Akidah

SAKARATULMAUT DAN HUSNUL KHATIMAH

SAKARATULMAUT DAN HUSNUL KHATIMAH

Renungan tentang Akhir Perjalanan Kehidupan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا، وَجَعَلَ الدُّنْيَا دَارَ مَمَرٍّ وَالْآخِرَةَ دَارَ مَقَرٍّ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalannya. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju negeri akhirat. Setiap manusia, betapapun panjang usianya, tinggi kedudukannya, luas kekayaannya, dan kuat tubuhnya, pasti akan menghadapi satu kenyataan yang tidak mungkin dihindari, yaitu kematian.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat yang agung ini mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau panjangnya usia. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika seorang hamba diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Sakaratulmaut: Detik-Detik yang Menentukan

Kematian bukan sekadar berakhirnya kehidupan jasmani, melainkan awal perjalanan menuju alam akhirat. Sebelum ruh berpisah dari jasad, manusia akan menghadapi sakaratulmaut, suatu keadaan yang penuh kesulitan dan kedahsyatan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ﴾

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.” (QS. Qaf: 19)

Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia dan paling dicintai Allah, juga mengalami beratnya sakaratulmaut.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menghadapi kematian, beliau mengusap wajahnya dengan air sambil bersabda:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ»

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.”

(HR. Al-Bukhari, no. 4449)

Apabila Rasulullah ﷺ sendiri mengalami beratnya sakaratulmaut, bagaimana dengan keadaan kita yang penuh kekurangan, kelalaian, dan dosa?

Sakaratulmaut adalah saat ketika kekuatan manusia melemah, kesempatan beramal berakhir, dan segala sesuatu yang dahulu dibanggakan tidak lagi mampu memberikan pertolongan, kecuali apa yang diridai Allah.

Allah berfirman:

﴿فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ ۝ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَٰكِنْ لَا تُبْصِرُونَ﴾

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.” (QS. Al-Waqi’ah: 83–85)

Pada saat itulah manusia menyadari betapa lemahnya dirinya. Keluarga yang dicintai hanya mampu menyaksikan, harta yang dikumpulkan tidak mampu menolong, dan kekuasaan yang dimiliki tidak dapat menunda kematian.

Husnul Khatimah: Harapan Terbesar Setiap Mukmin

Di antara nikmat Allah yang paling agung adalah ketika seorang hamba diberi taufik untuk mengakhiri kehidupannya dalam keadaan beriman, bertauhid, dan taat kepada-Nya. Inilah yang dikenal dengan istilah husnul khatimah, yaitu akhir kehidupan yang baik.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ayat ini mengandung perintah agar seorang muslim senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaannya sepanjang hidup, sehingga ketika kematian datang, ia berada dalam keadaan berserah diri kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ»

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.”

(HR. Al-Bukhari, no. 6607)

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Seseorang tidak boleh merasa aman hanya karena banyaknya amal yang telah dilakukan. Demikian pula, orang yang pernah terjerumus dalam dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah selama pintu tobat masih terbuka.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah La ilaha illallah, niscaya dia masuk surga.”

(HR. Abu Dawud, no. 3116; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis)

Namun, husnul khatimah bukan sekadar mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan. Ia berkaitan erat dengan keimanan yang benar, keikhlasan, dan keteguhan seorang hamba dalam menjalankan agama Allah hingga akhir kehidupannya.

Di antara tanda kebaikan yang diharapkan bagi seorang mukmin adalah ketika Allah memberinya taufik untuk melakukan amal saleh menjelang wafat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ»

Para sahabat bertanya:

«كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟»

Beliau menjawab:

«يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ»

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan memanfaatkannya (untuk beramal).”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memanfaatkannya?”

Beliau menjawab, “Allah memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematiannya.”

(HR. At-Tirmidzi, no. 2142; hadis hasan sahih menurut at-Tirmidzi)

Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan iman dan akhir kehidupan yang baik.

Ketakutan Para Salaf terhadap Su’ul Khatimah

Apabila kita membaca perjalanan hidup para sahabat, tabiin, dan ulama salaf, kita akan menemukan sesuatu yang sangat mengagumkan. Mereka adalah manusia yang dikenal dengan keimanan, ketakwaan, ilmu, ibadah, dan pengorbanan yang besar. Namun, ketika kematian mendekat, banyak di antara mereka justru menangis, merasa takut, dan mengkhawatirkan keadaan dirinya di hadapan Allah.

Tangisan mereka bukan semata-mata karena harus meninggalkan dunia, melainkan karena menyadari betapa dahsyatnya perjalanan menuju akhirat dan betapa besarnya tanggung jawab seorang hamba di hadapan Rabbnya.

Ada yang menangis karena merasa bekal amalnya masih sedikit. Ada yang mengkhawatirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Ada yang menyesali waktu yang telah berlalu. Ada pula yang berharap dapat berjumpa dengan Allah dalam keadaan mendapatkan ampunan dan keridaan-Nya.

Keadaan mereka merupakan cerminan perpaduan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا﴾

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah. Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)

Meskipun takut terhadap dosa dan kekurangan amal, seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, terlebih ketika kematian semakin dekat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.”

(HR. Muslim, no. 2877)

Dengan demikian, rasa takut terhadap dosa hendaknya mendorong seseorang untuk bertobat, sedangkan harapan terhadap rahmat Allah hendaknya menumbuhkan ketenangan dan keyakinan terhadap kemurahan-Nya.

Mempersiapkan Bekal Sebelum Kematian Datang

Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kekayaan, ataupun keadaan. Tidak seorang pun mengetahui kapan dan di mana ajalnya akan tiba.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Luqman: 34)

Oleh karena itu, persiapan menghadapi kematian tidak boleh ditunda hingga usia tua atau ketika sakit telah datang.

Persiapan tersebut dilakukan dengan menjaga tauhid, melaksanakan kewajiban, memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, segera bertobat, mengembalikan hak-hak manusia, dan senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah.

Di antara doa yang sering dipanjatkan Rasulullah ﷺ adalah:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

(HR. At-Tirmidzi, no. 2140; dinilai hasan oleh at-Tirmidzi)

Doa ini mengajarkan bahwa keteguhan iman bukan semata-mata hasil kemampuan manusia, melainkan karunia dan taufik Allah yang harus terus dimohonkan.

Mengambil Pelajaran dari Perkataan Para Salaf Menjelang Wafat

Kumpulan perkataan para sahabat, tabiin, dan ulama menjelang wafat yang disajikan dalam tulisan ini merupakan bahan renungan yang sangat berharga.

Melalui perkataan-perkataan tersebut, kita dapat menyaksikan bagaimana orang-orang saleh memandang kehidupan dunia, menghadapi sakaratulmaut, mengkhawatirkan hisab, dan mengharapkan rahmat Allah.

