Kata-Kata yang Mengubah Jalan Hidup Mereka
Kata-Kata yang Mengubah Jalan Hidup Mereka
☷ Daftar Isi Artikel
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul-Nya, Muhammad ﷺ.
Amma ba‘du.
Betapa banyak ulama, ahli zuhud, dan orang-orang saleh yang dianugerahi Allah hidayah dan kesalehan hanya karena sepatah kata atau sebuah nasihat.
Kata-kata tersebut begitu membekas dan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam hati mereka, hingga mengubah arah perjalanan hidup mereka. Setelah itu, mereka pun menjadi tokoh-tokoh teladan dalam kezuhudan, keilmuan, dan kewarakannya.
Oleh karena itu, perlu mengumpulkan kisah-kisah tersebut dalam satu tulisan, semoga dapat memberikan manfaat bagi pribadi dan para pembaca.
1. Al-Fudhail bin ‘Iyadh: Ayat yang Menghentikan Seorang Perampok
Al-Fadhl bin Musa menuturkan:
Dahulu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang perampok yang biasa menghadang orang-orang dalam perjalanan.
Penyebab tobatnya bermula ketika ia jatuh cinta kepada seorang perempuan.
Suatu ketika, saat sedang memanjat tembok untuk menemui perempuan tersebut, ia mendengar seseorang membaca firman Allah Ta‘ala:
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. Al-Hadid: 16)
Mendengar ayat tersebut, Al-Fudhail berkata:
“Wahai Tuhanku, sungguh, sekarang telah tiba waktunya.”
Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali.
Malam itu, ia singgah di sebuah bangunan yang telah runtuh. Ternyata, di tempat tersebut terdapat sekelompok musafir.
Sebagian mereka berkata, “Mari kita melanjutkan perjalanan.”
Namun, sebagian yang lain berkata, “Sebaiknya kita menunggu hingga pagi, karena Al-Fudhail sedang menghadang orang-orang di jalan. Kita khawatir ia akan merampok kita.”
Mendengar percakapan tersebut, Al-Fudhail benar-benar bertobat. Ia memberikan jaminan keamanan kepada mereka, kemudian menetap di Tanah Haram hingga wafat.
Sumber: Tarikh al-Islam, 12/334.
2. Umar bin Abdul Aziz: Ingatlah Malam Menjelang Hari Kiamat
Pernah ditanyakan kepada Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
“Apa yang pertama kali menyebabkan engkau kembali kepada Allah dengan penuh kesadaran?”
Beliau menjawab:
“Suatu ketika, aku hendak memukul seorang pelayan laki-lakiku. Namun, ia berkata kepadaku:
‘Wahai Umar! Ingatlah suatu malam yang keesokan paginya adalah Hari Kiamat.’”
Sumber: Al-Mujalasah wa Jawahir al-‘Ilm, 2/268.
3. Umar bin Khattab: Al-Qur’an yang Menembus Hatinya
Diriwayatkan bahwa salah satu peristiwa yang menjadi awal masuknya Islam ke dalam hati Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terjadi ketika pada suatu malam ia keluar dan bermalam di luar rumahnya.
Ia mendatangi Masjidil Haram dan masuk ke balik kain penutup Ka’bah.
Saat itu, Nabi ﷺ sedang melaksanakan salat dan membaca Surah Al-Haqqah.
Umar pun mendengarkan bacaan Al-Qur’an tersebut. Ia merasa takjub dengan susunan dan keindahan bahasanya.
Umar berkata:
“Dalam hati aku berkata, ‘Demi Allah, orang ini pasti seorang penyair, sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.’”
Namun, Rasulullah ﷺ kemudian membaca:
“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar wahyu yang disampaikan oleh seorang rasul yang mulia. Dan ia bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” (QS. Al-Haqqah: 40–41)
Umar berkata, “Aku pun berpikir, ‘Kalau begitu, ia seorang dukun.’”
Kemudian Nabi ﷺ membaca:
“Dan bukan pula perkataan seorang dukun. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Haqqah: 42–43)
Rasulullah ﷺ terus membaca hingga akhir surah.
Umar berkata:
“Maka, Islam mulai meresap ke dalam hatiku.”
Peristiwa tersebut merupakan awal tumbuhnya benih keislaman dalam hati Umar.
