Zhahir Nas Al-Quran dan Sunnah Menurut Imam Asy-Syafi’iy

125

Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah dikenal sangat gigih mempertahankan posisi Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai sumber aqidah dan hukum, termasuk Sunnah yang ahad, hingga beliau digelar sebagai Nashir As-Sunnah. Beliau menempatkan nas-nas Al-Quran dan Sunnah di atas segala-galanya. Tidak ada kata protes apalagi menolak dalam kamusnya. Karena Al-Quran dan Sunnah merupakan dasar pijakan aqidah dan hukum yang mengikat seorang muslim. Beliau menolak setiap perkataan, pendapat ataupun logika yang melangkahi dan melampau nas keduanya. Karenanya, jika terdapat perkataan, pendapat dan pandangan pribadinya yang terbukti bertentangan dengan nas maka dengan tegas beliau meminta agar pendapatnya ditinggalkan dan harus berpegang dengan nas. Di antara ucapan beliau: 

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا قولي 

Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ambillah Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.” (Lihat: Manaqib Asy-Syafi’iy li Al-Baihaqiy: 1/472; dan AlMajmuSyarh Al-Muhadzzab li AnNawawiy: 1/63). 

Prinsip memahami zhahir nas Al-Quran dan Sunnah  

Selain kegigihan Imam Asy-Syafiiy dalam mempertahankan posisi nas, beliau juga telah meletakkan prinsip dasar dalam mengkaji dan memahami nas-nas Al-Quran dan Sunnah. Salah satu prinsip dasar yang kelak menjadi kaidah penting dalam beriteraksi dengan nas-nas Al-Quran dan Sunnah yang beliau letakkan adalah perlunya memahami nas-nas sesuai makna zhahir-nya tanpa mengalihkannya pada makna lain dengan jalan takwil tanpa dasar. Beliau berkata,  

والقرآن على ظاهره، حتى تأتي دلالة منه أو سنة أو إجماع بأنه على باطن دون ظاهر   

“Al-Quran (dipahami) sesuai makna zhahirnya, sampai ada dilalah (dalil lain) dari Al-Quran atau Sunnah atau ijmak yang menunjukkan bahwa bahwa dilalah dipahami secara batin dan bukan secara zhahir. (Lihat: Ar-Risalah, hal. 435). 

Artinya nas Al-Quran tidak boleh dikeluarkan dari makna zhahirnya hingga ada dalil yang mengalihkan zhahirnya kepada makna lainnya. Dan dalil yang dapat mengalihkannya adalah Al-Quran sendiri, atau Sunnah atau ijmak.  

Di tempat lain dalam konteks membicarakan hadis-hadis yang berhubungan dengan larangan mengerjakan salat setelah menunaikan salat Asar hingga Magrib dan salat Subuh hingga matahari terbit dan meninggi, beliau berkata, 

وهكذا غير هذا من حديث رسول الله، هو على الظاهر من العام حتى تأتي الدلالة عنه كما وصفت، أو بإجماع المسلمين: أنه على باطن دون ظاهر، وخاص دون عام 

Demikianlah sikap terhadap hadis ini ataupun hadis Rasulullah yang lainnya, yakni (dipahami) sesuai makna zhahirnya dan berlaku umum hingga terdapat dilalah (dalil lain) dari hadis tersebut sebagaimana Aku sebutkan, atau ada ijmak kaum muslimin bahwa hadis tersebut berlaku padanya makna batin dan bukan makna zhahir, atau khusus dan bukan umum. (Lihat: Ar-Risalah, hal. 278 ).  

Dalam kedua nukilan tersebut, setidaknya terdapat dua hal penting yang beliau pertegas, yaitu:  

Pertama, kewajiban memperlakukan nas Al-Quran dan Sunnah apa adanya sesuai makna zhahir-nya. 

Kedua, bahwa tidak boleh makna zhahir dari nas tersebut dialihkan kepada makna non zhahir kecuali dengan dalil yang beliau kemukakan; yaitu dalil Al-Quran, atau Sunnah, atau ijmak. 

Penegasan dan pembatasan beliau dengan ketiga jenis dalil tersebut memberi isyarat bahwa seseorang yang ingin mengalihkan makna zhahir kepada makna non zhahir dari nas Al-Quran dan Sunnah tidak boleh seenaknya dan sekehendaknya memainkan nas tanpa aturan. Adanya batasan pada ketiga jenis dalil tersebut menolak takwil-takwil yang tidak berdasar kepada ketiganya atau salah satu di antaranya. Dengan demikian mengalihkan makna zhahir suatu nas hanya karena alasan logika, perasaan atau tradisi dan semacamnya tertolak dalam pandangan Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. 

