Ebook

Buku: Tauhid Dalam Kitab Suci

Download Pdfnya Klik

TAUHID DALAM KITAB SUCI

Segala puji hanya milik Allah semata, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. Amma ba‘du,

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ تَعَالَوۡا۟ إِلَىٰ كَلِمَةࣲ سَوَاۤءِۭ بَیۡنَنَا وَبَیۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَیۡـࣰٔا وَلَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابࣰا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡا۟ فَقُولُوا۟ ٱشۡهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ﴾ [سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ: ٦٤].

﴿ مَا كَانَ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ ﴾ [سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ: ٦٧].

﴿ إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ لَلَّذِینَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَـٰذَا ٱلنَّبِیُّ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ۗ وَٱللَّهُ وَلِیُّ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ ﴾ [سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ: ٦٨].

“Katakanlah, wahai Ahli Kitab, marilah menuju satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu agar kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim. Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian berdebat tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelahnya? Tidakkah kalian berpikir?

Begitulah kalian, kalian telah berdebat tentang perkara yang kalian memiliki ilmu tentangnya. Lalu mengapa kalian berdebat tentang perkara yang kalian tidak memiliki ilmu tentangnya? Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi Muslim, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya manusia yang paling berhak terhadap Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Pelindung orang-orang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 64–68).

Firman-Nya:

﴿ قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ ﴾

“Katakanlah, wahai Ahli Kitab,” perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ.

Yang dimaksud dengan “Ahli Kitab” adalah Yahudi dan Nasrani. Mereka disebut Ahli Kitab karena Allah Ta‘ala menurunkan kitab kepada mereka. Allah menurunkan Taurat kepada Yahudi dan Injil kepada Nasrani. Kitab-kitab mereka tetap ada sampai Nabi ﷺ diutus.

Penyebutan mereka sebagai Ahli Kitab mengandung isyarat bahwa keberadaan mereka sebagai pemilik kitab semestinya mewajibkan mereka menerima kebenaran dan membimbing manusia kepadanya, bukan menolaknya. Di dalamnya juga terdapat sindiran bahwa hujjah telah tegak atas mereka, sekaligus celaan terhadap keadaan mereka berupa kekufuran, kesyirikan, dan pendustaan terhadap para rasul Allah.

﴿ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ ﴾

Makna ﴿ تَعَالَوْا ﴾adalah: kemarilah, hadaplah, dan datanglah.

﴿ إِلَى كَلِمَةٍ ﴾

Kalimat yang dimaksud adalah apa yang Allah jelaskan dalam firman-Nya:

“Agar kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 64).

Maksud firman-Nya:﴿ إِلَى كَلِمَةٍ ﴾ di sini adalah kepada ucapan yang bermakna sempurna, bukan sekadar satu kata tunggal.

Sebagaimana dikatakan “kalimat tauhid” dan “kalimat syahadat”, yang dimaksud adalah: Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.

Dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda:

«أصدق كلمة قالها شاعر: ألا كلُّ شيء ما خلا الله باطل»

“Kalimat paling benar yang diucapkan oleh seorang penyair adalah: Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”[1]

﴿ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ﴾

Kata﴿ سَوَاءٍ ﴾ : adalah sifat bagi﴿ كَلِمَةٍ ﴾ maksudnya: kalimat yang adil dan pertengahan, yang kami dan kalian sama-sama berada di atasnya.

﴿ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ ﴾

Kalimat ini dan kalimat setelahnya merupakan badal dari ﴿كَلِمَةٍ ﴾ yaitu badal keseluruhan dari keseluruhan. Ia adalah penjelasan dan tafsir dari kata كَلِمَةٍ ﴾ ﴿.

Maksudnya: marilah menuju ibadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya, dan tidak menjadikan tuhan-tuhan selain-Nya.

Kata: ﴿ إِلَّا ﴾ dalam firman-Nya ﴿ إِلَّا اللَّهَ ﴾ adalah alat pembatasan. Maksudnya: kami dan kalian tidak menyembah kecuali Allah semata.

Ibadah secara bahasa adalah merendahkan diri dan tunduk kepada Allah Ta‘ala.

Adapun secara syariat, ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa perbuatan maupun ucapan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

﴿ وَلَا نُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا ﴾

Kalimat ini diathafkan kepada kalimat sebelumnya, yaitu firman-Nya:

﴿ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ ﴾

Pada kalimat pertama terdapat pengesaan ibadah hanya untuk Allah Ta‘ala. Konsekuensinya adalah menafikan ibadah dari selain-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

﴿ وَلَا نُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا ﴾

Kata ﴿ شَيْئًا ﴾ adalah nakirah dalam konteks penafian, sehingga mencakup segala sesuatu. Maksudnya: kita tidak mempersekutukan-Nya dengan bentuk syirik apa pun, baik syirik kecil maupun syirik besar, syirik tersembunyi maupun syirik yang tampak.

Syirik besar yang tampak adalah menyembah selain Allah, meminta kebutuhan kepada para wali, penghuni kubur, dan semisalnya.

Adapun syirik kecil dan tersembunyi adalah seperti riya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

«أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. فسئل عنه فقال: الرياء»

“Perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

Beliau ditanya tentangnya, lalu beliau menjawab: “Riya.”[2]

Ia lebih tersembunyi daripada rayapan semut hitam di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita.

Maknanya juga: kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, apa pun itu; bukan berhala, bukan patung, bukan salib, bukan api, bukan malaikat, bukan wali, dan bukan apa pun selain itu.

Maksudnya: marilah kita mengesakan ibadah hanya untuk Allah Ta‘ala semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

﴿ وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ﴾

Huruf wawu adalah athaf, “lā” adalah penafian, dan ﴿يَتَّخِذَ﴾ manshub karena diathafkan kepada ﴿ نَعْبُدَ ﴾.

Kata “ba‘dh” sebagai fa‘il, dan “nā” sebagai mudhaf ilaih adalah maf‘ul pertama dari ﴿ يَتَّخِذَ ﴾sedangkan ﴿ أَرْبَابًا ﴾adalah maf‘ul kedua.

Maksudnya: sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Penggunaan kata “sebagian” mengandung isyarat bahwa mereka semua berasal dari jenis yang sama. Maka bagaimana mungkin sebagian mereka menjadi tuhan bagi sebagian yang lain?

﴿ أَرْبَابًا ﴾ adalah bentuk jamak dari “rabb”, maksudnya: para pemimpin yang ditaati dalam penghalalan dan pengharaman selain Allah.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam Surah At-Taubah:

﴿ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ﴾ [التوبة: 31].

“Mereka menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)

Karena itu, ketika ‘Adi bin Hatim berkata:

يا رسول الله، إنا لسنا نعبدهم؛ قال صلى الله عليه وسلم: «أليس يحرمون ما أحل الله فتحرِّمونه، ويُحلون ما أحل الله فتحلِّونه؟» قال: نعم، قال: «فتلك عبادتهم».

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.”

Nabi ﷺ bersabda: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu kalian ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, lalu kalian ikut menghalalkannya?”

Ia menjawab: “Benar.”

Beliau bersabda: “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.”[3]

Dalam firman-Nya:

﴿ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا ﴾

terdapat penafian ibadah kepada selain Allah dan penafian mempersekutukan-Nya dalam ibadah.