Namun, kisah-kisah itu hendaknya dibaca dengan memperhatikan kesahihan riwayatnya. Sebab, tidak semua perkataan yang dinisbatkan kepada para salaf memiliki tingkat ketetapan yang sama. Riwayat yang sahih dapat dijadikan pelajaran sesuai kandungannya, sedangkan riwayat yang belum jelas perlu diteliti dan tidak boleh dipastikan penisbatannya tanpa dasar yang memadai.

Tujuan utama membaca kisah-kisah ini bukan sekadar mengetahui bagaimana orang-orang terdahulu menghadapi kematian, melainkan untuk mengoreksi diri sendiri.

Jika para sahabat dan ulama yang dikenal dengan kesalehan mereka masih mengkhawatirkan akhir kehidupannya, maka bagaimana dengan kita yang begitu banyak melakukan kelalaian dan memiliki sedikit bekal amal?

Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian?

Sudahkah kita bertobat dari dosa-dosa yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi?

Sudahkah kita menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia?

Dan sudahkah kita memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan beriman dan memperoleh husnul khatimah?

Semoga kisah-kisah yang dihimpun dalam tulisan ini menjadi pengingat bagi hati yang lalai, pendorong untuk memperbaiki amal, dan sebab bertambahnya rasa takut serta harapan kepada Allah.

MUTIARA NASIHAT PARA NABI, SAHABAT, SALAF, DAN ULAMA MENJELANG WAFAT

Kumpulan ini memuat nasihat, ungkapan ketakutan kepada Allah, harapan terhadap rahmat-Nya, dan pesan terakhir sejumlah tokoh Islam menjelang wafat.

1\. Rasulullah Muhammad ﷺ

Wafat: 11 H

Ketika sakit beliau semakin berat, Rasulullah ﷺ tetap memberikan perhatian besar terhadap salat dan hak orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kaum muslimin.

Beliau berpesan:

> الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ.

“Jagalah salat, jagalah salat, dan perhatikanlah orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kalian.”

Ketika menghadapi sakaratulmaut, beliau mengusap wajah dengan air sambil bersabda:

> لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ.

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.”

Di antara ucapan terakhir beliau:

> اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى.

“Ya Allah, bersama teman yang tertinggi.”

Beliau wafat pada hari Senin, bulan Rabiulawal tahun 11 H. Tanggal 12 Rabiulawal merupakan pendapat yang masyhur, tetapi terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya.

2\. Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه

Wafat: 13 H

Menjelang wafat, Abu Bakar membaca firman Allah:

> وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ.

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.” (QS. Qaf: 19)

Beliau kemudian berpesan kepada Aisyah:

> انْظُرُوا ثَوْبَيَّ هَذَيْنِ، فَاغْسِلُوهُمَا وَكَفِّنُونِي فِيهِمَا، فَإِنَّ الْحَيَّ أَوْلَى بِالْجَدِيدِ مِنَ الْمَيِّتِ.

“Lihatlah kedua pakaianku ini. Cucilah keduanya dan jadikanlah sebagai kafanku. Sesungguhnya orang yang masih hidup lebih berhak menggunakan pakaian baru daripada orang yang telah meninggal.”

Beliau juga berwasiat kepada Umar bin Khattab:

> إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقًّا بِاللَّيْلِ لَا يَقْبَلُهُ بِالنَّهَارِ، وَإِنَّ لِلَّهِ حَقًّا بِالنَّهَارِ لَا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ، وَإِنَّهُ لَا يَقْبَلُ النَّافِلَةَ حَتَّى تُؤَدَّى الْفَرِيضَةُ.

“Sesungguhnya Allah memiliki hak yang harus ditunaikan pada malam hari dan tidak diterima jika ditunaikan pada siang hari. Allah juga memiliki hak yang harus ditunaikan pada siang hari dan tidak diterima jika ditunaikan pada malam hari. Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan sunah sampai kewajiban ditunaikan.”

Beliau melanjutkan bahwa timbangan amal seseorang menjadi berat karena mengikuti kebenaran di dunia, sekalipun kebenaran itu terasa berat. Sebaliknya, timbangan menjadi ringan karena mengikuti kebatilan yang terasa mudah.

3\. Sa’ad bin ar-Rabi’ رضي الله عنه

Wafat: 3 H

Ditempatkan di sini sebagai pengecualian kronologis: beliau wafat sebelum Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar.

Ketika Perang Uhud berakhir, Rasulullah ﷺ mengutus seseorang untuk mencari Sa’ad bin ar-Rabi’.

Sahabat tersebut menemukannya dalam keadaan terluka parah. Sa’ad kemudian berkata:

> أَقْرِئْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنِّي السَّلَامَ، وَأَخْبِرْهُ أَنِّي مَيِّتٌ، وَأَنِّي قَدْ طُعِنْتُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ طَعْنَةً.

“Sampaikan salamku kepada Rasulullah ﷺ. Beritahukan kepada beliau bahwa aku akan meninggal dan telah terkena dua belas tusukan.”

Beliau juga berpesan:

> يَا قَوْمِ، لَا عُذْرَ لَكُمْ إِنْ خَلَصَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيكُمْ عَيْنٌ تَطْرِفُ.

“Wahai kaumku, tidak ada alasan bagi kalian apabila Rasulullah ﷺ sampai disakiti musuh sementara di antara kalian masih ada mata yang berkedip.”

4\. Umar bin al-Khattab رضي الله عنه

Wafat: 23 H

Ketika Umar ditikam, Abdullah bin Abbas memuji perjuangan dan keutamaannya.

Umar justru menjawab:

> الْمَغْرُورُ مَنْ غَرَرْتُمُوهُ، وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ لِي مَا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ أَوْ غَرَبَتْ لَافْتَدَيْتُ بِهِ مِنْ هَوْلِ الْمُطَّلَعِ.

“Orang yang tertipu adalah orang yang kalian buat merasa aman dengan pujian. Demi Allah, seandainya aku memiliki seluruh kekayaan yang disinari matahari sejak terbit hingga terbenam, niscaya aku akan menjadikannya tebusan dari kedahsyatan keadaan yang akan kuhadapi.”

Ketika kepalanya berada di pangkuan Abdullah bin Umar, beliau meminta agar kepalanya diletakkan di tanah.

Kemudian beliau berkata:

> وَيْلِي وَوَيْلَ أُمِّي إِنْ لَمْ يَرْحَمْنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ.

“Celakalah aku dan ibuku apabila Rabbku Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung tidak merahmatiku.”

5\. Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه

Wafat: 18 H

Ketika menjelang wafat, Mu’adz bermunajat:

> يَا رَبِّ، إِنَّنِي كُنْتُ أَخَافُكَ، وَأَنَا الْيَوْمَ أَرْجُوكَ.

“Wahai Rabbku, dahulu aku takut kepada-Mu, dan hari ini aku berharap kepada-Mu.”

