Kuliah Untuk Apa Jika Yang Tidak Kuliah Bisa Lebih Kaya?
KULIAH UNTUK APA JIKA YANG TIDAK KULIAH BISA LEBIH KAYA?
☷ Daftar Isi Artikel
Pendahuluan
“Untuk apa kuliah bertahun-tahun, menghabiskan banyak biaya, waktu, dan tenaga, kalau pada akhirnya belum tentu mendapatkan pekerjaan?”
“Bukankah banyak orang yang hanya lulusan SD, SMP, SMA, bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi justru menjadi pengusaha sukses, memiliki banyak karyawan, dan menghasilkan uang jauh lebih besar daripada sarjana?”
“Bahkan, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya menganggur, bekerja tidak sesuai jurusan, atau mendapatkan gaji yang lebih kecil daripada orang yang tidak kuliah.”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Sebagian disampaikan sebagai kritik terhadap sistem pendidikan, sebagian sebagai ungkapan kekecewaan terhadap sulitnya mencari pekerjaan, dan sebagian lagi sebagai alasan untuk menganggap pendidikan tinggi tidak lagi penting.
Pertanyaan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Kenyataannya, gelar sarjana tidak menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan, sebagaimana tidak memiliki gelar sarjana juga tidak menghalangi seseorang memperoleh kekayaan.
Namun, apakah kenyataan tersebut cukup untuk menyimpulkan bahwa kuliah tidak berguna? Apakah pendidikan hanya layak dinilai berdasarkan besarnya penghasilan? Benarkah seseorang yang lebih kaya pasti lebih sukses daripada orang yang lebih berilmu?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami tujuan pendidikan, hakikat rezeki, kedudukan ilmu, dan ukuran keberhasilan menurut Islam.
1. Kesalahan Pertama: Menganggap Tujuan Kuliah Hanya untuk Mendapatkan Uang
Salah satu kekeliruan dalam memandang pendidikan adalah menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Jika tujuan kuliah hanya untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya, maka ketika seseorang yang tidak kuliah menghasilkan uang lebih besar, pendidikan seolah-olah kehilangan nilainya.
Padahal, pendidikan tinggi memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mendapatkan gaji.
Melalui pendidikan yang baik, seseorang diharapkan memperoleh pengetahuan yang mendalam, kemampuan berpikir kritis, keterampilan profesional, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, dan kesiapan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Seorang mahasiswa kedokteran, misalnya, tidak hanya belajar agar kelak memperoleh penghasilan. Ia mempelajari ilmu untuk memahami penyakit, memberikan pengobatan, dan membantu menyelamatkan kehidupan manusia.
Seorang mahasiswa pendidikan tidak semata-mata belajar untuk menerima gaji sebagai guru. Ia dipersiapkan untuk mendidik generasi dan menyampaikan ilmu kepada orang lain.
Demikian pula mahasiswa teknik, pertanian, syariah, hukum, ekonomi, dan bidang ilmu lainnya. Mereka mempelajari keahlian yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam kehidupan.
Karena itu, manfaat pendidikan tidak selalu dapat diukur dengan jumlah uang yang masuk ke rekening seseorang.
Seseorang mungkin tidak memiliki kekayaan yang besar, tetapi ilmunya menyelamatkan nyawa, mendidik ribuan murid, memperbaiki kehidupan masyarakat, atau menghasilkan karya yang bermanfaat selama puluhan tahun.
Apakah orang seperti ini dapat disebut gagal hanya karena penghasilannya tidak sebesar seorang pengusaha?
Tentu tidak.
2. Islam Memuliakan Ilmu, Bukan Sekadar Gelar Akademik
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Allah juga berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Kedua ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan orang yang memiliki ilmu.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami: Allah memuliakan ilmu yang benar dan bermanfaat, bukan semata-mata ijazah, gelar, atau panjangnya masa pendidikan formal.
