Buku: Sarana-Sarana Keteguhan Seorang Mukmin di zaman Fitnah

Download Pdfnya Klik
الحمدُ للهِ نحمدُهُ ونستعينُهُ ونستغفرُهُ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسِنا ومن سيِّئاتِ أعمالِنا، مَن يهدِهِ اللهُ فلا مُضلَّ له، ومَن يُضلِلْ فلا هاديَ له.
وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمدًا عبدُهُ ورسولُهُ، صلَّى اللهُ عليه وعلى آله وصحبه، ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين، وسلَّم تسليمًا كثيرًا. أمَّا بعدُ:
Keteguhan di atas agama Allah adalah tuntutan mendasar bagi setiap muslim yang jujur, yang ingin menempuh jalan yang lurus dengan tekad dan bimbingan yang benar.
Pentingnya tema ini tampak dari beberapa hal, di antaranya:
Kondisi masyarakat saat ini yang dihadapi kaum muslimin, dengan berbagai fitnah dan godaan yang membakar mereka, serta beragam syahwat dan syubhat yang menyebabkan agama menjadi terasa asing. Orang yang berpegang teguh padanya pun menjadi sesuatu yang langka dan mengherankan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ”.
“Akan datang suatu zaman kepada manusia, orang yang bersabar di atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”[1]
Tidak diragukan lagi bagi orang yang berakal, bahwa kebutuhan seorang muslim hari ini terhadap sarana-sarana keteguhan jauh lebih besar dibandingkan generasi salaf. Usaha yang diperlukan pun lebih berat, karena rusaknya zaman, sedikitnya penolong, lemahnya pendukung, dan minimnya pembela.
Telah banyak terjadi kemurtadan dan kemunduran, bahkan di kalangan sebagian aktivis Islam. Hal ini membuat seorang muslim takut akan akhir seperti itu, lalu ia berusaha mencari sebab-sebab keteguhan agar sampai ke keselamatan.
Tema ini juga sangat terkait dengan hati. Al-Miqdad bin Al-Aswad berkata:
لَا أَقُولُ فِي رَجُلٍ خَيْرًا وَلَا شَرًّا حَتَّى أَنْظُرَ مَا يُخْتَمُ لَهُ، يَعْنِي بَعَدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قِيلَ: وَمَا سَمِعْتَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: “لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا”.
“Aku tidak mengatakan baik atau buruk tentang seseorang hingga aku melihat bagaimana akhir hidupnya,” berdasarkan sesuatu yang ia dengar dari Nabi ﷺ. Ketika ditanya, ia menjawab: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hati anak Adam lebih cepat berbolak-balik daripada air mendidih dalam kuali.”[2]
Maka meneguhkan hati di tengah badai syahwat dan syubhat adalah perkara besar yang membutuhkan sarana yang kuat dan serius.
Termasuk rahmat Allah, Dia telah menjelaskan dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya serta sirah beliau berbagai sarana keteguhan. Di antaranya:
Pertama: Mendekat kepada Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sarana utama keteguhan. Ia adalah tali Allah yang kokoh dan cahaya yang terang. Siapa yang berpegang dengannya akan dijaga Allah, siapa yang mengikutinya akan diselamatkan, dan siapa yang menyeru kepadanya akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Allah menjelaskan bahwa tujuan diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur adalah untuk meneguhkan hati:
﴿ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا ﴾ [الفرقان: 32].
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah agar Kami meneguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil.” (Al-Furqan: 32).
Maka Al-Qur’an adalah sumber keteguhan, karena:
Menanamkan iman dan menyucikan jiwa melalui hubungan yang kuat dengan Allah.
Karena ayat-ayat tersebut turun sebagai kesejukan dan keselamatan bagi hati orang beriman, sehingga tidak diterpa oleh badai fitnah, dan hatinya menjadi tenang dengan mengingat Allah.