Namun, benih tersebut masih tertutupi oleh kuatnya kecenderungan jahiliah, fanatisme terhadap tradisi nenek moyang, dan kebanggaan terhadap agama leluhur.
Karena itu, Umar masih terus menentang Islam, tanpa menghiraukan bisikan kebenaran yang mulai tumbuh di balik lapisan fanatisme tersebut.
Perjalanan Menuju Keislaman
Karena wataknya yang keras dan permusuhannya yang begitu besar terhadap Rasulullah ﷺ, pada suatu hari Umar keluar dengan menyandang pedang. Ia bermaksud membunuh Nabi ﷺ.
Di tengah perjalanan, ia bertemu Nu‘aim bin Abdullah an-Nahham al-‘Adawi. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang tersebut berasal dari Bani Zuhrah atau Bani Makhzum.
Orang itu bertanya, “Hendak ke mana engkau, wahai Umar?”
Umar menjawab, “Aku hendak membunuh Muhammad.”
Orang itu berkata, “Bagaimana engkau akan merasa aman dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah setelah engkau membunuh Muhammad?”
Umar menjawab, “Menurutku, engkau telah meninggalkan agama lamamu dan mengikuti agama Muhammad!”
Orang itu berkata:
“Wahai Umar, maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih mengherankan? Sesungguhnya saudara perempuanmu dan suaminya telah mengikuti agama Muhammad dan meninggalkan agamamu.”
Mendengar berita itu, Umar segera menuju rumah saudara perempuannya dengan penuh kemarahan.
Ketika itu, di rumah tersebut terdapat Khabbab bin al-Aratt yang sedang mengajarkan Surah Thaha kepada Fatimah, saudara perempuan Umar, dan suaminya.
Khabbab memang biasa mendatangi mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Ketika mendengar kedatangan Umar, Khabbab segera bersembunyi di dalam rumah, sedangkan Fatimah menyembunyikan lembaran Al-Qur’an yang sedang mereka baca.
Namun, sebelum memasuki rumah, Umar telah mendengar suara bacaan Khabbab.
Ia pun bertanya:
“Suara bisik-bisik apa yang tadi kudengar dari kalian?”
Keduanya menjawab, “Tidak ada apa-apa. Kami hanya sedang berbincang.”
Umar berkata, “Jangan-jangan kalian telah mengikuti agama Muhammad!”
Suami Fatimah menjawab:
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika ternyata kebenaran berada pada agama selain agamamu?”
Mendengar jawaban itu, Umar langsung menerjang dan memukuli saudara iparnya dengan keras.
Fatimah segera datang untuk melindungi suaminya. Namun, Umar memukulnya hingga wajahnya berdarah.
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Umar memukul Fatimah hingga kepalanya terluka.
Dengan penuh kemarahan, Fatimah berkata:
“Wahai Umar! Bagaimana jika kebenaran ternyata berada pada agama selain agamamu? Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Ketika Umar menyadari bahwa ia tidak mampu menggoyahkan keyakinan mereka, dan melihat darah mengalir dari wajah saudara perempuannya, ia pun menyesal dan merasa malu.
Umar berkata:
“Berikan kepadaku lembaran yang kalian miliki itu agar aku dapat membacanya.”
Fatimah menjawab:
“Sesungguhnya engkau belum suci. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Bangunlah dan mandilah terlebih dahulu.”
Umar pun bangkit dan mandi.
Setelah itu, ia mengambil lembaran tersebut dan mulai membaca:
Umar berkata:
“Nama-nama yang indah dan suci.”
Kemudian ia membaca Surah Thaha hingga sampai pada firman Allah:
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku. Maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Umar berkata:
“Betapa indah dan mulianya perkataan ini!”
Kemudian ia berkata:
“Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad berada!”
Mendengar ucapan tersebut, Khabbab keluar dari persembunyiannya dan berkata:
“Bergembiralah, wahai Umar! Aku berharap engkaulah orang yang dimaksud dalam doa Rasulullah ﷺ pada malam Kamis:
‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam.’
Saat ini Rasulullah ﷺ berada di sebuah rumah di kaki Bukit Shafa.”
Umar pun mengambil pedangnya, menyandangnya, lalu berangkat menuju rumah tersebut.
Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu.
Salah seorang sahabat mengintip melalui celah pintu dan melihat Umar datang dengan menyandang pedang.
Ia segera memberitahukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ.
Para sahabat pun berkumpul.
