Akidah

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP AKIDAH PEMUDA

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP AKIDAH PEMUDA

Disebutkan oleh Ibnu Muflih dalam kitab Al-Adab Asy-Syar‘iyyah (3/550) tanpa sanad. dan diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra dari ‘Amr bin Qais:

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Fadhl Ja‘far bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hammam, ia berkata: aku mendengar ayahku berkata: aku mendengar ‘Amr bin Qais Al-Mula’i berkata:

«إِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ أَوَّلَ مَا يَنْشَأُ مَعَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَارْجُهُ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ مَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ فَايْأَسْ مِنْهُ، فَإِنَّ الشَّابَّ عَلَى أَوَّلِ نُشُوئِهِ».

“Jika engkau melihat seorang pemuda pada awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, maka harapkanlah kebaikan padanya. Namun jika engkau melihatnya bersama ahli bid‘ah, maka putuslah harapan darinya. Karena seorang pemuda akan tumbuh di atas awal pertumbuhannya.”

Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra (1/205) dengan sanad yang sahih.

Abu Hammam adalah Al-Walid bin Syuja‘ bin Qais As-Sakuni. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dan Muhammad bin Ishaq meriwayatkan darinya. Keduanya terpercaya (tsiqah).

Ini adalah atsar sahih pertama yang diketahui menggunakan istilah “Ahlus Sunnah wal Jama‘ah”, yaitu pada masa tabi‘ut tabi‘in. Di dalamnya terdapat dalil bahwa generasi salaf saleh adalah pihak pertama yang menggunakan istilah tersebut, bukan selain mereka.

Perkataan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i Abu ‘Abdillah ini menunjukkan besarnya bahaya bid‘ah dan bahwa bid‘ah lebih berat daripada dosa besar. Maksud ucapannya:

«إِذَا رَأَيْتَ الشَّابَّ أَوَّلَ مَا يَنْشَأُ مَعَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَارْجُهُ».

“Jika engkau melihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah maka harapkanlah kebaikan darinya,”

yakni diharapkan ia mendapatkan kebaikan. Sebab seseorang biasanya tumbuh di atas keyakinan yang ia pelajari sejak kecil. Jika ia tumbuh di atas akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah maka biasanya ia akan terus di atasnya. Sebaliknya, jika ia tumbuh di atas keyakinan ahli bid‘ah maka biasanya ia akan terus di atasnya.

Dalam atsar ini terdapat peringatan keras dari bid‘ah, dan dorongan bagi penuntut ilmu agar berpegang teguh kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah serta bersyukur kepada Allah karena diberi taufik tumbuh di atas akidah tersebut.

Akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah adalah kesatuan akidah yang memiliki konsistensi dari zaman generasi pertama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya dan diyakini oleh setiap ulama yang mengikuti jalan mereka dengan baik di setiap generasi dan kembali disebarkan dan dihidupkan oleh: Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim Melalui karya-karya mereka seperti: Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Al-Hamawiyyah, At-Tadmuriyyah, Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah.

Kemudian dakwah tersebut diteruskan oleh: Muhammad bin Abdul Wahhab dan para imam dakwah setelahnya, yang menyebarkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah di berbagai penjuru dunia.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

يحمِلُ هذا العلمَ من كلِّ خلَفٍ عدولُه ينفونَ عنهُ تحريفَ الغالينَ وانتحالَ المبطلينَ وتأويلَ الجاهلينَ

“Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi. Mereka menolak darinya penyimpangan orang-orang jahil, pemalsuan para pembuat kebatilan, dan penakwilan orang-orang yang melampaui batas.”

Allah menjadikan kebaikan tetap ada pada umat ini dan tidak akan terputus hingga hari kiamat tiba. Meskipun manusia hidup jauh dari zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat رضي الله عنهم selama berabad-abad, agama ini tetap terjaga dengan sebab para ulama dan para pejuang agama.

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ilmu syar‘i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah beserta cabang-cabang ilmunya adalah anugerah dari Allah. Ilmu tersebut dipelajari dan dipikul pada setiap generasi oleh orang-orang yang paling adil, terpercaya, dan terbaik di zamannya.

Mereka adalah orang-orang yang menyeru kepada kebaikan sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ﴾

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 104)

Di antara tugas besar para ulama pembawa ilmu ini adalah: menjaga agama Allah, membersihkan agama dari penyimpangan orang jahil, membantah kebohongan para pendusta, menolak bid‘ah dan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama.

Mereka menjaga agama dari penyelewengan ahli bid‘ah, kaum ekstrem, dan orang-orang yang memasukkan sesuatu ke dalam agama padahal bukan bagian darinya, seperti kelompok Khawarij dan selain mereka.

Hadis ini juga merupakan arahan Nabi ﷺ bagi para penuntut ilmu agar: memperhatikan penjagaan kemurnian agama, berdiri di barisan pembela sunnah, dan bersabar menghadapi berbagai ujian dan fitnah dalam dakwah.

Karena orang yang menegakkan tugas ini sering menghadapi cobaan besar dalam agama dan dunianya, maka penyebutan mereka dalam hadis ini datang dalam bentuk pemuliaan dan pengagungan, sekaligus isyarat besarnya pahala mereka di sisi Allah عز وجل.

Kesimpulannya, atsar ini mengandung pelajaran penting:

1. Masa muda sangat menentukan arah keyakinan seseorang.

2. Lingkungan dan guru sangat memengaruhi akidah.

3. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman salaf adalah nikmat besar.

