Tarbawi

Ketika Hati Perlahan Menjauh dari Allah

Ketika Hati Perlahan Menjauh dari Allah

☷ Daftar Isi Artikel
  1. Pendahuluan

Pendahuluan

Ketika Hati Perlahan Menjauh dari Allah

(Diterjemahkan dari tulisan Dr. Khalif Al-Anzi yang berjudul Al-intikasat allati laa yaraaha ahadun)

Banyak orang yang tidak sadar hatinya perlahan menjauh dari Allah.

Secara zahir, mereka bukanlah orang yang gemar bermaksiat. Mereka tidak meninggalkan masjid, tidak berhenti berdakwah, dan tidak pula berhenti menebar kebaiakan. Bahkan, di mata orang-orang di sekitarnya, mereka mungkin masih terlihat seperti dahulu: seorang dai, pendidik, dan pegiat kebaikan.

Namun, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri mereka.

Kerinduannya terhadap Al-Qur’an mulai berkurang. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah terasa semakin berat. Doanya semakin lemah. Sebagian ibadah tidak lagi meninggalkan pengaruh yang sama di dalam hatinya. Bahkan, dosa yang dahulu membuatnya gelisah kini tak lagi begitu menyakitkan.

Inilah tanda hati yang perlahan menjauh dari Allah yang tidak terlihat oleh siapa pun. Sebab, pada tahap awal, tanda itu belum tampak pada perilaku lahiriah, melainkan bermula dari dalam hati.

Yang lebih mengkhawatirkan, seseorang bisa terus menjalankan tugas dan perannya di hadapan manusia, sementara hubungannya dengan Allah diam-diam semakin merenggang.

Mereka mungkin masih mampu berbicara tentang iman, tobat, dan perjuangan melawan hawa nafsu. Namun, mereka tidak menyadari bahwa jiwa yang selama ini mereka nasihati agar menjadi lebih baik justru membutuhkan perhatian dan evaluasi yang jujur dari diri mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19).

Melupakan Allah bukan sekadar tidak menyebut nama-Nya dengan lisan. Ada makna yang jauh lebih dalam di baliknya: ketika seseorang menjauh dari Rabb-nya, dia pun mulai kehilangan kesadaran tentang hakikat dirinya dan betapa besar kebutuhannya kepada Allah.

Menjauh dari Allah tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Terkadang, semuanya bermula dari kelalaian kecil yang terus berulang atau semangat beribadah yang menurun, tetapi dibiarkan tanpa penanganan. Sedikit demi sedikit, jarak antara seorang hamba dan Rabb-nya pun semakin melebar.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya seorang mukmin, apabila melakukan dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertobat dan memohon ampun, hatinya akan dibersihkan. Namun, jika dia menambah dosanya, titik hitam itu pun bertambah hingga menutupi hatinya.”

(HR. Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani).

Pada awalnya, titik itu belum menutupi seluruh hati. Titik itu hanya berupa satu titik kecil.

Namun, jika tidak segera disadari dan dibersihkan, titik itu akan terus bertambah.

Di sinilah letak bahayanya. Persoalannya bukan hanya terletak pada dosa yang dilakukan, tetapi juga ketika seseorang kehilangan kepekaan untuk memandang dosa sebagai sesuatu yang buruk.

Dahulu, ketika melewatkan suatu ketaatan, dia merasa ada kekurangan dalam dirinya. Namun, sekarang dia berkata, “Tidak apa-apa.”

Dahulu, ketika terjatuh dalam dosa, dia segera beristigfar. Kini, dia mulai menunda-nunda tobat.

Dahulu, dia khawatir hatinya menjadi lemah. Kini, dia menganggap kelemahan hati sebagai sesuatu yang wajar.

Dahulu, dia merasa sedih ketika jauh dari Al-Qur’an. Kini, menjauh dari Al-Qur’an justru menjadi kebiasaan.

Demikianlah, seseorang tidak selalu terjatuh secara tiba-tiba. Terkadang, dia mengalami kejatuhan itu secara bertahap.

Salah satu hal yang paling berbahaya dan membuat seseorang semakin lalai adalah merasa cukup dengan bekal masa lalunya.

Dia telah bertahun-tahun berdakwah, beribadah, menuntut ilmu, dan melayani masyarakat. Kemudian, tanpa disadari, dia mulai merasa bahwa semua pencapaian masa lalunya sudah cukup sehingga tidak lagi merasa perlu mengevaluasi keadaan dirinya saat ini.

Padahal, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini merupakan seruan agar setiap orang senantiasa mengevaluasi dirinya.

Setiap orang perlu mewaspadai tanda-tanda awal yang mungkin muncul dalam dirinya, di antaranya:

  • Merasa berat ketika hendak menyendiri untuk beribadah kepada Allah.

  • Semakin jarang berdoa dan bermunajat kepada-Nya.

  • Tidak lagi merasakan pengaruh Al-Qur’an sebagaimana sebelumnya.

  • Tidak lagi merasa begitu bersalah ketika melakukan dosa.

  • Semakin sering mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan.

  • Mulai menjauh dari lingkungan pertemanan yang saleh.

  • Menganggap menurunnya semangat beribadah sebagai sesuatu yang biasa.

Tanda-tanda tersebut bukanlah vonis pasti bahwa seseorang telah menjau dari Allah. Namun, semuanya merupakan sinyal yang layak diperhatikan dan direnungkan.

Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah Dia senantiasa membuka pintu kembali bagi hamba-Nya, betapapun lama mereka telah menjauh.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar: 53).

Jika kita merasa hubungan kita dengan Allah mulai melemah, jangan menunggu sampai benar-benar terjatuh untuk kembali kepada-Nya.

Bacalah Al-Qur’an, meskipun belum merasakan kenikmatan yang dahulu kamu rasakan.

Perpanjanglah sujud, meskipun belum menemukan kata-kata yang mampu mengungkapkan isi hatimu.

Duduklah sejenak sendiri, jauh dari keramaian manusia. Lalu, tanyakanlah dengan jujur kepada hati:

“Sejak kapan hatiku mulain menjauh dari Allah?”

Boleh jadi, pertanyaan itulah yang menjadi awal perjalananmu untuk kembali.

Sebab, hal yang  paling berbahaya dari kemunduran iman adalah ketika seseorang mulai melemah tanpa menyadarinya. Kemudian, ketika dia mulai menyadarinya, dia tidak lagi peduli. Dan ketika dia mulai peduli, dia justru tidak segera mengambil tindakan.

Adapun hati yang masih merasa sedih karena jauh dari Allah, takut ketika merasakan dirinya mulai mengeras, dan terus mencari jalan untuk kembali, maka di dalamnya masih terdapat kebaikan.

↑ Kembali ke atas

Muh Huud I Wima, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Bagikan