Buku: Wasiat Berharga Menyambut Ramadan

Download Pdfnya Klik
Mukadimah
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, juga kepada keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.
Ya Allah, ajarkan kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan manfaatkanlah kami dengan ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, serta tambahkanlah kami ilmu. Perbaikilah seluruh urusan kami, dan jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami keberkahan pada pertemuan kami ini; turunkanlah kepada kami di dalamnya ketenangan dan ketenteraman; jadikanlah ia pintu kebaikan bagi kami untuk meraih keridaan-Mu, wahai Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Di Ambang Pintu Bulan Mulia
Wahai hadirin yang mulia, kita berada di ambang kedatangan bulan yang mulia, musim yang agung dari musim-musim Allah yang penuh keberkahan. Bahkan kita berada di ambang kedatangan tamu yang sangat mulia bagi jiwa, besar kedudukannya dalam hati: ia adalah bulan kebaikan, keberkahan, pemberian, dan anugerah. Ia adalah sebaik-baik bulan, yang paling mulia, yang paling utama, dan yang paling agung.
Allah mengkhususkannya karena di dalamnya diturunkan wahyu-Nya yang penuh hikmah, dzikir-Nya yang agung: Al-Qur’an yang mulia.
﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ﴾
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Bulan yang diberkahi ini Allah khususkankan di antara seluruh bulan lainnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang besar, keutamaan-keutamaan yang agung, serta karakteristik yang menunjukkan betapa besarnya kedudukan Ramadan dan tingginya derajatnya.
Karena itu, seorang muslim hendaknya menyadari bahwa nikmat Allah atas dirinya amat besar apabila ia sampai pada Ramadan dalam keadaan sehat, afiat, aman, beriman, selamat, dan berada di atas Islam. Sungguh ini termasuk nikmat: seorang hamba dapat menjumpai bulan terbaik, paling utama, dan paling agung.
Banyak yang Merencanakan Ramadan, Tapi Tak Sempat Menggapainya
Pada kesempatan ini—sebagai penggugah dan pengingat—saya ceritakan sesuatu yang terjadi dua hari yang lalu secara tepat. Saya bertemu salah seorang yang mulia, lalu ia menyebutkan kepada saya tentang seorang dai di negerinya, dari salah satu negara di Afrika. Ia menyampaikan bahwa dai tersebut memiliki aktivitas besar dan usaha yang sangat kuat dalam dakwah kepada Allah .
Kemudian ia memperdengarkan kepada saya lewat perangkat komunikasi yang ia miliki, rekaman komunikasi antara dirinya dengan dai tersebut, tentang program-program yang ia anjurkan untuk disampaikan di Ramadan, dan memperkenalkan kepada saya sebagian usaha dakwahnya. Ia berkata, “Komunikasi antara saya dan dia berlangsung berhari-hari. Ia merencanakan apa yang akan ia sampaikan di Ramadan, dan mendorong orang lain agar menghadirkan program-program Ramadan.” Lalu ia berkata lagi, “Dai itu wafat hari ini.”
Ucapan ini terjadi dua hari lalu. Ia sedang merencanakan Ramadan, padahal ia tidak tahu bahwa ia tidak akan sampai kepada Ramadan. Ia tidak tahu bahwa ia tidak akan sampai kepada Ramadan—sementara ia merencanakan untuk dirinya dan saudara-saudara muslimnya program dan amal di bulan yang mulia itu.
Maka kita memohon kepada Allah agar menyampaikan kita kepada Ramadan. Kita memohon kepada Allah agar menyampaikan kita kepada Ramadan. Kita memohon kepada Allah agar menyampaikan kita kepada Ramadan dalam keadaan sehat, afiat, aman, beriman, selamat, dan Islam; serta agar kita meraih kebaikan-kebaikan agung dan keberkahan-keberkahan yang banyak yang Allah khususkan bagi bulan yang agung dan penuh berkah ini.
Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup
Disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ لَيَالِي رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ كُلَّ لَيْلَةٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ».
“Apabila datang malam pertama dari malam-malam Ramadan, setan-setan dibelenggu, para setan pembangkang dari kalangan jin diikat, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Lalu ada penyeru yang berseru setiap malam: ‘Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dan itu terjadi setiap malam.”