Sedangkan dalam firman-Nya:

﴿ وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ﴾

terdapat penafian mempersekutukan Allah dalam ketaatan, penghalalan, dan pengharaman.

Di atas prinsip inilah seluruh risalah para rasul sepakat. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴾ [النحل: 36].

“Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dengan seruan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut. Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah, dan di antara mereka ada pula yang telah pasti kesesatan atasnya. Maka berjalanlah kalian di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” (QS. An-Nahl: 36).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴾ [الأنبياء: 25]

“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25).

Karena itu, Nabi ﷺ terkadang membaca ayat ini pada rakaat kedua salat Subuh:

“Katakanlah, wahai Ahli Kitab, marilah menuju satu kalimat yang sama antara kami dan kalian.”

﴿ فَإِنْ تَوَلَّوْا ﴾

Maksudnya: jika Ahli Kitab berpaling dan menolak kalimat yang sama ini serta dakwah yang adil ini.

﴿ فَقُولُوا ﴾

Wahai kaum Muslimin, katakanlah kepada mereka:

﴿ اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ﴾

Maksudnya: jadikanlah mereka sebagai saksi atas keberlanjutan kalian di atas Islam dan kebanggaan kalian dengannya, tanpa memedulikan siapa pun yang berpaling darinya.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴾ [الكافرون: 1 – 6].

“Katakanlah, wahai orang-orang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1–6).

Nabi ﷺ menuliskan ayat ini kepada para raja dari kalangan Ahli Kitab.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dalam hadisnya tentang Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa dalam surat Nabi ﷺ kepada Heraklius tertulis:

«بسم الله الرحمن الرحيم، من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم، سلام على من اتبع الهدى، أما بعد: فإني أدعوك بدعاية الإسلام، أسلم تَسلم، يؤتك الله أجرك مرتين، فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين، و﴿ قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ﴾»

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad Rasulullah kepada Heraklius pembesar Romawi.

Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.

Amma ba‘du, sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali. Jika engkau berpaling, maka atasmu dosa rakyat jelata.

‘Katakanlah, wahai Ahli Kitab, marilah menuju satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu agar kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’”[4]

Firman Allah Ta‘ala:

﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾.

“Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian berdebat tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelahnya? Tidakkah kalian berpikir?”

Firman-Nya:

﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ ﴾

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«اجتمعت نصارى نجران وأحبار يهود عند رسول الله صلى الله عليه وسلم، فتنازعوا عنده؛ فقالت الأحبار: ما كان إبراهيم إلا يهوديًّا، وقالت النصارى: ما كان إبراهيم إلا نصرانيًّا، فأنزل الله – عز وجل – فيهم: ﴿ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾، قالت النصارى: كان نصرانيًّا، وقالت اليهود: كان يهوديًّا. فأخبرهم الله أن التوراة والإنجيل إنما أنزلا من بعده، وبعده كانت اليهودية والنصرانية».

“Orang-orang Nasrani Najran dan para ulama Yahudi berkumpul di sisi Rasulullah ﷺ lalu mereka berselisih di hadapan beliau. Para ulama Yahudi berkata: Ibrahim tidak lain adalah seorang Yahudi. Orang-orang Nasrani berkata: Ibrahim tidak lain adalah seorang Nasrani. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan tentang mereka: ‘Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian berdebat tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelahnya? Tidakkah kalian berpikir?’

Orang-orang Nasrani berkata: Ia adalah seorang Nasrani. Orang-orang Yahudi berkata: Ia adalah seorang Yahudi. Maka Allah mengabarkan kepada mereka bahwa Taurat dan Injil baru diturunkan setelah Ibrahim, dan setelahnyalah muncul Yahudi dan Nasrani.”[5]

Firman-Nya: ﴿ لِمَ ﴾ huruf “lam” adalah huruf jar, sedangkan “mā” adalah isim istifham yang alifnya dihapus karena masuknya huruf jar, sebagaimana dalam firman Allah:

﴿ عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ ﴾

“Tentang apakah mereka saling bertanya?” (QS. An-Naba’: 1).

Pertanyaan dalam firman-Nya:

﴿ لِمَ تُحَاجُّونَ ﴾

Bermakna pengingkaran dan teguran.

Maksudnya: mengapa kalian berdebat dan berselisih tentang Ibrahim, yakni tentang agama Ibrahim?

Yahudi berkata: Ibrahim adalah Yahudi.

Nasrani berkata: Ibrahim adalah Nasrani.

Masing-masing mengklaim bahwa dirinya berada di atas agama Ibrahim, sebagai bentuk berpegang pada klaim tersebut, mempromosikan dan menyerukan agamanya, serta merendahkan agama pihak lain.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿ وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ﴾ [البقرة: 113].

“Orang-orang Yahudi berkata: Orang-orang Nasrani tidak berada di atas sesuatu pun. Dan orang-orang Nasrani berkata: Orang-orang Yahudi tidak berada di atas sesuatu pun, padahal mereka sama-sama membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata seperti ucapan mereka. Maka Allah akan memutuskan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 113).

Selain itu, masing-masing dari Yahudi dan Nasrani ingin sampai kepada kesimpulan untuk menafikan bahwa apa yang dibawa oleh Muhammadﷺ adalah agama Ibrahim ‘alaihis salam.

﴿ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ ﴾

Huruf wawu di sini adalah wawu hal. “Mā” adalah penafian. “Illā” adalah alat pembatasan. Dhamir pada firman-Nya: ﴿ مِنْ بَعْدِهِ ﴾ kembali kepada Ibrahim.

Maksudnya: padahal Taurat tidak diturunkan kepada Musa dan Injil tidak diturunkan kepada Isa kecuali setelah Ibrahim.

Maka bagaimana kalian, wahai Yahudi, berdebat dan mengatakan bahwa Ibrahim adalah Yahudi? Dan bagaimana kalian, wahai Nasrani, berdebat dan mengatakan bahwa ia adalah Nasrani, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelahnya?

Disebutkan bahwa jarak antara Ibrahim dan Musa sekitar enam ratus hingga seribu tahun. Juga disebutkan bahwa jarak antara Musa dan Isa sekitar dua ribu tahun. Ada pula pendapat lain.

Bagaimana kalian berdebat dan mengatakan bahwa kalian berada di atas agama Ibrahim, padahal syariat Yahudi adalah Taurat dan syariat Nasrani adalah Injil, sedangkan Ibrahim lebih dahulu daripada turunnya kedua kitab tersebut? Maka agamanya bukanlah keduanya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ﴾ [المائدة: 48].

“Untuk masing-masing dari kalian, Kami jadikan syariat dan jalan.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Bagaimana kalian berdebat dan mengingkari bahwa agama Islam yang dibawa oleh Muhammad ﷺ adalah agama Ibrahim ‘alaihis salam?

﴿ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴾

Hamzah di sini adalah istifham, yang maknanya pengingkaran dan teguran. Huruf fa adalah athaf. Kalimat ini diathafkan kepada sesuatu yang diperkirakan sebelumnya, maksudnya: apakah kalian lalai sehingga tidak berpikir?

Yakni: tidakkah kalian memiliki akal untuk memahami apa yang kalian perdebatkan?

