Tatsqif

JUMAT BERKAH, TRADISI BERBAGI MAKANAN SEJAK ZAMAN NABI ﷺ

ARTIKEL ISLAMI • MARKAZ INAYAH

JUMAT BERKAH, TRADISI BERBAGI MAKANAN SEJAK ZAMAN NABI ﷺ

Di Indonesia, istilah Jumat Berkah sudah sangat akrab di telinga kita. Setiap hari Jumat, banyak umat Islam membagikan nasi bungkus, menyediakan makanan dan minuman untuk jamaah masjid, atau mengantarkan hidangan kepada tetangga dan masyarakat yang membutuhkan.

Tradisi ini menjadi pemandangan indah yang mencerminkan kepedulian dan semangat berbagi.

Namun, tahukah kita bahwa kebiasaan menyediakan makanan pada hari Jumat ternyata telah dikenal sejak zaman Rasulullah ﷺ?

Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari mengabadikan kisah menarik tentang kebiasaan para sahabat menikmati hidangan sederhana setelah shalat Jumat.

Kegembiraan Para Sahabat pada Hari Jumat

Dari sahabat Sahl bin Sa‘d radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan:

كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

“Kami dahulu bergembira pada hari Jumat.”

Apa yang membuat mereka begitu bergembira?

Ternyata, ada seorang wanita tua yang biasa menyiapkan makanan untuk mereka. Wanita tersebut mengambil beberapa batang tanaman siliq, sejenis sayuran, kemudian memasaknya bersama sedikit biji gandum.

Setelah selesai menunaikan shalat Jumat, para sahabat mendatangi wanita tersebut. Ia pun menyuguhkan makanan yang telah disiapkannya.

Sahl bin Sa‘d radhiyallahu ‘anhu berkata:

فَكُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ

“Karena itulah kami dahulu bergembira pada hari Jumat.”

Beliau juga menjelaskan bahwa mereka biasa makan siang dan beristirahat setelah shalat Jumat.

(HR. al-Bukhari)

Pelajaran dari Seorang Wanita Tua

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menyediakan makanan dan menjamu orang lain pada hari Jumat telah dikenal sejak masa Rasulullah ﷺ.

Menariknya, yang menyediakan makanan bukanlah seorang saudagar kaya, melainkan seorang wanita tua dengan hidangan sederhana.

Ia tidak menunggu memiliki harta melimpah untuk berbagi. Ia memberikan apa yang tersedia, sementara para sahabat menerimanya dengan penuh kegembiraan.

Inilah pelajaran penting bagi kita: kebaikan tidak selalu diukur dari banyaknya harta yang dikeluarkan, tetapi juga dari keikhlasan dan manfaat yang diberikan.

Hadis ini memang tidak menunjukkan adanya perintah khusus untuk membagikan makanan setiap Jumat. Namun, ia menjadi bukti bahwa kebiasaan menjamu orang lain setelah shalat Jumat sudah dikenal dalam kehidupan para sahabat.

Jumat Berkah di Indonesia, Tradisi Baik yang Patut Dilestarikan

Jika kita memperhatikan tradisi Jumat Berkah di Indonesia, terdapat nilai-nilai kebaikan yang sejalan dengan kisah tersebut.

Dahulu, seorang wanita tua menyediakan sayuran dan gandum untuk para sahabat. Kini, masyarakat menyediakan nasi bungkus, roti, air minum, dan berbagai hidangan untuk jamaah masjid maupun orang-orang yang membutuhkan.

Bentuk makanannya berbeda, tetapi semangatnya sama: berbagi rezeki, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Keutamaan Memberi Makan dalam Islam

Islam sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk memberi makan orang lain.

Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan Islam yang paling baik, beliau menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Engkau memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.”

(HR. al-Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa memberi makan merupakan salah satu amalan mulia dalam Islam.

Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya

Salah satu pesan terindah dari kisah Sahl bin Sa‘d radhiyallahu ‘anhu adalah bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya.

Wanita tua tersebut hanya memasak bahan makanan sederhana. Namun, pemberiannya mampu membahagiakan para sahabat.

Demikian pula kita. Tidak harus menyediakan ratusan nasi bungkus atau mengeluarkan biaya besar untuk berbuat baik.

Sepiring nasi, sebotol air minum, atau beberapa potong roti yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sedekah bernilai di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Lindungilah diri kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan separuh buah kurma.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jika separuh kurma saja memiliki nilai sedekah, jangan pernah meremehkan makanan sederhana yang kita bagikan.

Memahami Tradisi Jumat Berkah dengan Benar

Tradisi Jumat Berkah patut terus dihidupkan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa berbagi makanan merupakan amalan yang dianjurkan sepanjang waktu. Menjadikan Jumat sebagai kesempatan rutin untuk berbagi adalah kebiasaan baik, tanpa harus meyakininya sebagai ibadah khusus yang diwajibkan atau ditetapkan Nabi ﷺ.

Penutup: Menghidupkan Semangat Berbagi

Bayangkan seorang wanita tua pada zaman Rasulullah ﷺ yang memasak sayuran dan sedikit gandum. Siapa sangka, kebaikan sederhananya menjadi kisah yang dikenang umat Islam hingga sekarang?

Dahulu, para sahabat bergembira pada hari Jumat karena ada seorang wanita tua yang menyediakan makanan untuk mereka.

Semoga hari ini, ada orang lain yang bergembira pada hari Jumat karena makanan yang kita bagikan kepada mereka.

Mari terus hidupkan Jumat Berkah dengan ilmu, keikhlasan, dan kepedulian.

Semoga Allah menerima sedekah kita, memberkahi rezeki kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berbagi.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

↑ Kembali ke atas

Muh Huud I Wima, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button