Khutbah Jumat: Keutamaan Menuntut Ilmu

Download Pdfnya Klik
KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU
Penulis:
(Kandidat Doktor Qassim University, KSA)
Ustaz Fahmi Alfian, Lc., M.A.
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Salah satu jalan menuju ketakwaan adalah menuntut ilmu agama. Dengan ilmu, seseorang dapat mengenal Allah. Dengan ilmu, seseorang mengetahui cara beribadah yang benar. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara sunnah dan bidah, serta antara yang halal dan yang haram.
Manusia biasanya bersungguh-sungguh mempelajari ilmu dunia. Mereka rela menghabiskan waktu, tenaga, dan harta untuk sekolah, kuliah, pekerjaan, dan perdagangan. Namun, sebagian orang justru melalaikan ilmu yang akan membimbingnya menuju keselamatan akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ilmu yang paling utama untuk dipelajari adalah ilmu agama. Ilmu tentang tauhid dan akidah, ilmu tentang tata cara bersuci, salat, puasa, zakat, haji, jual beli, pernikahan, dan perkara-perkara agama yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang berkaitan dengan kewajibannya. Orang yang hendak salat wajib mempelajari tata cara salat. Orang yang hendak berdagang wajib mempelajari hukum jual beli. Orang yang memiliki harta wajib mempelajari zakat. Orang yang hendak melaksanakan haji wajib mempelajari manasik haji.
Ibadah tidak cukup hanya dilakukan dengan semangat. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Semua itu tidak mungkin diketahui kecuali dengan ilmu.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada banyak keutamaan menuntut ilmu.
Pertama, Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk meminta tambahan ilmu. Allah Ta‘ala berfirman,
﴿وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku’.” (QS. Thaha: 114)
Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk meminta tambahan harta, jabatan, atau kedudukan. Akan tetapi, Allah memerintahkan beliau untuk meminta tambahan ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pula ilmu, pemahaman, amal, dan ketakwaannya.
Kedua, Allah mengangkat derajat orang yang berilmu.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ﴾
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Kemuliaan yang sebenarnya bukan hanya karena banyaknya harta, tingginya jabatan, atau terkenalnya seseorang di tengah manusia. Kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika Allah mengangkat derajat seseorang karena iman dan ilmu yang dimilikinya.
Ilmu yang bermanfaat akan mengangkat pemiliknya di dunia dengan akhlak dan amal saleh. Ilmu juga akan mengangkat derajatnya di akhirat dengan pahala dan kemuliaan dari Allah.
Ketiga, pemahaman agama merupakan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya Allah akan memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037)
Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan yang besar adalah ketika seseorang diberi kemudahan untuk memahami agama.
Apabila Allah memudahkan kita menghadiri majelis ilmu, membaca buku yang bermanfaat, mendengarkan penjelasan para ulama, dan bertanya tentang perkara agama, itu merupakan nikmat yang sangat besar.
Sebaliknya, apabila seseorang tidak memiliki keinginan mempelajari agamanya, tidak peduli terhadap halal dan haram, serta tidak mau memperbaiki ibadahnya, hendaknya ia mengkhawatirkan keadaan dirinya.
Keempat, menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga.
Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Menempuh jalan mencari ilmu dapat dilakukan dengan mendatangi masjid, sekolah, pesantren, atau majelis ilmu. Termasuk di dalamnya membaca buku, menghafal, mencatat, mengulang pelajaran, dan mendengarkan kajian dari guru yang terpercaya.
Setiap langkah menuju majelis ilmu adalah langkah menuju surga. Setiap waktu yang digunakan untuk memahami agama adalah waktu yang sangat berharga.
Kelima, ilmu merupakan warisan para nabi.
Rasulullah ﷺ bersabda,
«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud, no. 3641 dan At-Tirmidzi, no. 2682)
Para nabi tidak meninggalkan istana, emas, atau harta yang banyak untuk diwariskan kepada umatnya. Mereka meninggalkan ilmu, petunjuk, dan ajaran yang membawa manusia menuju keridaan Allah.