Karena ia membekali seorang muslim dengan pemahaman dan nilai-nilai yang benar, yang dengannya ia mampu menilai keadaan di sekitarnya, serta standar yang membuatnya dapat menghukumi berbagai perkara dengan tepat. Dengan itu, penilaiannya tidak goncang dan ucapannya tidak saling bertentangan meskipun keadaan dan manusia berubah-ubah.
Karena Al-Qur’an menjawab syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orang kafir dan munafik, sebagaimana contoh-contoh nyata yang terjadi pada generasi awal, di antaranya:
1. Apa pengaruh firman Allah Ta‘ala:
﴿ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى ﴾ [الضحى: 3].
“Rabbmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu” (QS. Adh-Dhuha: 3)
Terhadap jiwa Nabi ﷺ etika orang-orang musyrik berkata:
” قَدْ وُدِّعَ مُحَمَّدٌ …”
“Muhammad telah ditinggalkan…”?[3]
2. Apa pengaruh firman Allah Ta‘ala:
﴿ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ ﴾ [النحل: 103].
“Lisan orang yang mereka tuduhkan kepadanya itu adalah ‘ajam (bukan Arab), sedangkan ini adalah bahasa Arab yang jelas” (An-Nahl: 103).
Ketika orang-orang kafir Quraisy mengklaim bahwa Nabi ﷺ diajari oleh seorang manusia, dan bahwa beliau mengambil Al-Qur’an dari seorang tukang (non-Arab) di Makkah?
3. Apa pengaruh firman Allah Ta‘ala:
﴿ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ﴾ [التوبة: 49]
“Ingatlah, dalam fitnah itulah mereka telah jatuh” (At-Taubah: 49).
Terhadap jiwa kaum mukminin ketika seorang munafik berkata: “Izinkan aku (tidak ikut) dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah”?
Yaitu, di antara orang-orang munafik itu ada yang meminta izin untuk tidak ikut (berjihad), dan mengemukakan alasan yang aneh. Ia berkata:
“Izinkan aku untuk tidak ikut, dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah,” maksudnya, jika ia keluar, lalu melihat wanita-wanita berkulit kuning (Romawi), ia tidak mampu menahan diri darinya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Jadd bin Qais.
Padahal maksudnya, semoga Allah memburukkannya, adalah riya dan kemunafikan. Ia berpura-pura bahwa tujuannya baik, seakan-akan keluar itu membawa fitnah dan keburukan, sedangkan tidak keluar adalah keselamatan.
Bukankah ini termasuk peneguhan di atas peneguhan, penguatan bagi hati kaum mukminin, bantahan terhadap syubhat, dan pembungkaman bagi ahli kebatilan? Benar, demi Rabbku.
Termasuk hal yang menakjubkan adalah bahwa Allah menjanjikan kepada kaum mukminin, saat mereka kembali dari Hudaibiyah, harta rampasan yang banyak (yaitu rampasan Khaibar). Allah memberitahukan bahwa Dia akan menyegerakannya untuk mereka, bahwa mereka akan berangkat menuju ke sana tanpa selain mereka, bahwa orang-orang munafik akan meminta untuk ikut, bahwa kaum muslimin akan mengatakan: “Kalian tidak boleh mengikuti kami,” bahwa mereka akan bersikeras ingin mengubah ketetapan Allah, dan mereka akan berkata: “Kalian dengki kepada kami.” Lalu Allah menjawab mereka:
﴿ بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا ﴾
“Bahkan mereka tidak memahami kecuali sedikit.”
Kemudian semua itu benar-benar terjadi di hadapan kaum mukminin, tahap demi tahap, langkah demi langkah, dan kata demi kata.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا ﴾ [الفتح: 15].
“Orang-orang yang ditinggalkan itu akan berkata ketika kalian berangkat untuk mengambil harta rampasan: ‘Biarkan kami mengikuti kalian.’ Mereka ingin mengubah kalam Allah. Katakanlah: ‘Kalian tidak akan mengikuti kami. Demikianlah Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Maka mereka akan berkata: ‘Sebenarnya kalian dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak memahami kecuali sedikit.” (Al-Fath: 15).