Ini adalah salah satu hadis agung yang menunjukkan betapa besar keutamaan bulan ini. Perhatikan sabda Nabi ﷺ: “Apabila datang malam pertama dari Ramadan,” agar kita menyadari bahwa berkah Ramadan dimulai sejak awal masuknya: sejak momen pertama Ramadan datang. Karena itu beliau bersabda: “Apabila datang malam pertama dari Ramadan…” sampai akhir hadis. Maka berkah bulan ini berjalan bersamanya sejak awal detik pertama ia masuk.
Di dalamnya ada keberkahan yang sangat besar: pembelengguan setan. Ini adalah ketenangan besar bagi seorang muslim di bulan mulia ini dari keburukan dan tipu daya setan. Karena setan-setan di Ramadan—dengan belenggu dan ikatan tersebut—tidak mampu mencapai apa yang biasa mereka capai di luar Ramadan. Ini memberi seorang mukmin rasa lapang dan ketenangan, sebab Allah memudahkan baginya keselamatan dari gangguan dan tipu daya mereka.
Namun tetap ada perkara-perkara yang menuntut mujahadah: ada nafsu yang memerintah kepada keburukan, ada teman-teman buruk, ada bala bantuan dari “setan manusia” yang berusaha menghalangi manusia dari kebaikan dan dari meraihnya di bulan yang agung ini. Maka seorang hamba tetap membutuhkan mujahadah yang besar terhadap dirinya agar ia dapat meraih kebaikan dan keberkahan Ramadan.
Disebutkannya pembukaan pintu surga—para ulama menjelaskan—karena banyaknya kebaikan dan karena manusia berbondong-bondong kepada ketaatan dan ibadah; hal ini mendorong seorang hamba untuk bangkit dengan tekad tinggi: menjadikan salah satu cita-cita terbesar di bulan ini adalah termasuk orang yang masuk surga yang pintu-pintunya dibuka.
Dan penutupan pintu neraka—tidak ada yang dibuka—ini juga mengandung makna menjauh dari dosa dan maksiat, serta apa yang Allah wujudkan bagi hamba-hamba-Nya di Ramadan berupa takwa kepada Allah dan takut dari murka-Nya.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrīm: 6)
Seruan Setiap Malam: “Wahai Pencari Kebaikan, Majulah!”
Dalam hadis itu juga disebutkan:
يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ.
“Ada penyeru yang berseru setiap malam: ‘Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!’”
Dalam sebagian riwayat ditegaskan bahwa penyeru itu adalah malaikat yang Allah perintahkan untuk menyeru dengan seruan tersebut. Kaum muslimin pada malam-malam Ramadan tidak mendengar suara penyeru itu. Tidak ada seorang pun yang mendengar suaranya. Namun mereka yakin akan adanya seruan itu, karena yang mengabarkannya adalah Nabi ﷺ yang jujur lagi dipercaya, yang tidak berbicara dari hawa nafsu.
Maka seorang mukmin hendaknya menghadirkan rasa bahwa seruan itu nyata setiap malam, seakan-akan ia mendengarnya:
- “Wahai pencari kebaikan, majulah!” Karena ini musim kebaikan, musim berkah, musim berlomba-lomba dalam ketaatan.
- “Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Ini menunjukkan ada orang yang—na‘ūdzu billāh—bahkan di Ramadan pun dirinya masih bergerak mengejar keburukan. Maka ia diseru: berhenti, tahan dirimu, sadari nilai bulan mulia ini.
Jika seseorang tidak menahan dirinya dari keburukan di Ramadan, lalu kapan ia akan menahannya? Jika ia tidak bertaubat kepada Allah di Ramadan, kapan ia akan bertaubat? Jika ia tidak kembali kepada Allah di Ramadan, kapan ia akan kembali?
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengaminkan doa yang Jibril panjatkan: bahwa orang yang menjumpai Ramadan lalu keluar darinya namun tidak diampuni, maka Allah menjauhkannya dan memasukkannya ke neraka. Nabi ﷺ menjawab: “Āmīn.” Ini adalah kerugian besar: Ramadan datang, namun jiwa seseorang tetap bergerak mengejar keburukan.
