Tatsqif

SHALAT DI MASJID QUBA’

SHALAT DI MASJID QUBA’

Keutamaan Shalat di Masjid Quba

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun dalam Islam ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Quba dalam perjalanan hijrah dari Makkah. Rasulullah ﷺ turut serta membangun masjid tersebut dengan tangan beliau sendiri. Masjid Quba terletak di sebelah barat daya Kota Madinah, berjarak sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi.

Rasulullah ﷺ senantiasa mengunjunginya dari waktu ke waktu untuk melaksanakan shalat di dalamnya. Terkadang beliau datang dengan berkendaraan, dan terkadang berjalan kaki. Setelah tiba, beliau melaksanakan shalat dua rakaat.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:

> «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْتِي قُبَاءً رَاكِبًا وَمَاشِيًا، فَيُصَلِّي فِيهِ رَكْعَتَيْنِ»

“Nabi ﷺ biasa mendatangi Quba dengan berkendaraan maupun berjalan kaki, lalu beliau shalat di dalamnya dua rakaat.”

Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sunan an-Nasa’i disebutkan:

> «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ رَاكِبًا وَمَاشِيًا، وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ»

“Rasulullah ﷺ biasa mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan maupun berjalan kaki. Dan Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā juga melakukan hal tersebut.”

Pahala Shalat di Masjid Quba Seperti Pahala Umrah

Diriwayatkan oleh Usaid bin Zhuhair al-Ansari radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ»

“Shalat di Masjid Quba pahalanya seperti (pahala) satu umrah.”

(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 3872)

Ibnu Hajar al-Asqalani رحمه الله berkata:

> «وَلَا نَعْرِفُ لِأُسَيْدِ بْنِ ظُهَيْرٍ حَدِيثًا صَحِيحًا غَيْرَ هَذَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ»

“Kami tidak mengetahui ada hadis sahih dari Usaid bin Zhuhair selain hadis ini. Wallahu a’lam.”

Diriwayatkan pula dari Sahl bin Hunaif radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> «مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ، فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ»

“Barang siapa bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba lalu mengerjakan shalat di dalamnya, maka ia memperoleh pahala seperti pahala satu umrah.”

(HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah; dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 6154)

Catatan: Lafaz «فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً» mencakup shalat wajib maupun shalat sunnah.

Atsar Sahabat

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā bahwa setelah menghadiri suatu jenazah, beliau berjalan menuju Masjid Quba. Ketika ditanya:

> “Wahai Abu Abdurrahman, hendak ke mana engkau pergi?”

Beliau menjawab:

> «أَؤُمُّ هَذَا الْمَسْجِدَ فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ صَلَّى فِيهِ كَانَ كَعَدْلِ عُمْرَةٍ»

“Aku menuju masjid Bani ‘Amr bin ‘Auf (yakni Masjid Quba), karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa shalat di dalamnya, maka baginya pahala yang sebanding dengan satu umrah.'”

(HR. Ibnu Hibban; dinyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 1184)

Perkataan Sahabat

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqas radhiyallāhu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim melalui putranya ‘Amir dan putrinya ‘Aisyah, beliau berkata:

> «لَأَنْ أُصَلِّيَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّيَ فِي مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ»

“Sungguh, shalatku di Masjid Quba lebih aku sukai daripada shalatku di Masjid Baitul Maqdis.”

(Diriwayatkan oleh Al-Hakim; dinilai sahih sebagai atsar mauquf dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 1183)

KETENTUAN MENDAPATKAN PAHALA UMRAH

Telah sahih dari Nabi ﷺ bahwa:

> «أَنَّهُ كَانَ يَزُورُ قُبَاءَ كُلَّ سَبْتٍ، رَاكِبًا وَمَاشِيًا»

“Beliau biasa mengunjungi Quba setiap hari Sabtu, terkadang dengan berkendaraan dan terkadang berjalan kaki.”

Beliau ﷺ juga bersabda:

> «مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ، فَصَلَّى فِيهِ رَكْعَتَيْنِ؛ كَانَ كَعُمْرَةٍ»

“Barang siapa bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba lalu mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya, maka ia memperoleh pahala seperti pahala satu umrah.”

Keutamaan ini disebutkan bagi orang yang bersuci dari rumahnya, kemudian keluar dengan tujuan khusus untuk melaksanakan shalat di Masjid Quba. Orang seperti inilah yang memperoleh pahala tersebut.

Adapun orang yang shalat di Masjid Quba sebagaimana biasanya tanpa berangkat dari rumah dengan niat khusus menuju masjid tersebut, maka ia tetap memperoleh pahala dan kebaikan yang besar. Akan tetapi, syarat yang disebutkan dalam hadis tidak terpenuhi padanya. Keutamaan khusus ini hanya diperoleh oleh orang yang bersuci di rumahnya, kemudian keluar dari rumahnya dengan sengaja menuju Masjid Quba untuk shalat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Adapun seseorang yang shalat di Masjid Quba tanpa berangkat dari rumah dengan tujuan khusus, misalnya ia kebetulan melewatinya lalu shalat di sana, atau ia termasuk penduduk sekitar masjid dan mengerjakan shalat fardu di dalamnya, maka diharapkan baginya pahala dan kebaikan yang besar. Namun, ia tidak memperoleh keutamaan yang disebutkan Nabi ﷺ kecuali dengan memenuhi syarat-syarat yang beliau sebutkan, yaitu:

> «مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ، وَصَلَّى فِيهِ»

“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya.”

Maksudnya, ia keluar dari rumahnya dengan tujuan khusus menuju Masjid Quba. Maka siapa saja yang keluar dari rumahnya dengan niat tersebut, baik pada hari Jumat maupun hari lainnya, lalu shalat di Masjid Quba, niscaya ia memperoleh pahala yang agung itu. Segala puji bagi Allah.

Perkataan Ulama

Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله. Beliau berkata:

> «إِنَّمَا يَحْصُلُ هَذَا لِمَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، وَخَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ قَاصِدًا الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُ»

“Keutamaan ini hanya diperoleh oleh orang yang bersuci di rumahnya, lalu keluar dari rumahnya dengan tujuan melaksanakan shalat di Masjid Quba, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ.”

Beliau juga berkata:

> «أَمَّا الصَّلَاةُ فِيهِ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ مِنَ الْبَيْتِ… فَيُرْجَى لَهُ خَيْرٌ عَظِيمٌ، لَكِنْ لَا يَتَوَفَّرُ فِيهِ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَّا بِالشُّرُوطِ الَّتِي قَالَهَا»

“Adapun orang yang shalat di sana tanpa berangkat dari rumah dengan tujuan khusus, maka diharapkan baginya kebaikan yang besar. Akan tetapi, keutamaan yang disebutkan Nabi ﷺ tidak diperoleh kecuali dengan memenuhi syarat-syarat yang beliau sebutkan.”

Semoga bermanfaat

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button