Motivasi Islami

Waspadai Kesedihan yang Melemahkan Iman

Waspadai Kesedihan yang Melemahkan Iman

Mukadimah

Segala puji bagi Allah Ta‘ala yang melapangkan dada orang-orang beriman dengan iman, harapan, dan tawakal. Dia melarang hamba-hamba-Nya dari segala sesuatu yang melemahkan hati, mematahkan semangat, dan menghalangi seorang hamba dari ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang membimbing umatnya menuju ketenangan hati, kekuatan jiwa, dan husnuzan kepada Allah dalam setiap keadaan.

Di antara penyakit hati yang sering luput disadari, namun memiliki dampak besar terhadap iman dan amal, adalah kesedihan yang berlarut-larut. Kesedihan semacam ini tidak mendekatkan seorang hamba kepada Allah, bahkan sering kali melemahkan tekad, merusak semangat beramal, dan membuka pintu bisikan setan.

Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah datang dengan bimbingan yang jelas agar seorang mukmin tidak tenggelam dalam kesedihan, tetapi bangkit dengan iman, harapan, dan keyakinan kepada Allah.

Perkataan Ibnu al-Qayyim – Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Ibn Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam “Madarij as-Sālikīn: Antara Tahapan-Tahapan Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn”:

“Kedudukan Kesedihan

Di antara manzilah (tahapan ruhani) dalam firman Allah “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan” adalah manzilah kesedihan.

Namun, kesedihan bukanlah manzilah yang dituntut, bukan pula keadaan yang diperintahkan untuk ditempati, meskipun seorang penempuh jalan (sālik) tidak mungkin terlepas darinya. Dan kesedihan tidak pernah disebutkan dalam Al-Qur’an kecuali dalam bentuk larangan atau penafian.

Larangan tersebut seperti firman Allah Ta‘ala:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” 📖 QS. Ali ‘Imran: 139

Dan firman-Nya:

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ

“Dan janganlah engkau bersedih atas mereka.” 📖 QS. An-Nahl: 127

pada beberapa tempat.

Demikian pula firman-Nya:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” 📖 QS. At-Taubah: 40

Adapun penafian kesedihan seperti firman Allah Ta‘ala:

فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih.” 📖 QS. Al-Baqarah: 38

Rahasia dari hal ini adalah bahwa kesedihan merupakan keadaan yang menghentikan perjalanan, bukan mendorongnya, dan tidak ada maslahat di dalamnya bagi hati. Bahkan perkara yang paling dicintai oleh setan adalah membuat seorang hamba bersedih, agar ia terputus dari perjalanannya dan terhenti dari suluk-nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, agar ia membuat orang-orang yang beriman bersedih.” 📖 QS. Al-Mujadilah: 10

Dan Nabi ﷺ melarang tiga orang yang sedang bersama agar dua di antara mereka tidak berbisik tanpa yang ketiga, karena hal itu dapat membuatnya bersedih.

Maka kesedihan bukanlah sesuatu yang dituntut, bukan tujuan, dan tidak ada manfaat di dalamnya. Nabi ﷺ bahkan berlindung darinya dengan doa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ»

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.” 📚 HR. Al-Bukhari

Kesedihan adalah pasangan dari kegelisahan (al-hamm). Perbedaan antara keduanya adalah:

  • keburukan yang terkait dengan masa depan akan melahirkan kegelisahan,
  • sedangkan yang terkait dengan masa lalu akan melahirkan kesedihan.

Keduanya sama-sama melemahkan hati dari perjalanan menuju Allah dan mematahkan tekad.

Namun demikian, turunnya kesedihan pada seorang hamba adalah sesuatu yang tak terelakkan secara realita. Oleh karena itu, penghuni surga ketika memasukinya berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.” 📖 QS. Fathir: 34

Ini menunjukkan bahwa di dunia mereka pernah ditimpa kesedihan, sebagaimana mereka ditimpa berbagai musibah lain yang terjadi tanpa pilihan mereka.