Dari sini kita dapat memahami perbedaan antara orang-orang yang mengaitkan hidup mereka dengan Al-Qur’an, yang mendatanginya dengan tilawah, hafalan, tafsir, dan tadabbur, darinya mereka berangkat dan kepadanya mereka kembali, dengan orang-orang yang menjadikan perkataan manusia sebagai pusat perhatian dan kesibukan utama mereka.
Seandainya para penuntut ilmu menjadikan Al-Qur’an dan tafsirnya sebagai bagian besar dari perhatian mereka.
Kedua: Komitmen pada amal saleh
Allah berfirman:
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴾ [محمد: 7].
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian.” (Muhammad: 7).
Ini adalah perintah dari Allah Ta‘ala kepada orang-orang beriman agar mereka menolong agama-Nya dengan menegakkan ajaran-Nya, berdakwah kepadanya, berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan menjadikan tujuan semua itu hanya untuk mencari wajah Allah. Jika mereka melakukan hal tersebut, maka Allah akan menolong mereka dan meneguhkan langkah-langkah mereka, yaitu dengan menguatkan hati mereka dengan kesabaran, ketenangan, dan keteguhan, serta menguatkan jasad mereka untuk itu dan menolong mereka menghadapi musuh-musuh mereka. Ini adalah janji dari Dzat Yang Maha Mulia lagi Maha Benar janji-Nya, bahwa siapa yang menolong-Nya dengan ucapan dan perbuatan, niscaya Dia akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab kemenangan, termasuk keteguhan dan lainnya.
Hal ini jelas. Kalau tidak demikian, apakah kita mengharapkan keteguhan dari orang-orang yang malas, yang duduk berpangku tangan dari amal saleh ketika fitnah mulai tampak dan musibah semakin berat?
Karena itu, Nabi ﷺ senantiasa istiqamah dalam amal-amal saleh. Amalan yang paling beliau cintai adalah yang terus-menerus meskipun sedikit. Para sahabat beliau pun demikian, apabila mereka melakukan suatu amalan, mereka menetapkannya. Dan Aisyah radhiyallahu ‘anha, jika melakukan suatu amalan, beliau akan terus menjaganya.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً كُلَّ يَوْمٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ”.
“Barang siapa yang menjaga (secara rutin) dua belas rakaat setiap hari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga: empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.”[4]
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ”.
“Sesungguhnya Allah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk bertindak, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi. Dan Aku tidak ragu terhadap sesuatu yang Aku lakukan sebagaimana keraguan-Ku terhadap (mencabut) nyawa seorang mukmin: ia tidak menyukai kematian, dan Aku tidak menyukai hal yang menyakitinya.”[5]
Ketiga: Mentadabburi kisah para nabi dan mempelajarinya untuk diteladani dan diamalkan:
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ ﴾ [هود: 120].
“Dan semua kisah para rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah untuk meneguhkan hatimu. Dan telah datang kepadamu dalam kisah-kisah itu kebenaran, pelajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120).
Ayat-ayat tersebut tidak diturunkan pada masa Rasulullah ﷺ sekadar untuk hiburan atau cerita, tetapi untuk tujuan besar, yaitu meneguhkan hati Rasulullah ﷺ dan hati kaum mukminin bersama beliau.
Jika kita renungkan firman Allah Ta‘ala:
﴿ قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَانَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴾ [الأنبياء: 68، 69].
“Mereka berkata: ‘Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar ingin berbuat.’ Kami berfirman: ‘Wahai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.’” (Al-Anbiya: 68–69).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
Ucapan terakhir Ibrahim ketika dilempar ke dalam api adalah:
حسبي اللهُ ونعمُ الوكيلِ
“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”[6]
Tidakkah engkau merasakan makna keteguhan menghadapi kezaliman dan siksaan masuk ke dalam jiwamu ketika merenungi kisah ini?
Jika engkau mentadabburi firman Allah dalam kisah Musa:
﴿ فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ * قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ ﴾ [الشعراء: 61، 62].
“Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita pasti akan tersusul.’ Musa berkata: ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (Asy-Syu‘ara: 61–62).
Tidakkah engkau merasakan makna lain dari keteguhan ketika dikejar musuh, keteguhan di saat-saat genting di tengah teriakan orang-orang yang putus asa, saat engkau merenungi kisah ini?
Jika engkau melihat kisah para penyihir Fir‘aun, itu adalah contoh menakjubkan dari sekelompok kecil yang teguh di atas kebenaran setelah jelas bagi mereka.
Tidakkah engkau melihat bagaimana makna besar keteguhan tertanam dalam jiwa, di hadapan ancaman penguasa zalim ketika ia berkata:
﴿ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى * قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴾ [طه: 71، 72].
“Sungguh aku akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, dan sungguh aku akan menyalib kalian di batang-batang pohon kurma. Dan kalian pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras azabnya dan lebih kekal.”
Mereka menjawab: “Kami tidak akan mengutamakan engkau atas apa yang telah datang kepada kami dari bukti-bukti yang nyata dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan dalam kehidupan dunia ini.” (Thaha: 71–72).
Itulah keteguhan sekelompok kecil orang beriman yang tidak tercampuri sedikit pun keraguan atau kemunduran.
Di antara sifat orang beriman adalah berdoa agar diteguhkan:
﴿ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا ﴾ [آل عمران: 8].
“Wahai Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.” (Ali Imran: 8).
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda:
“إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ”، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ”.
“Sesungguhnya hati-hati anak Adam semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa:
“اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ”.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”[7]
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ adalah:
“يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, doa apakah ini yang sering aku dengar engkau banyak membacanya?”
Beliau bersabda:
“إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ تَعَالَى إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ”.
“Sesungguhnya tidak ada seorang pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Ta‘ala. Jika Dia menghendaki untuk meneguhkannya, Dia akan meneguhkannya. Dan jika Dia menghendaki untuk menyesatkannya, Dia akan menyesatkannya.”[8]
Kelima: Berdzikir kepada Allah
Ini termasuk salah satu sebab terbesar untuk meraih keteguhan.
Renungkan keterkaitan antara dua perintah dalam firman Allah Ta‘ala:
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [الأنفال: 45].
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan suatu pasukan, maka tetaplah teguh dan banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung.” (Al-Anfal: 45).
Allah menjadikan dzikir sebagai salah satu faktor terbesar yang membantu keteguhan, bahkan dalam kondisi jihad.
Dengan apa Yusuf ‘alaihissalam meminta pertolongan untuk tetap teguh menghadapi godaan wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, ketika wanita itu mengajaknya? Bukankah beliau berlindung dalam benteng “Ma‘adzallah” (Aku berlindung kepada Allah), sehingga gelombang syahwat pun pecah di hadapan benteng tersebut?
Demikianlah pengaruh dzikir dalam meneguhkan hati orang-orang beriman.
Keenam: Yakin terhadap pertolongan Allah
Kita sangat membutuhkan keteguhan ketika pertolongan terasa tertunda, agar kaki tidak tergelincir setelah sebelumnya kokoh. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ * وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴾ [آل عمران: 146، 147].
“Betapa banyak nabi yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikut yang taat, maka mereka tidak menjadi lemah karena apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak pula mereka menyerah. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dan tidaklah ucapan mereka kecuali mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’” (Ali Imran: 146–147).
Betapa banyak nabi yang berperang bersama kelompok besar, namun jiwa mereka tidak melemah karena cobaan, kesusahan, dan luka yang menimpa. Kekuatan mereka tidak melemah untuk terus berjuang, dan mereka tidak tunduk kepada keputusasaan maupun kepada musuh. Inilah keadaan orang-orang beriman yang membela akidah dan agama.
﴿ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ ﴾
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
Yaitu mereka yang tidak lemah jiwanya, tidak goyah kekuatannya, tidak melemah tekadnya, dan tidak tunduk atau menyerah. Sampai di sini, ayat tersebut menggambarkan kondisi lahiriah mereka dalam menghadapi ujian.