Dalam ayat ini terdapat pelemahan terhadap mereka dan penyifatan mereka dengan kebodohan dan kedunguan. Sebab yang dinafikan di sini adalah akal rusyd, yaitu akal yang menjadi sebab pujian dan membawa pemiliknya kepada kebaikan dalam tindakan, pengaturan, ucapan, harta, dan seluruh keadaan.

Yang dimaksud bukan akal idrak, yaitu kemampuan dasar memahami yang menjadi dasar pembebanan syariat. Akal jenis ini ada pada mereka. Jika tidak ada, tentu mereka tidak dibebani syariat.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

«رُفِعَ القلم عن ثلاث: النائم حتى يستيقظ، والصغير حتى يبلغ، والمجنون حتى يفيق».

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai ia sadar.”[6]

Firman Allah Ta‘ala:

﴿ هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾.

“Begitulah kalian, kalian telah berdebat tentang perkara yang kalian memiliki ilmu tentangnya. Lalu mengapa kalian berdebat tentang perkara yang kalian tidak memiliki ilmu tentangnya? Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Firman-Nya:

﴿ هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ ﴾

Kata “hā” pada dua tempat tersebut berfungsi sebagai tanbih atau penegasan perhatian. “Antum” adalah dhamir fashl dalam kedudukan rafa‘ sebagai mubtada. “Ulā’i” adalah isim isyarah untuk yang dekat, dalam kedudukan nashab sebagai munada.

Perkiraannya: “Inilah kalian, wahai orang-orang itu.”

Yakni: anggaplah kalian seperti itu, wahai mereka.

﴿ حَاجَجْتُمْ ﴾

Kalimat ini berada dalam kedudukan rafa‘ sebagai khabar mubtada. Maksudnya: kalian telah berdebat, berselisih, dan berbantahan.

﴿ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ﴾

Kata “mā” adalah maushulah, maksudnya: pada perkara yang kalian memiliki ilmu tentangnya, yaitu agama yang kalian anut, apa yang ada dalam kitab-kitab kalian, dan apa yang dibawa para nabi kalian.

﴿ فَلِمَ تُحَاجُّونَ ﴾

Huruf fa adalah athaf. Istifham di sini bermakna pengingkaran dan teguran.

Maksudnya: mengapa kalian berdebat dan berbantahan?

﴿ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ ﴾

Kata “mā” juga maushulah seperti sebelumnya. Maksudnya: tentang perkara yang kalian tidak memiliki ilmu tentangnya, yaitu perkara Ibrahim dan agama yang beliau anut, yang tidak disebutkan dalam kitab-kitab kalian.

Maknanya: seharusnya kalian berdebat tentang perkara yang kalian ketahui, yaitu agama yang kalian anut, apa yang ada dalam kitab-kitab kalian, dan apa yang dibawa para nabi kalian, bukan tentang perkara yang tidak kalian ketahui dari agama Ibrahim ‘alaihis salam.

﴿ وَاللَّهُ يَعْلَمُ ﴾

Huruf wawu adalah isti’nafiyyah. Maksudnya: Allah memiliki ilmu yang terus-menerus dan tetap. Dia mengetahui segala sesuatu secara terus-menerus, termasuk agama yang dianut Ibrahim dan selainnya.

Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwa Ibrahim berada di atas millah Islam, yaitu agama hanif yang lapang, yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala pada ayat setelahnya:

﴿ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi Muslim, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.”

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [النحل: 123].

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu: Ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

﴿ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾

Huruf wawu adalah athaf. Maksudnya: sedangkan kalian adalah orang-orang bodoh yang tidak mengetahui sesuatu pun. Karena itulah kalian berdebat tanpa ilmu.

Maka Allah pertama-tama menyifati mereka dengan kedunguan, kebodohan, dan ketiadaan akal yang lurus. Kemudian kedua kalinya Allah menyifati mereka dengan kebodohan dan ketiadaan ilmu.

Satu saja dari dua sifat ini sudah cukup sebagai celaan. Lalu bagaimana jika keduanya berkumpul? Tidak ada hikmah dan tidak ada ilmu. Ini adalah puncak celaan.

Firman Allah Ta‘ala:

﴿ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾.

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi Muslim, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.”

Allah ‘Azza wa Jalla mengingkari pada dua ayat sebelumnya perdebatan Yahudi dan Nasrani tentang Ibrahim, yaitu dengan klaim masing-masing bahwa Ibrahim berada di atas agama mereka, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelahnya.

Allah menjelaskan kebodohan dan ketidaklurusan akal mereka, serta perdebatan mereka tentang perkara yang tidak mereka ketahui. Kemudian pada ayat ini Allah menjelaskan berlepas dirinya Ibrahim dari Yahudi dan Nasrani, dan bahwa ia adalah seorang yang hanif lagi Muslim, serta bukan termasuk orang-orang musyrik.

Firman-Nya:

﴿ مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا ﴾

“Mā” adalah penafian. Maksudnya: Ibrahim bukanlah seorang Yahudi yang berada di atas agama Yahudi, sebagaimana klaim mereka.

﴿ وَلَا نَصْرَانِيًّا ﴾

Maksudnya: dan ia bukan pula seorang Nasrani yang berada di atas agama Nasrani, sebagaimana klaim mereka. Penafian diulang dengan “lā” untuk penegasan.

﴿ وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا ﴾

“Lākin” adalah istidrak, untuk menjelaskan keadaan Ibrahim ‘alaihis salam yang sebenarnya.

Kata “hanf” secara bahasa berarti condong. Maka makna: ﴿ حَنِيفًا ﴾ adalah condong dari kesyirikan dan teguh di atas tauhid.

﴿ مُسْلِمًا ﴾

Maksudnya: berserah diri dan tunduk kepada perintah Allah secara lahir dan batin.

﴿ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾

Huruf wawu adalah athaf, dan “mā” adalah penafian.

Maksudnya: Ibrahim bukan termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala.

Ini merupakan penegasan bagi firman-Nya:

﴿ حَنِيفًا ﴾

sekaligus penafian terhadap ucapan orang-orang musyrik bahwa mereka berada di atas agama Ibrahim. Di dalamnya juga terdapat sindiran bahwa Ahli Kitab telah jatuh dalam kesyirikan karena ucapan mereka: “Uzair adalah anak Allah” dan “Al-Masih adalah anak Allah.”

Ayat ini seperti firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Baqarah:

﴿ وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [البقرة: 135]

“Mereka berkata: Jadilah kalian Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak, tetapi kami mengikuti agama Ibrahim yang hanif, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 135).

Juga firman Allah Ta‘ala dalam Surah An-Nahl:

﴿ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [النحل: 120]

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam, taat kepada Allah, hanif, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 120).

Dan firman Allah tentang Ibrahim ketika ia berkata:

﴿ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [الأنعام: 79].

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan hanif, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An‘am: 79).

Firman Allah Ta‘ala:

﴿ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ﴾.

“Sesungguhnya manusia yang paling berhak terhadap Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Pelindung orang-orang beriman.”

Ini adalah bantahan terhadap perdebatan Ahli Kitab tentang Ibrahim dan klaim mereka bahwa mereka berada di atas agama Ibrahim, serta pengingkaran mereka bahwa apa yang dibawa oleh Muhamma ﷺ adalah di atas millah Ibrahim.

Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan bahwa manusia yang paling berhak terhadap Ibrahim ‘alaihis salam adalah orang-orang yang mengikutinya, Muhamma ﷺ dan orang-orang beriman bersama beliau.