Beliau melanjutkan:

> اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي مَا كُنْتُ أُحِبُّ الدُّنْيَا لِجَرْيِ الْأَنْهَارِ، وَلَا لِغَرْسِ الْأَشْجَارِ، وَلَكِنْ لِظَمَإِ الْهَوَاجِرِ، وَمُكَابَدَةِ السَّاعَاتِ، وَمُزَاحَمَةِ الْعُلَمَاءِ بِالرُّكَبِ عِنْدَ حِلَقِ الْعِلْمِ.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak mencintai dunia karena sungai-sungainya yang mengalir ataupun pepohonannya yang tumbuh. Akan tetapi, aku mencintai kehidupan dunia karena kesempatan merasakan dahaga ketika berpuasa pada hari-hari yang panas, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan duduk berdesakan dengan para ulama dalam majelis ilmu.”

Dalam riwayat lain, beliau menangis dan berkata:

> مَا أَبْكِي جَزَعًا مِنَ الْمَوْتِ إِنْ حَلَّ بِي، وَلَا دُنْيَا تَرَكْتُهَا بَعْدِي، وَلَكِنْ إِنَّمَا هُمَا الْقَبْضَتَانِ: قَبْضَةٌ فِي النَّارِ، وَقَبْضَةٌ فِي الْجَنَّةِ، فَلَا أَدْرِي فِي أَيِّ الْقَبْضَتَيْنِ أَنَا.

“Aku menangis bukan karena takut menghadapi kematian ataupun karena dunia yang kutinggalkan. Akan tetapi, ada dua golongan: golongan penghuni neraka dan golongan penghuni surga. Aku tidak mengetahui termasuk golongan manakah diriku.”

Sumber yang disebutkan: Syu’ab al-Iman, 1/502.

6\. Abu Sufyan al-Anshari رضي الله عنه

Tahun wafat: Wafat di perang uhud atau Khaibar

Menjelang wafat, beliau berkata:

> لَا تَبْكُوا عَلَيَّ، فَإِنِّي لَمْ أَتَدَنَّسْ بِخَطِيئَةٍ مُنْذُ أَسْلَمْتُ.

“Janganlah kalian menangisiku, karena sejak memeluk Islam aku tidak mengotori diriku dengan dosa.”

Sumber yang disebutkan: Usud al-Ghabah, 1/118.

7\. Abu Dzar al-Ghifari رضي الله عنه

Wafat: 32 H

Ketika Abu Dzar menghadapi kematian di tempat yang jauh dari permukiman, istrinya menangis karena tidak memiliki kain yang cukup untuk mengafaninya.

Beliau berkata:

> لَا تَبْكِي وَأَبْشِرِي.

“Jangan menangis dan bergembiralah.”

Kemudian beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengabarkan bahwa salah seorang dari sekelompok sahabat akan meninggal di tempat terpencil dan disaksikan oleh sekelompok orang beriman.

> وَأَنَا الَّذِي أَمُوتُ بِفَلَاةٍ، وَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ وَلَا كُذِبْتُ، فَانْظُرِي الطَّرِيقَ.

“Akulah orang yang akan meninggal di tempat terpencil ini. Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak pula didustakan. Karena itu, lihatlah ke arah jalan.”

Tidak lama kemudian, datanglah rombongan kaum muslimin yang mengurus jenazahnya.

Beliau berpesan agar tidak dikafani oleh orang yang pernah menjabat sebagai pemimpin, pengawas, atau petugas pemerintahan. Akhirnya seorang pemuda Anshar mengafaninya.

8\. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه

Wafat: 32 H

Menjelang wafat, beliau memanggil putranya, Abdurrahman, dan berpesan:

> يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، إِنِّي أُوصِيكَ بِخَمْسِ خِصَالٍ، فَاحْفَظْهُنَّ عَنِّي.

“Wahai Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku berwasiat kepadamu dengan lima perkara. Jagalah baik-baik pesanku ini.”

Beliau melanjutkan:

> أَظْهِرِ الْيَأْسَ لِلنَّاسِ، فَإِنَّ ذَلِكَ غِنًى فَاضِلٌ.

“Jangan menggantungkan harapan kepada manusia, karena hal itu merupakan kekayaan jiwa yang utama.”

> وَدَعْ مَطْلَبَ الْحَاجَاتِ إِلَى النَّاسِ، فَإِنَّ ذَلِكَ فَقْرٌ حَاضِرٌ.

“Tinggalkan kebiasaan meminta-minta kebutuhan kepada manusia, karena hal itu merupakan kemiskinan yang nyata.”

> وَدَعْ مَا تَعْتَذِرُ مِنْهُ مِنَ الْأُمُورِ، وَلَا تَعْمَلْ بِهِ.

“Tinggalkan segala perbuatan yang kelak membuatmu harus meminta maaf.”

> وَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَلَّا يَأْتِيَ عَلَيْكَ يَوْمٌ إِلَّا وَأَنْتَ خَيْرٌ مِنْكَ بِالْأَمْسِ، فَافْعَلْ.

“Jika engkau mampu menjadikan dirimu setiap hari lebih baik daripada hari sebelumnya, lakukanlah.”

> وَإِذَا صَلَّيْتَ صَلَاةً فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، كَأَنَّكَ لَا تُصَلِّي بَعْدَهَا.

“Apabila engkau melaksanakan salat, salatlah seperti orang yang sedang berpamitan, seakan-akan engkau tidak akan melaksanakan salat lagi setelahnya.”

9\. Utsman bin Affan رضي الله عنه

Wafat: 35 H

Ketika diserang dan darah mengalir di janggutnya, beliau berdoa:

> لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Kemudian beliau berkata:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَعْدِيكَ وَأَسْتَعِينُكَ عَلَى جَمِيعِ أُمُورِي، وَأَسْأَلُكَ الصَّبْرَ عَلَى بَلِيَّتِي.

“Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu dalam menghadapi orang-orang yang menzalimiku. Aku memohon bantuan-Mu dalam seluruh urusanku dan memohon kesabaran dalam menghadapi musibahku.”

Dalam naskah disebutkan bahwa setelah beliau wafat ditemukan sebuah wasiat yang berisi kesaksian tauhid:

> عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ.

“Utsman bin Affan bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Surga itu benar adanya, dan Allah akan membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur pada hari yang tidak diragukan kedatangannya.”

10\. Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه

Wafat: 36 H

Dalam riwayat pertama, ketika menjelang wafat beliau menangis hebat.

Ketika ditanya penyebab tangisannya, beliau menjawab:

> مَا أَبْكِي أَسَفًا عَلَى الدُّنْيَا، بَلِ الْمَوْتُ أَحَبُّ إِلَيَّ، وَلَكِنِّي لَا أَدْرِي عَلَى مَا أَقْدَمُ، عَلَى رِضًى أَمْ عَلَى سَخَطٍ.

“Aku tidak menangis karena bersedih meninggalkan dunia. Bahkan kematian lebih aku sukai. Akan tetapi, aku tidak mengetahui keadaan yang akan kuhadapi: apakah keridaan Allah atau kemurkaan-Nya.”

