Pelajaran dari Surah Yusuf dalam Menghadapi Kedengkian dan Permusuhan

Pelajaran dari Surah Yusuf dalam Menghadapi Kedengkian dan Permusuhan
(Diterjemahkan dari tulisan Prof. Dr. Mardhiy bin Musyawwah Al-‘Anazi yang berjudul “Isyraq Ayah” )
Mungkin orang-orang yang paling engkau cintai justru akan memusuhimu. Mereka menuduhmu dengan berbagai tuduhan dan membencimu tanpa alasan yang benar.
Mungkin engkau diperlakukan seperti barang dagangan yang diperjualbelikan, atau dipaksa bekerja layaknya seorang budak.
Mungkin hidup terasa begitu sempit hingga seakan-akan tidak ada lagi jalan keluar. Kebingungan datang silih berganti, membuat hati letih dan pikiran buntu.
Pada saat itulah, jangan berputus asa. Berhentilah sejenak dan renungkan. Boleh jadi, di balik semua kesulitan itu, Allah sedang membuka jalan menuju kemuliaan dan kekuatan, sebagaimana yang Dia berikan kepada Nabi Yusuf ‘alaihis salam.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَجَآءَتۡ سَيَّارَةٞ فَأَرۡسَلُواْ وَارِدَهُمۡ فَأَدۡلَىٰ دَلۡوَهُۥۖ قَالَ يَٰبُشۡرَىٰ هَٰذَا غُلَٰمٞۚ وَأَسَرُّوهُ بِضَٰعَةٗۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ وَشَرَوۡهُ بِثَمَنِۭ بَخۡسٖ دَرَٰهِمَ مَعۡدُودَةٖ وَكَانُواْ فِيهِ مِنَ ٱلزَّٰهِدِينَ﴾
“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja. Mereka termasuk orang-orang yang tidak menghargainya.”
Kemudian Allah berfirman:
﴿وَقَالَ ٱلَّذِي ٱشۡتَرَىٰهُ مِن مِّصۡرَ لِٱمۡرَأَتِهِۦٓ أَكۡرِمِي مَثۡوَىٰهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوۡ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدٗاۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ﴾
“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, ‘Muliakanlah tempat tinggalnya. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita jadikan dia sebagai anak.’ Demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri itu.” (QS. Yusuf: 20–21)
Ketika engkau dizalimi, ketika nilai-nilai yang engkau pegang dicemooh, dan prinsip-prinsip yang engkau pertahankan diremehkan, jangan habiskan waktumu untuk terus menghadapi mereka.
Kembalilah kepada tempat-tempat yang mendekatkanmu kepada Allah: masjid, majelis ilmu, perpustakaan, atau ruang sunyi tempat engkau bermunajat kepada-Nya.
Panjangkan sujudmu. Curahkan air matamu di hadapan Allah.
Hiduplah bersama ilmu dan para ulama.
Di sanalah rahmat dan keberkahan Allah diturunkan.
Di sanalah engkau akan menemukan kelembutan, kemudahan, ketenangan, dan kedamaian.
Allah akan mencukupkan kebutuhanmu sehingga engkau tidak lagi bergantung kepada orang-orang yang merendahkanmu dan tidak merasa perlu duduk bersama orang-orang yang bodoh.
Allah Ta’ala berfirman tentang Ashabul Kahfi:
﴿وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا﴾
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (QS. Al-Kahfi: 16)
Apabila Allah bersamamu, kemenangan akan selalu menyertaimu.
Pertolongan-Nya dapat datang bahkan dari tempat yang paling sempit dan dari arah yang sama sekali tidak disangka.
Boleh jadi musuh-musuhmu mengira engkau telah kalah, bersembunyi, atau kehilangan seluruh kekuatanmu. Namun, justru pada saat itulah Allah sedang menyiapkan pertolongan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya ketika berada di dalam gua bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu:
﴿إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ﴾
“Jika kalian tidak menolongnya, maka sungguh Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua.” (QS. At-Taubah: 40)
Allah menyebut peristiwa bersembunyi di dalam gua itu sebagai bagian dari pertolongan-Nya. Namun, banyak manusia tidak menyadari bahwa terkadang berdiam diri, menjauh sejenak, dan menunggu pertolongan Allah merupakan bentuk kemenangan yang sedang dipersiapkan.
Apa pun ujian dan rintangan yang engkau hadapi dalam kehidupan, hadapilah dengan tiga bekal utama:
Pertama: Takwa kepada Allah.
Kedua: Kesabaran.
Ketiga: Berbuat ihsan dalam setiap keadaan.
Setelah Nabi Yusuf ‘alaihis salam melewati berbagai ujian yang silih berganti—dikhianati saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, hingga akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi penguasa Mesir—beliau menjelaskan rahasia keselamatan dari seluruh ujian itu kepada saudara-saudaranya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصۡبِرۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ﴾
“Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Yusuf: 90)
Inilah rahasia yang diajarkan Surah Yusuf kepada setiap mukmin: jalan menuju kemuliaan tidak selalu dimulai dengan kenyamanan. Terkadang, ia diawali dengan kedengkian, pengkhianatan, kesendirian, dan berbagai ujian yang berat. Namun, selama seseorang menjaga takwa, bersabar, dan terus berbuat ihsan, Allah tidak akan menyia-nyiakan usahanya. Pada waktu yang paling tepat, Allah akan mengubah kesempitan menjadi kelapangan, kesedihan menjadi kebahagiaan, dan kehinaan menjadi kemuliaan.



