Tarbawi

Bahaya Was-was

BAHAYA WAS-WAS

Was-was sering kali datang tanpa diundang. Ia berbisik pelan, namun mampu mengguncang keyakinan dan menyesakkan hati. Banyak orang yang awalnya hanya merasakan ragu ringan, namun seiring waktu berubah menjadi kegelisahan yang terus berulang dan sulit dikendalikan. Jika tidak diatasi, was-was bukan hanya mengganggu ketenangan jiwa, tetapi juga merusak kualitas ibadah, bahkan dapat menyeret seseorang ke dalam kesulitan yang berkepanjangan.

Dalam Islam, was-was bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi juga bagian dari ujian keimanan yang perlu dihadapi dengan ilmu dan kesabaran.

Apa Itu Was-Was?

Was-was adalah bisikan dalam hati yang menimbulkan keraguan, kecemasan, dan ketidakpastian, terutama dalam hal-hal yang sebenarnya sudah jelas. Ia sering muncul berulang-ulang dan mendorong seseorang untuk terus mempertanyakan sesuatu tanpa dasar yang kuat.

Allah ﷻ berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

Artinya:
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” QS. An-Naas: 4-6

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa was-was bisa menyentuh setiap orang, bahkan dalam perkara akidah. Dalam sebuah hadis disebutkan:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

Artinya:
“Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga ia berkata: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sampai pada hal itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.” HR. Bukhari: 3276 dan Muslim: 134

Bentuk-Bentuk Was-Was

Was-was memiliki banyak bentuk, di antaranya:

  • Dalam ibadah: ragu apakah sudah wudhu dengan benar, ragu jumlah rakaat, atau merasa shalat tidak sah.
  • Dalam niat: merasa niatnya belum tepat atau belum “sempurna”.
  • Dalam kebersihan (thaharah): berlebihan dalam mencuci atau mengulang-ulang wudhu.
  • Dalam kehidupan sehari-hari: pikiran negatif, ketakutan berlebihan, atau overthinking tanpa alasan jelas.

Pada tingkat tertentu, was-was bahkan bisa menyerupai gangguan kecemasan yang serius jika tidak dikendalikan.

Bahaya Was-Was

Was-was membawa dampak yang tidak ringan. Di antaranya:

1. Merusak Kekhusyukan Ibadah

Alih-alih menghadirkan hati kepada Allah, seseorang justru sibuk dengan keraguan yang terus berulang. Akibatnya, ibadah menjadi tidak tenang dan kehilangan makna.

2. Membuka Pintu Gangguan Setan

Was-was adalah salah satu cara setan menyesatkan manusia secara perlahan. Ketika seseorang mengikuti bisikan tersebut, maka ia telah memberi ruang bagi gangguan yang lebih besar.

3. Menjadikan Agama Terasa Sulit

Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan. Namun was-was membuat seseorang merasa semua hal menjadi rumit dan melelahkan.

Allah ﷻ berfirman:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ

Artinya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” QS. Al Baqarah: 185.

4. Menimbulkan Kelelahan Mental

Pikiran yang terus berulang, memeriksa, dan meragukan sesuatu dapat menguras energi mental, bahkan memicu stres dan kecemasan.

5. Menjerumuskan pada Sikap Berlebihan (Ghuluw)

Karena ingin memastikan segala sesuatu sempurna, seseorang bisa berlebihan dalam beribadah, padahal hal tersebut tidak diajarkan dalam syariat.

Cara Mengatasi Was-Was

Rasulullah ﷺ telah menyebutkan obat yang bermanfaat untuk was-was yang membinasakan ini, yaitu tiga hal:

1. Berhenti dari was-was setan itu dan tidak menuruti pikiran tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis di atas: “Hendaklah ia berhenti”. HR. Bukhari: 3276 dan Muslim: 134

2. Memohon perlindungan dari kejahatan pihak yang melemparkan was-was dan syubhat agar dia menyesatkan hamba-hamba dari jalan Allah yang lurus, bersabdakan sabdanya: “Maka hendaklah ia berlindung kepada Allah”. HR. Bukhari: 3276 dan Muslim: 134.

3. Berpegang teguh dengan benteng keimanan yang benar, yang barangsiapa berpegang teguh dengannya maka ia termasuk orang-orang yang aman, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Maka hendaklah ia mengucapkan: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. HR.Bukhari: 3276 dan Muslim: 134.

4. Menuntut Ilmu yang Benar. Pemahaman agama yang lurus akan menjadi benteng kuat dari was-was. Banyak keraguan muncul karena kurangnya ilmu.

5. Bersikap Tenang dan Tidak Panik. Semakin ditanggapi dengan emosi, was-was akan semakin kuat. Sikap tenang adalah bagian dari cara mengendalikannya.

Was-was adalah ujian yang halus namun berbahaya. Ia tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata mengganggu hati, merusak ibadah, dan melelahkan pikiran. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk mengenali dan melawannya dengan ilmu, dzikir, dan sikap yang benar. Dan juga wajib bagi seorang hamba untuk berhati-berhati dari was-was ini, dari amal perbuatan yang dihasilkannya, dan dari keadaan yang diperoleh hati setelahnya. Karena amal yang buruk sumbernya adalah dari rusaknya niat hati. Kemudian hati akan ditimpa kekerasan disebabkan oleh rusaknya amal, sehingga bertambahlah penyakit di atas penyakitnya sampai ia mati, dan jadilah ia tidak ada kehidupan padanya dan tidak ada cahaya baginya.

Dengan memahami hakikat was-was dan cara mengatasinya, kita dapat menjalani ibadah dengan lebih ringan, hati yang lebih tenang, serta keyakinan yang lebih kuat kepada Allah ﷻ.

Darul Idam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button