Tatsqif

RAHASIA REZEKI, ANTARA MUKMIN DAN KAFIR

RAHASIA REZEKI, ANTARA MUKMIN DAN KAFIR

(Serial Suatu Hari Bersama Nabi ﷺ)

Semasa hidup figur teladan kita, Nabi Muhammad ﷺ , kondisi ekonomi keluarga beliau sangat sederhana. Bukan karena kurang lihai dalam berbisnis, atau tidak mau membahagiakan keluarganya. Tapi, setelah Rabb semesta alam menobatkan beliau sebagai Nabi dan Rasul terakhir bagi umat manusia, mengembankan amanah risalah Islam di pundaknya, beliau bangkit untuk melaksanakan tugas mulia ini, dan berdeklarasi: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)

Setelah deklarasi: “Hidup matiku hanya untuk Allah”, selama 23 tahun beliau berjuang membumi-langitkan agama Islam, mengeluarkan manusia dari kegelapan kesyirikan menuju cahaya iman dan Islam, tak punya obsesi sedikitpun atau bahkan sedetikpun untuk memperkaya diri, mengumpulkan pundi-pundi kekayaan dunia yang fana, atau mengejar kesenangan duniawi.

Tetapi sebagai manusia biasa, ummahātul mukminīn (istri-istri) beliau, pernah meminta sedikit tambahan biaya hidup, selayaknya keluarga kaum muslimin umumnya. Disebabkan tuntutan ini dan beberapa kasus lainnya, Nabi ﷺ marah dan berjanji akan i’tizāl (mangasingkan diri) dan tidak tinggal bersama istri-istrinya selama sebulan. Peristiwa ini menjadi sabab nuzul surat At-Tahrim, juga perintah Allah Azza wa Jalla agar beliau memberi istrinya dua pilihan; bersabar dan tetap setia bersama beliau, atau memilih kesenangan dunia namun diceraikan.

Firman Allah Ta’ala: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu nafkah mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)

Pembaca seklian, tiada rumah tangga di dunia ini yang tak pernah ditimpa masalah, termasuk keluarga Nabi mulia ﷺ. Beliau adalah suri teladan bagi umat manusia, kita semua perlu belajar dan meneladani beliau, bagaimana cara menyelesaikan berbagai masalah rumah tangga, silang pendapat antara suami istri, dst.

Tetapi, bukan ini inti bahasan kita.

Setelah masuk hari ke-29 Rasulullah mengasingkan diri dari istri-istrinya, tersebar rumor bahwa beliau telah menalak (menceraikan) istri-istrinya. Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu berinisiasi mendatangi tempat beliau mengasingkan diri, untuk memastikan kondisi sekalian melepas rindu, juga untuk mematahkan rumor yang tersebar. Berikut penggalan kisah mengahrukan tersebut, yang dikisahkan langsung oleh Umar bin Khattab radhiyallahu anhu: “Lalu aku menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku pun duduk, dan beliau merapatkan kain sarungnya, sedangkan beliau tidak mengenakan pakaian lain selain sarung tersebut. Tiba-tiba terlihat bekas tikar itu telah menjiplak pada badan beliau.

Aku lalu melayangkan pandanganku ke dalam bilik penyimpanan (dapur) Rasulullah ﷺ. Aku hanya mendapati sedikit gandum (sekitar satu sha’), dedaunan penyamak kulit (qarazh) di sudut ruangan, serta selembar kulit binatang yang tergantung dan belum sempurna disamak. (Umar) berkata: Maka kedua mataku pun bercucuran air mata.

Beliau ﷺ bertanya: ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai putra Khattab?’

Aku menjawab: ‘Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis? Tikar ini telah berbekas di badanmu, dan bilik penyimpananmu ini, tidak berisi apa-apa selain yang kulihat. Sementara Kaisar (Romawi) dan Kisra (Persia) hidup bergelimang (kenikmatan) di tengah buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir, padahal engkau adalah Rasulullah ﷺ dan hamba pilihan-Nya, tetapi bilik penyimpananmu hanya seperti ini!’