Hamzah bertanya, “Ada apa dengan kalian?”
Mereka menjawab, “Umar datang!”
Hamzah berkata:
“Memangnya kenapa dengan Umar? Bukakan pintu untuknya! Jika ia datang dengan niat baik, kita akan menyambutnya. Namun, jika ia datang dengan niat jahat, kita akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.”
Ketika itu Rasulullah ﷺ berada di dalam rumah dan sedang menerima wahyu.
Beliau kemudian keluar menemui Umar.
Rasulullah ﷺ memegang bagian depan pakaian Umar beserta tali pedangnya, lalu menariknya dengan kuat seraya bersabda:
“Tidakkah engkau berhenti, wahai Umar, hingga Allah menimpakan kepadamu kehinaan dan hukuman sebagaimana yang telah menimpa Al-Walid bin Al-Mughirah?”
Kemudian beliau berdoa:
“Ya Allah, inilah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khattab.”
Mendengar hal itu, Umar berkata:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.”
Umar pun masuk Islam.
Para sahabat yang berada di dalam rumah tersebut bertakbir dengan suara begitu keras hingga terdengar oleh orang-orang yang berada di Masjidil Haram.
Sumber: Ar-Rahiq al-Makhtum.
4. Abdullah bin Al-Mubarak: Ayat yang Menjadi Awal Kezuhudannya
Diriwayatkan bahwa salah satu sebab tobat Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah adalah ketika beliau mendengar firman Allah Ta‘ala:
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. Al-Hadid: 16)
Mendengar ayat tersebut, beliau berkata:
“Benar, demi Allah! Sudah tiba waktunya.”
Peristiwa tersebut menjadi awal kezuhudannya.
Sumber: Thabaqat al-Hanafiyyah, 2/529.
5. Dawud Ath-Tha’i: Syair di Pemakaman yang Mengubah Hatinya
Suatu ketika, Dawud ath-Tha’i rahimahullah melewati sebuah pemakaman.
Di sana, beliau mendengar seorang perempuan yang sedang berada di dekat kuburan melantunkan bait-bait syair berikut:
Tempat-tempat peristirahatan orang yang telah meninggal membangkitkan kerinduan yang mendalam. Ketika memandangnya, kesedihan pun menyelimuti hati.
Itulah tempat tinggal yang penghuninya tidak lagi menjawab ketika engkau memanggil. Betapa berat rasanya ketika panggilanmu tak lagi mendapatkan jawaban.
Bagaimana mungkin orang yang telah meninggal dapat menjawab panggilanmu, sedangkan tubuhnya telah tertimbun bebatuan dan tanah?
Ia akan tetap berada di sana hingga Allah membangkitkan seluruh makhluk-Nya. Pertemuan denganmu tak lagi dapat diharapkan, meskipun tempatmu begitu dekat.
Setiap siang dan malam, jasadmu semakin hancur. Engkau pun perlahan dilupakan, sebagaimana jasadmu yang semakin lapuk, padahal dahulu engkau begitu dicintai.
Ketika Dawud ath-Tha’i mendengar bait-bait tersebut, hatinya tersentuh begitu dalam.
Peristiwa itu menjadi sebab tobatnya, yakni sebab beliau memutuskan keterikatan terhadap dunia dan berbagai kesibukannya, lalu mengarahkan perhatian kepada kehidupan akhirat serta mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Sumber: Ahwal al-Qubur, hlm. 280.
6. Syaqiq bin Ibrahim: Nasihat dari Seorang Penyembah Berhala
Dikisahkan bahwa penyebab tobat Syaqiq bin Ibrahim Abu Ali al-Azdi rahimahullah bermula ketika beliau masih muda.
Beliau berasal dari keluarga kaya raya.
Suatu ketika, beliau melakukan perjalanan dagang ke negeri bangsa Turk.
Di sana, beliau memasuki sebuah rumah penyembahan berhala.
Beliau melihat seorang penjaga berhala yang mencukur habis rambut kepala dan janggutnya serta mengenakan pakaian berwarna merah keunguan.
Syaqiq berkata kepada penjaga tersebut:
“Sesungguhnya engkau memiliki Pencipta Yang Mahahidup dan Maha Mengetahui. Maka sembahlah Dia, dan jangan menyembah berhala-berhala yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mendatangkan mudarat.”