Firman-Nya:

﴿ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ ﴾

﴿ أَوْلَى ﴾ adalah isim tafdhil. Maksudnya: manusia yang paling kuat kedekatan dan loyalitasnya kepada Ibrahim, paling berhak terhadap Ibrahim, paling khusus dengannya, dan paling dekat kepadanya.

Hal ini berlaku baik mereka berasal dari Ahli Kitab, orang-orang musyrik, maupun kaum Muslimin, karena masing-masing kelompok mengklaim bahwa dirinya berada di atas agama Ibrahim.

Maksudnya: manusia yang paling berhak terhadap Ibrahim adalah mereka yang berada di atas agama dan millahnya.

﴿ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ ﴾

Ini adalah khabar dari “inna”. Huruf lam memberikan makna penegasan. Jadi kalimat ini ditegaskan dengan “inna” dan lam.

Maksudnya: benar-benar orang-orang yang mengikuti Ibrahim di atas agama yang beliau anut semasa hidupnya.

﴿ وَهَذَا النَّبِيُّ ﴾

Ini diathafkan kepada firman-Nya: ﴿ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ ﴾ termasuk bentuk athaf khusus kepada umum. Isyarat ini merujuk kepada penutup para nabi, yaitu Nabi kita Muhammad ﷺ.

﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا ﴾

Ini diathafkan kepada yang sebelumnya. Maksudnya: orang-orang yang beriman dari kalangan sahabat Nabi ﷺ baik Muhajirin maupun Anshar, serta orang-orang beriman setelah mereka.

Nabi ﷺ dan orang-orang beriman adalah manusia yang paling berhak terhadap Ibrahim karena mereka berada di atas millah hanifiyyah, yaitu millah Islam.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿ ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [النحل: 123].

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu: Ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

﴿ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ ﴾

Maksudnya: Allah adalah Pelindung seluruh orang beriman: Ibrahim, orang-orang yang mengikutinya, Muhammad ﷺ , dan orang-orang yang beriman.

Yakni Allah adalah Pelindung seluruh orang beriman dengan perlindungan khusus. Dia menjaga mereka, menolong mereka, memberi rezeki kepada mereka, memberi taufik kepada mereka, dan membimbing mereka kepada jalan-Nya yang lurus di dunia serta menuju surga-surga kenikmatan di akhirat.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾ [البقرة: 257]

“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir, pelindung mereka adalah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾ [يونس: 62 – 64].

“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62–64).

TAUHID AGAMA PARA NABI

Tauhid adalah agama seluruh para rasul. Tidak ada yang menyelisihi hal itu kecuali kaum Nasrani yang mengklaim bahwa Al-Masih ‘alaihis salam datang membawa ajaran trinitas. Padahal tauhid merupakan tuntutan paling jelas dalam Taurat dan kitab-kitab yang menyertainya, karena seluruh isi kitab tersebut dibangun di atas tauhid dan memerangi kesyirikan serta paganisme dalam segala bentuknya.

Di antara dalil tentang hal itu adalah apa yang disebutkan dalam beberapa ayat dari Perjanjian Lama dan perjanjian baru berikut:

Maka Yesus menjawab: “Perintah yang paling utama ialah: Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Injil Markus 12:29).

Lalu ahli Taurat itu berkata kepadanya: “Benar, wahai Guru! Engkau berkata sesuai kebenaran. Sesungguhnya Allah itu Esa dan tidak ada yang lain selain Dia.” (Injil Markus 12:32).

Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. (Injil Yohanes 1:1).

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3).

Karena Allah Yang Esa itulah yang akan membenarkan orang-orang bersunat berdasarkan iman dan orang-orang yang tidak bersunat juga berdasarkan iman. (Roma 3:30).

Mengenai makanan yang dipersembahkan kepada berhala, kita tahu bahwa berhala itu bukanlah tuhan yang benar-benar ada di alam ini, dan bahwa tidak ada Tuhan selain satu saja. (1 Korintus 8:4).

Bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya kita hidup. (1 Korintus 8:6).

Tetapi apabila janji itu datang dari satu pihak saja, maka tidak diperlukan perantara. Dan yang berjanji di sini adalah Allah sendiri. (Galatia 3:20).

Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah serta Bapa dari semua, yang di atas semua, melalui semua, dan di dalam semua. (Efesus 4:5–6).

Bagi Raja yang kekal, Allah Yang Esa, yang tidak nampak dan tidak fana, hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. (1 Timotius 1:17).

Karena Allah itu satu. (1 Timotius 2:5).

Engkau percaya bahwa Allah itu Esa? Baik sekali! Setan-setan pun percaya akan hal itu, tetapi mereka gemetar ketakutan. (Yakobus 2:19).

Dan supaya mereka mengetahui bahwa hanya Engkau saja, yang bernama Yahweh, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi. (Mazmur 83:18).

Karena Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban. Engkau saja Allah. (Mazmur 86:10).

Jangan ada padamu tuhan lain selain Aku. (Keluaran 20:3).

Kamu telah diperlihatkan semuanya itu supaya kamu mengetahui bahwa Tuhanlah Allah dan tidak ada yang lain selain Dia. (Ulangan 4:35).

Maka ketahuilah pada hari ini dan tanamkanlah dalam hatimu bahwa Tuhanlah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, dan tidak ada Tuhan selain Dia. (Ulangan 4:39).

Dengarlah hai Bani Israil: Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. (Ulangan 6:4).

Lihatlah sekarang, bahwa Akulah Dia, dan tidak ada Tuhan selain Aku. Aku mematikan dan menghidupkan, Aku melukai dan menyembuhkan, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. (Ulangan 32:39).

Karena itu betapa agungnya Engkau, ya Tuhan Allah. Tidak ada yang seperti Engkau dan tidak ada Tuhan selain Engkau menurut segala yang kami dengar dengan telinga kami. (2 Samuel 7:22).

Supaya seluruh bangsa di bumi mengetahui bahwa Tuhanlah Allah dan tidak ada selain Dia. (1 Raja-raja 8:60).

Lalu ia berdoa: “Ya Tuhan Allah Israel yang bersemayam di atas kerubim, Engkaulah satu-satunya Allah atas segala kerajaan di bumi. Engkaulah yang menciptakan langit dan bumi.” (2 Raja-raja 19:15).

Ya Tuhan, tidak ada yang seperti Engkau dan tidak ada Tuhan selain Engkau menurut apa yang kami dengar dengan telinga kami. (1 Tawarikh 17:20).

Engkaulah Tuhan satu-satunya. Engkau yang menjadikan langit, langit segala langit beserta seluruh bintangnya, bumi dan segala isinya, laut dan segala yang ada di dalamnya. Engkau menghidupkan semuanya, dan bala tentara langit sujud kepada-Mu. (Nehemia 9:6).

“Ya Tuhan semesta alam, Allah Israel yang bertakhta di atas kerubim, Engkaulah satu-satunya Allah atas segala kerajaan di bumi. Engkaulah yang menciptakan langit dan bumi.” (Yesaya 37:16).

“Maka selamatkanlah kami sekarang ya Tuhan Allah kami dari tangannya, supaya seluruh kerajaan di bumi mengetahui bahwa Engkaulah satu-satunya Tuhan Allah.” (Yesaya 37:20).