Dalam riwayat lain, beliau berkata:

> مَرْحَبًا بِالْمَوْتِ، حَبِيبٌ جَاءَ عَلَى شَوْقٍ، لَا أَفْلَحَ مَنْ نَدِمَ.

“Selamat datang wahai kematian, kekasih yang datang setelah lama dirindukan. Tidak akan beruntung orang yang menyesal.”

Beliau juga pernah berkata:

> رُبَّ يَوْمٍ لَوْ أَتَانِي الْمَوْتُ لَمْ أَشُكَّ، فَأَمَّا الْيَوْمَ فَقَدْ خَالَطْتُ أَشْيَاءَ لَا أَدْرِي عَلَى مَا أَنَا فِيهَا.

“Betapa banyak hari yang seandainya kematian mendatangiku ketika itu, aku tidak akan ragu. Adapun hari ini, aku telah terlibat dalam berbagai urusan yang aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku dalam urusan tersebut.”

Sumber: Hilyat al-Auliya’, 1/27.

Riwayat lain menyebutkan beliau meminta dua kain putih untuk kafannya:

> اشْتَرُوا لِي ثَوْبَيْنِ أَبْيَضَيْنِ، فَإِنَّهُمَا لَنْ يُتْرَكَا عَلَيَّ إِلَّا قَلِيلًا، حَتَّى أُبْدَلَ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا، أَوْ أُسْلَبَهُمَا سَلْبًا قَبِيحًا.

“Belikanlah untukku dua helai kain putih. Keduanya tidak akan lama melekat pada tubuhku, hingga aku diberi pengganti yang lebih baik atau keduanya dicabut dariku dengan cara yang buruk.”

Sumber: Siyar A’lam an-Nubala’, 2/368.

11\. Salman al-Farisi رضي الله عنه

Wafat: Diperselisihkan, sekitar 33–36 H

Ketika Salman menjelang wafat, beliau menangis.

Ketika ditanya penyebabnya, beliau berkata:

> عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكُونَ زَادُ أَحَدِنَا كَزَادِ الرَّاكِبِ، وَحَوْلِي هَذِهِ الْأَزْوَادُ.

“Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada kami agar bekal dunia salah seorang dari kami cukup seperti bekal seorang musafir. Namun, di sekelilingku terdapat barang-barang ini.”

Padahal, barang yang berada di sekelilingnya hanya beberapa peralatan sederhana, seperti wadah air, mangkuk makanan, dan tempat bersuci.

12\. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

Wafat: 40 H

Setelah ditikam, Ali bertanya:

> مَا فَعَلَ بِضَارِبِي؟

“Apa yang telah kalian lakukan terhadap orang yang menikamku?”

Mereka menjawab bahwa pelakunya telah ditangkap.

Beliau berkata:

> أَطْعِمُوهُ مِنْ طَعَامِي، وَاسْقُوهُ مِنْ شَرَابِي، فَإِنْ أَنَا عِشْتُ رَأَيْتُ فِيهِ رَأْيِي، وَإِنْ أَنَا مِتُّ فَاضْرِبُوهُ ضَرْبَةً وَاحِدَةً، لَا تَزِيدُوهُ عَلَيْهَا.

“Berilah dia makanan dari makananku dan minuman dari minumanku. Jika aku masih hidup, aku akan mempertimbangkan urusannya. Namun, jika aku meninggal, pukullah dia dengan satu pukulan saja dan jangan menambahnya.”

Beliau juga berwasiat:

> لَا تُغَالُوا فِي الْكَفَنِ، فَإِنَّهُ يُسْلَبُ سَلْبًا سَرِيعًا.

“Jangan berlebihan dalam menyediakan kain kafan, karena kain itu akan segera rusak dan terlepas.”

Mengenai pengantaran jenazah, beliau berpesan:

> امْشُوا بِي بَيْنَ الْمِشْيَتَيْنِ، لَا تُسْرِعُوا بِي وَلَا تُبْطِئُوا، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا عَجَّلْتُمُونِي إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ شَرًّا أَلْقَيْتُمُونِي عَنْ أَكْتَافِكُمْ.

“Bawalah jenazahku dengan kecepatan sedang. Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Jika yang menantiku adalah kebaikan, berarti kalian mempercepatku menuju kepadanya. Jika yang menantiku adalah keburukan, berarti kalian segera melepaskan beban itu dari pundak kalian.”

13\. Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه

Wafat: Diperselisihkan, sekitar 42–44 H

Menjelang wafat, Abu Musa meminta keluarganya menggali kubur yang dalam.

Beliau berkata:

> فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَإِحْدَى الْمَنْزِلَتَيْنِ.

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya keadaan di dalam kubur hanya akan menjadi salah satu dari dua tempat kedudukan.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa jika termasuk orang yang mendapatkan rahmat Allah, kuburnya akan dilapangkan dan dibukakan pintu menuju surga.

Sebaliknya, jika termasuk orang yang mendapat azab, kuburnya akan disempitkan dan diperlihatkan tempatnya di neraka.

> إِمَّا لَيُوَسَّعَنَّ قَبْرِي … وَلَيُفْتَحَنَّ لِي بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ.

“Entah kuburku akan dilapangkan dan dibukakan untukku salah satu pintu surga.”

> وَإِنْ كَانَتِ الْأُخْرَى لَيُضَيَّقَنَّ عَلَيَّ قَبْرِي … وَلَيُفْتَحَنَّ لِي بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ.

“Namun, jika yang terjadi adalah keadaan sebaliknya, kuburku akan disempitkan dan dibukakan untukku salah satu pintu neraka Jahanam.”

14\. Amr bin al-Ash رضي الله عنه

Wafat: 43 H

Ketika menghadapi kematian, Amr bin al-Ash menangis lama sambil menghadapkan wajahnya ke dinding.

Putranya bertanya mengapa beliau menangis, padahal Rasulullah ﷺ pernah memberikan kabar gembira kepadanya.

Beliau kemudian berkata:

> إِنَّ أَفْضَلَ مَا نُعِدُّ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

“Sesungguhnya bekal terbaik yang kami persiapkan adalah kesaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Beliau menjelaskan bahwa kehidupannya melewati tiga keadaan.

Pertama, ketika masih membenci Rasulullah ﷺ sebelum memeluk Islam.

Kedua, ketika Allah memberikan hidayah Islam sehingga Rasulullah ﷺ menjadi manusia yang paling dicintainya.

Ketiga, ketika beliau memegang berbagai jabatan dan tanggung jawab yang membuatnya khawatir terhadap nasibnya di akhirat.

Beliau berkata:

> ثُمَّ وَلِينَا أَشْيَاءَ مَا أَدْرِي مَا حَالِي فِيهَا.

“Kemudian kami mengemban berbagai urusan, dan aku tidak mengetahui bagaimana keadaanku terkait semua itu.”

Beliau kemudian berwasiat:

> فَإِذَا أَنَا مِتُّ فَلَا تَصْحَبْنِي نَائِحَةٌ وَلَا نَارٌ.

