Tatsqif

Memakai Kafan Tidak Menunggu Kapan: Kematian Tak Menanti Kesiapan

Memakai Kafan Tidak Menunggu Kapan: Kematian Tak Menanti Kesiapan

☷ Daftar Isi Artikel
0%
Renungan tentang kepastian kematian, singkatnya kehidupan, dan pentingnya mempersiapkan bekal sebelum datangnya ajal.

Ada orang yang pagi harinya masih tersenyum, tetapi sore harinya telah terbujur kaku. Ada yang semalam masih bercengkerama bersama keluarga, tetapi keesokan harinya justru keluarga yang menangisi kepergiannya. Ada yang sedang merencanakan pernikahan, membangun rumah, mengembangkan usaha, atau menyiapkan masa depan, tetapi ternyata Allah telah menetapkan bahwa perjalanan hidupnya berakhir sebelum semua rencana itu terwujud.

Begitulah kehidupan dunia. Manusia sibuk menentukan pakaian yang akan dikenakannya esok hari, tetapi tidak pernah mengetahui kapan tubuhnya akan dibungkus dengan kain kafan. Manusia mampu merencanakan berbagai kegiatan hingga bertahun-tahun mendatang, tetapi tidak mampu memastikan apakah dirinya masih hidup hingga esok pagi.

Memakai kafan tidak menunggu kapan. Sebab, kematian tidak menunggu usia tua, tidak menunggu sakit, tidak menunggu seseorang kaya, dan tidak pula menunggu seseorang selesai menikmati dunia.

Kain kafan menjadi pengingat bahwa suatu hari perjalanan kita di dunia akan berakhir. Saat itu, bukan lagi pakaian mahal yang menjadi kebanggaan, bukan jabatan yang menjadi kemuliaan, dan bukan harta yang menentukan keselamatan. Yang paling kita butuhkan adalah rahmat Allah dan bekal amal saleh yang telah dipersiapkan selama hidup.

1. Kematian Adalah Kepastian yang Tidak Dapat Dihindari

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa kematian merupakan ketetapan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk bernyawa. Tidak ada manusia yang dapat menghindarinya, betapapun tinggi kedudukannya, banyak hartanya, kuat tubuhnya, atau luas pengetahuannya.

Seorang raja akan meninggal sebagaimana rakyatnya. Orang kaya akan meninggal sebagaimana orang miskin. Orang sehat akan meninggal sebagaimana orang sakit. Bahkan seseorang yang masih muda dan memiliki banyak cita-cita pun tidak mempunyai jaminan akan mencapai usia tua.

Oleh karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah kapan kita akan meninggal, melainkan dalam keadaan bagaimana kita akan meninggal dan bekal apa yang telah kita persiapkan.

2. Kita Mengetahui Akan Mati, tetapi Tidak Mengetahui Kapan

Salah satu kelalaian manusia adalah merasa bahwa kematian masih jauh. Ketika melihat seseorang meninggal dalam usia muda, kita terkejut. Ketika mendengar kabar seseorang meninggal secara mendadak, kita merasa tidak menyangka.

Padahal, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui secara pasti waktu dan tempat kematiannya.

Allah berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Kita mungkin sudah membeli tiket perjalanan, menyusun jadwal pekerjaan, merencanakan pendidikan anak, atau menyiapkan tabungan masa tua. Semua itu merupakan ikhtiar yang diperbolehkan, bahkan bisa bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Namun, jangan sampai kesibukan merencanakan kehidupan dunia membuat kita lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.

Betapa banyak orang yang memiliki rencana untuk esok hari, tetapi hari ini merupakan hari terakhir kehidupannya.

Betapa banyak orang yang telah menyiapkan pakaian untuk sebuah acara, tetapi ternyata pakaian terakhirnya adalah kain kafan.

3. Kain Kafan Mengajarkan Betapa Sederhananya Akhir Kehidupan

Selama hidup, manusia membutuhkan bermacam-macam pakaian. Ada pakaian untuk bekerja, menghadiri undangan, beribadah, dan tampil di hadapan orang lain. Sebagian manusia bahkan rela mengeluarkan banyak harta demi pakaian yang dianggap menunjukkan kemewahan dan kedudukannya.

Namun, ketika kematian datang, seluruh kemewahan itu harus ditinggalkan.

Pakaian yang dahulu dibanggakan tidak lagi dibutuhkan. Rumah mewah tidak dapat dibawa memasuki kubur. Kendaraan mahal tidak akan menemani perjalanan menuju akhirat. Jabatan pun tidak lagi mampu memberikan kekuasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Artinya: “Ada tiga perkara yang mengikuti jenazah. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarganya, hartanya, dan amalnya mengikutinya. Kemudian keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Keluarga yang kita cintai hanya mampu mengantarkan hingga batas tertentu. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah akan ditinggalkan. Adapun amal yang kita kerjakan selama hidup akan tetap menyertai kita.

