Berhaji Bersama Nabi ﷺ:

Berhaji Bersama Nabi ﷺ
Menelusuri Jejak Kepemimpinan, Keteladanan, dan Kasih Sayang
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Baitullah, melainkan sebuah madrasah agung yang mengajarkan arti pengabdian sejati dan kepemimpinan yang paripurna. Mari kita menyelami lebih dalam sejarah dan hikmah di balik perjalanan suci Rasulullah ﷺ.
Gema Seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam
Pernahkah terbersit di benak kita, bagaimana seruan Nabi Ibrahim alaihissalam ribuan tahun silam bisa sampai ke telinga seluruh umat manusia? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ}
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji.” (QS. Al-Hajj: 27)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan sebuah riwayat yang menggetarkan hati: “Tahukah kalian bagaimana talbiyah itu bermula?” Beliau menjelaskan bahwa ketika Ibrahim alaihissalam diperintahkan untuk menyeru manusia, gunung-gunung merundukkan puncaknya dan desa-desa diangkat tinggi-tinggi untuknya, sehingga seruan itu terdengar oleh seluruh alam. (HR. Baihaki, dalam Sunan Al-Kubra).
Sejarah Syariat Haji para Nabi
Seluruh nabi Allah telah menunaikan ibadah haji, meski ada pendapat yang mengecualikan Nabi Hud dan Nabi Saleh alaihimassalam. Bagi umat Islam, kewajiban haji diturunkan pada Tahun ke-9 Hijriah.
Rasulullah ﷺ tidak langsung berangkat haji pada tahun tersebut karena dua alasan utama:
- Beliau tetap di Madinah untuk menyambut delegasi Arab yang berbondong-bondong masuk Islam setelah Fathu Makkah dan Thaif. Beliau fokus mengajarkan agama kepada mereka sebelum mereka pulang ke kaumnya.
- Pada tahun ke-9 H, kaum musyrik masih ikut berhaji. Allah Ta’ala menghendaki agar haji Nabi ﷺ suci dari segala campuran tradisi kemusyrikan.
Haji Abu Bakar as-Siddiq Radhiyallahu anhu
Rasulullah ﷺ mengutus Abu Bakar as-Siddiq radhiyallahu anhu sebagai Amir haji pada tahun ke-9 H, untuk memurnikan tata cara ibadah. Ibnu al-Mulaqqin (Kitab at-Taudhīh Lisyarhi Al-Jāmi’ Ash-Shahīh) menjelaskan bahwa haji Abu Bakar adalah “Haji Islam” sesuai syariat, karena beliau wukuf di Arafah sesuai perintah Allah Ta’ala:
{ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ}
“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang-orang banyak bertolak.” (QS. Al-Baqarah: 199).
Dahulu, kaum Quraisy enggan wukuf di Arafah dan hanya berhenti di Masy’aril Haram. Namun, Abu Bakar radhiyallahu anhu dengan teguh melewati mereka menuju Arafah. Saat mereka memprotes, “Wahai Abu Bakar, hendak ke mana engkau melewati kami?”, beliau tetap melangkah maju menjalankan perintah Rasulullah ﷺ. (Tafsir Abi Hayyan).
Haji Wada’: Puncak Perjalanan Ibadah dan Isyarat Perpisahan
Rasulullah ﷺ hanya melaksanakan haji satu kali dalam hidupnya, yang dikenal sebagai Haji Wada’ (Haji Perpisahan). Beliau berangkat pada 25 Dzulqa’dah, dan tiba di Makkah pada 4 Dzulhijjah, tahun ke-10 Hijriah.
Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma melukiskan pemandangan yang luar biasa: ketika Rasulullah ﷺ menunggangi untanya, Al-Qashwa, di padang Al-Baida, sejauh mata memandang di depan, kanan, kiri, dan belakang beliau dipenuhi oleh lautan manusia, baik yang berkendara maupun yang berjalan kaki.