Penjaga berhala itu menjawab:
“Jika benar seperti yang engkau katakan, bukankah Tuhanmu mampu memberimu rezeki di negerimu sendiri? Lantas, mengapa engkau bersusah payah datang ke tempat sejauh ini untuk berdagang?”
Mendengar jawaban tersebut, Syaqiq tersadar.
Ucapan penjaga berhala itu menggugah hatinya hingga beliau mulai menempuh jalan kezuhudan.
Sumber: Ar-Risalah al-Qusyairiyyah.
7. Ibrahim bin Adham: Teguran Saat Berburu
Yunus al-Balkhi menuturkan:
Dahulu, Ibrahim bin Adham termasuk kalangan bangsawan.
Ayahnya memiliki kekayaan yang melimpah, banyak pelayan, kendaraan, hewan tunggangan, dan burung-burung pemburu.
Suatu ketika, Ibrahim sedang berburu dengan menunggang kudanya dan memacunya dengan cepat.
Tiba-tiba, ia mendengar suara dari arah atas yang berkata:
“Wahai Ibrahim! Untuk apa semua kesia-siaan ini?”
Kemudian terdengar firman Allah:
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)
Suara itu kembali menyeru:
“Bertakwalah kepada Allah! Persiapkanlah bekal untuk menghadapi hari ketika engkau sangat membutuhkannya!”
Mendengar seruan tersebut, Ibrahim turun dari tunggangannya.
Sejak saat itu, beliau mulai menyibukkan diri dengan amal-amal untuk kehidupan akhirat.
Sumber: Musnad Ibrahim bin Adham, 1/18.
8. Bisyr bin Al-Harits: Memuliakan Nama Allah yang Terbuang
Dahulu, Bisyr bin Al-Harits dikenal sebagai seorang yang berperilaku buruk dan biasa melukai orang lain dengan senjata tajam.
Penyebab tobatnya bermula ketika ia menemukan selembar kertas di dekat tungku pemanas sebuah pemandian.
Pada kertas tersebut tertulis:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Melihat nama Allah tergeletak di tempat seperti itu, Bisyr merasa sangat tersentuh.
Ia mengangkat pandangannya ke langit seraya berkata:
“Wahai Tuhanku! Nama-Mu tergeletak di tempat ini!”
Ia segera memungut kertas tersebut dari tanah, membersihkan kotoran yang melekat padanya, lalu pergi menemui seorang penjual minyak wangi.
Dengan uang satu dirham—satu-satunya uang yang dimilikinya—ia membeli minyak wangi yang harum.
Ia mengoleskan minyak wangi tersebut pada kertas yang memuat nama Allah, kemudian menyimpannya di celah sebuah dinding.
Setelah itu, ia pergi menemui seorang laki-laki bernama Az-Zajjaj yang biasa menjadi teman duduknya.
Az-Zajjaj berkata kepadanya:
“Demi Allah, wahai saudaraku! Aku ingin engkau menceritakan kepadaku apa yang telah engkau lakukan beberapa hari ini dalam hubunganmu dengan Allah Ta‘ala.”
Bisyr menjawab:
“Aku tidak mengetahui telah melakukan sesuatu yang istimewa, kecuali bahwa hari ini aku melewati tungku pemanas sebuah pemandian.”
Kemudian ia menceritakan peristiwa yang dialaminya.
Az-Zajjaj berkata:
“Aku bermimpi seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku:
‘Katakan kepada Bisyr: Engkau telah mengangkat nama Kami dari tanah karena memuliakannya agar tidak terinjak. Maka, sungguh Kami akan mengangkat dan memuliakan namamu di dunia dan akhirat.’”
Keterangan istilah:
As-Suhah (السُّحَاةُ) berarti lapisan atau serpihan yang terkelupas dari suatu benda, termasuk kertas.
Al-Ghaliyah (الْغَالِيَةُ) adalah sejenis minyak wangi.
9. Seorang Pemuda yang Tersadar oleh Nasihat Shilah bin Asyyam
Shilah bin Asyyam rahimahullah biasa pergi ke tanah lapang tempat pelaksanaan salat umum di pinggir kota untuk beribadah.
Dalam perjalanannya, beliau sering melewati sekelompok pemuda yang sedang bersenda gurau dan bermain-main.
