaran sebagai tindakan menahan diri dari ucapan atau perbuatan yang Allah haramkan ketika menghadapi musibah.

Tentang firman Allah:

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Beliau menjelaskan:

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُبْطِلُ ثَوَابَ إِحْسَانِهِ، وَجَزَاءَ طَاعَتِهِ إِيَّاهُ، فِيمَا أَمَرَهُ وَنَهَاهُ.

Artinya, Allah tidak membatalkan pahala kebaikannya dan balasan atas ketaatannya terhadap perintah serta larangan Allah.

Referensi: Ath-Thabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, jilid 13, hlm. 328, tafsir QS. Yusuf: 90. [Teks asli tafsir Ath-Thabari]

Penjelasan ini menunjukkan bahwa takwa dan sabar bukan sekadar perasaan di dalam hati, tetapi diwujudkan melalui ketaatan dan kemampuan menahan diri dari perkara yang dilarang Allah.

3. Penjelasan Imam As-Sam‘ani

Imam Abu Al-Muzhaffar As-Sam‘ani رحمه الله menjelaskan ayat ini:

مَنْ يَتَّقِ عَنِ الْمَعَاصِي وَيَصْبِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْمَصَائِبِ.

“Siapa yang menjaga diri dari kemaksiatan dan bersabar dalam menjalankan ketaatan serta menghadapi musibah.”

Referensi: As-Sam‘ani, Tafsir Al-Qur’an, jilid 3, hlm. 62, tafsir QS. Yusuf: 90. [Teks asli tafsir As-Sam‘ani]

Dari penjelasan tersebut, kita memahami bahwa perjalanan menuju ihsan memerlukan dua kekuatan yang saling melengkapi.

Takwa menjaga seseorang agar tidak melanggar batas-batas Allah, sedangkan sabar menguatkannya agar tetap berada di jalan ketaatan.

4. Puncak ihsan Nabi Yusuf: Memaafkan ketika mampu membalas

Kisah ini menjadi semakin indah ketika kita membaca ayat berikutnya.

Setelah saudara-saudaranya mengakui kesalahan mereka, Yusuf عليه السلام berkata:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian. Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Betapa agung akhlak Nabi Yusuf.

Beliau bukan hanya bersabar ketika dizalimi, tetapi juga menunjukkan kelapangan hati ketika memiliki kemampuan untuk membalas.

Ini merupakan salah satu bentuk ihsan yang sangat tinggi.

Tidak semua orang mampu memaafkan ketika dirinya lemah.

Lebih sedikit lagi yang mampu memaafkan ketika memiliki kekuasaan.

Dalam penafsiran ayat ini, diriwayatkan dari Qatadah رحمه الله:

لَقُوا رَجُلًا حَلِيمًا لَمْ يَبُثَّ وَلَمْ يُثَرِّبْ عَلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ.

“Mereka berhadapan dengan seorang yang penyantun, yang tidak mengungkit-ungkit dan tidak mencela mereka karena perbuatan-perbuatan mereka.”

Referensi: Ibnu Abi Hatim, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, jilid 7, hlm. 2195, riwayat no. 11947. Ini merupakan atsar tafsir dari Qatadah, bukan hadis Nabi ﷺ. [Teks riwayat Qatadah dalam tafsir Ibnu Abi Hatim]

5. Hadis penguat

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا.

“Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sikap memaafkan, melainkan kemuliaan.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2588, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Hadis sahih.

Memaafkan bukanlah tanda kehinaan. Ketika dilakukan dengan tepat dan karena Allah, memaafkan merupakan kemuliaan.

Tentu saja, memaafkan tidak berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung atau mengabaikan hak yang wajib dilindungi. Islam juga mengajarkan keadilan dan pencegahan kezaliman.

6. Renungan yang menyentuh hati

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Mungkin ada di antara kita yang masih menyimpan luka karena perkataan orang lain.

Ada yang pernah dikhianati.

Ada yang diperlakukan tidak adil.

Ada yang telah membantu seseorang, tetapi justru menerima keburukan sebagai balasannya.

Kisah Yusuf mengajarkan bahwa kita tidak boleh membiarkan kezaliman orang lain mengubah diri kita menjadi orang yang zalim.

Jangan sampai karena pernah disakiti, kita merasa berhak menyakiti siapa saja.

Jangan sampai karena pernah dikhianati, kita menganggap pengkhianatan sebagai sesuatu yang wajar.

