Tatsqif

Di mana Allah? (Bag. 3)

Tiga Catatan Amal

Ketahuilah, wahai saudaraku yang menjaga rasa malu, bahwa tidak ada satu amal pun yang engkau kerjakan melainkan pada hari kiamat akan dibuka untuknya tiga catatan:

Pertama: Mengapa?
Apakah amal itu untuk Allah atau untuk setan? Untuk agama atau untuk hawa nafsu? Untuk surga atau untuk neraka? Untuk membahagiakan para malaikat atau membuat mereka sedih? Untuk memusuhi Iblis atau justru loyal kepadanya?
Jika amal itu karena Allah, maka ia akan diterima dan terus maju. Namun jika untuk selain-Nya, maka ia akan tertahan.

Kedua: Bagaimana?
Jika amal itu memang untuk Allah, lalu bagaimana amal itu dikerjakan?
Apakah dengan hati yang hadir dan sadar? Ataukah dengan kelalaian dari nuranimu?

Ketiga: Untuk siapa?
Apakah ia ikhlas dalam amalnya, tidak mengharap selain wajah Allah?
Apakah ia mencampurkan dalam niatnya sesuatu untuk makhluk Allah?
Apakah ia melakukan amalnya karena riya?
Apakah ia ingin amalnya didengar dan dipuji orang?

Wahai saudaraku tercinta… engkau adalah seorang mukmin. Dan seorang mukmin itu berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Ia berhenti dan menimbang ketika muncul keinginan dalam hatinya, bukan seperti pencari kayu di malam hari yang mengambil apa saja tanpa melihat.

Bagaimana Mempelajari Rasa Malu dan Memperbaiki Muraqabah?

  1. Cara Sahl yang sangat mudah

Sahl bin Abdullah At-Tustari berkata:

“Ketika aku berusia tiga tahun, aku biasa bangun di malam hari dan memperhatikan shalat pamanku, Muhammad bin Sawwar.

Suatu hari, pamanku berkata kepadaku:

‘Tidakkah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?’

Aku menjawab:

‘Bagaimana aku mengingat-Nya?’

Ia berkata:

‘Ucapkanlah dengan hatimu ketika engkau berbolak-balik di tempat tidurmu, sebanyak tiga kali, tanpa menggerakkan lisanmu:

Allah bersamaku.

Allah melihatku.

Allah menyaksikanku.

Maka aku pun mengucapkannya selama beberapa malam, lalu aku memberitahukan hal itu kepadanya.

Pamanku berkata:

‘Ucapkanlah itu setiap malam sebanyak sebelas kali.’

Aku pun mengucapkannya, hingga terasa manis dalam hatiku.

Setahun kemudian, pamanku berkata kepadaku:

‘Jagalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Teruslah melakukannya sampai engkau masuk ke dalam kubur, karena hal itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.’

Maka aku terus mengamalkannya selama bertahun-tahun.

Kemudian suatu hari pamanku berkata kepadaku:

‘Wahai Sahl, orang yang Allah selalu bersamanya, Allah melihatnya, dan Allah menyaksikannya… apakah pantas ia bermaksiat kepada-Nya?!’”

Jauhilah Maksiat

Wahai saudaraku yang memiliki rasa malu…

Ketika akal mulai hilang, syahwat menguasai, dosa terasa dekat, dan hati menjadi mabuk/tertutup, maka ingatlah:

Allah bersamaku.

Allah melihatku.

Allah menyaksikanku.

Ketika pengawas tidak ada, saksi tidak terlihat, dan mata-mata manusia telah tertidur, maka ingatlah:

Allah bersamaku.

Allah melihatku.

Allah menyaksikanku.

  1. Menghadirkan Nikmat-Nikmat Allah

Berapa kali engkau sakit lalu Allah menyembuhkanmu?

Berapa kali musibah menimpamu lalu Allah menyelamatkanmu?

Berapa kali engkau merasakan lapar dan haus lalu Allah memberimu makan dan minum?

Allah mengujimu dengan berbagai musibah agar dosa-dosamu diampuni. Dia menimpakan ujian kepadamu agar kesalahan-kesalahanmu dihapus.

Dia memberimu nikmat Islam, sementara jutaan manusia tenggelam dalam lautan kekufuran.
Dia melimpahkan kepadamu nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati, sedangkan banyak manusia terhalang dari nikmat-nikmat itu.