Ayat-ayat tersebut, terutama dalam konteksnya, menegaskan keutamaan ilmu yang mengantarkan manusia kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah. Adapun ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat juga memiliki nilai yang besar apabila digunakan untuk tujuan yang baik dan sesuai dengan syariat.
Seseorang yang memiliki gelar doktor tetapi tidak mengamalkan ilmunya, tidak memiliki adab, atau menggunakan pengetahuannya untuk keburukan tidak otomatis lebih mulia daripada orang sederhana yang beriman, bertakwa, dan bermanfaat bagi sesamanya.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah kuliah tetapi terus belajar, mengembangkan keterampilan, memahami pekerjaannya, dan memberikan manfaat kepada masyarakat juga memiliki ilmu sesuai bidangnya.
Dengan demikian, kita perlu membedakan tiga perkara:
- Ilmu, yaitu pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki seseorang.
- Pendidikan formal, yaitu salah satu jalan yang terstruktur untuk memperoleh ilmu dan keahlian.
- Gelar akademik, yaitu pengakuan resmi atas penyelesaian suatu jenjang pendidikan.
Ketiganya saling berkaitan, tetapi tidak selalu sama.
Tidak semua orang berilmu memiliki gelar tinggi. Tidak semua pemegang gelar tinggi memiliki kedalaman ilmu yang sama.
Maka, yang patut dikritik bukanlah kegiatan menuntut ilmu, melainkan ketika pendidikan hanya menjadi perlombaan mendapatkan gelar tanpa penguasaan ilmu dan keterampilan yang sesungguhnya.
3. Mengapa Orang yang Tidak Kuliah Bisa Lebih Kaya?
Jawabannya karena rezeki dan kekayaan tidak ditentukan semata-mata oleh tingginya pendidikan formal.
Dalam kehidupan, penghasilan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain keterampilan, pengalaman, keberanian mengambil risiko, kemampuan melihat peluang, jaringan usaha, modal, keadaan pasar, lingkungan, serta ketentuan dan karunia Allah.
Seorang lulusan SD yang telah menjalankan usaha selama dua puluh tahun mungkin memiliki pengalaman bisnis, kemampuan membaca pasar, dan jaringan pelanggan yang tidak dimiliki oleh seorang sarjana yang baru lulus.
Seorang lulusan SMA yang menekuni perdagangan, pertanian, teknologi, atau bidang keterampilan tertentu sejak muda juga dapat memperoleh penghasilan yang besar.
Hal ini bukan sesuatu yang aneh.
Allah berfirman:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Ayat ini mengingatkan bahwa Allah membagikan penghidupan manusia dengan hikmah-Nya. Keadaan, kemampuan, kesempatan, dan rezeki manusia memang tidak sama.
Namun, perbedaan tersebut bukan alasan untuk meninggalkan usaha.
Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini, dalam konteksnya, berbicara tentang tanggung jawab amal dan balasan. Ia juga mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam berusaha, tanpa berarti setiap usaha pasti menghasilkan kekayaan materi yang sama.
Karena itu, jangan meremehkan orang yang tidak kuliah tetapi berhasil membangun usaha.
Boleh jadi keberhasilannya merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak terlihat: bangun sebelum subuh, bekerja hingga malam, menghadapi kerugian, mengalami kegagalan, dan terus belajar dari pengalaman.
Orang yang tidak kuliah bukan berarti tidak belajar.
Sebagian justru menempuh pendidikan melalui pengalaman, praktik, pembinaan, bacaan, pelatihan, dan kerja keras.
Sekolah kehidupan juga dapat mengajarkan ilmu dan keterampilan yang sangat berharga, meskipun tidak selalu memberikan ijazah.
4. Tetapi Jangan Menjadikan Segelintir Orang Kaya sebagai Bukti bahwa Kuliah Tidak Berguna
Di sinilah terdapat kekeliruan berpikir yang sering tidak disadari.
