Buku: Langkah-Langkah Dalam Mencegah Timbulnya Fitnah

Download Pdfnya Klik
Langkah-Langkah Dalam Mencegah Timbulnya Fitnah
Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya. Adapun setelahnya:
Hakikat Ujian dalam Kehidupan Manusia
Termasuk dari hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia ini adalah memberikan ujian kepada manusia. Bahkan, Allah Azza wa Jalla berfirman:
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Sejak manusia keluar dari perut ibunya, mereka berada dalam kesusahan (kabad); saat dilahirkan, saat menyusu, saat disapih, saat belajar dan membiasakan diri untuk berjalan, makan, serta belajar. Ia bersusah payah dalam belajar hingga naik ke tingkat pendidikan berikutnya, dan seterusnya. Ia juga menghadapi kesulitan dari orang-orang di sekitarnya, serta menghadapi berbagai permasalahan yang merintangi kehidupannya.
﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ﴾
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
Seolah-olah manusia diciptakan di tengah kesusahan ini. Kesusahan (kabad) itu ibarat sebuah wadah, dan manusia diciptakan di dalam wadah tersebut sehingga tidak akan pernah terlepas darinya selamanya.
Ini merupakan hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji manusia. Allah Azza wa Jalla menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan, dengan suka dan duka:
﴿وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ﴾
“…dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk…” (QS. Al-A’raf: 168)
﴿وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً﴾
“…Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan…” (QS. Al-Anbiya: 35)
Ujian ini memiliki hikmah yang sangat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ujian ini mencakup urusan agama maupun urusan duniawi.
Ujian dalam urusan agama dapat berupa syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (hawa nafsu). Manusia terkadang diuji dengan syubhat, dan terkadang diuji dengan syahwat. Ujian berupa syubhat itu jauh lebih berat, lebih besar dampaknya, dan lebih berbahaya daripada syahwat. Sebab, syahwat dapat diredam dengan nasihat, sedangkan syubhat tidak akan hilang kecuali dengan ilmu dan argumentasi (persuasi).
Ini semua adalah ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala demi hikmah yang dikehendaki-Nya, dan Dia menciptakan manusia untuk tujuan tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Hasil dan buah dari kesabaran tersebut adalah:
﴿أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ﴾
“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ﴾
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad: 31)
Ini adalah firman yang agung dan perkara yang genting:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ﴾
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu.”
Ini merupakan penegasan dari Allah Azza wa Jalla bahwa ujian ini bersifat menyeluruh, umum, dan berat. Mengapa?
﴿حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ﴾
“Sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.”
Terdapat tiga hal di sini. Mujahid (orang yang berjihad) adalah:
- Orang yang berjihad melawan dirinya sendiri dan hawa nafsunya.
- Orang yang berjihad melawan syubhat dengan ilmu, ketakwaan, keimanan, dan nasihat.
- Orang yang berjihad kepada lingkungan sekitarnya dengan amar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran).
Terkadang kalian menyadari bahwa ketika seseorang hendak memerintahkan kebaikan atau melarang keburukan, ia mungkin “maju satu langkah dan mundur satu langkah” (ragu-ragu). Ia tidak tahu bagaimana kelak reaksinya? Apakah akan diterima atau ditolak? Apa hasilnya nanti? Bagaimana ia harus mengatakannya? Dan mungkin saja ia merasa sungkan. Ini juga merupakan salah satu bentuk jihad.
Jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad melawan musuh. Semua perkara ini tercakup dalam firman-Nya:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ﴾
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.”
Sebab, kesabaran memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.
Surah-surah yang turun di Makkah (Makkiyah) seluruhnya mengandung perintah untuk bersabar, memaafkan, bersikap lemah lembut, dan bijaksana dalam menghadapi musuh. Semuanya mengembalikan segala urusan kepada Allah.
Jangan bertanya mengapa! Mengapa kejahatan muncul? Mengapa kekufuran merajalela? Mengapa kekuatan jahat dan kekufuran semakin menguat di muka bumi?