Maka beliau ﷺ bersabda: ‘Wahai putra Khattab, apakah engkau tidak rida bahwa bagi kita akhirat, sedangkan bagi mereka dunia?’ Aku menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah.'” (HR. Bukhari no. 4913 & Muslim no. 1479)

Rahasia-Rahasia Rezeki

Ungkapan fenomenal Nabi ﷺ: “Apakah engkau tidak rida bahwa bagi kita akhirat, sedangkan bagi mereka dunia?” Telah membongkar salah satu rahasia rezeki yang barangkali seringkali kita pertanyakan, namun belum pernah kita temukan jawabnnya. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak kita:

“Mengapa banyak non muslim menjadi milyader, sedangkan banyak muslim yang kere?”

“Mengapa rezeki seorang muslim sempit karena dosa, sementara non muslim bermaksiat dan rezekinya lancar-lancar saja?”

Dan berbagai godaan keimanan serta ujian mental lainnya.

Untuk menghapus berbagai godaan setan di dada, melenyapkan syubhat yang mengusik ideologi, menepis dampak flexing di media sosial yang membuat sakit hati, marilah kita memahami bersama beberapa rahasia rezeki, mudah-mudahan gundah gulana di hati bisa terobati.

Rahasia Pertama: Rezeki Bukan Berupa Harta Benda Semata.

Kata rezeki berasal dari bahasa Arab: “Rizq”, yang berarti pemberian dan anugerah. Yaitu: segala sesuatu yang bermanfaat yang diberikan Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya—baik yang halal maupun yang haram, bersifat materil maupun spiritual—untuk melangsungkan kehidupan.

Artinya, rezeki mencakup: Rezeki Lahiriah (Materi): Makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, harta, dan pasangan. Juga Rezeki Batiniah (Spiritual/Maknawi): Hidayah, iman, ilmu, ketenangan jiwa, akhlak mulia, dan kesehatan. Rezeki batiniah bersifat abadi dan mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan akhirat.

Boleh jadi, seorang kafir bergelimang kemewahan dan harta yang melimpah ruah, seperti Qarun, dimana kunci pundi-pundi hartanya saja sulit dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Tetapi, apakah harta itu berkah? Apakah hatinya bahagia, jiwanya tenang, ia dapat menikmati kekayaan yang melimpah itu?

Banyak orang kaya tapi jiwanya tersiksa, rasa takut menghantuinya. Kalau tidak mengkonsumsi obat penenang, ia takkan bisa tidur.

Banyak orang kaya tapi tak dapat menikmati kekayaannya, karena berbagai penyakit yang diidapnya.

Banyak orang kaya, hartanya tak terhitung jumlahnya, tapi utangnya tersebar di mana-mana. Tidak sedikit pula yang meraup kekayaan dari jalan yang melanggar hukum agama dan negara.

Bahkan, banyak orang kaya tapi miskin hati, meski namanya masuk dalam daftar orang terkaya di negerinya atau di dunia, tapi ia masih rakus dan tak pernah merasa puas. Tak sedikit pula yang kikir, bakhil dan enggan berbagi untuk sesama.

Maka, standar kekayaan adalah kaya jiwa, qana’ah dan rida dengan karunia Allah Ta’ala, harta sedikit namun berkah, jauh lebih mulia. Rezeki harta seorang mukmin mungkin sempit, tetapi hatinya luas, imannya menghunjam di dada, senyum senantiasa menghiasi wajahnya, pada hakikatnya dia sangat kaya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, kekayaan hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibrahim bin Adham Radhiyallahu anhu (Dari golongan Tabi’iin dan fuqaha’ ahlus sunnah) berkata: “Seandainya para raja dan putra-putra raja mengetahui betapa besarnya kebahagiaan dan kenikmatan yang kita rasakan ini, niscaya mereka akan merebutnya dari kita dengan pedang.” (Hilyatul Auliya’: 7/370-371).