Ketika seseorang melihat seorang pengusaha kaya yang hanya lulusan SD, kemudian menyimpulkan bahwa kuliah tidak diperlukan, ia sedang mengambil kesimpulan umum dari beberapa contoh yang menonjol.
Padahal, untuk menilai manfaat pendidikan secara adil, kita harus melihat gambaran yang lebih luas.
Di antara orang yang tidak kuliah, ada yang berhasil menjadi pengusaha kaya. Namun, ada pula yang mengalami kesulitan ekonomi selama hidupnya.
Demikian juga di antara lulusan perguruan tinggi. Ada yang menganggur, ada yang berpenghasilan rendah, dan ada yang berhasil menjadi tenaga profesional, peneliti, akademisi, pemimpin lembaga, atau pengusaha besar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan gambaran yang menarik.
Pada Agustus 2025, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia yang berpendidikan universitas mencapai 904.440 orang. Fakta ini memperlihatkan bahwa ijazah perguruan tinggi memang tidak menjamin pekerjaan.
Akan tetapi, data BPS mengenai rata-rata upah per jam pekerja pada 2024 menunjukkan:
- Pendidikan SD ke bawah: Rp12.260 per jam.
- Pendidikan universitas: Rp33.491 per jam.
Artinya, pada kelompok pekerja yang dicakup statistik tersebut, rata-rata upah per jam lulusan universitas lebih tinggi. Ini bukan jaminan bahwa setiap sarjana akan memperoleh gaji lebih besar, dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pendidikan merupakan satu-satunya penyebab perbedaan upah.
Data tersebut juga tidak menggambarkan seluruh pendapatan pengusaha atau keuntungan usaha.
Namun, paling tidak, data itu menunjukkan bahwa keberhasilan beberapa orang tanpa gelar tidak cukup untuk meniadakan manfaat ekonomi pendidikan tinggi.
Kisah pribadi dapat menjadi inspirasi, tetapi tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan bagi semua orang.
5. Mengapa Banyak Sarjana Justru Menganggur?
Pertanyaan ini layak dijawab secara serius, bukan ditutupi dengan slogan tentang pentingnya pendidikan.
Memang ada kenyataan yang memprihatinkan ketika seseorang menghabiskan bertahun-tahun untuk kuliah, mengeluarkan biaya besar, tetapi setelah lulus kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan keadaan tersebut.
Pertama, tidak semua bidang studi memiliki jumlah peluang kerja yang sama. Pada suatu daerah, kebutuhan tenaga kerja untuk bidang tertentu mungkin terbatas, sementara jumlah lulusannya terus bertambah.
Kedua, penguasaan teori tidak selalu diikuti keterampilan praktik. Seseorang dapat memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi masih memerlukan pengalaman sebelum mampu menjalankan pekerjaan dengan baik.
Ketiga, sebagian mahasiswa terlalu berorientasi pada ijazah dan kurang mempersiapkan kemampuan komunikasi, teknologi, bahasa, kewirausahaan, dan keterampilan lain yang diperlukan.
Keempat, ada persoalan yang lebih besar daripada kemampuan individu, seperti keterbatasan lapangan kerja, ketimpangan pembangunan, kondisi ekonomi, persaingan, dan ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Kelima, tidak semua lulusan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh modal, relasi profesional, pelatihan, atau akses pekerjaan.
Karena itu, pengangguran sarjana tidak selalu berarti orang tersebut malas atau tidak kompeten.
Sebagian telah berusaha keras, tetapi belum menemukan kesempatan yang sesuai.
Di sisi lain, keadaan ini juga perlu menjadi bahan evaluasi bagi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, keluarga, dan mahasiswa sendiri.
Perguruan tinggi harus terus meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat hubungan antara teori dan praktik, membuka kesempatan magang, serta membekali mahasiswa dengan kemampuan yang benar-benar dapat digunakan.
Mahasiswa juga perlu menyadari bahwa ijazah adalah bekal, bukan jaminan otomatis mendapatkan pekerjaan.