Beliau berkata kepada mereka:
“Beritahukan kepadaku tentang sekelompok orang yang hendak melakukan perjalanan. Pada siang hari mereka menyimpang dari jalan yang seharusnya ditempuh, sedangkan pada malam hari mereka tidur. Kapan mereka akan sampai ke tujuan?”
Beliau terus melewati para pemuda tersebut dan memberikan nasihat yang serupa.
Hingga pada suatu hari, ketika beliau kembali menyampaikan nasihat tersebut, salah seorang pemuda tersadar.
Pemuda itu berkata kepada teman-temannya:
“Wahai kawan-kawan! Tidak ada yang dimaksud oleh orang ini selain kita. Pada siang hari kita hanya bermain-main, sedangkan pada malam hari kita tidur.”
Pemuda tersebut kemudian mengikuti Shilah bin Asyyam.
Sejak saat itu, ia terus mendatangi tempat ibadah Shilah dan beribadah bersamanya hingga akhir hayatnya.
Sumber: Hilyat al-Auliya’, 2/238; Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9/21.
10. Zadzan: Suara Indah yang Dialihkan untuk Al-Qur’an
Abu Hasyim ar-Rummani meriwayatkan bahwa Zadzan berkata:
“Dahulu, ketika masih muda, aku memiliki suara yang merdu dan pandai memainkan tanbur, yaitu sejenis alat musik petik.
Suatu ketika, aku sedang bersama beberapa temanku. Di hadapan kami terdapat minuman keras, sementara aku menghibur mereka dengan nyanyian.
Tiba-tiba Abdullah bin Mas‘ud melewati tempat kami.
Beliau masuk, lalu memukul wadah minuman keras hingga isinya tumpah dan memecahkan alat musik tanbur tersebut.
Kemudian beliau berkata kepadaku:
‘Wahai anak muda! Seandainya keindahan suaramu yang terdengar itu digunakan untuk membaca Al-Qur’an, sungguh engkau akan menjadi seseorang yang luar biasa.’
Setelah mengatakan hal itu, beliau pergi.
Aku bertanya kepada teman-temanku:
‘Siapakah orang itu?’
Mereka menjawab:
‘Itu adalah Abdullah bin Mas‘ud.’
Seketika itu pula, keinginan untuk bertobat tumbuh dalam hatiku.
Aku segera mengejarnya sambil menangis, lalu memegang pakaiannya.
Beliau menoleh kepadaku, memelukku, dan ikut menangis.
Kemudian beliau berkata:
‘Selamat datang, wahai orang yang dicintai Allah.’
Beliau mempersilakanku duduk, lalu masuk ke dalam rumah dan membawakan kurma untukku.”
Sumber: Siyar A‘lam an-Nubala’, 4/281.
Keterangan: Zadzan, yang dikenal dengan kunyah Abu Umar al-Kindi, termasuk salah seorang tokoh besar kalangan tabiin. Ia telah masuk Islam pada masa kehidupan Nabi ﷺ. Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai salah seorang ulama besar.
11. Abu Zaid An-Nahwi: Satu Koreksi Bahasa yang Mengantarkannya Menuntut Ilmu
Abu Zaid an-Nahwi rahimahullah berkata:
“Hal yang mendorongku untuk mempelajari sastra Arab dan ilmu nahwu adalah suatu peristiwa ketika aku menemui Ja‘far bin Sulaiman.
Ia berkata kepadaku:
‘Mendekatlah!’
Aku menjawab:
‘Aku ini orang yang rendah.’
Ia kemudian berkata:
‘Wahai anakku! Jangan katakan, “Ana daniyyun” (aku orang yang rendah), tetapi katakanlah, “Ana danin” (aku sudah dekat).’”
Peristiwa sederhana tersebut menjadi sebab Abu Zaid terdorong untuk mendalami bahasa Arab dan ilmu nahwu.
Sumber: Al-Jami‘ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami‘, 2/27.
12. Abdul Jabbar bin Khalid: Nasihat dengan Tali Sandal yang Diputus
Dikisahkan bahwa Abdul Jabbar bin Khalid rahimahullah, yang wafat pada tahun 281 H, suatu ketika sedang berjalan menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang pemuda berwajah tampan dan berpenampilan menarik sedang mengikuti seorang gadis.
Abdul Jabbar kemudian bersandar dan dengan sengaja memutus tali sandalnya.
Ia memanggil pemuda tersebut:
“Wahai anak muda!”