Lalu dalam hadis itu juga disebutkan:
“Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dan itu terjadi setiap malam.”
Perhatikan kemuliaan besar ini: setiap malam Ramadan ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Hal ini mendorong seorang muslim agar memiliki harapan besar setiap malam: semoga ia termasuk orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Namun bersamaan dengan itu ia harus menempuh sebab-sebabnya, memperlihatkan kepada Rabb-nya kebaikan dari dirinya, agar ia termasuk para ‘utaqā’ (orang-orang yang dibebaskan).
Intinya: Ramadan memiliki karakteristik yang sangat agung. Dan hadis ini baru satu hadis saja tentang kekhususan Ramadan. Telah datang dari Nabi ﷺ hadis-hadis yang sangat banyak tentang keutamaan Ramadan dan besarnya keberkahannya serta melimpahnya kebaikannya.
Sikap Muslim Dalam Menyambut Ramadan
Pembahasan kita pada pertemuan ini adalah tentang menyambut Ramadan dan bagaimana semestinya keadaan kita saat menyambutnya. Apa yang akan saya sebutkan tidaklah sesuatu yang baru bagi Anda, namun sekadar pengingat atas perkara-perkara yang telah diketahui dan dipahami semua.
Allah berfirman:
﴿وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 55)
Bergembira dengan Nikmat Ramadan
Di antara yang paling penting dalam menyambut Ramadan adalah kegembiraan seorang mukmin atas nikmat ini.
Allah berfirman:
﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yūnus: 58)
Gembiranya seorang muslim karena Allah menyampaikannya kepada Ramadan, menjadikannya termasuk ahli ramadan, dalam keadaan sehat dan afiat, dan jiwanya condong kepada ketaatan—demi Allah, itu nikmat yang besar. Betapa banyak orang yang dahulu berpuasa bersama kita pada Ramadan-Ramadan sebelumnya, berharap dapat menjumpai Ramadan ini, namun terhalang oleh “penghancur kenikmatan dan pemecah kebersamaan” (kematian).
Maka siapa yang dimuliakan Allah sehingga sampai kepada Ramadan, hendaklah ia memuji Allah atas nikmat ini, lalu memohon kepada-Nya pertolongan, bantuan, taufik, dan keteguhan untuk setiap kebaikan. Kemudian ia bersungguh-sungguh meraih kebaikan dan keberkahan Ramadan.
Bersungguh-sungguh dalam meraih tujuan puasa
Seorang hamba harus bersungguh-sungguh mewujudkan tujuan disyariatkannya puasa Ramadan. Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Huruf “لعل” di sini bermakna tujuan (ta‘līl): puasa disyariatkan agar kita bertakwa. Karena itu, seorang hamba menjadikan di hadapan mata dan pandangannya sepanjang Ramadan: mewujudkan takwa dan meraihnya melalui amal-amal Ramadan: puasa, qiyam, zikir, menghadap kepada Allah , dan berlomba-lomba dalam ketaatan.
Para ulama menjelaskan: Ramadan adalah madrasah tarbiyah imaniyah, termasuk sekolah terbesar dalam hidup seorang hamba untuk meraih takwa kepada Allah —karena wibawa Ramadan, kedudukannya yang tinggi, dan karena syiar-syiar serta amal-amal besar yang Allah syariatkan di dalamnya, terutama puasa.
Puasa adalah madrasah yang sangat menakjubkan dalam tarbiyah: melatih jiwa, memperhalusnya, membiasakannya pada kebenaran, dan menahannya dari hal-hal yang biasa ia inginkan—terutama yang dilarang.
Dua Jenis “Puasa”
Puasa yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya ada dua jenis:
- Puasa Ramadan yang khusus waktunya: menahan diri dari makan, minum, dan seluruh pembatal puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, di setiap hari Ramadan.
- Puasa yang dituntut sepanjang umur: puasa dari maksiat. Karena hakikat puasa adalah menahan diri: menahan diri dari dosa, dari maksiat, dari apa saja yang membuat Allah murka.