6. Islam Mengajarkan Ilmu Sekaligus Kerja dan Kemandirian
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk sekadar mengumpulkan pengetahuan tanpa berusaha dan beramal.
Sebaliknya, Islam memuliakan usaha yang halal dan pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan yang diperolehnya dari hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud ‘alaihissalam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Al-Bukhari no. 2072)
Hadis ini menunjukkan kemuliaan pekerjaan dan usaha yang halal.
Seorang petani, pedagang, tukang bangunan, pengrajin, peternak, atau pekerja lainnya tidak menjadi rendah hanya karena tidak memiliki gelar akademik.
Selama pekerjaannya halal, dilakukan dengan amanah, dan tidak melalaikannya dari kewajiban kepada Allah, pekerjaannya merupakan sesuatu yang terhormat.
Allah juga berfirman:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.”
(QS. Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa mencari karunia Allah melalui aktivitas yang halal merupakan bagian dari kehidupan seorang muslim.
Maka, tidak tepat apabila seseorang merasa lebih mulia hanya karena bekerja di kantor dan memandang rendah orang yang bekerja di pasar, kebun, bengkel, atau tempat usaha.
Demikian juga tidak tepat apabila seorang pengusaha yang tidak kuliah meremehkan para sarjana dan menganggap pendidikan mereka tidak berguna.
Islam memuliakan ilmu dan memuliakan pekerjaan yang halal. Keduanya bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
7. Masyarakat Membutuhkan Berbagai Profesi dan Keahlian
Bayangkan apabila semua orang bercita-cita menjadi pengusaha besar dan tidak ada yang ingin menjadi guru, dokter, perawat, peneliti, insinyur, atau ahli agama.
Siapa yang akan mendidik anak-anak?
Siapa yang akan menangani pasien?
Siapa yang akan merancang bangunan agar aman?
Siapa yang akan melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi?
Siapa yang akan mempelajari hukum-hukum agama secara mendalam dan mengajarkannya kepada masyarakat?
Sebaliknya, bayangkan apabila semua orang hanya ingin menjadi sarjana dan bekerja di kantor, sementara tidak ada yang bersedia menjadi petani, peternak, pedagang, pengrajin, atau pekerja terampil.
Bagaimana kebutuhan masyarakat akan terpenuhi?
Kenyataannya, manusia membutuhkan satu sama lain.
Allah berfirman:
وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا
“Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Ayat ini menjelaskan adanya perbedaan keadaan dan kedudukan manusia dalam kehidupan dunia, sehingga mereka saling membutuhkan dalam urusan penghidupan.
Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling merendahkan.
Masyarakat membutuhkan orang yang mendalami ilmu pengetahuan, sekaligus orang yang memiliki keterampilan praktis dan kemampuan menjalankan usaha.
Bahkan, dalam urusan agama, Allah mengisyaratkan pentingnya sebagian kaum muslimin memperdalam ilmu untuk kemudian mengajarkannya kepada masyarakat.
Allah berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ
“Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali?”
(QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini secara khusus berkaitan dengan pendalaman ilmu agama. Ia memperlihatkan pentingnya adanya sekelompok orang yang memiliki keahlian untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dalam berbagai bidang kehidupan, kita pun memahami pentingnya keahlian dan pembagian tugas.
Tidak semua orang harus menjadi sarjana. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha. Namun, setiap orang hendaknya berusaha menjadi pribadi yang berilmu, terampil, bertanggung jawab, dan bermanfaat sesuai kemampuan serta keadaan masing-masing.
8. Ilmu yang Bermanfaat Bisa Lebih Panjang Umurnya daripada Kekayaan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)
Perhatikanlah bagaimana Rasulullah ﷺ menyebut ilmu yang bermanfaat sebagai salah satu sebab berlanjutnya pahala setelah seseorang meninggal dunia.
Seorang guru mungkin tidak meninggalkan kekayaan yang besar, tetapi ilmu yang diajarkannya terus dimanfaatkan oleh murid-muridnya.
