Tatsqif

Di mana Allah? (Bag. 4)

  1. Takut Amal Menjadi Gugur

Ancaman ini disampaikan oleh Nabi ﷺ kepada orang yang bermuka dua dan berlidah dua; yaitu orang yang tampak bersama manusia dalam keadaan sebagai orang yang taat, namun ketika ia menyendiri dengan Rabb-nya, ia berada dalam keadaan sebagai pelaku maksiat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh aku benar-benar mengetahui ada beberapa kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung-gunung Tihamah yang putih. Lalu Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan. Ketahuilah, mereka adalah saudara-saudara kalian, dari bangsa kalian sendiri. Mereka juga mengambil bagian dari malam sebagaimana kalian mengambil bagian darinya. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang apabila menyendiri dengan perkara-perkara yang Allah haramkan, mereka melanggarnya.” (Hadits ini dinilai shahih sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5028)

Maka hadirkanlah rasa takut terhadap gugurnya amalmu.

Khawatirlah terhadap nasib kebaikan-kebaikanmu.

Jagalah ketaatanmu.

Jangan sia-siakan usahamu begitu saja.

Jangan menjadi seperti orang yang berjalan sepanjang malam, tetapi ketika pagi tiba, ia mendapati dirinya berada di jalan yang salah.

Berusahalah meraih ridha Allah, bukan ridha makhluk. Sebab keridhaan manusia adalah tujuan yang sulit dicapai, dan sering kali hanya menjadi angan-angan dalam mimpi.

  1. Bergembira dengan Pahala Ibadah yang Tersembunyi

Di antara cara melatih diri untuk merasakan pengawasan Allah adalah dengan menghadirkan kabar gembira tentang pahala ibadah yang tersembunyi.

Cukuplah sebagai keutamaannya bahwa tiga dari tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, mereka termasuk orang-orang yang memiliki ibadah tersembunyi.

Di antaranya:

“…Seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’

Seorang laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.

Dan seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu kedua matanya berlinang air mata.”

Pahala ini kembali kepada sebab bahwa ibadah yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan, lebih jauh dari riya dan berbangga diri, serta lebih mampu mematahkan dorongan jiwa untuk mencari popularitas dan rasa kagum terhadap diri sendiri.

Karena itu, dalam sebagian atsar disebutkan bahwa ibadah secara tersembunyi lebih utama daripada ibadah yang terang-terangan sebanyak tujuh puluh kali lipat.

Maka hadirkanlah besarnya pahala ini. Semoga hal itu membantumu menjaga larangan-larangan Allah, baik ketika sendiri maupun di hadapan manusia. Dengan begitu, engkau akan menjadi hamba yang dekat di sisi Allah dan termasuk orang-orang yang baik.

Karena itu, Ka’ab Al-Ahbar memberi kabar gembira dengan ucapannya:

“Barang siapa beribadah kepada Allah pada suatu malam di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun yang mengenalnya, maka ia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ia keluar dari malamnya.”

Bahkan Amr bin Al-‘Ash berkata:

“Satu rakaat di malam hari lebih baik daripada sepuluh rakaat di siang hari.”

Dan datang pula nasihat ketiga dari Hudzaifah bin Qatadah, ia berkata:

“Jika engkau menaati Allah ketika sendiri, maka Allah akan memperbaiki hatimu, baik engkau suka maupun tidak.”

Kemarahan Tamim Ad-Dari

Seseorang pernah bertanya kepada Tamim Ad-Dari:

“Bagaimana shalat malammu?”

Maka Tamim marah dengan sangat keras, lalu berkata:

“Demi Allah, satu rakaat yang aku kerjakan di tengah malam secara tersembunyi lebih aku cintai daripada aku shalat sepanjang malam, kemudian aku ceritakan kepada manusia.”

Kebaikan yang Tersembunyi

Abdullah bin Al-Mubarak sering bepergian ke kota Ar-Raqqah dan menginap di sebuah penginapan di sana.

Ada seorang pemuda yang biasa datang kepadanya, membantu memenuhi kebutuhannya, dan mendengarkan hadits darinya.

Suatu ketika Abdullah bin Al-Mubarak datang lagi ke Ar-Raqqah, tetapi ia tidak melihat pemuda tersebut. Maka ia bertanya tentangnya.

Orang-orang menjawab,
“Pemuda itu sedang dipenjara karena terlilit utang.”

Abdullah bertanya,
“Berapa jumlah utangnya?”

Mereka menjawab,
“Sepuluh ribu dirham.”

Maka pada malam hari, Abdullah memanggil orang yang memiliki piutang itu, lalu memberinya sepuluh ribu dirham. Ia juga meminta orang itu bersumpah agar tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun selama Abdullah masih hidup.

Abdullah berkata kepadanya,
“Jika pagi tiba, keluarkan pemuda itu dari penjara.”

Ketika pemuda itu keluar dari penjara, dikatakan kepadanya,
“Abdullah bin Al-Mubarak tadi ada di sini dan menanyakan tentangmu.”

Maka pemuda itu pun keluar menyusul jejak Abdullah. Ketika bertemu dengannya, Abdullah berkata:

“Wahai pemuda, di mana engkau? Aku tidak melihatmu di penginapan.”

Pemuda itu menjawab,
“Aku dipenjara karena utang.”

Abdullah bertanya,
“Lalu bagaimana engkau bisa bebas?”

Pemuda itu menjawab,
“Ada seseorang yang datang lalu melunasi utangku. Aku tidak mengetahui siapa dia sampai aku dikeluarkan dari penjara.”

Maka Abdullah berkata kepadanya:

“Pujilah Allah atas taufik yang Dia berikan kepadamu berupa pelunasan utangmu.”

Kemudian Abdullah berpisah darinya dan melanjutkan perjalanannya.

(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button