6 Kriteria Persahabatan yang Baik dalam Al-Qur’an

6 Kriteria Persahabatan yang Baik dalam Al-Qur’an
Persahabatan yang saleh merupakan nikmat besar dari Allah Ta‘ala sekaligus karunia yang sangat berharga bagi setiap muslim. Tidak sedikit seseorang menjadi istiqamah karena sahabatnya, dan tidak sedikit pula yang tergelincir karena pergaulan yang buruk. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang jelas tentang karakteristik persahabatan yang diridhai Allah. Berikut beberapa kriteria persahabatan yang saleh yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Pertama: Senantiasa mengingat Allah dengan ikhlas serta saling menguatkan dalam ketaatan kepada-Nya
Persahabatan yang saleh dibangun di atas fondasi keimanan. Seorang sahabat tidak hanya menemani dalam urusan dunia, tetapi juga mengingatkan saudaranya agar senantiasa berdzikir, beribadah, menghadiri majelis ilmu, serta berlomba dalam amal saleh. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ﴾ [الكهف: 28]
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ibnu Katsir berkata, “Yakni, duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allah, bertahlil, bertasbih, bertakbir, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya pada pagi dan petang.”
Kedua: Teguh dalam agama ketika menghadapi rasa taku dan berbagai ujian
Persahabatan yang baik menjadi sebab kokohnya iman ketika seseorang menghadapi rasa takut, kesempitan, dan ujian yang berat.
Hal ini dipetik dari kisah hijrah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar radhiyallau ‘anhu, saat keduanya berada di Gua Tsur dan orang-orang Quraisy telah sampai di dekat mulut gua, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya, niscaya dia akan melihat kita.”
Kemudian Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebagaimana friman Allah ta’ala:
﴿لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ﴾ [التوبة: 40]
“Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Ketiga: saling mengambil manfaat dalam ilmu dan kebaikan
Di antara ciri persahabatan yang baik ialah adanya sikap saling mengambil manfaat dalam ilmu dan kebaikan. Seorang sahabat tidak merasa gengsi untuk belajar dari sahabatnya, meskipun dalam beberapa perkara ia memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Kisah Musa dan Khidir ‘alaihimas salam mengajarkan hal tersebut. Allah Ta‘ala mengisahkan ucapan Musa ‘alaihissalam kepada Khidir ‘alaihissalam:
﴿قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا﴾
“Musa berkata kepadanya: bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” (QS. Al-Kahfi: 66)
Dan di ayat lain:
﴿قَالَ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا﴾
” dia (Musa) berkata: Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” (QS. Al-Kahfi: 69)
Keempat: Saling menyayangi dan mencintai karena Allah
Persahabatan yang saleh tidak dibangun di atas iri dan dengki, dan ini lah yang terjadi diantara para sahabat, Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan dengan sifat saling menyayangi dan berkasih sayang di antara mereka. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ﴾
“Mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berkasih sayang di antara mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)
Kelima: Bersih dari kedengkian
Persahabatan yang baik dibangun di atas hati yang bersih dari kedengkian. Allah Tabaraka wa Ta‘ala memuji kaum Anshar karena ketulusan mereka terhadap kaum Muhajirin. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ﴾
“Mereka tidak menaruh keinginan dalam dada mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Al-Wahidi berkata mengenai firman Allah Ta‘ala, “Mereka tidak menaruh keinginan dalam dada mereka, yaitu tidak ada rasa marah dan dengki dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, berupa harta rampasan perang”
Keenam: saling mendoakan satu sama lain
Di antara manfaat persahabatan yang baik ialah seorang sahabat tidak melupakan sahabatnya dalam doa. Hal ini sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihissalam untuk saudaranya, Harun ‘alaihissalam. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِأَخِي وَأَدۡخِلۡنَا فِي رَحۡمَتِكَۖ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ﴾
“Musa berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku. Masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.’”
(QS. Al-A‘raf: 151)
Ketujuh: Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
Persahabatan yang saleh bukan hanya saling menemani, tetapi juga saling menasihati ketika salah dan saling menguatkan dalam kesabaran. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ﴾
“saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (Al ‘Ashr:3)
Persahabatan yang saleh merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba. Karena itu, hendaknya setiap muslim berusaha memilih sahabat yang mengingatkannya kepada Allah, meneguhkannya di atas kebenaran, membantunya dalam menuntut ilmu, mencintainya karena Allah, membersihkan hatinya dari kedengkian, mendoakannya, serta menasihatinya dengan penuh kasih sayang. Semoga Allah Ta‘ala mengaruniakan kepada kita sahabat-sahabat yang saleh dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya.