Maka madrasah Ramadan mendidik hamba untuk puasa yang lebih luas dalam seluruh hidupnya. Jika ia berpuasa di Ramadan, hendaknya ia sadar bahwa ada “puasa” yang berkaitan dengan pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota badan:
- Puasanya lisan dari yang haram: ghibah, namimah, ejekan, dusta, dan lainnya.
- Puasanya pendengaran dari mendengar yang haram.
- Puasanya penglihatan dari melihat yang haram.
- Puasanya tangan dari meraih yang haram.
- Puasanya kaki dari berjalan menuju yang haram.
Ini semua adalah “puasa” yang dituntut sepanjang umur. Ramadan mendidik seorang hamba kepada takwa yang menjadikan ia mampu menahan diri dari maksiat. Jika ia mampu menahan dirinya demi Allah, demi mencari apa yang ada di sisi Allah, dengan meninggalkan hal yang mubah dan ia cintai seperti makan dan minum sepanjang siang Ramadan, maka itu adalah pendidikan untuk menahan diri dari perkara lain yang Allah larang.
Inilah makna yang menjelaskan firman Allah: “agar kamu bertakwa.”
Tingkatan Orang Berpuasa
Seorang yang berpuasa hendaknya berusaha menyempurnakan puasanya. Ia harus tahu bahwa orang-orang yang berpuasa tidak berada pada derajat yang sama. Mereka sama-sama menahan diri dari pembatal puasa sejak fajar hingga magrib, namun mereka sangat berbeda dalam kualitas puasa dan besarnya pahala.
Di antara penjelasan terbaik tentang hal itu adalah hadis yang dinilai hasan bahwa Nabi ﷺ ditanya: “Orang berpuasa mana yang paling agung pahalanya?” Beliau menjawab:
«أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا»
“Yang paling banyak zikirnya kepada Allah.”
Jika Anda memperhatikan keadaan orang-orang yang berpuasa dalam hal zikir, Anda akan melihat perbedaan yang besar. Ini menunjukkan perbedaan yang besar dalam pahala puasa. Yang paling agung pahalanya di sisi Allah adalah yang paling banyak zikir kepada Allah.
Apakah sama orang yang mengisi puasanya dengan Al-Qur’an: membaca, mentadabburi, memahami, memperhatikan maknanya—dengan orang yang menghabiskan malam hingga fajar dalam senda gurau dan hal sia-sia; lalu setelah Subuh tidur sampai Zuhur, dan boleh jadi tidak bangun untuk Zuhur, kemudian tidur sampai Asar? Ini seperti perbedaan antara “debu tanah” dan “bintang di langit”.
Karena itu, orang yang menasihati dirinya sendiri berusaha memiliki bagian besar dari zikir di dalam puasanya agar pahala puasanya besar.
Dan zikir yang paling utama di Ramadan adalah Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an; di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Sebagian salaf ketika Ramadan datang berkata: “Sesungguhnya Ramadan hanyalah memberi makan dan membaca Al-Qur’an.” Mereka menghabiskan waktu panjang untuk membaca Al-Qur’an. Sebagian ada yang mengkhatamkan setiap hari, sebagian dua hari, sebagian tiga hari, dan sebagian mengikuti pembagian (tahzīb) yang masyhur dari para sahabat: khatam sepekan.
Ramadan adalah medan perlombaan dalam zikir kepada Allah.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadis yang terkenal:
«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ، سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ»
Mereka berkata: “Siapa al-mufarridūn itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
«الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ»
“Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan.”
Makna hadis ini menggambarkan seakan-akan para hamba berada di arena perlombaan, dan yang paling banyak zikir adalah yang paling dulu sampai.
Maka orang yang paling banyak zikir kepada Allah dalam setiap ketaatan, ia paling besar pahalanya. Orang yang paling besar pahala puasanya: paling banyak zikirnya. Orang yang paling besar pahala hajinya: paling banyak zikirnya saat haji. Orang yang paling besar pahala umrahnya: paling banyak zikirnya saat umrah. Orang yang paling besar pahala shalatnya: paling banyak zikirnya dalam shalatnya.