“Apabila aku meninggal, janganlah ada perempuan yang meratap ataupun api yang menyertai jenazahku.”

Beliau juga meminta keluarganya tetap berada di sekitar kuburnya beberapa saat setelah pemakaman.

Riwayat ini terdapat dalam Shahih Muslim, dalam hadis tentang perjalanan hidup dan wafat Amr bin al-Ash.

15\. Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه

Wafat: 34 H

Menjelang wafat, Ubadah meminta agar tempat tidurnya dipindahkan ke halaman rumah dan memanggil keluarga, para pelayan, tetangga, serta orang-orang yang biasa mengunjunginya.

Beliau berkata:

> إِنَّ يَوْمِي هَذَا لَا أَرَاهُ إِلَّا آخِرَ يَوْمٍ يَأْتِي عَلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا، وَأَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنَ الْآخِرَةِ.

“Menurutku, hari ini merupakan hari terakhir kehidupanku di dunia dan malam pertama kehidupanku di akhirat.”

Beliau kemudian meminta agar siapa pun yang pernah disakitinya, baik melalui perkataan maupun perbuatan, menuntut haknya sebelum beliau meninggal.

> فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلَّهُ قَدْ فَرَطَ مِنِّي إِلَيْكُمْ بِيَدِي أَوْ بِلِسَانِي شَيْءٌ.

“Sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali pernah terjadi kesalahan dariku terhadap kalian, baik melalui tangan maupun lisanku.”

Ketika mereka memaafkannya, beliau berkata:

> اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Ya Allah, saksikanlah.”

Beliau kemudian berpesan agar mereka memperbanyak salat dan istigfar, serta tidak meratap ketika beliau meninggal.

16\. Bilal bin Rabah رضي الله عنه

Wafat: Sekitar 20 H

Ketika Bilal menghadapi sakaratulmaut, istrinya berkata:

> وَاحَزَنَاهُ!

“Betapa sedihnya!”

Bilal menyingkap kain dari wajahnya dan berkata:

> لَا تَقُولِي وَاحَزَنَاهُ، وَقُولِي وَافَرَحَاهُ.

“Jangan katakan, ‘Betapa sedihnya!’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Betapa bahagianya!'”

Kemudian beliau berkata:

> غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّةَ، مُحَمَّدًا وَصَحْبَهُ.

“Esok kita akan berjumpa dengan orang-orang yang kita cintai, Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.”

17\. Abu Hurairah رضي الله عنه

Wafat: 57 H, menurut pendapat yang masyhur

Ketika menjelang wafat, Abu Hurairah menangis.

Seseorang bertanya:

> مَا يُبْكِيكَ؟

“Apa yang membuatmu menangis?”

Beliau menjawab:

> بُعْدُ الْمَفَازَةِ، وَقِلَّةُ الزَّادِ، وَعَقَبَةٌ كَؤُودٌ، الْمَهْبِطُ مِنْهَا إِلَى الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ.

“Perjalanan yang sangat jauh, bekal yang sedikit, dan tanjakan yang amat sulit. Setelah melewatinya, tempat turun hanyalah menuju surga atau neraka.”

Sumber: Shifat ash-Shafwah, 1/694.

Betapa besar rasa takut para sahabat terhadap perjalanan akhirat, meskipun mereka telah memiliki begitu banyak amal saleh.

18\. Al-Hasan bin Ali رضي الله عنهما

Wafat: 49 atau 50 H

Ketika menjelang wafat, al-Hasan bin Ali meminta agar tempat tidurnya dipindahkan ke halaman rumah.

Kemudian beliau berdoa:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَحْتَسِبُ نَفْسِي عِنْدَكَ، فَإِنِّي لَمْ أُصَبْ بِمِثْلِهَا.

“Ya Allah, aku menyerahkan dan mengharapkan pahala dari-Mu atas musibah yang menimpa diriku ini. Sesungguhnya aku belum pernah mengalami musibah sebesar ini.”

19\. Abu Darda’ رضي الله عنه

Wafat: 32 H

Ketika kematian mendekatinya, Abu Darda’ berkata:

> أَلَا رَجُلٌ يَعْمَلُ لِمِثْلِ مَصْرَعِي هَذَا؟

“Adakah seseorang yang mau beramal untuk menghadapi keadaan seperti yang sedang kuhadapi ini?”

> أَلَا رَجُلٌ يَعْمَلُ لِمِثْلِ يَوْمِي هَذَا؟

“Adakah seseorang yang mau beramal untuk menghadapi hari seperti hariku ini?”

> أَلَا رَجُلٌ يَعْمَلُ لِمِثْلِ سَاعَتِي هَذِهِ؟

“Adakah seseorang yang mau beramal untuk menghadapi saat seperti yang sedang kuhadapi ini?”

Kemudian beliau wafat.

20\. Muawiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه

Wafat: 60 H

Ketika menjelang wafat, Muawiyah meminta orang-orang di sekitarnya mendudukkannya.

Beliau kemudian berzikir dan menangis sambil berkata:

> الْآنَ يَا مُعَاوِيَةُ جِئْتَ تَذْكُرُ رَبَّكَ بَعْدَ الِانْحِطَامِ وَالِانْهِدَامِ، أَمَا كَانَ هَذَا وَغَضُّ الشَّبَابِ نَضِيرٌ رَيَّانُ؟

“Sekarang, wahai Muawiyah, engkau baru mengingat Rabbmu setelah tubuhmu melemah dan kekuatanmu runtuh. Mengapa engkau tidak melakukannya ketika masa mudamu masih segar dan penuh kekuatan?”

Beliau kemudian berdoa:

> يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، ارْحَمِ الشَّيْخَ الْعَاصِيَ ذَا الْقَلْبِ الْقَاسِي.

“Wahai Rabbku, wahai Rabbku, rahmatilah orang tua yang banyak berbuat dosa dan memiliki hati yang keras ini.”

> اللَّهُمَّ أَقِلِ الْعَثْرَةَ، وَاغْفِرِ الزَّلَّةَ، وَجُدْ بِحِلْمِكَ عَلَى مَنْ لَمْ يَرْجُ غَيْرَكَ، وَلَا وَثِقَ بِأَحَدٍ سِوَاكَ.

“Ya Allah, ampunilah ketergelinciranku, maafkanlah kesalahanku, dan limpahkanlah kemurahan serta kelembutan-Mu kepada orang yang tidak berharap kepada siapa pun selain Engkau dan tidak menggantungkan kepercayaan kepada siapa pun selain-Mu.”

21\. Abdullah bin Umar رضي الله عنهما

Wafat: 73 H

Menjelang wafat, Abdullah bin Umar berkata:

> مَا آسَى مِنَ الدُّنْيَا عَلَى شَيْءٍ إِلَّا عَلَى ثَلَاثٍ: ظَمَإِ الْهَوَاجِرِ، وَمُكَابَدَةِ اللَّيْلِ، وَمُرَاوَحَةِ الْأَقْدَامِ بِالْقِيَامِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Tidak ada sesuatu pun dari dunia yang kusesali karena harus kutinggalkan, kecuali tiga perkara: dahaga ketika berpuasa pada siang hari yang panas, perjuangan beribadah pada malam hari, dan berdiri dalam salat malam karena Allah.”