Jumlah seluruh sahabat yang berhaji bersama Rasulullah ﷺ di tahun itu diperkirakan mencapai 114.000 hingga 124.000 orang.
Dalam suasana yang penuh keharuan itu, Nabi ﷺ bersabda:
«لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ»
“Ambillah dariku tata cara ibadah (manasik) kalian, karena sesungguhnya aku tidak tahu, boleh jadi aku tidak akan berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim).
Hadits Jabir ini dianggap oleh para ulama, termasuk Imam Nawawi, sebagai hadits yang paling agung dan lengkap, menyimpan ratusan hikmah, kaidah dan hukum fikih.
Nabi ﷺ sebagai Pemimpin dan Pendidik Ideal
Melalui perjalanan haji ini, kita belajar karakter kepemimpinan sejati yang diterapkan oleh Rasulullah ﷺ:
1. Kepemimpinan Melalui Teladan.
- Menjadi Referensi Hidup:
Nabi ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian mengambil manasik (tata cara ibadah) kalian dariku”. (HR. Muslim). Beliau tidak mengirimkan edaran tertulis, melainkan menjadikan tubuh dan perbuatannya sebagai referensi langsung bagi umat.
- Bertauhid dalam Talbiyah:
Beliau memulai ihram dengan kalimat tauhid: “Labbayka Allāhumma labbayk, labbayka lā syarīka laka labbayk, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, lā syarīka lak”. Kalimat ini kemudian diikuti oleh seluruh sahabat.
- Melaksanakan Manasik di Atas Kendaraan: Rasulullah ﷺ melaksanakan prosesi manasik sambil berkendara agar dapat dilihat oleh orang banyak. Hal ini bertujuan memudahkan para sahabat untuk menghafal dan menyampaikan kembali ajaran agama, karena mereka adalah saksi yang adil dan terpercaya dalam urusan ini.
2. Keteladanan dalam Ibadah:
Kendati beliau sudah mendapat jaminan ampunan dari Allah Azza wa Jalla, beliau justru mensyukurinya dengan memaksimalkan ibdah kepada Allah Ta’ala. Dalam prosesi haji, ada beberapa momen yang membuktikan fakta ini, di antaranya:
- Setelah selesai melaksanakan salat Zhuhur dan Ashar, Rasulullah ﷺ naik ke atas kendaraannya hingga sampai ke tempat wukuf (di Arafah). Beliau memposisikan perut untanya, Al-Qashwa, ke arah bebatuan besar dan menjadikan jalur pejalan kaki berada di depannya. Beliau kemudian menghadap kiblat dan terus berdoa hingga matahari terbenam.
- Setelah selesai mabit di Muzdalifah, beliau ﷺ bergerak sampai ke Masy’aril Haram, lalu menghadap kiblat, kemudian berdoa kepada Allah, bertakbir, bertahlil, dan mentauhidkan-Nya. Beliau terus berdoa di sana hingga fajar sudah sangat terang, lalu berangkat menuju Mina sebelum matahari terbit
3. Transparansi dan Kejelasan Visi.
Seorang pemimpin memiliki keunggulan dalam kemampuan menyampaikan tujuan-tujuan yang rumit dengan penyederhanaan yang tidak merusak esensi pesannya.
- Pengumuman Tujuan: Rasulullah ﷺ mengumumkan kepada manusia pada tahun kesepuluh Hijriah, bahwa beliau ﷺ akan melaksanakan haji. Maka, datanglah banyak orang ke Madinah, yang semuanya ingin mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dan beramal seperti amalan beliau.
- Menetapkan Konstitusi yang Jelas dan Adil, serta Mengevaluasi Kinerja: Nabi ﷺ berkhutbah di Arafah, dan beliau menetapkan sebuah konstitusi yang jelas terkait hak-hak, urusan darah (nyawa), dan harta benda. Beliau terus mengulang kalimat: “Bukankah aku telah menyampaikan?”.
Memastikan tersampaikannya pesan dan pemahaman terhadap tujuan-tujuan strategis, adalah kunci penting bagi keberhasilan institusi mana pun.
