Tatsqif

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 26: Pelajaran Berharga dari Permisalan Seekor Nyamuk

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 26:

Pelajaran Berharga dari Permisalan Seekor Nyamuk

Oleh: Ust Akram Alim Said, Lc., M.A.
(Kandidat Doktor Qassim University KSA)

Muqaddimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى حَبِيبِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْعَمَلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الذُّنُوبِ وَالزَّلَلِ. اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Permisalan-Permisalan di Dalam Al-Qur’an

Jika kita membuka dan menelaah Al-Qur’an Al-Karim, salah satu hal yang akan banyak kita jumpai adalah permisalan-permisalan (amtsal) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan.

  • Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa terdapat 64 permisalan di dalam Al-Qur’an. Sebagian ulama lain menyebutkan ada hingga 66 permisalan.
  • Di dalam Surah Al-Baqarah, terdapat 12 permisalan.
  • Di dalam Surah Ali ‘Imran, terdapat kurang lebih 3 permisalan.
  • Di dalam Surah An-Nisa dan Al-Ma’idah, tidak terdapat permisalan.
  • Di dalam Surah Al-An’am, terdapat 3 permisalan.

Permisalan yang ada di dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita tadaburi. Salah seorang ulama salaf pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang mendalam:

“Jika saya mendengarkan sebuah permisalan yang ada di dalam Al-Qur’an lalu saya tidak memahaminya, maka saya akan menangis meratapi diri saya sendiri. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

‘Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.’ (QS. Al-Ankabut: 43).”

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 26: Nyamuk sebagai Permisalan

Pada kesempatan ini, kita akan mentadaburi salah satu permisalan yang Allah sebutkan di awal Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 26:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’…”

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Al-Mufassir Al-Imam As-Suddi rahimahullah menjelaskan sebab turunnya ayat ini. Orang-orang kafir mengingkari dan mencela permisalan-permisalan yang ada di dalam Al-Qur’an.

  1. Mereka mengingkari permisalan seekor lalat di dalam Surah Al-Hajj dan permisalan seekor laba-laba di dalam Surah Al-Ankabut.
  2. Riwayat lain menyebutkan, mereka mengingkari dua permisalan sebelumnya di dalam Surah Al-Baqarah itu sendiri, yaitu perumpamaan orang yang menyalakan api (matsaluhum kamatsalilladzi istawqada naran) dan perumpamaan hujan lebat yang gelap gulita (aw kashayyibin minas sama’i fihi zhulumat).

Orang-orang kafir itu dengan sombongnya berkata: “Sungguh Allah jauh lebih mulia dan agung daripada sekadar mengurus dan menyebutkan permisalan-permisalan (remeh) semacam ini!”

Maka, turunlah ayat ini sebagai bantahan telak terhadap ucapan mereka. Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah malu (la yastahyi) untuk membuat permisalan dengan seekor nyamuk sekalipun, atau bahkan yang lebih kecil dari itu. Allah tidak memandang apakah objek perumpamaan itu dianggap kecil atau hina oleh manusia, ataupun dianggap besar. Selama di dalamnya terdapat kebenaran (Al-Haq) yang bisa mengungkap kebatilan, Allah akan menjadikannya perumpamaan.

Keajaiban Penciptaan Seekor Nyamuk

Seekor nyamuk adalah hewan pertama yang Allah sebutkan di awal Al-Qur’an (Al-Baqarah). Menariknya, hewan darat terbesar, yaitu gajah, justru Allah sebutkan di akhir-akhir surah Al-Qur’an (Surah Al-Fiil). Secara hikmah, ini mengajarkan kita bahwa jika ingin mempelajari agama, mulailah dari hal-hal yang kecil dan mendasar, dimulai dengan Al-Qur’an yang merupakan kunci segala ilmu (Miftahul Ulum).

Al-Imam Hasan Al-Basri rahimahullah pernah merenungkan kelemahan manusia dengan berkata:

“Sungguh kasihan anak cucu Adam. Seekor nyamuk saja bisa menyakitinya, seteguk air (yang tersedak) bisa membunuhnya. Setiap hari ia berpindah satu fase meninggalkan dunia menuju alam akhirat. Tetapi barangkali ia takabur, sombong, berbuat kezaliman, dan angkuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Meskipun terlihat sangat kecil dan sepele, nyamuk menyimpan anatomi tubuh yang luar biasa kompleks. Para ilmuwan dan ahli bedah anatomi binatang modern menemukan bahwa segala hal yang ada pada seekor gajah raksasa, juga terdapat pada seekor nyamuk yang kecil. Nyamuk memiliki belalai dan memiliki kaki layaknya gajah. Bahkan, ada sistem organ pada nyamuk yang tidak dimiliki oleh gajah.

Fakta-fakta kebesaran Allah pada anatomi seekor nyamuk:

  • Di kepalanya terdapat 100 mata.
  • Di dalam mulutnya yang sangat kecil, terdapat 48 gigi (sementara manusia dewasa hanya memiliki 32 gigi).
  • Memiliki 3 jantung: satu jantung utama di tengah, dan dua jantung di sebelah kanan serta kiri.
  • Memiliki sistem indra pendeteksi panas (thermal) yang luar biasa canggih, mengalahkan sensor pesawat terbang. Karenanya, nyamuk tetap bisa menemukan tubuh kita untuk digigit meski di dalam kamar yang gelap gulita.
  • Memiliki kemampuan berjalan dan hinggap di atas permukaan air, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia yang sombong.
  • Memiliki cairan obat bius (anestesi) alami. Saat jarumnya menembus kulit, kita tidak merasakannya karena area tersebut telah dibius. Kita baru sadar tergigit setelah obat bius itu hilang dan nyamuknya sudah terbang kenyang.
  • Peneliti Barat menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk meneliti satu jenis nyamuk, padahal terdapat hingga 300.000 jenis nyamuk di dunia.
  • Umur seekor nyamuk bisa bertahan hingga 30 hari. Bisa jadi nyamuk yang menggigit kita hari ini adalah generasi yang sama sekali berbeda dengan bulan lalu.