Akulah Tuhan, itulah nama-Ku. Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain dan pujian-Ku kepada patung-patung. (Yesaya 42:8).

Kamu adalah saksi-saksi-Ku, demikian firman Tuhan, dan hamba-Ku yang Kupilih, supaya kamu mengetahui dan percaya kepada-Ku, serta memahami bahwa Akulah Dia. Sebelum Aku tidak ada Tuhan, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. (Yesaya 43:10).

Akulah Tuhan dan tidak ada penyelamat selain Aku. (Yesaya 43:11).

Inilah firman Tuhan semesta alam, Raja Israel dan Penebusnya: “Akulah yang pertama dan Akulah yang terakhir, dan tidak ada Tuhan selain Aku.” (Yesaya 44:6).

Jangan takut dan jangan gentar. Bukankah sejak dahulu Aku telah memberitahukan dan mengabarkannya? Kamu adalah saksi-saksi-Ku. Adakah Tuhan selain Aku? Adakah gunung batu lain yang tidak Aku ketahui? (Yesaya 44:8).

Akulah Tuhan dan tidak ada Tuhan selain Aku. Tidak ada yang lain. Aku telah menguatkan engkau meskipun engkau tidak mengenal Aku. (Yesaya 45:5).

Tuhan berfirman: “Orang-orang Mesir, Etiopia, dan Syeba akan datang kepadamu membawa seluruh kekayaan mereka. Mereka akan menjadi pengikutmu, berjalan di belakangmu dengan belenggu, lalu sujud di hadapanmu seraya berkata: ‘Sungguh Allah menyertai kamu, dan tidak ada Tuhan selain Tuhanmu. Dialah satu-satunya Tuhan dan tidak ada yang lain.’” (Yesaya 45:14).

Sebab beginilah firman Tuhan Pencipta langit, Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya serta menegakkan dasarnya. Dia tidak menciptakannya sia-sia, tetapi untuk dihuni: “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.” (Yesaya 45:18).

Nyatakanlah dan ajukan pembelaanmu. Biarlah mereka bermusyawarah bersama. Siapakah yang telah memberitahukan hal ini sejak dahulu? Bukankah Aku, Tuhan? Tidak ada Tuhan selain Aku, Tuhan yang adil dan penyelamat, dan tidak ada yang lain. (Yesaya 45:21).

Ingatlah perkara-perkara dahulu kala, sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. (Yesaya 46:9).

Akulah Tuhan Allahmu sejak engkau berada di tanah Mesir. Engkau tidak mengenal Tuhan selain Aku dan tidak ada penyelamat selain Aku. (Hosea 13:4).

Maka kamu akan mengetahui bahwa Aku ada di tengah-tengah Israel dan bahwa Akulah Tuhan Allahmu dan tidak ada yang lain. Umat-Ku tidak akan mendapat malu lagi. (Yoel 2:27).

Tuhan akan menjadi Raja atas seluruh bumi. Pada hari itu Tuhan akan menjadi satu dan nama-Nya satu. (Zakharia 14:9).

Bukankah kita semua mempunyai satu Bapa? Bukankah satu Allah yang menciptakan kita? Mengapa kita saling berkhianat dan menajiskan perjanjian nenek moyang kita? (Maleakhi: 2).

Kitab Ulangan (4:35):

“Kepadamu telah diperlihatkan supaya engkau mengetahui bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain selain Dia.”

Demikian pula dalam Kitab Ulangan (6:4):

“Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.”

Dan dalam Injil Matius (4:7):

“Yesus berkata kepadanya: Enyahlah hai setan, karena ada tertulis: Tuhan Allahmu harus engkau sembah, dan hanya kepada-Nya saja engkau beribadah.”

Ungkapan serupa juga terdapat dalam Injil Lukas (4:8).

Dalam Injil Markus (12:28) disebutkan bahwa salah seorang Yahudi bertanya kepada Al-Masih:

“Perintah manakah yang paling utama?”

Maka Yesus menjawab:

“Perintah yang paling utama ialah: Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa…”

Lalu ahli Taurat itu berkata kepadanya:

“Benar sekali Guru, engkau berkata dengan tepat bahwa Allah itu Esa dan tidak ada yang lain selain Dia.”

Inilah wasiat Al-Masih, dan beliau menjelaskan bahwa itu adalah wasiat pertama dan paling agung. Seandainya beliau mengajarkan trinitas, tentu wajib baginya menjelaskannya pada kedudukan seperti ini. Bagaimana mungkin beliau menjadi penyampai risalah dari Allah ‘Azza wa Jalla namun tidak menjelaskan perkara paling penting yang diperintahkan?

Dalam Injil Yohanes (17:3), Al-Masih ‘alaihis salam berkata pada akhir masa hidupnya:

Allah telah menjadikan para penulis kitab tersebut mengucapkan kebenaran dan kejujuran, yaitu bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, dan Isa Al-Masih adalah utusan-Nya.

Lalu di manakah letak kesesuaian antara ucapan yang terang dan penuh cahaya ini dengan klaim trinitas yang gelap, yang diada-adakan oleh kaum Nasrani yang sesat, yang berlebih-lebihan dalam agama mereka dan berkata atas nama Allah tanpa kebenaran?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ انتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَات وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً [النساء:171]

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam hanyalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kalian mengatakan: ‘Tiga.’ Berhentilah, itu lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari mempunyai anak. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. An-Nisa’: 171).

TEKS-TEKS TAUHID DALAM KITAB-KITAB MUSA ‘ALAIHIS SALAM

Kita memohon kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung agar menjadikan tulisan ini bermanfaat dan memberi hidayah kepada orang-orang yang tersesat. Amin.

Kitab-kitab Musa ‘alaihis salam merupakan sumber utama kitab suci kaum Yahudi, dan juga disucikan oleh kaum Nasrani di gereja-gereja mereka. Teks-teks tauhid dalam kitab-kitab tersebut, khususnya dalam Kitab Ulangan dan Keluaran, datang dengan sangat jelas, terutama dalam apa yang dikenal dengan “Sepuluh Wasiat”, yang menurut Will Durant, penulis The Story of Civilization, tetap lestari dan diucapkan oleh setengah penduduk dunia.

Sepuluh Wasiat itu datang dalam dua bentuk:

1. Yang berkaitan dengan akidah.

2. Yang berkaitan dengan adat dan tradisi.

Yang menjadi perhatian kita di sini adalah yang berkaitan dengan akidah.

Sepuluh Wasiat dalam Taurat disebutkan terutama dalam:

Kitab Keluaran pasal 20 ayat 1–17

Kitab Ulangan pasal 5 ayat 6–21

Kitab Keluaran pasal 20 ayat 1–17

(Sepuluh Wasiat)

  1. Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
  2. “Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
  3. Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku.
  4. Jangan membuat bagimu patung pahatan ataupun rupa apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
  5. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
  6. Tetapi menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku.
  7. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
  8. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
  9. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
  10. Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi Tuhan Allahmu. Maka jangan melakukan suatu pekerjaan, engkau ataupun anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu ataupun orang asing yang tinggal di kotamu.
  11. Sebab dalam enam hari Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, lalu Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
  12. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu.
  13. Jangan membunuh.
  14. Jangan berzina.
  15. Jangan mencuri.
  16. Jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu.
  17. Jangan mengingini rumah sesamamu. Jangan mengingini istri sesamamu, hambanya laki-laki atau perempuan, lembunya, keledainya, ataupun apa pun yang menjadi milik sesamamu.”