4. Tawadu dan Merakyat:
Pemimpin ideal bukanlah orang yang hidup di menara gading, melainkan membuat para pengikutnya merasa bahwa ia adalah bagian dari mereka.
- Dalam Hadits: Nabi ﷺ menunggangi untanya yang bernama “Al-Qashwa,” sementara orang-orang berada di hadapan beliau, di belakang, di sisi kanan, maupun di sisi kiri. Tidak ada penghalang yang menghalangi orang-orang untuk melihat beliau atau bertanya langsung kepada beliau.
- Dalam Hadits: “Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami, kepada beliaulah Al-Qur’an diturunkan, dan beliaulah yang mengetahui takwilnya. Maka, apa pun yang beliau amalkan, kami pun mengamalkannya”.
“Hidup membaur dengan rakyat” dapat memperkuat kepercayaan, loyalitas, dan memungkinkan seorang pemimpin untuk mendeteksi masalah sebelum masalah tersebut menjadi semakin parah.
5. Memperhatikan Perbedaan Individu.
Kesadaran bahwa sebuah komunitas terdiri dari berbagai tingkatan kemampuan dan daya tahan yang berbeda-beda.
- Keringanan bagi yang Lemah: Nabi ﷺ memberikan izin kepada orang-orang lemah, saat itu anggota keluarganya (seperti Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha) untuk berangkat meninggalkan Muzdalifah pada malam hari sebelum manusia mulai berdesak-desakan.
- Menjaga Ketenangan: Beliau bersabda sembari memberikan isyarat dengan tangan kanan beliau: “Wahai manusia! Tenanglah, tenanglah”.
- Bahkan, belas Kasih terhadap Hewan: Setiap kali beliau sampai di jalanan mendaki, beliau melonggarkan sedikit tali kekang untanya agar ia dapat mendaki dengan lebih mudah.
6. Fleksibilitas dan Fikih Taisir (Memudahkan).
Kepemimpinan yang kaku akan hancur, sedangkan kepemimpinan yang fleksibel akan terus bertahan.
- Pada 10 Dzulhijjah: Tidaklah Nabi ﷺ ditanya pada hari itu mengenai sesuatu (amalan haji) yang dikerjakan lebih awal atau diakhirkan (dari urutan semestinya), melainkan beliau selalu menjawab: “Lakukanlah dan tidak mengapa.”
- Pemimpin yang ideal berfokus pada hasil besar dan tidak tenggelam dalam sikap kaku terhadap rincian-rincian kecil yang masih memungkinkan untuk adanya ijtihad dan kemudahan.
7. Pemberdayaan dan Kaderisasi.
Pemimpin yang cerdas adalah yang mampu memunculkan kompetensi orang-orang di sekitarnya serta memberikan mereka kepercayaan.
- Delegasi Tugas: Beliau memberikan tugas khusus kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dalam urusan penyembelihan hewan kurban.
- Kepemimpinan Delegasi: Beliau menunjuk Abu Bakar radhiyallahu anhu sebagai amir haji pada tahun ke-9 H, serta mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengumumkan perintah-perintah yang baru.
Pemberdayaan dan mencetak lapis kedua dari para calon pemimpin merupakan salah satu tugas terpenting bagi seorang pemimpin yang sukses
8. Menegakkan “Al-Hisbah”.
- Hisbah merupakan kewajiban paling utama bagi seorang penguasa Muslim. Ia adalah penanggung jawab pertama dalam menjaga agama dan memperbaiki urusan umat, baik dalam perkara agama maupun dunia.
- Tujuannya: Untuk memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mengawasi pasar, serta menjaga ketertiban umum dan kemaslahatan publik sesuai dengan syariat Islam.