Rahasia Kedua: Kekayaan Dunia Tiada Harganya di Sisi Allah Ta’ala.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya dunia ini memiliki nilai di sisi Allah seberat sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walau hanya seteguk air.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Majah, Tirmidzi, Hakim, Thabrani, dll. Syekh Al-Albani menghukumi hadits ini shahih).

Karena dunia dan seisinya tiada artinya di sisi-Nya, Allah Ta’ala memberikan semua manusia rezeki masing-masing, baik muslim, kafir, maupun munafik, tanpa memedulikan jumlahnya. Andaikata harta benda duniawi berharga, pasti Allah Ta’ala tidak akan memberi orang kafir rezeki lebih banyak dari seorang mukmin, bahkan takkan memberikan setetes airpun bagi orang kafir dan munafik. Karena seorang mukmin yang beriman dan beribadah kepada-Nya tentu lebih berhak.

Bahkan, Allah Ta’ala memberikan rezeki kepada semua makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan. Firman-Nya: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 60)

Dari sini kita pahami, bahwa banyaknya harta sesorang bukanlah bukti kasih sayang Allah, sebaliknya, kemiskinan seseorang bukan berarti Allah Ta’ala benci kepadanya. Banyak dan sedikitnya harta bukanlah standar cinta dan murka Allah Azza wa Jalla.

Rahasia Ketiga: Sunnatullah Terkait Rezeki di Dunia Berlaku bagi semua.

Ketika menetapkan rezeki setiap makhluk, Allah Ta’ala juga menetapkan jalan meraihnya. Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap orang harus bekerja dan berusaha demi meraih rezekinya. Secara umum, semakin giat seseorang, semakin professional ia dalam bekerja, maka semakin besar peluang keberuntungannya. Sunnatullah ini menjadi bukti ke-Mahaadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah rahasia mengapa banyak orang kafir yang mengerahkan segala kemampuan, waktu dan tenaganya, jatuh bangun untuk mengelola bisnis dan usahnya, akhirnya menjadi milyader, bahkan orang terkaya di dunia. Sementara tak sedikit dari kaum muslimin yang rela menjadi pengemis demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Bedanya, seorang muslim yang taat senantiasa konsisten dengan hukum dan petunjuk Allah dalam mencari rezeki, ia lebih mengutamakan rezeki yang halal dan berkah daripada jumlah yang melimpah. Saat berhasil menjadi kaya, ia bersyukur dengan karunia Allah dengan hati, lisan dan perbuatan. Jika ditakdirkan miskin dengan rezeki terbatas, ia tetap bersabar dan rida, ia yakin semuanya adalah ujian yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Sedang si kafir, ia tidak meyakini adanya kehidupan setelah mati, sehingga kesenangan di dunia harus dikejar mati-matian, menghalalkan segala cara, menghabiskan siang dan malamnya hanya demi kenikmatan dunia. Jika berhasil, ia berfoya-foya, jika gagal ia putus asa, bahkan tak sedikit dari mereka yang memilih mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri.

Firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tiada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiah: 24).

Rahasia Keempat: Korelasi Antara Takdir Rezeki dengan Ikhtiar, Doa dan Tawakkal.

Sebagai seorang hamba, kita meyakini bahwa rezeki setiap insan sudah ditetapkan Allah sejak masih dalam kandungan ibunya. Sehingga rezekinya takkan berpindah ke orang lain, rezeki orang lain pun takkan salah alamat, dan bahwa tak seorangpun wafat sampai meraih semua rezeki yang telah ditetapkan Allah Ta’ala baginya.

Seorang muslim meyakini bahwa takdir rezeki dan ikhtiar saling melengkapi dan tidak bertentangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan rezeki bersamaan dengan jalannya. Seseorang tidak akan pernah mencapai takdir yang telah ditetapkan tanpa melalui sunnatullah berupa ikhtiar. Dalam ikhtiar, seorang hamba harus mempelajari ilmunya, bekerja dengan profesional, disiplin, berpijak pada syariat Islam.