Kitab Ulangan pasal 5 ayat 6–21

(Pengulangan Sepuluh Wasiat)

6 “Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

7 Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku.

8 Jangan membuat bagimu patung pahatan, rupa apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

9 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

10 tetapi menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintah-Ku.

11 Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan tidak akan membebaskan dari hukuman orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

12 Tetaplah memelihara hari Sabat dan kuduskanlah itu, seperti yang diperintahkan Tuhan Allahmu kepadamu.

13 Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

14 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi Tuhan Allahmu. Maka jangan melakukan suatu pekerjaan, engkau ataupun anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, lembumu, keledaimu, segala hewanmu, ataupun orang asing yang tinggal di kotamu, supaya hambamu laki-laki dan perempuan mendapat ketenangan seperti engkau juga.

15 Haruslah engkau ingat bahwa engkau dahulu budak di tanah Mesir dan Tuhan Allahmu membawa engkau keluar dari sana dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Itulah sebabnya Tuhan Allahmu memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.

16 Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan Tuhan Allahmu kepadamu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu.

17 Jangan membunuh.

18 Jangan berzina.

19 Jangan mencuri.

20 Jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu.

21 Jangan mengingini istri sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu, ladangnya, hambanya laki-laki atau perempuan, lembunya, keledainya, ataupun apa pun yang menjadi milik sesamamu.”

Disebutkan dalam Kitab (Keluaran 34:11–14)

“Peliharalah apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Sesungguhnya Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus.

Berhati-hatilah, jangan sampai engkau mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri yang akan kaumasuki itu, supaya jangan mereka menjadi jerat di tengah-tengahmu.

Tetapi mezbah-mezbah mereka harus kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka harus kamu hancurkan, dan tiang-tiang berhala mereka harus kamu tebang.

Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada ilah lain, karena Tuhan, yang nama-Nya Cemburu, adalah Allah yang cemburu.”

Inilah wasiat pertama dari Sepuluh Wasiat.

Adapun wasiat kedua disebutkan:

“Janganlah engkau membuat bagimu tuhan-tuhan tuangan.”

Disebutkan dengan lebih jelas lagi dalam pasal ke-20:

“Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku.

Jangan membuat bagimu patung pahatan ataupun rupa apa pun dari yang ada di langit di atas, di bumi di bawah, ataupun di dalam air di bawah bumi.

Jangan sujud kepada mereka dan jangan menyembah mereka.”

Penulis The Story of Civilization berkata:

“Sesungguhnya wasiat pertama meletakkan dasar bagi masyarakat agama yang baru, yaitu masyarakat yang tidak dibangun di atas syariat sipil semata, tetapi di atas konsep Tuhan Raja Yang Mahasuci yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan.

Adapun wasiat kedua telah mengangkat konsep ketuhanan, dengan mengharamkan penggambaran Tuhan dalam bentuk patung apa pun. Wasiat ini menunjukkan adanya tingkat intelektual yang tinggi pada bangsa Yahudi, karena ia menolak seluruh khurafat, sebagaimana ia juga menolak gagasan penjelmaan Tuhan, serta berusaha menggambarkan Tuhan sebagai Dzat yang suci dari segala bentuk dan rupa.” (The Story of Civilization, jilid 1, hlm. 371).

Dari sini tampak jelas bahwa Allah menyeru kepada tauhid dalam wasiat pertama-Nya kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Melalui wasiat itu pula, akal manusia diarahkan agar tidak menganggap Allah memiliki sekutu, dan agar tidak tumbuh dalam benaknya gagasan menyerupakan atau memisalkan Sang Pencipta. Dijelaskan pula bahwa Allah tidak menjelma dalam diri siapa pun dan tidak menyatu dengan manusia.

Maka siapa saja yang datang setelah Musa lalu mengklaim hal tersebut, tidak layak dinisbatkan kepada para nabi dan rasul Allah. Hal ini tampak jelas dalam wasiat kedua yang menafikan secara mutlak adanya sekutu bagi Sang Pencipta dalam kerajaan-Nya atau adanya sesuatu yang menyerupai-Nya di langit dan di bumi.

Karena itu, Kitab Ulangan menegaskan tauhid murni dengan sangat jelas:

“Supaya engkau mengetahui bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain selain Dia.”

Juga firman-Nya:

“Ketahuilah pada hari ini dan tanamkanlah dalam hatimu bahwa Tuhanlah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada selain Dia.

Maka peliharalah ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan anak-anakmu sesudahmu.”

Al-Masih ‘alaihis salam juga menegaskan wasiat pertama dengan penegasan yang tidak menyisakan keraguan, ketika seseorang bertanya kepadanya:

“Perintah manakah yang paling utama dari semuanya?”

Maka Isa menjawab:

“Perintah yang pertama ialah: Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Dan kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akalmu, dan segenap kekuatanmu. Inilah perintah yang pertama.” (Injil Markus, pasal 12 ayat 28).

Ketika Al-Masih ‘alaihis salam menyebutkan wasiat ini, beliau ingin menjelaskan di hadapan manusia hakikat akidah yang wajib dipegang oleh para pengikutnya dan dijalani jalannya. Akidah tersebut sama dengan akidah yang dibawa Yahudi, yang redaksinya hampir sama persis dalam Kitab Ulangan:

“Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Maka kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu.” (Ulangan, pasal 6 ayat 4).

Kemiripan dua ungkapan tersebut menunjukkan betapa dekatnya agama Nasrani dengan Yahudi dalam masalah akidah. Oleh karena itu, setiap penyimpangan dari akidah ini dianggap sebagai dosa besar yang tidak memiliki ampunan, karena mengandung bibit kekafiran dan berujung pada pendustaan terhadap para nabi.

Disebutkan pula dalam Encyclopedia Americana bahwa:

“Agama Kristen berasal dari agama Yahudi, sedangkan Yahudi sangat tegas dalam akidah tauhid, dan tauhid merupakan kaidah pertama dari kaidah-kaidah akidah mereka.”

TAUHID DALAM RISALAH PARA NABI

Profesor Muhammad Majdi Marjan, penulis buku Allah Wahid Am Tsaluts halaman 128 berkata:

“Jika kita meneliti lembaran-lembaran Taurat, maka kita tidak akan menemukan seorang pendeta pun yang berbicara tentang trinitas, dan tidak pula seorang nabi yang membisikkan paham ketuhanan yang banyak. Bahkan kita mendapati seluruh nabi dalam Taurat menyerukan, bahkan menegaskan, keesaan Allah, bahwa Dia Mahasuci tidak memiliki sekutu, tidak tersusun dari beberapa unsur, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Inilah keyakinan seluruh nabi dalam Taurat dan seluruh ulama Yahudi.”

Inilah Nabi Nehemia yang berdoa kepada Allah Yang Esa dengan mengatakan:

“Engkaulah Tuhan, hanya Engkau sendiri. Engkau telah menjadikan langit, langit segala langit beserta seluruh tentaranya, bumi dan segala yang ada di atasnya, lautan dan segala yang ada di dalamnya. Engkau menghidupkan semuanya, dan bala tentara langit sujud kepada-Mu.” (Nehemia pasal 9 ayat 6).