Adapun firman Allah Ta‘ala:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

“Dan tidak pula berdosa orang-orang yang ketika datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata: ‘Aku tidak memiliki apa yang dapat membawamu,’ mereka pun berpaling dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak mendapatkan apa yang dapat mereka infakkan.” 📖 QS. At-Taubah: 92

Mereka tidak dipuji karena kesedihan itu sendiri, tetapi dipuji karena makna yang ditunjukkan oleh kesedihan tersebut, yaitu kuatnya iman mereka, karena mereka tertinggal dari Rasulullah ﷺ bukan karena kemunafikan, melainkan karena ketidakmampuan. Ayat ini juga mengandung sindiran terhadap orang-orang munafik yang tidak bersedih atas ketertinggalan mereka, bahkan merasa senang dengannya.

Adapun sabda Nabi ﷺ dalam hadis sahih:

«مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ هَمٍّ وَلَا نَصَبٍ وَلَا حُزْنٍ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهِ مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah seorang mukmin ditimpa kegelisahan, keletihan, atau kesedihan, melainkan Allah menghapuskan dengannya sebagian dosa-dosanya.” 📚 HR. Al-Bukhari dan Muslim

maka hadis ini menunjukkan bahwa kesedihan adalah musibah dari Allah yang dengannya seorang hamba dihapuskan dosa-dosanya, bukan menunjukkan bahwa kesedihan adalah maqam yang patut dicari atau ditetapi.

Adapun hadis yang dinisbatkan kepada Hind bin Abi Halah dalam sifat Nabi ﷺ bahwa beliau “senantiasa bersedih”, maka hadis tersebut tidak sahih, dan dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal.

Bagaimana mungkin Nabi ﷺ senantiasa bersedih, padahal Allah telah menjaganya dari kesedihan dunia dan sebab-sebabnya, melarang beliau bersedih atas orang-orang kafir, dan telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang? Dari mana datangnya kesedihan itu?

Justru beliau ﷺ selalu ceria, banyak tersenyum, sebagaimana disebutkan dalam sifat beliau: “Beliau adalah pribadi yang banyak tersenyum dan tegas dalam peperangan.” Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.

Adapun riwayat:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ كُلَّ قَلْبٍ حَزِينٍ.

“Sesungguhnya Allah mencintai setiap hati yang bersedih,” maka tidak diketahui sanadnya, siapa yang meriwayatkannya, dan tidak jelas kesahihannya.

Kalaupun riwayat itu sahih, maka kesedihan adalah musibah di antara musibah-musibah yang Allah timpakan kepada hamba-Nya. Jika seorang hamba ditimpa kesedihan lalu ia bersabar, maka Allah mencintai kesabarannya terhadap musibah tersebut, bukan kesedihan itu sendiri.

Adapun atsar lain:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَصَبَ فِي قَلْبِهِ نَائِحَةً، وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا جَعَلَ فِي قَلْبِهِ مِزْمَارًا.

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia menanamkan dalam hatinya seorang peratap; dan jika Dia membenci seorang hamba, Dia menjadikan dalam hatinya seruling,”

maka itu adalah atsar Israiliyat, dikatakan berasal dari Taurat, namun maknanya benar. Karena seorang mukmin bersedih atas dosa-dosanya, sedangkan orang fajir hidup dalam kelalaian, permainan, dan kegembiraan semu.

Adapun firman Allah tentang Nabi-Nya Ya‘qub ‘alaihis salam:

وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan amarahnya.” 📖 QS. Yusuf: 84

itu adalah pemberitaan tentang kondisi beliau akibat musibah kehilangan anaknya yang sangat dicintainya, dan bahwa Allah mengujinya dengan perpisahan tersebut, sebagaimana Allah mengujinya dengan musibah lainnya.

Para ahli suluk sepakat bahwa kesedihan dunia tidaklah terpuji, kecuali Abu ‘Utsman al-Hiri, yang berpendapat bahwa kesedihan dalam segala bentuknya adalah keutamaan dan tambahan bagi seorang mukmin selama bukan karena maksiat. Ia berkata: karena meskipun tidak melahirkan keistimewaan, ia tetap melahirkan penyucian.