Karena itu, jangan sampai seluruh tenaga, waktu, dan pikiran dihabiskan untuk memperbanyak sesuatu yang pasti ditinggalkan, sementara bekal yang akan menemani kita justru diabaikan.

Kain kafan memang tidak memiliki kantong untuk membawa harta, tetapi seorang hamba dapat membawa bekal amal saleh yang dikerjakannya dengan ikhlas.

4. Jangan Menunggu Tua untuk Bertobat

Salah satu bentuk penipuan terhadap diri sendiri adalah menunda tobat dengan alasan masih muda.

Ada yang mengatakan, “Nanti kalau sudah tua, saya akan rajin salat.”

Ada yang berjanji, “Kalau usaha saya sudah berhasil, saya akan memperbanyak sedekah.”

Ada pula yang berkata, “Setelah menikmati masa muda, barulah saya akan memperbaiki diri.”

Padahal, siapa yang menjamin bahwa kita akan mencapai usia tua? Siapa yang menjamin kesempatan bertobat akan tetap terbuka sampai waktu yang kita rencanakan?

Allah mengingatkan tentang penyesalan manusia ketika kematian datang:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Kemudian Allah berfirman:

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Ayat ini seharusnya menggugah hati setiap muslim. Selama masih hidup, kesempatan beramal terbuka begitu luas. Namun, manusia sering menundanya karena merasa masih memiliki banyak waktu.

Ketika ajal telah tiba, barulah sebagian manusia menyadari betapa berharganya kesempatan yang pernah disia-siakan.

Maka, jika hari ini kita masih dapat bersujud, bersedekah, membaca Al-Qur’an, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan, jangan menundanya tanpa alasan yang benar.

5. Mengingat Kematian Akan Menghidupkan Hati

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk melupakan kematian. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar kita sering mengingatnya.

Beliau bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus berbagai kenikmatan,” yaitu kematian. (HR. At-Tirmidzi no. 2307; hadis hasan)

Mengingat kematian bukan berarti seorang muslim harus selalu bersedih, meninggalkan pekerjaan, atau mengabaikan tanggung jawab dunianya. Mengingat kematian justru membantu manusia menempatkan kehidupan dunia secara proporsional.

Orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati ketika berbicara, karena khawatir lisannya menyakiti orang lain. Ia lebih menjaga salatnya, karena tidak mengetahui apakah masih memiliki kesempatan untuk menunaikan salat berikutnya. Ia lebih mudah memaafkan, karena menyadari bahwa permusuhan tidak selayaknya dipelihara hingga akhir hayat.

Mengingat kematian juga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan sekadar memiliki sesuatu yang banyak, melainkan memperoleh keberkahan, ketenangan hati, dan keridaan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Artinya: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir yang sedang melintas.” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Seorang musafir memahami bahwa tempat persinggahannya bukan tujuan terakhir. Ia menggunakan apa yang diperlukan selama perjalanan, tetapi tidak melupakan tujuan yang hendak dicapai.

Begitulah seharusnya seorang muslim memandang dunia. Ia bekerja, belajar, berkeluarga, membangun usaha, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya.

6. Jangan Sampai Kita Meninggalkan Dunia dalam Keadaan Membawa Kezaliman

Persiapan menghadapi kematian tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah pribadi. Seorang muslim juga harus memperhatikan hak orang lain.

Barangkali masih ada utang yang belum dibayarkan, amanah yang belum ditunaikan, janji yang diabaikan, atau hati seseorang yang pernah disakiti.

Karena itu, sebelum datang hari ketika kita tidak lagi mampu memperbaiki kesalahan, hendaknya kita berusaha menyelesaikannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Artinya: “Barang siapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta agar dihalalkan darinya pada hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Al-Bukhari no. 2449)

Jangan menunggu seseorang meninggal baru merasa menyesal karena belum meminta maaf. Jangan menunggu diri sendiri berada di atas tempat tidur dalam keadaan tidak berdaya baru teringat utang yang belum dibayar.

Selagi masih ada waktu, tunaikan hak manusia, perbaiki hubungan keluarga, dan bersihkan diri dari kezaliman.

7. Siapkan Amal yang Terus Mengalir Setelah Kematian

Walaupun kehidupan manusia di dunia terbatas, Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk meninggalkan amal yang pahalanya terus mengalir setelah kematian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Betapa indahnya ajaran Islam. Seorang muslim tidak hanya diperintahkan beramal untuk kepentingan dirinya saat masih hidup, tetapi juga dianjurkan meninggalkan kebaikan yang manfaatnya berkelanjutan.

Harta yang disedekahkan untuk kebaikan dapat menjadi sumber pahala yang terus mengalir. Ilmu bermanfaat yang diajarkan dapat memberikan kebaikan kepada banyak generasi. Anak saleh yang dididik dengan keimanan dapat menjadi sebab hadirnya doa setelah orang tuanya meninggal dunia.