Dan Nabi Maleakhi bertanya:

“Bukankah satu Allah yang menciptakan kita?” (Maleakhi pasal 2 ayat 10).

Ia tidak mengatakan: “Tuhan yang terdiri dari tiga oknum yang menciptakan kita.” Dengan demikian, ia menetapkan sebuah hakikat yang tidak bisa dihindari, yaitu bahwa yang menciptakan kita adalah Tuhan Yang Esa, tidak memiliki sekutu dan tidak ada tandingan bagi-Nya.

Dialah Allah yang sama yang diseru oleh Nabi Yeremia:

“Tidak ada yang seperti Engkau, ya Tuhan. Engkau Mahabesar dan besar nama-Mu dalam keperkasaan.” (Yeremia pasal 10 ayat 6).

Ungkapan Yeremia ini menunjukkan betapa besar pengagungan nabi tersebut di dalam hatinya kepada Sang Pencipta yang tidak memiliki tandingan dan tidak ada yang menyerupai-Nya.

Tidak seorang pun di alam semesta ini berani mengaku memiliki nama-Nya atau menyamai keagungan-Nya.

Dialah Tuhan yang sifat-sifat-Nya juga disebutkan dalam Al-Qur’an, dan ayat-ayat-Nya yang jelas menunjukkan bahwa nama-Nya akan tetap unik dalam benak manusia sepanjang zaman dan silih bergantinya generasi.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Rabb langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65).

Jika kita berpindah kepada kitab Nabi Ayyub dalam kitabnya, maka kita akan menemukan ungkapan-ungkapan tauhid di sela-sela isinya.

Terkadang beliau mengangkat pandangannya ke langit lalu mengakui bahwa Penciptanya adalah Tuhan Yang Esa, seraya berkata:

“Yang membentangkan langit seorang diri dan berjalan di atas gelombang laut.” (Ayyub pasal 9 ayat 8).

Pada kesempatan lain, beliau memusatkan pandangan hatinya kepada dirinya sendiri lalu merenung sambil berkata:

“Bukankah Dia yang membuat aku dalam kandungan telah membuat dia juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?” (Ayyub pasal 31 ayat 15).

Beliau ingin mengatakan bahwa yang menciptakan dirinya ketika berada dalam perut ibunya, sementara ia dikelilingi tiga lapis kegelapan, tidak mungkin selain Tuhan Yang Esa, yang tidak memiliki sekutu dalam penciptaan-Nya, bukan anak dan bukan pula ruh kudus. Karena Dia semata yang menciptakan dan membentuk. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang batil.

Jika kita berpindah ke Kitab Raja-raja Pertama, maka kita melihat di dalamnya pernyataan yang ditujukan kepada seluruh bangsa di bumi, membawa seruan tauhid kepada Tuhan Sang Pencipta:

“Supaya semua bangsa di bumi mengetahui bahwa Tuhanlah Allah dan tidak ada yang lain.” (Kitab Raja-raja Pertama pasal 8 ayat 60).

Demikian pula dalam Kitab Raja-raja Kedua disebutkan:

“Supaya seluruh kerajaan di bumi mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan Allah satu-satunya.” (pasal 19 ayat 19).

Jika pernyataan pertama mencakup seluruh bangsa manusia, maka pernyataan kedua dikhususkan kepada para raja. Di dalamnya terdapat petunjuk bahwa Allah semata yang memiliki kerajaan dan kekuasaan, dan tidak ada raja yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam pemerintahan-Nya. Karena Dialah Pencipta seluruh alam semesta, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Jika kita berpindah kepada Nabi Allah Dawud melalui kitab Mazmur, maka kita dapati beliau menyatakan celaan terhadap sesembahan kaum musyrikin seraya berkata:

“Sebab siapakah Tuhan selain Rabb? Dan siapakah gunung batu selain Allah kami?” (Mazmur pasal 18 ayat 31).

Ketika beliau tidak menemukan jawaban, beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata:

“Ya Allah, Engkau yang melakukan perkara-perkara besar. Ya Allah, siapa yang seperti Engkau?” (Mazmur pasal 71 ayat 19).

Tampak dari ucapan Dawud ‘alaihis salam bahwa keyakinan-keyakinan pagan telah merasuk ke dalam jiwa Bani Israil dan menggelapkan akal mereka. Mereka, sebagaimana dikatakan Zaki Shenouda:

“Menyembah Allah dengan cara yang sama seperti kaum penyembah berhala menyembah patung-patung mereka… sehingga mereka tidak menyembah-Nya kecuali sebagai salah satu dari tuhan-tuhan pagan.” (Yahudi: Asal-usul, Akidah, dan Masyarakat Mereka, hlm. 298).

Nabi Allah Dawud ingin memurnikan akidah tauhid Bani Israil dari serangan-serangan kesyirikan tersebut. Namun ketika beliau tidak menemukan orang yang menyambut seruannya, beliau meninggalkan kaumnya dan mengembara dengan pikirannya menelusuri keajaiban alam semesta. Beliau memperhatikan dengan penuh renungan gerak dan diamnya alam, malam dan siangnya, keselarasan waktunya, serta silih bergantinya jam-jam kehidupan.

Tiba-tiba hati beliau dipenuhi kekaguman yang besar kepada Sang Pencipta, lalu beliau menyerukan keesaan-Nya:

“Tidak ada yang seperti Engkau di antara para tuhan, ya Tuhan, dan tidak ada pekerjaan seperti pekerjaan-Mu.

Segala bangsa yang telah Engkau jadikan akan datang sujud di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.

Karena Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban. Engkau saja Allah.” (Mazmur pasal 86 ayat 8).

Kemudian beliau menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa seluruh alam semesta tidak bertasbih kecuali kepada satu Tuhan, karena hanya Dialah yang berhak untuk itu. Beliau berkata:

“Binatang-binatang liar dan segala hewan ternak, binatang melata dan burung-burung bersayap,

Raja-raja di bumi dan segala bangsa, para pembesar dan semua hakim di bumi,

Para pemuda dan gadis-gadis, orang-orang tua bersama anak-anak muda,

Hendaklah mereka memuji nama Tuhan, karena hanya nama-Nya saja yang Mahatinggi. Kemuliaan-Nya melampaui bumi dan langit.” (Mazmur pasal 148 ayat 8).

Sebagaimana Firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Qur’an Al-Isra ayat 44:

﴿ تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِیهِنَّۚ وَإِن مِّن شَیۡءٍ إِلَّا یُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَـٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِیحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِیمًا غَفُورࣰا ﴾ [سُورَةُ الإِسۡرَاءِ: ٤٤].

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra: 44).

Kemudian akhirnya beliau menyerukan tentang keazalian Tuhan Yang Maha Esa:

“Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi serta dunia dibentuk, dari azali sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.” (Mazmur pasal 90 ayat 2).

Seruan Tauhid dalam Dakwah Nabi Yesaya

Adapun Nabi Allah Yesaya, ketika melihat Bani Israil memberontak terhadap akidah tauhid, dan betapa seringnya mereka memberontak, dengan tujuan membentuk pemikiran baru yang menolak akidah tauhid dan memeluk keyakinan-keyakinan pagan, khususnya pada masa pembuangan Babilonia, maka beliau bangkit membawa dakwah yang menampilkan hakikat tauhid yang murni.