Pemuda itu berhenti dan mendatanginya.
Abdul Jabbar berkata:
“Aku ini seorang yang sudah tua dan penglihatanku telah melemah. Tali sandalku terputus. Maukah engkau memperbaikinya?”
Pemuda tersebut mengambil sandal itu dan memperbaikinya.
Setelah selesai, ia kembali mengikuti gadis tadi.
Namun, Abdul Jabbar kembali memutus tali sandalnya untuk kedua kalinya.
Ia kembali memanggil pemuda itu agar memperbaikinya.
Pemuda tersebut pun kembali mendatanginya.
Kali ini, Abdul Jabbar berkata:
“Wahai anak muda! Sesungguhnya akulah yang sengaja memutus tali sandal ini. Aku melakukannya karena khawatir masa mudamu yang berharga akan terkena panasnya api neraka.”
Abdul Jabbar pun menangis.
Melihat ketulusan dan tangisannya, pemuda tersebut ikut menangis.
Ia mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan untuk Abdul Jabbar.
Kemudian ia menemani beliau menuju masjid.
Sejak saat itu, pemuda tersebut bertobat dengan sungguh-sungguh.
Sumber: Tartib al-Madarik, 4/387.
13. Bisyr bin Al-Harits: Allah Sedang Melihatmu
Abu Nashr al-Fath bin Syakhraf rahimahullah menuturkan:
Suatu ketika, seorang laki-laki menahan seorang perempuan dengan paksa.
Laki-laki tersebut membawa sebilah pisau dan mengancam akan melukai siapa pun yang mendekatinya.
Tubuhnya kuat dan besar, sementara perempuan itu terus berteriak meminta pertolongan.
Ketika keadaan sedang genting, Bisyr bin Al-Harits melewati tempat tersebut.
Beliau mendekati laki-laki itu, lalu menyentuhkan bahunya ke bahu laki-laki tersebut.
Seketika laki-laki itu terjatuh ke tanah.
Perempuan tersebut segera melarikan diri, sedangkan Bisyr melanjutkan perjalanannya.
Orang-orang kemudian mendekati laki-laki yang terjatuh itu. Mereka melihat tubuhnya bercucuran keringat.
Mereka bertanya:
“Apa yang terjadi denganmu?”
Laki-laki itu menjawab:
“Aku tidak tahu! Namun, tadi ada seorang lelaki tua yang menyentuhkan bahunya kepadaku, lalu berkata:
‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sedang melihatmu dan melihat apa yang engkau kerjakan.’
Mendengar perkataannya, seketika tubuhku menjadi lemah dan aku diliputi rasa takut yang sangat besar.
Aku tidak tahu siapa orang itu!”
Orang-orang berkata:
“Itu adalah Bisyr bin Al-Harits.”
Laki-laki tersebut berkata:
“Betapa malunya aku! Bagaimana mungkin Allah akan memandangku setelah hari ini?”
Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengalami demam, kemudian meninggal dunia pada hari ketujuh.
Sumber: At-Tabshirah karya Ibnu al-Jauzi, 2/287.
14. Zubaid Al-Yami: Satu Kalimat yang Manfaatnya Bertahan Tiga Puluh Tahun
Zubaid al-Yami rahimahullah berkata:
“Aku pernah mendengar satu kalimat, lalu Allah ‘Azza wa Jalla memberiku manfaat melalui kalimat tersebut selama tiga puluh tahun!”
Sumber: Siyar A‘lam an-Nubala’, 5/297.
15. Habib Al-Farisi: Nasihat Al-Hasan Al-Bashri yang Mengubah Hidupnya
Dahulu, Al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri biasa mengadakan majelis nasihat setiap hari.
Sementara itu, Habib al-Farisi memiliki majelis tersendiri yang biasa didatangi orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia dan para pedagang.
Habib saat itu masih lalai terhadap nasihat-nasihat yang disampaikan Al-Hasan. Ia tidak memperhatikan sedikit pun perkataan beliau.
Hingga pada suatu hari, Habib menoleh kepada orang-orang di sekitarnya dan bertanya dalam bahasa Persia:
“Apa yang dilakukan Al-Hasan dalam majelisnya?”
Mereka menjawab:
“Demi Allah, wahai Abu Muhammad! Beliau mengingatkan manusia tentang surga dan neraka, mendorong mereka untuk mencintai akhirat, serta mengajak mereka agar tidak terpaut kepada dunia.”