Dalam kutipan tersebut beliau juga menyebut penyesalan karena tidak ikut memerangi kelompok yang dianggapnya memberontak. Penafsiran bahwa yang dimaksud adalah al-Hajjaj dan pengikutnya masih memerlukan penelitian.

22\. Abdullah bin Ali رحمه الله

Tahun wafat: Belum dapat dipastikan

Ketika Abdullah bin Ali menjelang wafat, beliau menangis.

Ketika ditanya penyebabnya, beliau berkata:

> أَبْكِي لِتَفْرِيطِي فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ، وَقِلَّةِ عَمَلِي لِلْجَنَّةِ الْعَالِيَةِ، وَمَا يُنْجِينِي مِنَ النَّارِ الْحَامِيَةِ.

“Aku menangisi kelalaianku pada hari-hari yang telah berlalu, sedikitnya amalku untuk meraih surga yang tinggi, dan kurangnya bekal yang dapat menyelamatkanku dari neraka yang menyala-nyala.”

Sumber: Al-‘Aqibah, hlm. 131.

23\. Al-Aswad bin Yazid an-Nakha’i رحمه الله

Wafat: 75 H

Ketika menjelang wafat, al-Aswad menangis.

Seseorang bertanya mengapa beliau begitu gelisah.

Beliau menjawab:

> مَا لِي لَا أَجْزَعُ، وَمَنْ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنِّي؟ وَاللَّهِ لَوْ أُتِيتُ بِالْمَغْفِرَةِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَأَهَمَّنِي الْحَيَاءُ مِنْهُ مِمَّا قَدْ صَنَعْتُهُ.

“Bagaimana mungkin aku tidak merasa takut? Siapa yang lebih pantas merasa takut daripada diriku? Demi Allah, seandainya aku telah mendapatkan ampunan Allah, aku tetap akan merasa malu kepada-Nya atas segala perbuatanku.”

Beliau melanjutkan:

> إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الرَّجُلِ الذَّنْبُ الصَّغِيرُ، فَيَعْفُو عَنْهُ، فَلَا يَزَالُ مُسْتَحْيِيًا مِنْهُ.

“Seseorang terkadang melakukan kesalahan kecil terhadap orang lain, lalu orang itu memaafkannya. Namun, dia tetap merasa malu setiap kali bertemu dengannya.”

Sumber: Hilyat al-Auliya’, 2/103.

24\. Abdul Malik bin Marwan رحمه الله

Wafat: 86 H

Ketika merasakan kematian semakin dekat, Abdul Malik bin Marwan meminta agar dirinya dibawa ke tempat yang lebih tinggi untuk menghirup udara.

Beliau berkata:

> يَا دُنْيَا، مَا أَطْيَبَكِ! إِنَّ طَوِيلَكِ لَقَصِيرٌ، وَإِنَّ كَثِيرَكِ لَحَقِيرٌ، وَإِنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُورٍ.

“Wahai dunia, betapa nikmatnya engkau! Namun, masa panjangmu ternyata sangat singkat, kekayaanmu yang banyak ternyata sangat hina, dan sungguh dahulu kami benar-benar tertipu olehmu.”

25\. Muhammad bin Sirin رحمه الله

Wafat: 110 H

Diriwayatkan bahwa ketika Muhammad bin Sirin menghadapi kematian, beliau menangis.

Ketika ditanya penyebabnya, beliau menjawab:

> أَبْكِي لِتَفْرِيطِي فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ، وَقِلَّةِ عَمَلِي لِلْجَنَّةِ الْعَالِيَةِ، وَمَا يُنْجِينِي مِنَ النَّارِ الْحَامِيَةِ.

“Aku menangisi kelalaianku pada hari-hari yang telah berlalu, sedikitnya amalanku untuk mendapatkan surga yang tinggi, dan kurangnya bekal yang dapat menyelamatkanku dari neraka yang menyala-nyala.”

26\. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله

Wafat: 101 H

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjelang wafat, beliau berkata kepada anak-anaknya:

> يَا بَنِيَّ، إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ لَكُمْ خَيْرًا كَثِيرًا، لَا تَمُرُّونَ بِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَهْلِ ذِمَّتِهِمْ إِلَّا رَأَوْا لَكُمْ حَقًّا.

“Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku telah meninggalkan banyak kebaikan untuk kalian. Kalian tidak akan melewati seorang muslim ataupun orang yang berada dalam perlindungan kaum muslimin melainkan mereka akan mengakui hak dan kehormatan kalian.”

Beliau melanjutkan:

> يَا بَنِيَّ، إِنِّي قَدْ خُيِّرْتُ بَيْنَ أَمْرَيْنِ: إِمَّا أَنْ تَسْتَغْنُوا وَأَدْخُلَ النَّارَ، أَوْ تَفْتَقِرُوا وَأَدْخُلَ الْجَنَّةَ، فَأَرَى أَنْ تَفْتَقِرُوا أَحَبُّ إِلَيَّ.

“Wahai anak-anakku, aku dihadapkan pada dua pilihan: kalian hidup kaya sedangkan aku masuk neraka, atau kalian hidup sederhana sedangkan aku masuk surga. Menurutku, lebih baik kalian hidup sederhana.”

Beliau kemudian meminta semua orang keluar dari kamarnya.

Tidak lama kemudian, terdengar beliau membaca firman Allah:

> تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ.

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan dan kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Setelah suaranya melemah, keluarganya masuk dan mendapati beliau telah wafat.

Sumber yang disebutkan: Ats-Tsabat ‘inda al-Mamat, 1/150.

27\. Nafi’, Maula Ibnu Umar رحمه الله

Wafat: 117 H

Ketika Nafi’ menjelang wafat, beliau menangis.

Seseorang bertanya:

> مَا يُبْكِيكَ؟

“Apa yang membuatmu menangis?”

Beliau menjawab:

> ذَكَرْتُ سَعْدًا وَضَغْطَةَ الْقَبْرِ.

“Aku teringat Sa’ad dan himpitan kubur.”

Yang dimaksud adalah Sa’ad bin Mu’adz رضي الله عنه, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang himpitan kubur.

Sumber: Siyar A’lam an-Nubala’, 5/99.

28\. Al-Hasan al-Bashri رحمه الله

Wafat: 110 H

Ketika kematian mendekati al-Hasan al-Bashri, beliau menggerakkan kedua tangannya dan berkata:

> هَذِهِ مَنْزِلَةُ صَبْرٍ وَاسْتِسْلَامٍ.

“Inilah keadaan yang membutuhkan kesabaran dan kepasrahan.”

Ungkapan singkat ini menggambarkan sikap seorang mukmin ketika menghadapi ketetapan Allah yang tidak mungkin dihindari.