Seorang penulis mungkin tidak memperoleh keuntungan materi yang banyak, tetapi tulisannya terus menjadi jalan kebaikan bagi para pembacanya.
Seorang peneliti mungkin tidak hidup dalam kemewahan, tetapi penemuannya bermanfaat bagi banyak orang.
Tentu, pahala tersebut terkait dengan ilmu dan manfaat yang baik menurut syariat serta diterima oleh Allah, bukan sekadar karena seseorang memiliki profesi akademik.
Di sinilah kita memahami bahwa nilai kehidupan seseorang tidak dapat diukur hanya dari jumlah hartanya.
Harta dapat habis. Jabatan dapat hilang. Popularitas dapat memudar.
Adapun ilmu yang benar dan bermanfaat dapat menjadi sebab kebaikan yang terus berlangsung, bahkan setelah pemiliknya meninggal dunia.
9. Jangan Salah Memahami Rezeki dan Kesuksesan
Ada orang yang berpikir:
“Kalau orang tidak sekolah saja bisa kaya, berarti sekolah tinggi tidak penting.”
Cara berpikir semacam ini berpotensi menimbulkan dua kesalahan.
Kesalahan pertama adalah meremehkan ilmu dan pendidikan.
Kesalahan kedua adalah menganggap kekayaan sebagai tanda mutlak bahwa seseorang lebih berhasil atau lebih mulia.
Padahal, besarnya rezeki bukan ukuran pasti kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Seseorang yang kaya bisa menjadi hamba yang bersyukur dan menggunakan hartanya untuk kebaikan. Sebaliknya, ia juga dapat menggunakan kekayaannya untuk kemaksiatan.
Seseorang yang berpenghasilan sederhana bisa menjadi hamba yang bertakwa, sabar, amanah, dan sangat bermanfaat bagi orang lain.
Demikian pula, pendidikan tinggi bisa digunakan sebagai sarana kebaikan, tetapi bisa juga disalahgunakan untuk kesombongan.
Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa’: 32)
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak larut dalam iri hati terhadap kelebihan orang lain, tetapi memohon karunia Allah dan menjalankan kewajibannya.
Karena itu, seorang sarjana tidak perlu merasa rendah diri ketika melihat teman masa kecilnya yang hanya lulusan SMP telah memiliki usaha besar.
Sebaliknya, seorang pengusaha yang kaya juga tidak pantas memandang rendah orang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, penelitian, atau pelayanan masyarakat dengan penghasilan sederhana.
Kekayaan bukan bukti bahwa seseorang lebih mulia. Kemiskinan juga bukan bukti bahwa seseorang lebih bertakwa.
Masing-masing diuji dengan keadaan dan nikmat yang Allah berikan kepadanya.
10. Kalau Begitu, Apakah Semua Orang Harus Kuliah?
Jawabannya: tidak.
Dalam Islam, tidak ada ketentuan bahwa setiap orang harus memiliki ijazah perguruan tinggi.
Yang wajib adalah mempelajari ilmu agama yang diperlukan untuk menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan sesuai keadaan masing-masing. Adapun pendidikan tinggi formal merupakan sarana yang nilai dan kebutuhannya bergantung pada tujuan, bidang, dan kondisi seseorang.
Ada orang yang sangat membutuhkan pendidikan perguruan tinggi karena profesi yang hendak ditekuninya memerlukan pendidikan dan pengakuan keahlian secara resmi.
Ada pula orang yang lebih cocok menempuh pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, magang, atau belajar langsung dari praktisi yang kompeten.
Sebagian orang memiliki kemampuan usaha yang dapat dikembangkan tanpa harus menempuh pendidikan universitas.
Karena itu, keputusan untuk kuliah sebaiknya mempertimbangkan beberapa pertanyaan penting:
- Apa tujuan pendidikan yang hendak ditempuh?
- Ilmu dan keterampilan apa yang ingin dikuasai?