Beliau mulai berbicara tentang Tuhan Yang Esa, Tuhan seluruh alam, bukan sekadar Tuhan Bani Israil sebagaimana ungkapan Will Durant. Karena itu, Yesaya menyerang berhala-berhala dan mencela penyembahannya, lalu menyeru Rabb-nya dengan berkata:

“Engkaulah Allah satu-satunya atas seluruh kerajaan di bumi. Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.

Ya Tuhan, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah. Bukalah mata-Mu ya Tuhan dan lihatlah. Dengarkan semua perkataan Sanherib yang diutus untuk mencela Allah Yang Hidup.

Sungguh benar ya Tuhan, raja-raja Asyur telah menghancurkan semua bangsa dan negeri mereka.

Mereka melemparkan tuhan-tuhan mereka ke dalam api, karena sesungguhnya itu bukanlah tuhan, melainkan buatan tangan manusia dari kayu dan batu, maka mereka membinasakannya.

Dan sekarang ya Tuhan Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya seluruh kerajaan di bumi mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan satu-satunya.” (Yesaya pasal 37 ayat 16–20).

Kemudian Tuhan Yang Esa memperkenalkan diri-Nya sendiri dalam Kitab Yesaya:

“Akulah Tuhan, itulah nama-Ku, dan kemuliaan-Ku tidak akan Kuberikan kepada yang lain.” (Yesaya pasal 42 ayat 8).

Juga firman-Nya:

“Sebelum Aku tidak ada Tuhan yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Akulah Tuhan, dan tidak ada penyelamat selain Aku.” (Yesaya pasal 43 ayat 10).

Dan Dia berfirman:

“Akulah yang pertama dan Akulah yang terakhir, dan tidak ada Tuhan selain Aku.

Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyeru dan memberitakannya serta menjelaskannya kepada-Ku, sejak Aku menetapkan umat yang dahulu. Dan biarlah mereka memberitakan hal-hal yang akan datang serta apa yang akan terjadi.

Jangan takut dan jangan gentar. Bukankah sejak dahulu Aku telah memberitahumu dan mengabarkannya? Maka kamu adalah saksi-saksi-Ku. Adakah Tuhan selain Aku? Tidak ada gunung batu, Aku tidak mengetahui-Nya.

Orang-orang yang membuat patung semuanya sia-sia, dan benda-benda kesukaan mereka tidak berguna. Saksi-saksi mereka tidak melihat dan tidak mengetahui, sehingga mereka akan mendapat malu.” (Yesaya pasal 44 ayat 6–9).

Dalam teks ini terdapat isyarat terhadap apa yang ditegaskan Al-Qur’an dengan sangat jelas.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴾

“Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar, kami bersaksi.’ Agar pada hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami dahulu lalai terhadap ini.’” (QS. Al-A‘raf: 172).

Namun Will Durant menyanggah hal tersebut dan berkata:

“Barangkali yang mengilhamkan kepada nabi ini gagasan tentang adanya satu Tuhan bagi seluruh alam adalah kebangkitan bangsa Persia, meluasnya kekuatan mereka, penaklukan mereka atas seluruh negeri-negeri Timur Dekat, serta penyatuan wilayah-wilayah itu dalam sebuah imperium yang lebih luas dan lebih baik pemerintahannya dibanding sistem sosial mana pun yang pernah dikenal manusia sebelumnya.

Jika Bani Israil akan menjadi bagian dari kerajaan besar ini, maka tidak mungkin mereka memiliki Tuhan sendiri sementara para penguasa memiliki Tuhan yang lain. Jika kekaisarannya satu, maka hendaknya Tuhannya juga satu.”

Dengan demikian, penulis The Story of Civilization ingin menghubungkan arah pemikiran keagamaan Nabi Yesaya dengan kondisi politik, sebagaimana dikatakan Dr. Ahmad Syalabi.

Dr. Ahmad berkata dalam bukunya Al-Yahudiyyah:

“Kami menyelisihi Durant dalam hal ini karena beberapa alasan berikut:

Pertama: Seruan Nabi Yesaya kepada tauhid bukanlah bid‘ah atau ajaran baru, melainkan dakwah para nabi sebelum beliau di kalangan Bani Israil. Seorang nabi tidak diarahkan oleh kepentingan politik dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor material. Yang mengarahkannya hanyalah amanah penyampaian risalah. Karena itu, ia menyeru kepada kebenaran dan kejujuran.

Kecuali jika Will Durant mengakui bahwa Yesaya bukan seorang nabi. Namun pengakuan seperti itu tidak relevan di sini, sebab penulis sendiri telah menetapkan kenabian Yesaya ketika berkata: “Dialah yang diwahyukan kepada nabi ini…” dan seterusnya.

Kedua: Durant ingin mengatakan bahwa bangsa Persia, karena kekuasaan mereka atas Yahudi, telah mendorong Yesaya untuk mengakui satu Tuhan yang dapat menyatukan Persia dan Yahudi. Pendapat ini tertolak karena dua alasan:

1. Bangsa Persia memandang Bani Israil sebagai tawanan yang tidak memiliki nilai. Karena itu, tidak mungkin mereka bersatu dengan mereka dalam satu bentuk ibadah.

2. Bangsa Persia pada asalnya tidak mengakui Tuhan Yang Esa, sebab yang terkenal dari mereka adalah penyembahan api. Maka bagaimana mungkin mereka menerima dakwah tauhid?

Ketiga: Ucapan bahwa tidak mungkin Bani Israil memiliki Tuhan sendiri sementara bangsa Persia memiliki Tuhan lain, memberi kesan bahwa Bani Israillah yang ingin memasukkan bangsa Persia ke dalam agama mereka.

Pendapat ini juga tidak dapat diterima, karena Bani Israil dikuasai fanatisme kesukuan dan kesombongan jahiliah. Mereka menutup diri dari segala sisi dan tidak pernah dikenal membuka jalan bagi orang lain untuk masuk ke lingkungan mereka serta berbagi dalam keyakinan ketuhanan mereka.

Lalu bagaimana mungkin mereka, yang terkenal dengan sikap rasialis, menerima bangsa Persia untuk bersatu bersama mereka dalam satu Tuhan?”

Semoga bermanfaat.

  1. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Manaqib no. 3841, Muslim dalam Asy-Syi‘r no. 2256, dan Ibnu Majah dalam Al-Adab no. 3757, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. Diriwayatkan oleh Ahmad 5/429, dari hadis Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu.
  3. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 395, Ath-Thabari dalam Jami‘ Al-Bayan 11/417–418, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir-nya 6/1784, dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya 10/116. Lihat: Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, hlm. 551.
  4. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Bad’u Al-Wahyi no. 7, dan Muslim dalam Al-Jihad wa As-Siyar no. 1773.
  5. Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Jami‘ Al-Bayan 5/481, dan Al-Baihaqi dalam Dala’il An-Nubuwwah 5/384. Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/553.
  6. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al-Hudud no. 4398, An-Nasa’i dalam Ath-Thalaq no. 3432, dan Ibnu Majah dalam Ath-Thalaq no. 2041, dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button