Mendengar jawaban tersebut, sesuatu mulai meresap ke dalam hati Habib.
Ia berkata dalam bahasa Persia:
“Mari kita pergi menemuinya.”
Habib pun mendatangi Al-Hasan al-Bashri.
Orang-orang yang berada di sekitar Al-Hasan berkata:
“Wahai Abu Sa‘id! Abu Muhammad Habib telah datang menemuimu. Berilah ia nasihat.”
Al-Hasan pun menghadap kepadanya.
Habib bertanya dalam bahasa Persia:
“Apa yang dikatakan orang ini?”
Al-Hasan bertanya kepada orang-orang di sekitarnya:
“Apa yang ia katakan?”
Mereka menjawab:
“Ia bertanya tentang apa yang sedang engkau sampaikan.”
Al-Hasan kemudian mulai menasihatinya.
Beliau mengingatkan Habib tentang surga, memperingatkannya tentang neraka, mendorongnya untuk melakukan kebaikan, menjauhi keburukan, mencintai akhirat, dan tidak terpaut kepada dunia.
Nasihat Al-Hasan benar-benar menembus hati Habib.
Setelah itu, Habib meninggalkan berbagai kesibukan dunianya dengan penuh tawakal kepada Allah dan merasa cukup dengan jaminan rezeki dari-Nya.
Ia pun bertekad menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah.
Habib kemudian menyedekahkan hartanya sebanyak empat puluh ribu dalam empat tahap.
Pada awal siang, ia menyedekahkan sepuluh ribu dan berdoa:
“Wahai Tuhanku! Dengan harta ini, aku menyerahkan diriku kepada-Mu.”
Kemudian ia kembali menyedekahkan sepuluh ribu dan berkata:
“Wahai Tuhanku! Sedekah ini merupakan ungkapan syukur atas taufik yang telah Engkau berikan kepadaku.”
Setelah itu, ia kembali mengeluarkan sepuluh ribu dan berdoa:
“Wahai Tuhanku! Jika Engkau tidak menerima sedekahku yang pertama dan kedua, maka terimalah sedekah yang ini.”
Kemudian ia menyedekahkan sepuluh ribu lagi dan berkata:
“Wahai Tuhanku! Jika Engkau menerima sedekahku yang ketiga, maka sedekah ini adalah ungkapan syukur atas penerimaan tersebut.”
Sumber: Hilyat al-Auliya’, 6/149; Tarikh Dimasyq, 12/47.
Keterangan: Biografi Habib al-Farisi dapat ditemukan dalam Tahdzib at-Tahdzib, 1/436; Mizan al-I‘tidal, 1/457; dan Siyar A‘lam an-Nubala’, 6/143.
16. Amr bin Jarir: Ayat yang Menghentikannya dari Kemaksiatan
Raja’ bin Isa rahimahullah menuturkan:
Amr bin Jarir pernah berkata kepadaku:
“Tahukah engkau apa yang menjadi sebab tobatku?”
Kemudian ia menceritakan:
“Suatu ketika, aku keluar bersama sekelompok pemuda di Kufah.
Ketika aku hendak melakukan suatu kemaksiatan, tiba-tiba aku mendengar suara yang menyerukan firman Allah Ta‘ala:
“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)
Ayat tersebut menyadarkanku dan menjadi sebab tobatku.”
Sumber: Hilyat al-Auliya’, 12/135.
Penutup: Satu Kalimat Dapat Mengubah Seluruh Kehidupan
Kisah-kisah di atas memperlihatkan betapa besarnya pengaruh sebuah nasihat yang disampaikan pada waktu yang tepat, terlebih apabila nasihat tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan disampaikan dengan keikhlasan.
Ada orang yang bertobat setelah mendengar satu ayat Al-Qur’an. Ada pula yang berubah karena nasihat seorang pelayan, teguran seorang yang tidak seiman, bait-bait syair, atau perkataan seorang ulama.
Sebuah kalimat yang tampak sederhana boleh jadi menjadi sebab seseorang meninggalkan kemaksiatan, memperbaiki ibadahnya, mencintai ilmu, dan menghabiskan sisa hidupnya dalam ketaatan kepada Allah.
Karena itu, jangan pernah meremehkan nasihat yang baik, baik ketika menyampaikannya maupun ketika mendengarnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)