Di mana Allah? (Bag. 5)

Percaya atau Tidak
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat sunnah seseorang di tempat yang tidak dilihat manusia, pahalanya setara dengan shalatnya di hadapan manusia sebanyak dua puluh lima kali.” (Hadits ini dinilai shahih sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 3821)
Maksudnya, wahai orang yang melaksanakan shalat-shalat sunnah di rumahmu selama satu tahun, engkau mendapatkan pahala seperti orang yang melaksanakannya di masjid selama dua puluh lima tahun.
Karena itu, Nabi ﷺ mengabarkan:
“Sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang ia kerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib.”
Hadits ini shahih sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1117.
Seruan Terakhir
Sampai kapan kelalaian dan kesenangan dunia terus melalaikanmu, sementara Malaikat Maut mencarimu dan engkau masih lalai?
Engkau pergi dan pulang mencari harta, sementara jalan kebinasaan terus mengejarmu dari belakang.
Ketahuilah, mengerahkan kemampuan dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan adalah amal paling bermanfaat bagi orang yang mungkin saja akan masuk kubur satu jam lagi.
Amalmu… amalmu.
Shalatmu… shalatmu.
Keshalihanmu… keshalihanmu.
Amal shalihmu akan menemanimu ketika engkau dimandikan di atas tempat pemandian.
Ia akan menyertaimu ketika engkau dipikul di atas keranda.
Ia akan bersamamu ketika manusia menshalatimu di tempat shalat jenazah.
Ia akan tetap menyertaimu saat engkau diturunkan ke dalam liang kubur.
Ketika tiupan kebangkitan membangunkanmu, dan kedahsyatan hari pengumpulan mengejutkanmu, lalu ibu, ayah, saudari, dan saudaramu lari meninggalkanmu…
Engkau akan mendapati amal shalihmu pergi bersamamu ke mana pun engkau pergi.
Ia akan ikut bersamamu di mana pun engkau berada.
Di dalam kubur, ia menghibur kesendirianmu.
Ia menurunkan ketenangan ketika engkau kebingungan.
Ia membentangkan cahaya untukmu di tengah gelapnya kubur.
Pada hari kiamat, ia menaungimu di bawah naungan Arsy Ar-Rahman.
Ia meringankan lamanya berdiri di hadapan Raja Yang Maha Mengadili.
Wahai saudaraku…
Apakah rezeki telah melalaikanmu dari Sang Pemberi rezeki?
Apakah nikmat telah menyibukkanmu hingga lupa kepada Sang Pemberi nikmat?
Apakah makhluk telah membuatmu lalai dari Sang Pencipta?
Tidakkah hatimu bergetar, padahal kematian memanggilmu setiap hari seratus kali?
Demi Allah, seandainya kayu memiliki hati, niscaya ia akan menjerit.
Seandainya batu memiliki ruh, niscaya ia akan meratap.
Batang pohon saja pernah merintih karena rindu kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan engkau tidak merasakan kerinduan.
Katakan kepadaku, demi Rabb-mu…
Apabila peristiwa besar itu terjadi, dan seruan untuk pergi telah ditujukan kepadamu, maka tidak lagi bermanfaat bagimu hartamu, baik banyak maupun sedikit.
Orang yang memandikan jenazah mulai meminta air segera dipanaskan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing dan lalai darimu. Dokter hanya membolak-balikkan kedua telapak tangannya, sementara liang kubur seakan telah menantimu.
Para ahli waris pun menunggu pengumuman kematianmu.
Hingga ketika napasmu telah terputus dan suaramu melemah…
Apakah sesuatu akan menjauhkanmu dari hal itu?
Apakah harta halal yang pernah engkau raih, atau harta haram yang dengannya engkau bermaksiat?
Apakah anak yang pernah engkau peluk?
Apakah kebun yang pernah engkau tanam?
Apakah istri yang engkau cintai?
Ataukah dunia yang dahulu engkau kumpulkan?
Tidak… tidak… tidak.
Demi Allah, tidak ada yang akan bermanfaat bagimu kecuali kebaikan yang pernah engkau lakukan, silaturahmi yang pernah engkau sambung, orang yang pernah engkau ridha-kan setelah berselisih, rakaat yang engkau kerjakan di gelapnya malam, air mata yang engkau teteskan karena takut kepada Allah, atau sedekah yang engkau keluarkan demi mengharap wajah Rabb-mu.
Lalu Setelah Semua Nasihat Ini, Apa yang Harus Dilakukan?
- Jauhilah dosa-dosa saat sendirian, karena dosa-dosa itu dapat menghapus pahala ibadah yang dilakukan secara terang-terangan.
- Malulah kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada orang saleh di tengah kaummu.
- Hendaknya engkau memiliki bagian dari ibadah tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun selain Allah.
- Shalat sunnah yang engkau kerjakan di rumahmu memiliki pahala yang lebih besar.
- Sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih menambah kebaikan, lebih dicintai Rabb, dan menjadi jalan agar seseorang termasuk dalam tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari kiamat.
- Menangis ketika sendirian adalah ibadah. Usahakanlah untuk mencapainya, dan jangan berputus asa dari rahmat Allah.
- Usahakan agar engkau memiliki i’tikaf mingguan di masjid yang tidak ada seorang pun mengenalmu di sana, misalnya antara Maghrib dan Isya.
- Bangunlah satu malam dalam sepekan sebelum Subuh, lalu shalatlah dua rakaat qiyamullail, agar engkau mendapatkan hadiah besar:
“Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa kenikmatan yang menyejukkan mata, sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 17)
(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)