Seorang mukmin meyakini, bahwa doa adalah kunci pembuka pintu-pintu rezeki, ia berdoa memohon kepada Allah Ar-Razzāq (Maha Pemberi rezeki), karena semua perbendaharaan langit dan bumi hanya milik-Nya, dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memohon rezeki hanya kepada-Nya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Sebagai seorang mukmin, ia meyakini bahwa setelah berikhtiar mencari rezeki, berdoa kepada Allah untuk kemudahan dan kelapangan rezeki, ia wajib bertawakal; menyerahkan hasil serta menggantungkan keberhasilannya hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Ia takkan bergantung pada ilmu, usaha, keahlian dan kelihaiannya, sebab semunya dapat berjalan juga dengan izin dan kehendak Allah Ta’ala. Doanya adalah bagian dari usaha, kemampuannya berusaha tak lepas dari taufik Allah Ta’ala, dan segala sesuatu terkait hasilnya, hanya Allah semata Yang Maha Kuasa menentukannya. Akhirnya, ia akan rida dengan apapun hasil dari doa, ikhtiar dan tawakalnya.

Perumpamaan indah tentang korelasi antara usaha dan tawakal, dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam sabda beliau: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; yang pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Trimidzi, dll.)

Semua keyakinan dan amalan tersebut hanya dimiliki oleh seorang mukmin, semuanya bernilai ibadah dan membuahkan pahala baginya, membuat hatinya tenang, jiwanya tenteram, hidupnya bahagia di dunia dan akhirat –biidznillāh-. Semua kenikmatan ini, tidakkan dirasakan oleh orang yang tak beriman.

Rahasia Kelima: Akhir dari Seuntai Rezeki.

Bagi orang kafir, harta benda dan kekayaan dunia adalah tujuan akhir, sehingga ia bersusah payah memperkaya diri dengan segala macam cara, tanpa memedulikan halal haram, tak peduli apakah ia menzalimi atau menindas orang lain, demi kesenangan dunia semu semata. Setelah harta diperoleh dia akan menghabiskannya, terus berfoya-foya merengkuh segala kesenangan meskipun haram. Ia tidak meyakini adanya kehidupan setelah mati, tidak mempersiapkan apapun demi menghadapinya nanti. Memang, secara kasat mata mereka senang, puas, dan mampu melampiaskan segala nafsunya.

Namun, apa yang akan ia dapatkan di akhirat kelak?

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Terkadang, mereka menggunakan hartanya untuk menyebarkan kekufuran, kemaksiatan dan menghalangi manusia dari jalan Allah Ta’ala. Tetapi, hanya kerugianlah yang ia dapatkan, segala makarnya di dunia gagal dan di akhirat ia akan menyesal. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 36)

Anda pasti takjub, bahwa seorang mukmin, jika berjaya, itulah yang terbaik baginya, jika belum berhasil, itu juga yang terbaik baginya. Segala jerih payah yang diiringi doa dan tawakkal adalah ibadah yang sejatinya akan membawa kebahagiaan baginya di dunia. Semua harta yang ia zakatkan, infakkan dan sedekahkan di jalan Allah Ta’ala, bahkan nafkah yang ia keluarkan untuk anak istrinya, semuanya bernilai pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan (nikmat), dia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa kesusahan (musibah), dia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Meskipun saat di dunia hidupnya sederhana atau bahkan menderita, tetapi Allah akan memberikan imbalan terbaik baginya di surga kelak. Inilah inti dari sabda Nabi ﷺ kepada Umar bin Khattab radhiyallahu anhu: ‘Wahai putra Khattab, apakah engkau tidak rida bahwa bagi kita akhirat, sedangkan bagi mereka dunia?’

Wallāhu A’lam.

Abu Mutsanna, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button