- Apakah bidang pekerjaan yang dituju memerlukan pendidikan tinggi atau sertifikasi tertentu?
- Bagaimana mutu program studi dan peluang praktiknya?
- Apakah biaya pendidikan sebanding dengan manfaat yang secara realistis dapat diperoleh?
- Apakah tersedia jalur belajar lain yang lebih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan?
Bagi seseorang yang ingin menjadi dokter, kuliah melalui jalur pendidikan kedokteran yang diakui merupakan bagian penting dari proses memperoleh kompetensi dan izin profesi.
Bagi seseorang yang ingin mengembangkan usaha perdagangan, pendidikan formal mungkin bermanfaat, tetapi bukan satu-satunya jalan. Ia juga dapat belajar melalui pengalaman, bimbingan, kursus, dan praktik.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah:
“Apakah kuliah selalu lebih baik daripada tidak kuliah?”
Melainkan:
“Jalan pendidikan dan pengembangan kemampuan apa yang paling tepat agar saya dapat menjalankan tanggung jawab, memperoleh penghidupan yang halal, dan memberikan manfaat?”
11. Mahasiswa Jangan Hanya Mengejar Ijazah, tetapi Harus Mengejar Kompetensi
Jika kuliah tidak menjamin pekerjaan, maka mahasiswa perlu memahami bahwa tanggung jawabnya tidak berhenti pada memperoleh nilai dan menyelesaikan tugas.
Ia harus berusaha menjadi orang yang benar-benar menguasai bidangnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.”
(HR. Muslim no. 2664)
Hadis ini memberikan pedoman penting dalam kehidupan, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan.
Mahasiswa hendaknya tidak hanya bertanya kapan ia akan lulus, tetapi juga menilai apa yang benar-benar telah ia kuasai dan manfaat apa yang dapat diberikan melalui ilmunya.
Seorang mahasiswa perlu membaca lebih luas daripada materi yang diwajibkan di kelas, membangun kemampuan praktik, belajar berkomunikasi, menjaga amanah, dan mengenali persoalan nyata di masyarakat.
Jika memungkinkan, ia dapat mengikuti magang, penelitian, kegiatan sosial, atau usaha kecil yang membantu mengembangkan pengalamannya.
Sebab, dunia nyata tidak selalu bertanya berapa nilai ujian seseorang.
Sering kali, persoalan yang dihadapi justru menuntut kemampuan menjawab:
“Apa yang dapat Anda kerjakan?”
“Masalah apa yang mampu Anda selesaikan?”
“Manfaat apa yang dapat Anda berikan?”
Di sinilah ilmu, keterampilan, adab, dan pengalaman perlu berjalan bersama.
Jangan sampai seseorang menghabiskan bertahun-tahun di perguruan tinggi, tetapi tidak memiliki semangat belajar setelah menerima ijazah.
Wisuda bukan akhir perjalanan menuntut ilmu. Wisuda adalah salah satu tahap untuk memulai tanggung jawab yang lebih besar.
12. Pesan untuk Orang Tua: Jangan Memaksakan Gelar, tetapi Jangan Meremehkan Pendidikan
Orang tua tentu menginginkan masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Karena itu, pendidikan sering menjadi salah satu prioritas utama keluarga.
Namun, ada dua sikap berlebihan yang sebaiknya dihindari.
Pertama, memaksakan anak untuk kuliah hanya demi gengsi keluarga, tanpa memperhatikan kemampuan, minat, kondisi ekonomi, dan tujuan masa depannya.
Kedua, menganggap pendidikan tinggi tidak penting hanya karena melihat beberapa orang kaya yang tidak pernah kuliah.
Keduanya kurang tepat.
Orang tua hendaknya membantu anak mengenali kemampuan dan jalan pengembangan dirinya.
Anak yang memiliki minat serta kemampuan akademik sebaiknya didukung untuk memperoleh pendidikan yang baik sesuai keadaan keluarga.