29\. Yunus bin Ubaid رحمه الله

Wafat: 139 H

Ketika menjelang wafat, Yunus bin Ubaid memandang kedua kakinya, lalu menangis.

Seseorang bertanya:

> مَا يُبْكِيكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ؟

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Abdillah?”

Beliau menjawab:

> قَدَمَايَ لَمْ تَغْبَرَّا فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Kedua kakiku ini belum pernah berdebu di jalan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.”

Sumber: Hilyat al-Auliya’, 3/19.

30\. Amr bin Qais al-Mula’i رحمه الله

Wafat: Sekitar pertengahan abad kedua Hijriah; tahun pastinya perlu diverifikasi

Ketika Amr bin Qais menghadapi kematian, beliau menangis.

Para sahabatnya bertanya mengapa beliau menangisi dunia, padahal selama hidupnya beliau telah menjalani kehidupan yang sederhana.

Beliau menjawab:

> وَاللَّهِ مَا أَبْكِي عَلَى الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا أَبْكِي خَوْفًا مِنْ أَنْ أُحْرَمَ خَيْرَ الْآخِرَةِ.

“Demi Allah, aku tidak menangisi dunia. Aku hanya menangis karena takut tidak mendapatkan kebaikan akhirat.”

Sumber yang disebutkan: Syu’ab al-Iman, 1/50.

31\. Sulaiman at-Taimi رحمه الله

Wafat: 143 H

Ketika sakit menjelang wafat, Sulaiman at-Taimi menangis hebat.

Seseorang bertanya:

> مَا يُبْكِيكَ؟ أَتَجْزَعُ مِنَ الْمَوْتِ؟

“Apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau takut menghadapi kematian?”

Beliau menjawab:

> لَا، وَلَكِنْ مَرَرْتُ عَلَى قَدَرِيٍّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَأَخَافُ أَنْ يُحَاسِبَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ.

“Tidak. Akan tetapi, aku pernah melewati seorang penganut paham Qadariyah lalu mengucapkan salam kepadanya. Aku takut Rabbku Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung akan menghisabku karena hal itu.”

Sumber: Hilyat al-Auliya’, 3/32.

32\. Habib Abu Muhammad رحمه الله

Tahun wafat: Perlu verifikasi identitas dan tahun wafat

Abdul Wahid bin Zaid meriwayatkan bahwa Habib Abu Muhammad sangat gelisah ketika menghadapi kematian.

Beliau berkata dalam bahasa Persia, yang maknanya dinukil dalam bahasa Arab:

> أُرِيدُ أَنْ أُسَافِرَ سَفَرًا مَا سَافَرْتُهُ قَطُّ.

“Aku akan melakukan perjalanan yang belum pernah kulakukan sebelumnya.”

> أُرِيدُ أَنْ أَسْلُكَ طَرِيقًا مَا سَلَكْتُهُ قَطُّ.

“Aku akan menempuh jalan yang belum pernah kutempuh sebelumnya.”

> أُرِيدُ أَنْ أَزُورَ سَيِّدِي وَمَوْلَايَ وَمَا رَأَيْتُهُ قَطُّ.

“Aku akan menghadap Tuan dan Pelindungku, padahal aku belum pernah melihat-Nya.”

> أُرِيدُ أَنْ أُشْرِفَ عَلَى أَهْوَالٍ مَا شَاهَدْتُ مِثْلَهَا قَطُّ.

“Aku akan menghadapi berbagai kedahsyatan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.”

> أُرِيدُ أَنْ أَدْخُلَ تَحْتَ التُّرَابِ فَأَبْقَى تَحْتَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Aku akan masuk ke dalam tanah dan tinggal di dalamnya hingga hari kiamat.”

Beliau kemudian mengungkapkan ketakutannya ketika kelak berdiri di hadapan Allah dan dimintai pertanggungjawaban atas amalannya.

> يَا رَبِّ، هُوَ ذَا قَدْ أَتَيْتُكَ مَقْبُوضَ الْيَدَيْنِ إِلَى عُنُقِي.

“Wahai Rabbku, kini aku datang menghadap-Mu dalam keadaan kedua tanganku terbelenggu ke leherku.”

Abdul Wahid bin Zaid kemudian memberikan komentar:

> هَذَا عَبَدَ اللَّهَ سِتِّينَ سَنَةً مُشْتَغِلًا بِهِ، وَلَمْ يَشْتَغِلْ مِنَ الدُّنْيَا بِشَيْءٍ قَطُّ، فَإِيشْ يَكُونُ حَالُنَا؟ وَاغَوْثَاهُ بِاللَّهِ!

“Orang ini telah beribadah kepada Allah selama enam puluh tahun dan menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada-Nya, tanpa menyibukkan diri dengan urusan dunia. Lantas bagaimana keadaan kita? Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan!”

Sumber: Al-Mujalasah wa Jawahir al-‘Ilm, 4/399.

33\. Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله

Wafat: 181 H

Ketika Abdullah bin al-Mubarak menjelang wafat, beliau meminta pelayannya, Nashr:

> اجْعَلْ رَأْسِي عَلَى التُّرَابِ.

“Letakkan kepalaku di atas tanah.”

Nashr menangis.

Beliau bertanya mengapa Nashr menangis.

Nashr menjawab bahwa ia teringat kehidupan nyaman yang pernah dijalani beliau, sedangkan sekarang beliau meninggal dalam keadaan miskin dan jauh dari kampung halaman.

Abdullah bin al-Mubarak menjawab:

> اسْكُتْ، فَإِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُحْيِيَنِي حَيَاةَ الْأَغْنِيَاءِ، وَأَنْ يُمِيتَنِي مِيتَةَ الْفُقَرَاءِ.

“Diamlah. Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah agar memberiku kehidupan seperti orang-orang kaya dan mematikanku seperti orang-orang miskin.”

Kemudian beliau meminta agar dituntun membaca kalimat tauhid.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah sadar dari beratnya sakaratulmaut, beliau menyingkap penutup wajahnya, tersenyum, lalu membaca:

> لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ.

“Untuk memperoleh yang seperti inilah hendaknya orang-orang beramal.” (QS. Ash-Shaffat: 61)

Kemudian beliau mengucapkan:

> لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Sumber yang disebutkan: Al-Mujalasah wa Jawahir al-‘Ilm, 2/253.

34\. Al-Fudhail bin Iyadh رحمه الله

Wafat: 187 H

Ketika al-Fudhail bin Iyadh menghadapi kematian, beliau sempat kehilangan kesadaran.

Setelah sadar, beliau berkata:

> وَابُعْدَ سَفَرَاهُ!

“Betapa jauhnya perjalanan yang akan kutempuh!”

> وَاقِلَّةَ زَادَاهُ!

“Betapa sedikitnya bekal yang kumiliki!”

35\. Imam asy-Syafi’i رحمه الله

Wafat: 204 H

Al-Muzani mengunjungi Imam asy-Syafi’i ketika beliau sakit menjelang wafat.