Ini semua adalah hikmah Allah, dan Allah Azza wa Jalla menghendaki hal ini dengan hikmah yang diinginkan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun yang melenceng dari kekuasaan, hikmah, penciptaan, pengaturan, serta qadha dan qadar-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menakdirkan ini dengan hikmah-Nya. Oleh karena itu, kaum muslimin di Makkah diperintahkan untuk bersabar dan bertahan:
﴿فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ﴾
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.” (QS. Ar-Rum: 60)
﴿وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)
Di antara sesama muslim harus saling menasihati. Begitulah metode Islam dalam mendidik para pemeluknya dan orang-orang yang berafiliasi kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menubuatkan akan datangnya hari-hari di mana fitnah begitu dahsyat, dan bersabar di masa itu akan sangat memberatkan jiwa. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar memegang agamanya di antara mereka ibarat orang yang menggenggam bara api.”
Sanggupkah seseorang menggenggam bara api? Sangat tidak mungkin, bahkan sekadar menyentuhnya pun tidak sanggup. Lalu bagaimana mungkin ia menggenggamnya dan bersabar menahan panasnya? Tepat seperti itulah perumpamaan kesabaran dalam menghadapi berbagai fitnah tersebut; berusaha keluar darinya, tetap teguh di dalamnya, serta meneguhkan orang-orang di sekitarnya.
«الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ أَجْرُ خَمْسِينَ». قِيلَ: مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «بَلْ مِنْكُمْ».
“Orang yang bersabar memegang agamanya di antara mereka ibarat orang yang menggenggam bara api, orang yang beramal (saleh) di tengah mereka akan mendapatkan pahala lima puluh orang.” Ditanyakan, “Lima puluh orang dari (golongan) kami atau dari mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bahkan dari kalian (para sahabat).”
Orang yang bersabar mempertahankan agamanya di tengah fitnah ini akan mendapatkan ganjaran setara dengan pahala lima puluh orang sahabat—dengan pengecualian pahala status persahabatan (suhbah), karena kemuliaan tersebut tidak dapat disamai oleh siapa pun.
Fitnah Umat Terdahulu dan Kepastian Diuji
Ujian ini, wahai Saudara-saudara sekalian, telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat:
﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ﴾
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali ‘Imran: 142)
﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ﴾
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?'” (QS. Al-Baqarah: 214)
Seolah-olah mereka menganggap pertolongan ini datang terlambat karena rentetan fitnah dan ujian ini, padahal [musuh-musuh] mereka berada di atas kebatilan.
Pada peristiwa Perang Ahzab, apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.” (QS. Al-Ahzab: 9)
Hingga firman-Nya:
﴿إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا﴾
“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.” (QS. Al-Ahzab: 10)
Mereka menyangka bahwa Islam akan tamat dan ditumpas habis. Sebab pada saat itu, Islam hanya ada di kota Madinah ini, sementara kelompok-kelompok kafir itu datang dari segala penjuru untuk menghancurkan dan melenyapkan Islam di tempat asalnya.
﴿هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا﴾
“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang dahsyat.” (QS. Al-Ahzab: 11)
Ini adalah ayat-ayat yang agung; menggambarkan peristiwa yang sangat besar, genting, dan berbahaya yang dilalui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seutama-utamanya makhluk Allah, beserta para sahabat yang merupakan sebaik-baik makhluk Allah setelah para Nabi. Mereka semua melewati berbagai fitnah, guncangan hebat, dan ujian yang berat ini.
Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Apakah mereka mengira cukup berkata, “Kami telah beriman,” lalu mereka tidak diuji? Maksudnya, apakah mungkin pemikiran semacam ini terlintas di benak seorang muslim yang memahami agamanya? Bahwa ia bisa berkata, “Saya seorang muslim,” lalu ia makan, minum, beribadah, menjalani keseharian, lalu hidupnya berakhir tanpa pernah diuji? Ini adalah hal yang mustahil.
Allah Azza wa Jalla menepis prasangka tersebut:
﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ﴾
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
﴿وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ﴾
“Dan sesungguhnya Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang munafik.” (QS. Al-‘Ankabut: 11)
﴿فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ﴾
“…maka sesungguhnya Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)
Melalui apa? Melalui berbagai fitnah dan ujian ini.
Jika kita telah menyadari bahwa fitnah dan ujian ini adalah suatu realitas, hal yang niscaya, dan manusia pasti akan melaluinya, maka setiap orang akan menghadapi fitnah sesuai dengan kadarnya. Boleh jadi ujiannya berupa syubhat atau mungkin berupa syahwat. Salah satu tabiat fitnah, Saudara-saudara sekalian, adalah ia datang berulang-ulang. Dalam sebuah hadis disebutkan:
«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا».