Anak yang memiliki kecenderungan kuat pada keterampilan teknis atau kewirausahaan juga perlu mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan yang sesuai.
Bagaimanapun, pendidikan tidak semestinya dipahami sebatas duduk di bangku sekolah atau universitas.
Pendidikan mencakup pembentukan iman, akhlak, karakter, tanggung jawab, kecakapan berpikir, dan kemampuan menjalani kehidupan.
Karena itu, jangan sampai orang tua berhasil mengantarkan anak memperoleh gelar tinggi, tetapi mengabaikan pendidikan agama, adab, dan tanggung jawabnya.
Sebaliknya, jangan pula membiarkan anak meninggalkan proses belajar hanya karena merasa dapat mencari uang tanpa pendidikan.
Tidak kuliah bukan berarti boleh berhenti belajar.
13. Pesan untuk Sarjana yang Belum Mendapat Pekerjaan
Kepada para lulusan perguruan tinggi yang hingga kini masih mencari pekerjaan, jangan menganggap seluruh perjuangan menuntut ilmu sebagai sesuatu yang sia-sia.
Belum mendapatkan pekerjaan bukan berarti ilmu yang diperoleh tidak memiliki manfaat.
Namun, keadaan tersebut juga memerlukan evaluasi dan ikhtiar.
Periksa kembali keterampilan yang telah dimiliki. Pelajari kebutuhan dunia kerja. Tingkatkan kemampuan yang relevan. Perluas kesempatan melalui pelatihan, magang, jejaring profesional, atau usaha yang memungkinkan.
Jangan merasa bahwa gelar sarjana mengharuskan seseorang hanya menerima pekerjaan dengan jabatan tertentu.
Selama pekerjaan tersebut halal dan sesuai kemampuan, tidak ada alasan untuk merendahkannya.
Seorang sarjana yang berdagang secara jujur tidak kehilangan kemuliaannya.
Seorang sarjana yang bekerja di bidang pertanian tidak menjadi hina.
Seorang sarjana yang memulai usaha kecil tidak perlu merasa malu.
Ilmu yang diperolehnya justru dapat digunakan untuk memperbaiki cara kerja, meningkatkan kualitas usaha, mengelola keuangan, dan mengembangkan pelayanan.
Maka, jangan menjadikan ijazah sebagai penghalang untuk memulai sesuatu yang baik.
Tetaplah berusaha dan memohon pertolongan Allah.
Boleh jadi pekerjaan pertama tidak sesuai harapan, tetapi menjadi jalan memperoleh pengalaman dan membuka kesempatan berikutnya.
Yang terpenting adalah tidak menyerah, tidak berhenti belajar, dan tidak mencari penghasilan melalui jalan yang diharamkan Allah.
14. Pesan untuk Mereka yang Tidak Kuliah tetapi Telah Berhasil
Kepada mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi tetapi telah berhasil secara ekonomi, bersyukurlah atas karunia Allah.
Keberhasilan tersebut patut dihargai.
Namun, jangan sampai kekayaan membuat seseorang meremehkan ilmu atau memandang rendah orang-orang yang menempuh pendidikan panjang.
Keberhasilan dalam bisnis tidak otomatis menjadikan seseorang ahli dalam seluruh bidang pengetahuan.
Seorang pengusaha yang berhasil mengelola perdagangan mungkin memiliki pengalaman luar biasa dalam bidangnya. Namun, untuk urusan medis, ia tetap membutuhkan dokter yang kompeten.
Dalam persoalan agama, ia tetap perlu merujuk kepada ulama yang memiliki ilmu.
Dalam urusan teknik dan keselamatan, ia membutuhkan tenaga ahli sesuai bidangnya.
Karena itu, kekayaan hendaknya menjadi sarana untuk mendukung pendidikan dan menyebarkan manfaat.
Betapa baiknya apabila seorang pengusaha yang sukses membantu biaya pendidikan anak-anak yang kurang mampu, mendukung lembaga pendidikan, menyediakan beasiswa, atau membuka kesempatan kerja dan pelatihan.