4. Bid‘ah harus diwaspadai karena seseorang bisa tumbuh dan menetap di atasnya.

5. Pujian bagi para ulama syar‘i.

6. Dorongan untuk menuntut ilmu agama.

7. Peringatan dari orang-orang jahil, pendusta, munafik, dan penipu agama.

8. Peringatan dari sikap ghuluw dan berlebih-lebihan dalam agama Allah.

Namun demikian, perlu kita tegaskan bahwa hidayah tetap di tangan Allah. Terkadang seseorang yang awalnya berada di atas bid‘ah bisa diberi taufik menuju Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Oleh karena itu, seorang muslim tetap memohon keselamatan dan keteguhan kepada Allah Ta‘ala.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (4207) dan Imam Muslim (112) dari Sahl رضي الله عنه, ia berkata:

الْتَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُشْرِكُونَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ فَاقْتَتَلُوا فَمَالَ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَفِي الْمُسْلِمِينَ رَجُلٌ لَا يَدَعُ مِنْ الْمُشْرِكِينَ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا فَضَرَبَهَا بِسَيْفِهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَجْزَأَ أَحَدٌ مَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالُوا أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ لَأَتَّبِعَنَّهُ فَإِذَا أَسْرَعَ وَأَبْطَأَ كُنْتُ مَعَهُ حَتَّى جُرِحَ فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نِصَابَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَجَاءَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ : ( إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ).

Nabi ﷺ bertemu dengan kaum musyrikin dalam salah satu peperangan. Lalu terjadilah pertempuran. Setelah itu masing-masing pasukan kembali ke markas mereka.

Di tengah kaum muslimin ada seorang lelaki yang tidak membiarkan seorang pun dari kaum musyrikin yang terpisah atau sendirian kecuali ia mengejarnya lalu menebasnya dengan pedangnya.

Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang memberikan kontribusi dalam perang sebagaimana si fulan.”

Namun Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka.”

Para sahabat pun terkejut dan berkata: “Kalau dia termasuk penghuni neraka, lalu siapa di antara kita yang termasuk penghuni surga?”

Maka seorang lelaki berkata: “Aku akan terus mengikutinya.”

Lelaki itu terus mengawasinya, baik ketika ia bergerak cepat maupun lambat, hingga akhirnya orang tersebut terluka parah. Ia ingin segera mati, lalu menancapkan gagang pedangnya ke tanah dan meletakkan ujung pedangnya di antara kedua dadanya, kemudian ia menjatuhkan dirinya ke atas pedang itu hingga bunuh diri.

Lelaki yang mengawasinya pun datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

“Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar utusan Allah.”

Nabi ﷺ bertanya: “Ada apa?”

Lalu ia menceritakan kejadian tersebut.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang tampak bagi manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan ada seseorang yang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang tampak bagi manusia, padahal ia termasuk penghuni surga.”

Hadis ini mengajarkan bahwa yang menjadi ukuran bukan hanya amalan lahiriah, tetapi juga keadaan hati dan akhir kehidupan seseorang. Ada orang yang tampak sangat semangat beramal di hadapan manusia, namun rusak niatnya atau buruk penutup hidupnya. Sebaliknya, ada orang yang pernah banyak melakukan kesalahan, lalu Allah memberinya taubat dan husnul khatimah.

Karena itu seorang muslim tidak boleh merasa aman dari makar Allah, tidak boleh ujub dengan amalnya, dan harus selalu memohon keteguhan hati hingga akhir hayat.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita memperhatikan amal penutup kehidupan, sebab:

إنَّ العبدَ ليعمَلُ فيما بينَ الناسِ -وقال ابنُ عبدِ الباقي: فيما يَبْدو للناسِ- بعمَلِ أهلِ الجنَّةِ، وإنَّه لمِن أهلِ النارِ، وإنَّ العبدَ ليعمَلُ فيما بينَ الناسِ بعمَلِ أهلِ النارِ، وإنَّه لمِن أهلِ الجنَّةِ، وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ.

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal di tengah manusia, atau menurut yang tampak bagi manusia, dengan amalan penghuni surga, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal di tengah manusia dengan amalan penghuni neraka, padahal ia termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutup akhirnya.”

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (6493) dengan redaksi yang lebih panjang dan sedikit perbedaan lafaz, serta oleh Imam Muslim (112) dengan sedikit perbedaan lafaz dan tanpa kalimat:

وإنَّما الأعمالُ بالخواتيمِ.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutup akhirnya.”

Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad yang dinyatakan sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth.

Ibnul Jauzi رحمه الله berkata:

«إِنَّ الْخَيْلَ إِذَا شَارَفَتْ نِهَايَةَ الْمِضْمَارِ بَذَلَتْ قُصَارَى جُهْدِهَا لِتَفُوزَ بِالسِّبَاقِ، فَلَا تَكُنِ الْخَيْلُ أَفْطَنَ مِنْكَ، فَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ».

“Kuda-kuda pacuan apabila telah mendekati garis akhir perlombaan, mereka akan mengerahkan seluruh kemampuan mereka agar memenangkan perlombaan. Maka jangan sampai kuda lebih cerdas darimu, karena sesungguhnya amal itu tergantung pada penutup akhirnya.”

Dan Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

«الْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَاتِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَاتِ».

“Yang menjadi ukuran adalah sempurnanya akhir perjalanan, bukan kurangnya permulaan.”

نسأل الله الثبات على الحق، والإخلاص في القول والعمل، وحسن الخاتمة، وأن يعيذنا من الرياء وسوء العاقبة.

“Ya Allah, tetapkan kami di atas kebenaran, karuniakan keikhlasan dalam ucapan dan amal, anugerahkan kepada kami husnul khatimah, dan lindungilah kami dari riya serta buruknya akhir kehidupan.”

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button