- Contoh Praktiknya:
- Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu datang dari Yaman dengan membawa unta-unta kurban milik Nabi ﷺ, ia mendapati Fatimah radhiyallahu ‘anha termasuk orang yang telah bertahallul. Fatimah telah memakai pakaian yang berwarna-warni dan memakai celak mata. Ali pun mengingkari hal tersebut. Namun, Fatimah berkata: “Sesungguhnya ayahku (Rasulullah) yang memerintahkanku seperti ini.” Ali bercerita: “Maka aku pergi menemui Rasulullah ﷺ dengan niat menyalahkan apa yang dilakukan Fatimah, sekaligus meminta fatwa darinya. Nabi ﷺ bersabda: ‘Dia benar, dia benar.'”
- Rasulullah ﷺ membonceng Al-Fadhl bin Abbas, pemuda dengan rambut indah, berkulit putih, dan tampan. Saat Rasulullah ﷺ bertolak, lewatlah rombongan wanita. Al-Fadhl pun mulai memandang ke arah mereka. Maka, Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di wajah Al-Fadhl (untuk menutupi matanya). Al-Fadhl kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain untuk tetap melihat, lalu Rasulullah ﷺ kembali memindahkan tangannya ke arah tersebut untuk memalingkan wajahnya agar tidak melihat ke arah para wanita itu.
9. Urgensi Klarifikasi:
Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami tidak berniat kecuali untuk haji, dan kami belum mengenal praktek umrah dalam rangkaian haji.” … Hingga ketika Nabi ﷺ sampai pada akhir tawafnya di Bukit Marwah, beliau bersabda: “Sekiranya aku bisa mengulang waktu, niscaya aku tidak akan membawa hewan kurban (hadyu) dan akan kujadikan rangkaian ini sebagai umrah. Maka, siapa pun di antara kalian yang tidak membawa hewan kurban, bertahallul-lah dan jadikanlah rangkaian ini sebagai umrah.”
10. Menyelisihi Kaum Musyrik dan Kafir dalam Syiar Ibadah.
Menyelisihi kaum musyrik dan kafir dalam syiar-syiar dan ibadah mereka merupakan prinsip yang sangat mendasar dalam syariat Islam. Ini tampak jelas dalam Haji Wada’ sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, serta dalam hadits-hadits lain yang merumuskan batasan-batasan penyelisihan ini, di antaranya:
- Wukuf di Arafah. Nabi ﷺ wukuf di Arafah, sedangkan kaum musyrikin wukuf di Muzdalifah dan tidak keluar ke Arafah, karena Padang Arafah di luar tanah haram.
- Bertolak dari Muzdalifah. Dahulu masyarakat jahiliyah tidak bertolak dari Muzdalifah sampai matahari terbit, dan mereka berkata: “Terbitlah wahai (matahari dari) Gunung Tsabir agar kami bisa berangkat”. Maka Nabi ﷺ menyelisihi mereka dan bertolak sebelum matahari terbit.
- Umrah di Bulan-bulan haji. Kaum Musyrikin tidak membolehkan umrah di bulan-bulan haji. Tetapi Nabi ﷺ memerintahkan sahabat yang tidak membawa hadyu untuk mengubah niat hajinya menjadi tamattu’, yang dimulai dengan umrah, kemudian haji pada tanggal 8 Dzulhijjah.
- Mengubah lafazh talbiah. Kaum musyrikin dahulu mengucapkan dalam talbiyah mereka: “Kecuali sekutu milik-Mu, Engkau memilikinya dan apa yang dimilikinya” (إلا شريكاً هو لك، تملكه وما ملك). Maka Nabi ﷺ memulai ihram dengan tauhid: “Labaik Allahumma labaik, labaik laa syariika laka labaik…” (لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك).
Harapan Bagi yang Merindukan Haji
Bagi setiap jiwa yang merindukan haji namun belum mampu, Rasulullah ﷺ memberikan pelipur lara yang indah. Beliau bersabda kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinan yang tidak bisa ikut berhaji karena urusan keluarga:
«فَعُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي»
“Maka umrah di bulan Ramadhan itu (pahalanya) sebanding dengan haji, atau (seperti) haji bersamaku.” (HR. Muslim).