Subhanallah alladzi atqana kulla syai’. Maha Suci Allah yang Maha Sempurna dalam mendesain seluruh ciptaan-Nya secara detail. Seekor nyamuk jauh lebih rumit dan hebat daripada makhluk besar lainnya.

Sikap Orang Beriman vs Orang Kafir

Ayat ini menyoroti perbedaan mendasar dalam merespons ayat-ayat Allah:

1. Orang-Orang Beriman (Mukmin)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ

Mereka meyakini tanpa keraguan bahwa apa pun yang Allah sebutkan adalah sebuah kebenaran (Al-Haq) dari Tuhan mereka. Sikap mereka adalah Sami’na wa Atha’na (Kami dengar dan kami taati). Jika ada perintah salat, zakat, puasa, atau haji, mereka langsung melaksanakannya tanpa mencari-cari alasan atau dalil untuk lari dari kewajiban.

2. Orang-Orang Kafir

وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا

Mereka bersikap kritis yang merusak, menolak, dan meremehkan hikmah Tuhan. Mereka menjadikan keraguan sebagai penghalang hidayah.

Al-Qur’an itu Hammalul Wujuh (memiliki cakupan makna dan penafsiran yang luas). Ada makna yang sudah sangat jelas (muhkamat) dan ada yang butuh pendalaman. Orang beriman akan tunduk sepenuhnya pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya, sekecil apa pun perintah itu terlihat.

Pelajaran Utama (Fawaid) dari Al-Baqarah Ayat 26

Pertama: Menetapkan Sifat Malu (Al-Haya’) Bagi Allah

Dari ayat ini kita memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat-sifat yang sempurna dan sesuai dengan keagungan Zat-Nya. Salah satunya adalah Sifat Malu (Al-Haya’ / Al-Istihya’). Tentu saja rasa malu Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya.

Dalam memahami Asma wa Sifat, para ulama salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri dan Imam Malik mengajarkan prinsip:

Amirruha kama ja’at atau Imrar kama ja’at (Biarkan dan lewati sifat-sifat tersebut sebagaimana dalil itu datang, berimanlah tanpa menanyakan ‘bagaimana caranya/bila kaif’).

Sebagai contoh, ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang bagaimana Allah bersemayam (Istiwa) di atas ‘Arsy, beliau menjawab dengan kaidah emas:

الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Istiwa (Bersemayamnya Allah) itu sudah diketahui maknanya (telah disebutkan dalam Al-Qur’an). Adapun bagaimana caranya (kaif) tidaklah diketahui. Beriman kepadanya adalah wajib. Dan bertanya tentang bagaimana caranya adalah perbuatan bid’ah.” (Orang yang bertanya tersebut kemudian dikeluarkan dari majelis Imam Malik).

Semestinya, kesadaran bahwa Allah memiliki Sifat Malu sudah cukup untuk membuat kita, sebagai hamba-Nya, merasa sangat malu untuk terus-menerus berbuat maksiat kepada-Nya.

Kedua: Kehancuran Kesombongan oleh Seekor Nyamuk

Nyamuk yang dianggap kecil dan hina oleh manusia, nyatanya pernah dijadikan tentara oleh Allah untuk membinasakan manusia yang paling sombong dan mengklaim dirinya tuhan, yaitu Raja Namrud.

Disebutkan dalam catatan riwayat tafsir, seekor nyamuk masuk melalui lubang hidung Namrud hingga menggerogoti otaknya. Rasa sakit yang ditimbulkan sangat luar biasa, sampai-sampai Namrud memerintahkan para penjaganya untuk memukuli kepalanya sendiri setiap saat. Sakitnya pukulan godam di kepala ternyata jauh lebih ringan dibandingkan rasa sakit akibat seekor nyamuk di dalam kepalanya, hingga akhirnya ia mati dalam keadaan terhina. (Meskipun status kesahihan riwayat detail ini perlu dikaji, ia banyak disebutkan oleh mufassir sebagai ibrah). Ini harusnya menjadikan kita takut dan tidak sombong di hadapan Allah.

Ketiga: Iman adalah Jalan Keselamatan (Al-Iman Thariqun Najah)

Orang yang beriman akan mendapati bahwa ketaatan tanpa syarat kepada firman Allah adalah jalan satu-satunya menuju keselamatan. Sebaliknya, orang-orang kafir yang mempertanyakan dan mencela firman Allah justru akan semakin tersesat dan dijauhkan dari rahmat-Nya.

Penutup

Semoga pemaparan tafsir ini bermanfaat. Kebenaran semata-mata datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan adapun kesalahan mutlak berasal dari kelemahan diri kami pribadi.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Tim Ilmiah Markaz Inayah

Markazinayah.com adalah website dakwah yg dikelola oleh Indonesian Community Care Center Riyadh, KSA. Isi dari website ini adalah kontribusi dari beberapa mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di beberapa universitas di Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button