Dengan begitu, keberhasilannya tidak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri, tetapi juga menjadi jalan kebaikan bagi masyarakat.
15. Ukuran Keberhasilan Seorang Muslim Tidak Berhenti pada Kekayaan dan Gelar
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kuliah dan kekayaan perlu dikembalikan kepada ukuran keberhasilan yang lebih mendasar.
Apalah arti kekayaan jika diperoleh dengan cara yang haram?
Apalah arti gelar tinggi apabila menjadikan pemiliknya sombong?
Apalah arti jabatan terhormat apabila seseorang mengabaikan kewajibannya kepada Allah?
Sebaliknya, betapa mulianya seseorang yang berilmu, bertakwa, bekerja dengan jujur, menafkahi keluarga melalui jalan halal, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Ia mungkin seorang profesor, guru, dokter, pedagang, petani, pengusaha, atau pekerja biasa.
Profesi mereka berbeda, penghasilannya tidak sama, dan jenjang pendidikannya pun berlainan.
Namun, masing-masing memiliki kesempatan untuk meraih kebaikan melalui iman, takwa, ilmu, dan amal saleh.
Kesuksesan sejati seorang muslim tidak semata-mata terletak pada berapa banyak harta yang dikumpulkan atau gelar yang diperoleh, melainkan bagaimana ia menjalani kehidupan dalam ketaatan kepada Allah dan menggunakan nikmat yang dimilikinya untuk kebaikan.
Penutup: Jadi, Kuliah untuk Apa?
Kuliah bukan untuk menjamin seseorang pasti kaya.
Kuliah juga bukan untuk menjadikan pemegang gelarnya lebih mulia daripada mereka yang tidak pernah duduk di bangku perguruan tinggi.
Kuliah merupakan salah satu sarana untuk memperoleh ilmu, membangun keahlian, melatih cara berpikir, mempersiapkan tanggung jawab, dan memperluas kemampuan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Bagi sebagian orang, jalur ini sangat penting. Bagi sebagian yang lain, pendidikan keterampilan atau pengalaman usaha mungkin lebih sesuai.
Karena itu, jangan meremehkan pendidikan hanya karena ada orang tanpa gelar yang lebih kaya.
Jangan pula meremehkan orang yang tidak kuliah hanya karena kita memiliki gelar akademik.
Sebab, seseorang bisa memiliki ijazah tinggi tetapi miskin keterampilan. Seseorang juga bisa tidak memiliki ijazah tinggi tetapi kaya pengalaman dan pengetahuan.
Lebih daripada itu, keduanya bisa menjadi orang yang baik dan bermanfaat apabila menggunakan kemampuan serta kesempatan yang Allah berikan dengan benar.
Jangan mengukur nilai ilmu dengan jumlah uang. Jangan mengukur kemuliaan manusia dengan gelarnya. Jangan pula mengukur keberhasilan hidup hanya dengan kekayaannya.
Ukurlah keberhasilan dengan iman, ketakwaan, ilmu yang bermanfaat, usaha yang halal, akhlak yang mulia, dan kebaikan yang ditinggalkan bagi sesama.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan:
“Apakah saya lebih kaya daripada orang yang tidak kuliah?”
Atau:
“Apakah saya lebih hebat daripada orang yang memiliki gelar?”
Melainkan:
“Apakah ilmu yang saya pelajari, pekerjaan yang saya jalani, dan rezeki yang Allah berikan telah saya gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan diridhai-Nya?”
Karena gelar bukanlah tujuan akhir, kekayaan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan, dan pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan.
Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan manusia berilmu, berakhlak, mampu berkarya, dan bermanfaat bagi kehidupan dunia serta akhiratnya.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Rujukan
Data statistik:
- Badan Pusat Statistik, Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Agustus 2025.
- Badan Pusat Statistik, Upah Rata-Rata Per Jam Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan, 2024.