Kemudian ayat itu menggambarkan kondisi batin mereka: adab mereka kepada Allah. Dalam menghadapi keadaan yang dahsyat yang biasanya mengguncang jiwa, mereka tidak langsung meminta kemenangan sebagaimana kebiasaan manusia, tetapi terlebih dahulu memohon ampunan, mengakui dosa, baru kemudian meminta keteguhan dan kemenangan atas musuh.
Ketika Rasulullah ﷺ ingin meneguhkan para sahabat yang sedang disiksa, beliau memberitahukan bahwa masa depan adalah milik Islam, bahkan di tengah penderitaan dan ujian.
Dari Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ: أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ: “كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ”.
“Kami mengadukan kepada Rasulullah ﷺ sementara beliau sedang bersandar pada selendangnya di bawah naungan Ka‘bah. Kami berkata: “Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?”
Beliau bersabda:
“Dahulu, ada orang sebelum kalian yang digali lubang di tanah untuknya lalu ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya lalu dibelah menjadi dua, dan hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga mengenai tulang atau uratnya, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan ini (agama Islam), hingga seorang pengendara berjalan dari Shan‘a ke Hadramaut tanpa rasa takut kecuali kepada Allah atau terhadap serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa.”[9]
Maka menyampaikan hadits-hadits kabar gembira bahwa masa depan milik Islam kepada generasi muda merupakan hal penting dalam mendidik mereka agar memiliki keteguhan.
Ketujuh: Mengetahui hakikat kebatilan dan tidak tertipu olehnya
Dalam firman Allah Ta‘ala:
﴿ لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ * لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ ﴾ [آل عمران: 196 – 198].
“Janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh pergerakan orang-orang kafir di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat mereka adalah Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat tinggal. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran: 196–198).
Ayat ini bertujuan untuk menghibur dari apa yang diperoleh orang-orang kafir berupa kesenangan dunia, kenikmatan, dan kebebasan mereka berkeliling di berbagai negeri dengan berbagai bentuk perdagangan, keuntungan, kesenangan, serta bentuk kemuliaan dan kemenangan pada sebagian waktu. Semua itu hanyalah
﴿ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ﴾
“kesenangan yang sedikit”,
Tidak tetap dan tidak kekal. Mereka menikmatinya sebentar, lalu disiksa karenanya dalam waktu yang panjang. Itulah puncak keadaan orang kafir, dan engkau telah melihat bagaimana akhirnya.
Adapun orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dan beriman kepada-Nya, maka di samping apa yang mereka peroleh di dunia berupa kemuliaan dan kenikmatan,
﴿ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ﴾.
“Mereka akan mendapatkan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.”
Seandainya pun di dunia mereka mengalami segala bentuk kesulitan, kesempitan, dan penderitaan, maka itu dibandingkan dengan kenikmatan abadi, kehidupan yang sejahtera, kegembiraan dan kebahagiaan, hanyalah sesuatu yang sangat kecil, bahkan menjadi nikmat yang terselubung dalam bentuk ujian.
Karena itu Allah berfirman:
﴿ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ ﴾
“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan,”
Yaitu orang-orang yang bersih hati mereka, sehingga baik pula ucapan dan perbuatan mereka. Maka Allah Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang memberi mereka balasan dari kebaikan-Nya berupa pahala yang besar, karunia yang agung, dan kemenangan yang abadi.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، سِرَّهَا وَعَلانِيَتَهَا.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاصْرِفْهَا عَلَى طَاعَتِكَ، يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
- Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2260). Ia berkata: “Hadits ini gharib dari jalur ini.” Dan Muhammad Nasiruddin al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (957): “Shahih dengan keseluruhan jalurnya.” ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (no. 23816). Dan Al-Albani berkata dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1772): “Shahih dengan keseluruhan jalurnya.” ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 1797). ↑
- Diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i (no. 1794), dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i. ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 6502). ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 4564). ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2654). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari‘ah (no. 321) dengan sanad yang hasan. ↑
-
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 3612). ↑