Hal ini tentu saja sangat beralasan, karena jika tidak demikian maka fungsi nas Al-Quran dan Sunnah sebagai bayan (penjelasan) atas apa yang dikendaki oleh Allah dan Rasulullah lewat nas khitab yang disampaikan kepada hamba tidak terwujud, dan akan menjadi ambigu bagi orang yang membaca atau mendengarkannya.   

Makna zhahir dari suatu nas adalah makna yang langsung terbetik dan dipahami oleh orang mengerti bahasa Al-Quran saat membaca atau mendengarkan suatu nas. Tentu hal tersebut ditentukan oleh konteks nas dan susunan kalimat dan objek pembicaraan yang disinggung di dalam nas tersebut.  

Di tempat lain, dalam konteks pembicaraan wajibnya seorang muslim mempelajari bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Quran dan bacaan yang dibaca dalam amal ibadah, Imam Asy-Syafi’iy lebih detail menyinggung kembali persoalan makna zhahir dari suatu nas. Beliau berkata, 

فإنما خاطب الله بكتابه العرب بلسانها، على ما تعرف من معانيها، وكان مما تعرف من معانيها: اتساع لسانها، وأن فطرته أن يخاطب بالشيء منه عاما، ظاهرا، يراد به العام، الظاهر، ويستغنى بأول هذا منه عن آخره. وعاما ظاهرا يراد به العام، ويدخله الخاص، فيستدل على هذا ببعض ما خوطب به فيه؛ وعاما ظاهرا، يراد به الخاص. وظاهرا يعرف في سياقه أنه يراد به غير ظاهره. فكل هذا موجود علمه في أول الكلام، أو وسطه، أو آخره  

Allah menyampaikan khitab-nya dengan Kitab-Nya kepada orang Arab dengan bahasa mereka, sesuai yang meraka pahami dari makna-maknanya. Dan di antara yang dipahami dari maknanya adalah luasnya cakupan bahasanya. Dan bahwa fitrah orang Arab mengemukaan sesuatu dengan ungkapan umum dan zhahir dengan maksud umum dan zhahir, uslub ini jelas dimaksudkan dari awal pembicaraan hingga akhir. Adakala ungkapan umum dan zhahir dimaksudkan untuk ungkapan umum tetapi inklud di dalamnya hal yang bersifat khusus. Uslub ini diketahui melalui indikasi sebagian dari konteks yang dibicarakan di dalamnya. Kadang juga ungkapan umum dan zhahir dimaksudkan untuk hal yang bersifat khusus. Kadang kala ada ungkapan zhahir tetapi dipahami dari konteksnya bahwa yang dimaksud bukan zhahirnya. Semua hal tersebut ada ilmunya di awal, pertengahan atau pun di akhir teks pembicaraan. (Lihat: Ar-Risalah, hal 112-113). 

 

Kemudian beliau memberi beberapa contoh penerapan dari metode yang beliau kemukakan tersebut dalam bebarapa halaman dalam kitab Ar-Risalah karya beliau. 

Poin yang patut digarisbawahi dalam konteks kutipan tulisan Imam Asy-Syafi’iy tersebut adalah beliau ingin menegaskan persoalan bagaimana berinterkasi dengan nas-nas khitab Allah kepada hambaNya melalui wahyu. Yaitu memperlakukan dan memahami sesuai zhahir nasnya menurut orang yang paham bahasa Arab dan tidak mengalihkannya kepada makna non zhahir tanpa dalil dari Al-Quran, Sunnah, ataupun ijmak.  

Dengan demikian, peran ilmu bahasa Arab dipandang sangat penting dalam upaya memahami nas-nas Al-Quran dan Sunnah. Karenanya, Imam Asy-Syafi’iy pun menyerukan kepada setiap muslim untuk giat mempelajari dan memahami bahasa Arab sebagai bekal untuk membaca dan memahami Al-Quran dan bacaan amal ibadah yang dikerjakannya. Beliau berpandangan bahwa belajar bahasa Arab hukumnya wajib sebagaimana wajibnya seorang muslim mempelajari salat beserta zikir-zikirnya. (Lihat, Ar-Risalah, hal. 110-111).  

Leave A Reply

Your email address will not be published.