Karena itu, siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, mengamalkannya, kemudian mengajarkannya kepada orang lain, berarti ia sedang mengambil bagian dari warisan para nabi.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,
«الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ»
“Ilmu tidak dapat ditandingi oleh sesuatu apa pun bagi orang yang niatnya benar.” (Ibnu Muflih, Al-Adab Asy-Syar‘iyyah, jilid 2, hlm. 37)
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
«مَا مِنْ عَمَلٍ أَفْضَلُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ».
“Tidak ada amal yang lebih utama daripada menuntut ilmu apabila niatnya benar.” (Ibnu ‘Abdil Barr, Jami‘ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih, bab Tafdhil Al-‘Ilm ‘ala Al-‘Ibadah)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Menuntut ilmu bukan hanya tugas para ustaz, santri, atau mahasiswa agama. Menuntut ilmu adalah kebutuhan setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin.
Mulailah dari ilmu yang paling kita butuhkan. Pelajarilah akidah, tata cara bersuci, salat, puasa, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan pekerjaan kita.
Hadirilah majelis ilmu secara rutin. Bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kita tidak mengetahui. Bacalah buku-buku yang ditulis oleh ulama yang terpercaya. Gunakan teknologi dan media sebagai sarana belajar, tetapi jangan menjadikannya sebagai satu-satunya guru.
Jangan hanya semangat belajar selama beberapa hari, kemudian berhenti. Ilmu diperoleh sedikit demi sedikit, dengan kesabaran, pengulangan, dan istiqamah.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
«بِالصَّبْرِ وَالْيَقِينِ تُنَالُ الْإِمَامَةُ فِي الدِّينِ».
“Dengan kesabaran dan keyakinan yang kuat, seseorang akan mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin dalam agama.” (Ibnu Al-Qayyim, Madarij As-Salikin, pembahasan tentang kedudukan sabar, menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah)
Beliau mengucapkan perkataan tersebut berdasarkan firman Allah Ta‘ala,
﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ﴾
“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
Maka jangan tergesa-gesa ingin segera menjadi orang berilmu. Bersabarlah dalam belajar, bersabarlah dalam mengulang pelajaran, dan yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kesungguhan seorang hamba.
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tunduk, dan amal yang diterima.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tujuan menuntut ilmu bukan sekadar agar kita banyak mengetahui, pandai berbicara, atau dikenal sebagai orang berilmu. Tujuan utama ilmu adalah agar kita semakin takut kepada Allah dan semakin baik dalam beramal.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)
Ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menjaga salatnya, lisannya, pandangannya, hartanya, dan seluruh perbuatannya.
Karena itu, ilmu harus diamalkan. Jangan sampai kita mengetahui perintah Allah, tetapi tidak melaksanakannya. Jangan sampai kita mengetahui larangan Allah, tetapi masih melanggarnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Jagalah keikhlasan ketika belajar. Hormatilah guru dan orang yang mengajarkan kebaikan. Catatlah ilmu yang didengar. Ulangilah pelajaran. Amalkan ilmu tersebut. Kemudian sampaikanlah kepada keluarga dan orang lain dengan cara yang baik.
Jangan malu belajar karena usia. Jangan malu bertanya karena belum mengetahui. Yang seharusnya membuat kita malu adalah ketika kita tetap berada dalam kebodohan, padahal kesempatan belajar terbuka di hadapan kita.
Mari kita menyediakan waktu secara rutin untuk belajar agama. Walaupun hanya satu atau dua kali dalam sepekan, lakukanlah dengan istiqamah. Ilmu yang sedikit tetapi terus dipelajari dan diamalkan akan memberikan manfaat yang besar.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami. Berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ عَقَائِدَنَا وَعِبَادَاتِنَا وَأَخْلَاقَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

+6285333345252