Al-Muzani bertanya:

> كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ؟

“Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Abu Abdillah?”

Imam asy-Syafi’i menjawab:

> أَصْبَحْتُ مِنَ الدُّنْيَا رَاحِلًا، وَلِلْإِخْوَانِ مُفَارِقًا، وَلِسُوءِ عَمَلِي مُلَاقِيًا، وَلِكَأْسِ الْمَنِيَّةِ شَارِبًا، وَعَلَى اللَّهِ وَارِدًا.

“Pagi ini aku menjadi orang yang akan meninggalkan dunia, berpisah dengan saudara-saudaraku, menghadapi keburukan amalanku, meminum gelas kematian, dan menghadap Allah.”

Beliau melanjutkan:

> وَلَا أَدْرِي أَرُوحِي تَصِيرُ إِلَى الْجَنَّةِ فَأُهَنِّيهَا، أَمْ إِلَى النَّارِ فَأُعَزِّيهَا.

“Aku tidak mengetahui apakah ruhku akan menuju surga sehingga aku dapat mengucapkan selamat kepadanya, atau menuju neraka sehingga aku harus menyampaikan belasungkawa kepadanya.”

Kemudian beliau melantunkan syair:

> وَلَمَّا قَسَا قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي جَعَلْتُ رَجَائِي نَحْوَ عَفْوِكَ سُلَّمَا

“Ketika hatiku mengeras dan jalan-jalan terasa sempit bagiku, kujadikan harapanku terhadap ampunan-Mu sebagai tangga untuk mendekat kepada-Mu.”

> تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

“Dosaku terasa begitu besar. Namun, ketika kubandingkan dengan ampunan-Mu, wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.”

> فَمَا زِلْتَ ذَا عَفْوٍ عَنِ الذَّنْبِ لَمْ تَزَلْ تَجُودُ وَتَعْفُو مِنَّةً وَتَكَرُّمَا

“Engkau senantiasa memiliki ampunan terhadap dosa. Engkau terus melimpahkan karunia dan memberikan maaf dengan kemurahan serta kemuliaan-Mu.”

36\. Harun ar-Rasyid رحمه الله

Wafat: 193 H

Ketika Harun ar-Rasyid sakit keras dan para tabib tidak lagi berharap kesembuhannya, beliau meminta agar kain kafannya disiapkan.

Beliau juga meminta agar kuburnya digali.

Setelah melihat kuburnya, beliau membaca:

> مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ.

“Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (QS. Al-Haqqah: 28–29)

### 37\. Hisyam bin Abdul Malik رحمه الله

Wafat: 125 H

Ketika Hisyam bin Abdul Malik menghadapi kematian, beliau melihat keluarganya menangis di sekelilingnya.

Beliau berkata:

> جَاءَ هِشَامٌ إِلَيْكُمْ بِالدُّنْيَا، وَجِئْتُمْ لَهُ بِالْبُكَاءِ.

“Hisyam telah mendatangkan kekayaan dunia kepada kalian, sedangkan kalian hanya mendatangkan tangisan untuknya.”

> تَرَكَ لَكُمْ مَا جَمَعَ، وَتَرَكْتُمْ لَهُ مَا حَمَلَ.

“Dia meninggalkan untuk kalian seluruh harta yang dikumpulkannya, sedangkan kalian membiarkannya membawa tanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.”

> مَا أَعْظَمَ مُصِيبَةَ هِشَامٍ إِنْ لَمْ يَرْحَمْهُ اللَّهُ.

“Betapa besar musibah yang menimpa Hisyam apabila Allah tidak merahmatinya.”

38\. Al-Ma’mun رحمه الله

Wafat: 218 H

Ketika Khalifah al-Ma’mun menjelang wafat, beliau berkata:

> أَنْزِلُونِي مِنْ عَلَى السَّرِيرِ.

“Turunkan aku dari tempat tidur ini.”

Setelah dibaringkan di tanah, beliau meletakkan pipinya di atas tanah dan berdoa:

> يَا مَنْ لَا يَزُولُ مُلْكُهُ، ارْحَمْ مَنْ قَدْ زَالَ مُلْكُهُ.

“Wahai Zat yang kerajaan-Nya tidak akan pernah sirna, rahmatilah orang yang kekuasaannya telah sirna.”

39\. Al-Mu’tashim Billah رحمه الله

Wafat: 227 H

Ketika menjelang wafat, Khalifah al-Mu’tashim berkata:

> لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ عُمْرِي قَصِيرٌ هَكَذَا مَا فَعَلْتُ.

“Seandainya aku mengetahui bahwa umurku ternyata sesingkat ini, tentu aku tidak akan melakukan apa yang telah kulakukan.”

Ungkapan ini menggambarkan penyesalan seseorang ketika menyadari bahwa kekuasaan dan kesempatan hidupnya telah berakhir.

40\. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله

Wafat: 728 H

Pada masa-masa terakhir kehidupannya, Ibnu Taimiyah semakin menyibukkan diri dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan melaksanakan salat malam.

Disebutkan bahwa selama berada dalam penjara benteng Damaskus, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Pada khataman terakhir, beliau sampai pada firman Allah:

> إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ ۝ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.” (QS. Al-Qamar: 54–55)

Disebutkan pula bahwa bacaan Al-Qur’an tersebut dilanjutkan dan disempurnakan setelah beliau wafat.

Dalam riwayat itu dijelaskan:

> وَأَقْبَلَ الشَّيْخُ بَعْدَ إِخْرَاجِهَا عَلَى الْعِبَادَةِ وَالتِّلَاوَةِ وَالتَّذَكُّرِ وَالتَّهَجُّدِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ.

“Setelah buku-buku dan catatannya dikeluarkan, Syaikh memusatkan perhatiannya pada ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan melaksanakan salat malam hingga kematian mendatanginya.”

Masa sakit beliau berlangsung lebih dari dua puluh hari. Banyak orang tidak mengetahui bahwa beliau sedang sakit hingga berita wafatnya tersebar.

Kepergian beliau menyebabkan kesedihan mendalam di kalangan masyarakat Damaskus.

Sumber: Al-‘Uqud ad-Durriyyah, 1/384.


Penutup dan Doa

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar menjadikan sisa usia kita sebagai kesempatan untuk memperbanyak ketaatan, memperbaiki kekurangan, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat.

Di antara doa yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an adalah:

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran: 8)

Kita juga memohon:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عِنْدَ الْمَوْتِ عَلَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik dan berlindung kepada-Mu dari akhir kehidupan yang buruk. Ya Allah, teguhkanlah kami di atas kalimat tauhid ketika menghadapi kematian. Jadikanlah ucapan terakhir kami di dunia La ilaha illallah. Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.”

Doa penutup ini merupakan susunan permohonan yang baik maknanya, bukan redaksi hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan beriman, meridai amal-amal kita, melapangkan kubur kita, dan mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di dalam surga-Nya.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Tim Ilmiah Markaz Inayah

markazinayah.com

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button