Engkau menentang-Nya dengan maksiat, tetapi Dia tetap mencintaimu.

Engkau bermaksiat kepada-Nya, tetapi Dia tetap mengampunimu.

Allah menutupi aibmu dan terus menutupinya.

Engkau berbuat buruk, tetapi Dia tetap berbuat baik kepadamu.

Engkau berdosa, tetapi Dia tetap memberi nikmat.

Engkau memutus hubungan, tetapi Dia tetap menyambungnya.

Keburukan lisanmu dengan berdusta tidak membuat Allah mencabut nikmat bicara darimu.
Keburukan matamu dengan melihat yang haram tidak membuat Allah mencabut nikmat penglihatanmu.
Keburukan telingamu dengan mendengar yang haram dan ucapan keji tidak membuat Allah menimpakan tuli kepadamu.

Allah telah memberimu nikmat yang engkau ketahui dan nikmat yang tidak engkau ketahui.
Nikmat yang engkau rasakan dan nikmat yang tidak engkau sadari.
Ada nikmat-nikmat yang karena terlalu biasa engkau lihat, engkau lupa mensyukurinya.
Engkau baru mengetahui nilainya ketika nikmat itu hilang.

Nasihat kepada Harun Ar-Rasyid

Muhammad bin Shabih, yang dikenal dengan Ibnu As-Sammak, pernah masuk menemui Harun Ar-Rasyid. Saat itu di tangan Harun ada segelas air.

Ibnu As-Sammak berkata,
“Bagaimana menurutmu, jika engkau terhalang dari meminum air ini, berapa harga yang akan engkau bayar untuk mendapatkannya?”

Harun menjawab,
“Setengah dari kerajaanku.”

Ibnu As-Sammak berkata lagi,
“Bagaimana menurutmu, jika setelah engkau meminumnya, air itu tidak bisa keluar dari tubuhmu, berapa harga yang akan engkau bayar agar ia bisa keluar?”

Harun menjawab,
“Seluruh kerajaanku.”

Maka Ibnu As-Sammak berkata,
“Kerajaan yang nilainya tidak sebanding dengan seteguk air dan keluarnya air kencing, sungguh tidak layak dibanggakan.”

Dua Puluh Empat Ribu Nikmat Setiap Hari!!

Ibnul Qayyim berkata:

“Cukuplah bahwa napas termasuk nikmat paling kecil yang hampir-hampir tidak mereka hitung. Padahal napas itu berjumlah dua puluh empat ribu nikmat dalam setiap siang dan malam. Dan setiap nikmat dari nikmat-nikmat ini memiliki hak syukur yang menuntut dan mengharuskannya.”

  1. Berapakah Nilaimu dalam Kerajaan Allah?!

Di antara hal yang sangat mendorongmu untuk merasa malu kepada Allah dan membantumu menghadirkan nikmat Rabb Subhanahu wa Ta’ala adalah: mengetahui betapa luasnya alam semesta yang agung ini, serta mengetahui posisi dan kadar dirimu di dalamnya.

Dengarkan hadits pertama:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah tujuh langit dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti sebuah cincin yang dilemparkan di tanah lapang yang luas.” (Hadits ini dinilai shahih sebagaimana dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 109)

Namun, seberapa besar tujuh langit itu?!

Dengarkan hadits kedua:

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Jarak antara satu langit dengan langit berikutnya adalah lima ratus tahun. Antara setiap langit dengan langit lainnya lima ratus tahun. Antara Kursi dan air lima ratus tahun. Arsy berada di atas air, dan Allah berada di atas Arsy. Tidak ada sesuatu pun dari amal kalian yang tersembunyi dari-Nya.”

Lalu, bagaimana perbandingan Arsy dengan Kursi?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keutamaan Arsy atas Kursi adalah seperti keutamaan tanah lapang yang luas itu dibandingkan dengan cincin tadi.” (Hadits ini juga dinilai shahih sebagaimana dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 109)

Sekarang, sudahkah engkau mengetahui kadar dirimu, wahai manusia?!

Engkau hanyalah bagian dari dunia yang di sisi Allah tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk.

Lalu, mengapa masih bermaksiat?!

Mengapa masih menampakkan pembangkangan dan kesombongan?!

(Diterjemahkan dari kita Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button