Jangan sampai karena kebaikan kita tidak dihargai, kita berhenti berbuat baik.

Yusuf عليه السلام tidak menjadikan keburukan saudara-saudaranya sebagai alasan untuk meninggalkan ketakwaan.

Beliau tetap menjaga kesucian dirinya, bersabar dalam ujian, dan berbuat ihsan ketika Allah memberinya kemampuan.

Renungan: Kemuliaan seorang mukmin bukan hanya terlihat ketika ia mampu bersabar menghadapi kezaliman, tetapi juga ketika ia mampu menjaga keadilan dan akhlaknya saat memiliki kesempatan untuk membalas.

III. EMPAT AYAT, EMPAT PELAJARAN KEHIDUPAN

Apabila kita merenungkan keempat ayat tersebut, kita akan menemukan empat pelajaran agung yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang mukmin.

Pertama, Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dalam ketaatan. Dalam QS. At-Taubah ayat 120, Allah menegaskan bahwa setiap kelelahan, kehausan, kelaparan, dan kesulitan yang dialami dalam perjuangan di jalan-Nya akan dicatat sebagai amal kebaikan. Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas dalam ketaatan kepada Allah yang luput dari pengetahuan dan balasan-Nya.

Kedua, kesabaran merupakan bagian penting dari ihsan. Dalam QS. Hud ayat 115, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar, kemudian menegaskan bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Hal ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan penderitaan, melainkan bentuk ketaatan yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.

Ketiga, Allah memberikan balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan rahmat dan hikmah-Nya. Dalam QS. Yusuf ayat 56, Allah mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf عليه السلام memperoleh kedudukan yang mulia setelah melewati berbagai ujian kehidupan. Ayat ini mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah tanda Allah meninggalkan hamba-Nya. Allah mampu mengubah kesulitan menjadi kemudahan dan kehinaan menjadi kemuliaan. Namun, balasan Allah tidak selalu berupa keberhasilan duniawi, karena pahala akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal.

Keempat, takwa dan sabar merupakan jalan menuju ihsan. Dalam QS. Yusuf ayat 90, Nabi Yusuf عليه السلام mengungkapkan sebuah prinsip agung bahwa siapa yang bertakwa dan bersabar, Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Takwa menjaga seorang hamba agar tetap berada dalam ketaatan, sedangkan kesabaran menguatkannya menghadapi ujian dan menjauhi kemaksiatan.

Dengan demikian, keempat ayat tersebut menggambarkan perjalanan kehidupan seorang mukmin: bersungguh-sungguh dalam ketaatan, bersabar menghadapi ujian, meyakini keadilan dan hikmah Allah dalam memberikan balasan, serta senantiasa menjaga ketakwaan hingga akhir kehidupan.

Pada akhirnya, seorang mukmin tidak menjadikan penghargaan manusia atau keberhasilan dunia sebagai ukuran utama nilai amalnya. Sebab, tujuan tertingginya adalah meraih keridaan Allah dan memperoleh pahala yang tidak akan pernah disia-siakan-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Keempat ayat ini mengajarkan perjalanan hidup seorang mukmin: beramal dengan sungguh-sungguh, bersabar menghadapi kesulitan, tetap menjaga ketakwaan, kemudian menyerahkan hasil dan balasannya kepada Allah.

Bukan berarti semua orang yang berbuat ihsan pasti mendapatkan kekayaan, jabatan, atau kemudahan hidup di dunia. Namun, Allah menjamin bahwa amal kebaikan yang diterima-Nya tidak akan disia-siakan.

Muhasabah: Untuk Siapa Kita Beramal?

Jamaah yang dirahmati Allah.

Sebelum mengakhiri kajian ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kita masih bersedia melakukan kebaikan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya?

Apakah kita masih bersemangat beribadah ketika tidak ada manusia yang memuji kita?

Apakah kita tetap bersabar ketika ujian berlangsung lebih lama daripada yang kita harapkan?

Apakah kita tetap menjaga ketakwaan ketika kesempatan melakukan maksiat terbuka lebar?

Apakah kita mampu memaafkan ketika memiliki kekuatan untuk membalas?

Dan yang paling penting:

Apakah selama ini kita beramal untuk mendapatkan penghargaan manusia, atau benar-benar mengharapkan pahala dari Allah?

Dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”

Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, no. 1, Kitab Bad’ Al-Wahy, dan Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1907, Kitab Al-Imarah, dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه. Hadis muttafaq ‘alaih.