Maka, jangan hanya memikirkan berapa banyak harta yang akan diwariskan kepada anak-anak. Pikirkan pula berapa banyak ilmu, keteladanan, dan nilai keimanan yang akan ditinggalkan untuk mereka.

8. Bekal Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Kafan Membungkus Tubuh?

Kesadaran tentang kematian semestinya menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan. Di antara persiapan yang perlu dilakukan seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama, memperbaiki tauhid dan keimanan. Menjaga kemurnian ibadah kepada Allah, menjauhi kesyirikan, dan berusaha menjalankan agama dengan ikhlas sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Kedua, menjaga kewajiban agama. Menunaikan salat lima waktu, berpuasa Ramadan, membayar zakat ketika memenuhi syarat, dan melaksanakan kewajiban lainnya sesuai kemampuan serta ketentuan syariat.

Ketiga, segera bertobat dari dosa. Berhenti dari maksiat, menyesalinya, bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain apabila dosa tersebut berkaitan dengan kezaliman terhadap manusia.

Keempat, memperbanyak amal saleh. Membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, berbakti kepada orang tua, mendidik keluarga, menolong sesama, dan melakukan berbagai kebaikan dengan mengharapkan pahala dari Allah.

Kelima, memperbaiki hubungan dengan sesama. Meminta maaf apabila bersalah, menjaga silaturahmi, menunaikan amanah, dan menyelesaikan utang serta tanggungan yang belum ditunaikan.

Keenam, memohon keteguhan iman dan akhir kehidupan yang baik. Tidak seorang pun boleh merasa aman dari godaan dan ujian kehidupan. Oleh karena itu, seorang muslim senantiasa memohon pertolongan Allah agar diberikan keistikamahan hingga akhir hayat.

Semua persiapan tersebut tidak harus menunggu datangnya penyakit, usia lanjut, atau musibah. Justru masa sehat, waktu luang, dan kesempatan hidup merupakan nikmat besar yang seharusnya dimanfaatkan.

9. Selama Napas Masih Berembus, Pintu Tobat Masih Terbuka

Pembahasan tentang kematian tidak seharusnya membuat seorang muslim berputus asa. Sebaliknya, kesadaran tentang pendeknya kehidupan harus mendorongnya segera kembali kepada Allah.

Betapapun banyak dosa yang pernah dilakukan, selama seseorang masih memiliki kesempatan bertobat, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang ingin memperbaiki dirinya. Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bertobat dengan sungguh-sungguh.

Jangan mengatakan bahwa diri kita terlalu banyak dosa sehingga tidak pantas kembali kepada Allah. Sebaliknya, semakin besar kesalahan yang disadari, semakin besar pula kebutuhan kita kepada ampunan-Nya.

Namun, jangan pula menjadikan luasnya rahmat Allah sebagai alasan untuk terus melakukan maksiat dan menunda tobat.

Penutup: Sebelum Kafan Menjadi Pakaian Terakhir

Wahai diri yang masih diberi kesempatan hidup, sudah berapa banyak orang yang dahulu berjalan bersama kita, tetapi kini telah berada di alam kubur? Sudah berapa banyak sahabat yang dahulu tertawa bersama kita, tetapi kini hanya namanya yang tersisa dalam kenangan?

Hari ini kita masih dapat mendengar berita kematian orang lain. Namun, suatu saat nanti, orang lainlah yang akan mendengar berita kematian kita.

Hari ini kita masih dapat mengantarkan jenazah menuju pemakaman. Suatu hari nanti, kitalah yang akan diantarkan.

Hari ini kita masih dapat mendoakan orang yang telah meninggal. Kelak, kitalah yang membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup.

Jangan menunggu kain kafan disiapkan baru menyadari pentingnya amal saleh. Jangan menunggu tubuh terbujur kaku baru menyesali waktu yang terbuang. Jangan menunggu pintu kehidupan tertutup baru berkeinginan memperbaiki diri.

Kita tidak mengetahui kapan akan mengenakan kain kafan. Namun, kita mengetahui bahwa selama hidup, Allah telah memberi kesempatan untuk menyiapkan bekal.

Karena itu, mulailah memperbaiki diri hari ini. Perbaiki salat, perbanyak istigfar, tinggalkan maksiat, tunaikan hak orang lain, perbanyak sedekah, dan berusahalah menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah.

Semoga ketika saat itu tiba, kita meninggalkan dunia dengan membawa keimanan, tobat, dan amal saleh, serta memperoleh ampunan dan rahmat Allah.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ حَتَّى نَلْقَاكَ، وَاجْعَلْ قُبُورَنَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah amal-amal kami, teguhkanlah kami di atas keimanan dan ketaatan hingga kami berjumpa dengan-Mu. Jadikanlah kubur kami sebagai taman di antara taman-taman surga, dan masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang.

Ingatlah: memakai kafan tidak menunggu kapan. Maka, jangan menunda amal kebaikan selama kesempatan masih diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button