“Fitnah-fitnah akan dipaparkan pada hati manusia ibarat (anyaman) tikar, sehelai demi sehelai.”
Kalian tentu mengetahui tikar yang terbuat dari anyaman daun palem, yang dianyam saling silang satu di atas yang lain. Fitnah-fitnah itu datang menghampiri hati satu per satu secara berturut-turut.
«فَأَيُّمَا قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّمَا قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ… حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا… لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ».
“Hati mana pun yang menyerapnya, maka akan ditorehkan padanya satu titik hitam. Dan hati mana pun yang mengingkarinya, maka akan ditorehkan padanya satu titik putih… hingga hati menjadi dua tipe: (pertama) hati yang putih seperti batu pualam, sehingga ia tidak akan tertipu oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan yang lain adalah hati yang hitam kelam seperti periuk yang terbalik… tidak mengenal perkara makruf (kebaikan) dan tidak mengingkari perkara mungkar (keburukan), kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.”
Perumpamaan “periuk atau gelas yang terbalik” adalah: jika Anda menuangkan air, kopi, atau teh ke atasnya, ia tidak akan bisa menampungnya. Sekalipun Anda menuangkan seluruh lautan ke atasnya, tidak akan ada sedikit pun yang masuk ke dalamnya.
Begitulah perumpamaan hati orang yang dihadapkan pada berbagai fitnah lalu ia menerimanya satu per satu, sebagaimana disabdakan:
«كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا، لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ».
“seperti periuk yang terbalik, tidak mengenal perkara makruf dan tidak mengingkari perkara mungkar, kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya.”
Sebaliknya, hati yang putih seperti batu pualam, tidak akan terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi membentang. Fitnah-fitnah ini dihadapkan satu demi satu. Apabila seseorang diuji dengan suatu cobaan, fitnah, atau musibah, lalu ia berhasil selamat darinya, maka ia telah menang dalam babak tersebut. Namun, jika ia gagal—dalam artian sebuah fitnah dihadapkan kepadanya lalu ia terjerumus ke dalamnya—maka fitnah itu akan diulang kembali kepadanya untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, dan ia akan terus berada dalam rentetan ujian hingga ia berhasil membebaskan diri, atau ia akan terus terpuruk hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan masih terjangkiti fitnah. Nas’alullahal ‘afiyah (kita memohon keselamatan kepada Allah).
Oleh karena itu, kita mendapati misalnya orang yang terus-menerus diuji dengan kemiskinan, ujian memandang perkara haram, ujian memakan harta haram, serta bermudah-mudahan (meremehkan) kewajiban salat dan sebagainya. Ia diuji dengan berbagai fitnah ini. Jika ia memperbaiki dirinya dan berhasil keluar darinya, alhamdulillah, ia selamat dan derajat keimanannya meningkat. Namun, jika ia tetap bertahan di dalamnya, ia akan terus diuji dan ditempa. Barangkali ia akan sadar… Akan tetapi, boleh jadi ia pergi meninggalkan dunia ini sebelum ia sempat menyucikan diri dan belum lulus dari ujian tersebut.
Kita beralih dari pembahasan ini, wahai Saudara-saudara sekalian. Nasihat ini merupakan bentuk peringatan bagi orang-orang yang berada di bawah bimbingan kalian (murid/keluarga), agar kita semua dapat memetik pelajaran dari perkataan ini dalam mendidik mereka. Dan alhamdulillah, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kalian senantiasa berada dalam keadaan terbaik yang diridai-Nya atas pilihan kalian menempuh jalan ini. Segala puji bagi Allah atas karunia dan taufik yang diberikan-Nya. Dan kalian, dengan izin Allah Ta’ala, berada di atas jalan kebenaran dan kebaikan, berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lantas, apakah gerangan yang dapat membantu kita untuk tetap istiqamah (teguh) menghadapi fitnah-fitnah ini? Apa jalan agar seseorang dapat membentengi dirinya dari berbagai fitnah dan ujian tersebut, mengingat semua itu adalah hal yang niscaya dan pasti akan datang?