Bahkan syiar-syiar ini—puasa, haji, shalat, dan lainnya—pada hakikatnya disyariatkan untuk menegakkan zikir kepada Allah, dan untuk menyibukkan hati, lisan, dan jiwa dengan zikir kepada Allah .
Cara Mendapatkan Ampunan dalam Puasa dan Qiyam Ramadan
Seorang hamba hendaknya sangat memperhatikan sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
«وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Dan barang siapa menegakkan (qiyam) Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Karena ampunan dosa digantungkan pada adanya “iman” dan “ihtisab”.
- Iman: beriman kepada Allah sebagai Rabb yang disembah; bergantung kepada-Nya; mengagungkan-Nya; mendekatkan diri hanya kepada-Nya; beriman dengan janji dan pahala besar-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
- Ihtisab: mengharapkan pahala dan ganjaran yang Allah siapkan bagi orang yang berpuasa dan yang menegakkan qiyam.
Maka seseorang bermujahadah memperbaiki niatnya dalam puasa dan qiyam.
Sebagian orang pergi tarawih sekadar kebiasaan, sebagian pergi karena sungkan kepada orang yang ia hormati, atau karena mengikuti keluarga. Betapa banyak kebaikan yang terlewat, padahal ia melakukan shalat yang sama seperti orang lain, berdiri sebagaimana orang lain berdiri—namun ia kehilangan “iman dan ihtisab”.
Karena itu seorang hamba sangat membutuhkan koreksi niat, dan menghadirkan makna besar “iman dan ihtisab” dalam setiap malam Ramadan dan setiap hari Ramadan: dalam puasa dan dalam qiyamnya.
Tilawah dan Tadabbur Al-Qur’an
Wahai hadirin, harus ada perhatian khusus terhadap Al-Qur’an. Harus ada perhatian khusus terhadap Al-Qur’an. Seorang hamba menyusun program bersama Kitabullah, ia mewajibkan dirinya untuk konsisten dengannya sepanjang hari dan malam Ramadan.
Program itu hendaknya menggabungkan antara tilawah dan memahami makna Al-Qur’an. Allah berfirman:
﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Ṣād: 29)
﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ﴾
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisā’: 82)
﴿أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ﴾
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan (mentadabburi) perkataan (ini)?” (QS. Al-Mu’minūn: 68)
Jika ia dibantu dengan sebagian kitab tafsir yang memudahkannya memahami, mentadabburi dengan baik, dan menangkap makna-makna, maka insya Allah ia akan keluar dari Ramadan dengan hasil yang besar dan berkah dari bulan kebaikan dan pemberian: Ramadan.
Penutup Doa
Ramadan adalah bulan yang diberkahi; hari-harinya telah mendekat dan malam-malamnya semakin dekat.
Kita memohon kepada Allah Yang Mahamulia, Rabb ‘Arsy yang agung, dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, dan karena Dia-lah Allah yang tiada sesembahan selain Dia: semoga Dia menyampaikan kita semua kepada bulan Ramadan dalam keadaan aman, beriman, selamat, Islam, afiat, dan sehat; dan semoga Dia menjadikan kita semua meraih kebaikan dan keberkahannya; serta menolong kita dalam bulan mulia ini dan di setiap waktu untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
Kita memohon kepada-Nya agar melindungi kita semua dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amal-amal kita.
Kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur agar menjadikan Ramadan sebagai kemuliaan bagi kaum muslimin di setiap tempat; menjadi ketinggian derajat, kemenangan, dan kehinaan bagi musuh-musuh mereka.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Ramadan sebagai kelapangan bagi setiap yang bersedih dan sebagai penghilang kesusahan bagi setiap yang tertimpa kesulitan; agar Ramadan menjadi pintu ketinggian di sisi Allah, kenaikan derajat di sisi Ar-Raḥīm Al-Karīm; agar Ramadan menjadi pembebasan kita dari neraka, pengampunan dosa, penghapusan kesalahan, dan pengguguran kekeliruan.
Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita di negeri kita dan di negeri-negeri kaum muslimin: keamanan, iman, keselamatan, dan Islam.
وَنَسْأَلُكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تُهِلَّ عَلَيْنَا شَهْرَ رَمَضَانَ بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَوَالِدِيهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.[1]