Betapa banyak amal yang tampak besar di mata manusia, tetapi kehilangan nilainya karena niat yang rusak.

Sebaliknya, betapa banyak amal yang tampak kecil, tetapi menjadi agung karena keikhlasan pelakunya.

Oleh sebab itu, ketika kita merenungkan janji Allah bahwa Dia tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, jangan sampai kita melupakan syarat-syarat diterimanya amal, terutama keikhlasan kepada Allah dan kesesuaian amal dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

IV. PENUTUP — JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Kita tidak mengetahui berapa lama lagi kesempatan hidup yang Allah berikan kepada kita.

Mungkin masih ada banyak cita-cita yang belum tercapai.

Mungkin masih ada doa yang terus kita panjatkan.

Mungkin masih ada pengorbanan yang belum mendapatkan penghargaan.

Mungkin masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Namun, jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan harapan kepada Allah.

Ketika tubuh terasa lelah karena menjalankan ketaatan, ingatlah firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

(QS. At-Taubah: 120)

Ketika kesabaran terasa semakin berat, ingatlah firman Allah:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

(QS. Hud: 115)

Ketika kehidupan terasa sempit dan masa depan belum jelas, ingatlah kisah Nabi Yusuf dan firman Allah:

وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

(QS. Yusuf: 56)

Ketika menghadapi perlakuan buruk dari manusia dan hati ingin membalasnya dengan keburukan, ingatlah nasihat Nabi Yusuf:

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

(QS. Yusuf: 90)

Jamaah sekalian.

Teruslah berbuat baik meskipun manusia tidak mengetahui.

Teruslah bersabar meskipun perjalanan terasa panjang.

Teruslah menjaga ketakwaan meskipun godaan semakin berat.

Teruslah memperbaiki niat meskipun amal kita belum sempurna.

Sebab, kita tidak sedang beramal untuk Zat yang lalai, lupa, atau tidak mengetahui.

Kita sedang beramal untuk Allah Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui, Mahaadil, dan Maha Pemurah.

Hadis Qudsi: Seluruh Amal Akan Diperhitungkan

Dari Abu Dzar Al-Ghifari رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta‘ala, disebutkan:

يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ.

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku memberikan balasannya kepada kalian secara sempurna. Barang siapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barang siapa mendapatkan selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.”

Takhrij: HR. Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2577, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, dari Abu Dzar Al-Ghifari رضي الله عنه. Hadis qudsi yang sahih.

Hadis ini menjadi pengingat bahwa seluruh kehidupan kita berada dalam pengawasan Allah.

Tidak ada amal yang tersembunyi dari-Nya.

Tidak ada kezaliman yang luput dari pengetahuan-Nya.

Tidak ada kebaikan yang tidak diketahui-Nya.

Karena itu, janganlah kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak manusia yang telah menghargai kebaikan kita.

Lebih baik kita sibuk memeriksa keikhlasan, memperbaiki amal, dan memohon agar Allah menerimanya.

Sebab, penghargaan manusia dapat berakhir ketika kita meninggal dunia, sedangkan pahala amal saleh yang diterima Allah akan kita butuhkan ketika seluruh manusia berdiri menghadap-Nya.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، وَالصَّبْرَ عَلَى طَاعَتِكَ، وَالصَّبْرَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَالصَّبْرَ عَلَى أَقْدَارِكَ الْمُؤْلِمَةِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا، وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا، وَلَا تَجْعَلْ حَظَّنَا مِنْ أَعْمَالِنَا ثَنَاءَ النَّاسِ وَمَدْحَهُمْ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbuat ihsan. Anugerahkanlah kepada kami keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, kesabaran dalam menjalankan ketaatan, kesabaran menjauhi kemaksiatan, serta kesabaran menghadapi ketetapan-Mu yang menyakitkan.

Ya Allah, perbaikilah hati kami, sucikanlah niat kami, terimalah amal kami, dan jangan jadikan pujian manusia sebagai satu-satunya bagian yang kami peroleh dari amal-amal kami.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.

Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, jadikanlah amal-amal terakhir kami sebagai amal-amal terbaik dan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.

Amin, ya Rabbal ‘alamin.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Kesimpulan akhir kajian

Berbuat baiklah karena Allah, bersabarlah karena Allah, dan berharaplah kepada Allah. Sebab, manusia mungkin melupakan kebaikan kita, tetapi Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button