Langkah-Langkah Dalam Mencegah Timbulnya Fitnah
Terdapat beberapa langkah preventif (sebab-sebab penjagaan) yang seyogianya diambil oleh seseorang sebelum fitnah (ujian dan cobaan) itu datang melanda:
Pertama: Memperkuat Keimanan dan Muraqabatullah (Merasa Diawasi oleh Allah)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (kalimat tauhid) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)
Siapakah yang akan meneguhkan orang-orang yang beriman? Semakin kuat keimanan seseorang, semakin kuat pula keteguhan yang didapatkannya. Bagaimana sahabat Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi radhiyallahu ‘anhu bisa tetap teguh ketika para sahabatnya dilemparkan ke dalam wajan berisi minyak yang mendidih? Bagaimana para penyihir Fir’aun bisa tetap teguh setelah mereka diancam?
﴿فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴾
“Maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.” (QS. Thaha: 72)
Ini semua bersumber dari kekuatan iman. Adapun jika iman itu melemah, maka kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah, seperti kisah Qarun:
﴿إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى﴾
“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa,” (QS. Al-Qashash: 76)
Tetapi ia tertipu (oleh hartanya). Dan seperti kisah Bal’am bin Ba’ura:
﴿وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ﴾
“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf: 175)
Kedua: Memperbanyak Amal Saleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan mukmin lalu di sore harinya menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan mukmin lalu di pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”
Dalam hadis lain disebutkan:
«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ».
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya tujuh perkara: Apakah kalian menunggu kemiskinan yang melalaikan, kekayaan yang menyombongkan, penyakit yang merusak, masa tua yang melemahkan pikiran [kepikunan], kematian yang membinasakan, atau Dajjal—seburuk-buruk makhluk gaib yang ditunggu—ataukah hari Kiamat? Padahal hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”
Jadikanlah amal saleh sebagai tabungan yang akan melindungimu.
Ketiga: Mengetahui (Karakteristik) Fitnah
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي”.
“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.”
Keempat: Berdoa Memohon Keselamatan dari Fitnah dan Diberikan Keteguhan
Sebagaimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kita agar memohon perlindungan kepada Allah di setiap salat dari azab Jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Masih Ad-Dajjal.
Beliau juga bersabda kepada Syaddad bin Aus:
«إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنِزُوا هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ…».
“Jika manusia menimbun emas dan perak, maka timbunlah (simpanlah) kalimat-kalimat ini: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan, dan tekad yang kuat di atas jalan yang lurus…'”
Serta doa yang harus terus diulang-ulang:
﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)
Dan doa:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)
Kelima: Bersahabat dengan Orang-Orang Saleh
Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya; ia menjaga saudaranya dari kerugian, melindunginya dari belakang, dan menjauhkan dirinya dari tempat-tempat yang memicu fitnah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ».
“Barang siapa mendengar keberadaan Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seseorang yang mendatanginya dan ia mengira bahwa dirinya adalah seorang mukmin yang kuat, namun akhirnya ia malah mengikutinya karena syubhat-syubhat (kerancuan pemikiran) yang disebarkan oleh Dajjal tersebut.”
Keenam: Mengingat Nikmat Surga dan Azab Neraka
Dalam sebuah hadis disebutkan:
«يُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ. وَيُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي خَيْرٌ قَطُّ».
“Akan didatangkan orang yang paling menderita hidupnya di dunia dari kalangan penduduk surga, lalu ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan sama sekali?’ Ia menjawab, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku belum pernah merasakan kesengsaraan sedikit pun.’ Kemudian didatangkan orang yang paling bergelimang nikmat hidupnya di dunia dari kalangan penduduk neraka, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau merasakan kebaikan (kenikmatan) sama sekali?’ Ia menjawab, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku belum pernah merasakan kenikmatan sedikit pun.'”
Hendaknya ia juga mengingat penjara Jahannam (Bulas) beserta apinya yang akan menutupi dan membakar mereka [yaitu Narul Anyar (api yang melampaui segala api)].
Ketujuh: Berpegang Teguh dan Menghayati Al-Qur’an
﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا﴾
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur dan perlahan).” (QS. Al-Furqan: 32)
﴿وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ﴾
“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120)
Kitabullah adalah peneguh hati yang paling agung melalui kisah-kisah, hukum-hukum, serta nama-nama dan sifat-sifat Allah yang terkandung di dalamnya.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melindungi kita semua, dan meneguhkan kita di atas jalan yang lurus ini hingga kita berjumpa dengan-Nya dalam keadaan Dia rida kepada kita.