Maka dijawab: tidak diragukan bahwa kesedihan adalah ujian dan cobaan dari Allah, seperti sakit, kegelisahan, dan kesempitan. Namun bahwa kesedihan adalah manzilah dari manzilah-man zilah perjalanan menuju Allah, maka tidak demikian. Dan Allah Yang Mahasuci lebih mengetahui”.

Selesai nukilan dari Ibnul Qayyim rahimahullah.

Poin-Poin Faedah dan Pelajaran

1. Kesedihan dalam Al-Qur’an datang dalam bentuk larangan atau penafian

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa kata al-huzn (kesedihan) dalam Al-Qur’an tidak datang kecuali dalam dua bentuk:

Dilarang, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا﴾

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati.” (QS. Ali ‘Imran: 139)

Dinafikan dari orang beriman, sebagaimana firman-Nya:

﴿فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾

“Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih.” (QS. Al-Baqarah: 38)

Hal ini menunjukkan bahwa kesedihan yang menetap bukan sifat ideal seorang mukmin.

2. Kesedihan melemahkan hati dan merusak semangat

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata bahwa kesedihan:

  • Melemahkan hati,
  • Mematahkan tekad,
  • Merusak kehendak dan motivasi beramal.

Tidak ada sesuatu yang lebih disukai setan daripada melihat seorang mukmin tenggelam dalam kesedihan, karena dengannya ibadah menjadi berat dan ketaatan melemah.

3. Islam mengajarkan kegembiraan dan optimisme

Seorang mukmin diperintahkan untuk bergembira dengan karunia Allah, bukan tenggelam dalam duka. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا﴾

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58)

Rasulullah ﷺ juga menyukai sikap optimis dan bersabda: “Aku menyukai optimisme (tafā’ul).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Husnuzan kepada Allah adalah kunci ketenangan

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي﴾

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Siapa yang berbaik sangka kepada Allah, niscaya hatinya akan tenang dan jauh dari kesedihan yang melemahkan.

5. Jangan merusak hari ini dengan penyesalan masa lalu

Ibnul Qayyim رحمه الله menasihatkan agar seorang mukmin tidak merusak kebahagiaan dan kejernihan akalnya dengan kecemasan, pesimisme, dan terus menoleh kepada masa lalu. Islam mengajarkan untuk mengambil pelajaran, bukan tenggelam dalam penyesalan.

6. Kebaikan kecil bisa mendatangkan doa dan kebahagiaan besar

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya dengan wajah yang berseri.” (HR. Muslim)

Bisa jadi seseorang mendapat banyak doa dan pertolongan Allah karena kebaikan yang ia lakukan tanpa ia sadari.

7. Ridha kepada Allah adalah sumber kebahagiaan sejati

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan ridha kepada takdir Allah, seorang mukmin akan merasakan kebahagiaan dalam setiap keadaan.

Penutup

Kesedihan yang berlarut-larut bukanlah tanda kesalehan, melainkan ujian yang harus dihadapi dengan iman, tawakal, dan husnuzan kepada Allah. Seorang mukmin sejati bukanlah orang yang tidak pernah sedih, tetapi orang yang tidak membiarkan kesedihan menguasai hatinya dan menjauhkannya dari Allah.

Barang siapa mengisi hatinya dengan ridha, harapan, dan keyakinan kepada Rabb-nya, niscaya Allah akan menggantikan kesedihannya dengan ketenangan, kekuatannya dengan kelemahan, dan kegelisahannya dengan kebahagiaan yang hakiki.

Doa

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu

  • dari kesedihan dan kegelisahan,
  • dari kelemahan dan kemalasan,
  • dari rasa takut dan duka yang melemahkan iman kami.

Ya Allah, penuhi hati kami

  • dengan ridha kepada-Mu,
  • dengan husnuzan kepada takdir-Mu,
  • dengan keyakinan kepada janji-Mu.

Jadikan kami hamba-hamba-Mu

  • yang kuat imannya,
  • tenang jiwanya,
  • dan bahagia dengan apa yang Engkau takdirkan.

Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button