Sulitnya Kehidupan Dapat Membuat Ilmu Terlupakan

Sulitnya Kehidupan Dapat Membuat Ilmu Terlupakan
Beratnya beban hidup terkadang dapat membuat seseorang lupa terhadap ilmu yang telah dipelajarinya. Hal itu bukan karena lemahnya hafalan atau kurangnya pemahaman, tetapi karena beratnya kegelisahan yang menguasai hati dan memenuhi pikiran.
Diriwayatkan dari Al-Hafizh Al-A’masy رحمه الله, beliau berkata:
> «كُنْتُ عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ، فَحَدَّثَ بِسِتَّةِ أَحَادِيثَ فَحَفِظْتُهَا، فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى الْبَيْتِ قَالَتِ الْجَارِيَةُ: يَا مَوْلَايَ، لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ، قَالَ: فَنَسِيتُهَا.»
> “Aku pernah berada di sisi Ibrahim An-Nakha’i. Beliau menyampaikan enam hadis dan aku berhasil menghafalnya. Namun ketika aku pulang ke rumah, pembantu berkata, ‘Wahai tuanku, di rumah sudah tidak ada tepung.’ Maka seketika aku pun melupakan keenam hadis tersebut.”
Dari Abdurrahman bin Mahdi رحمه الله, beliau berkata:
> «إِذَا قَالَتْ لِي الْمَرْأَةُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ، ذَهَبَ عَنِّي نِصْفُ عِلْمِي.»
> “Apabila istriku berkata kepadaku, ‘Di rumah sudah tidak ada tepung,’ maka seakan-akan hilang separuh ilmuku.”
Putra Abu Hatim Ar-Razi رحمه الله menceritakan tentang ayahnya:
> «كَانَ يَكْتُبُ الْحَدِيثَ، فَصَاحَتِ الْجَارِيَةُ: الدَّقِيقُ، الدَّقِيقُ! فَالْتَفَتَ إِلَيْهَا وَقَالَ: طَيَّرْتِ مِنْ رَأْسِي ثَلَاثِينَ أَلْفَ حَدِيثٍ.»
> “Ayahku sedang menulis hadis. Tiba-tiba pembantu berteriak, ‘Tepung… tepung!’ Beliau menoleh kepadanya lalu berkata, ‘Engkau telah menerbangkan tiga puluh ribu hadis dari kepalaku.'”
Demikian pula Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله pernah berkata:
> «إِذَا قِيلَ لِلْمُحَدِّثِ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ، طَاشَ عَقْلُهُ.»
> “Apabila kepada seorang ahli hadis dikatakan, ‘Di rumah sudah tidak ada tepung,’ maka pikirannya pun menjadi buyar.”
Perkataan-perkataan para ulama ini bukan sekadar menggambarkan lupa yang biasa. Ia merupakan gambaran nyata tentang bagaimana beban mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dapat menguasai hati seseorang. Ketika kegelisahan itu datang, kejernihan pikiran berkurang, sehingga ilmu yang telah dihafal menjadi sulit diingat, bahkan terkadang hilang dalam sekejap.
Pikiran yang sebelumnya dipenuhi makna-makna ilmu berubah sibuk memikirkan kebutuhan hidup. Kenikmatan menghafal berganti menjadi kegelisahan karena kekurangan. Rasa lapar tidak menyisakan kejernihan bagi akal sebagaimana ketenangan mampu menghadirkannya. Kebutuhan hidup saling berebut tempat di dalam hati sehingga makna-makna ilmu menjadi lemah, bahkan terkadang lenyap.
Karena itu, termasuk bentuk kebijaksanaan adalah memahami bahwa keadaan manusia berbeda-beda. Seorang penuntut ilmu bisa saja diuji dengan berbagai kesulitan yang menyibukkan dan memberatkannya. Tidak adil jika ia selalu dibandingkan dengan orang yang hidup lapang dan memiliki banyak waktu untuk belajar.
Tidak setiap kekurangan dalam menuntut ilmu disebabkan oleh kemalasan. Bisa jadi penyebabnya adalah kegelisahan yang tersembunyi, yang membebani jiwa dan memenuhi hati. Betapa banyak orang yang sebenarnya cerdas, namun pikirannya redup karena beratnya beban hidup. Betapa banyak penghafal yang kehilangan hafalannya karena himpitan kesulitan.
Oleh sebab itu, termasuk kesempurnaan fikih dalam bermuamalah dengan manusia adalah memperhatikan keadaan mereka, berbaik sangka kepada mereka, dan tidak menjadikan penilaian kita terlalu keras hanya berdasarkan apa yang tampak.
Tulisan ini juga menjadi pengingat bagi para ulama, guru, dan pendidik agar senantiasa memudahkan urusan, menghilangkan kesulitan, serta membantu manusia memperoleh ilmu yang bermanfaat. Sebab ilmu membutuhkan hati yang tenang, sedangkan hati yang dipenuhi kegelisahan tidaklah sama dengan hati yang tenteram.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kelapangan rezeki yang membantu kita dalam menuntut ilmu, hati yang jernih agar mampu menjaga ilmu yang telah dipelajari, dan tidak menjadikan kegelisahan dunia mengalahkan cahaya ilmu di dalam dada kita.
Kita memohon kepada Allah ﷻ agar mengaruniakan kepada kita pemahaman yang menghantarkan kepada kebenaran dan melindungi kita dari penyimpangan. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Kuasa lagi Maha Mulia. Dialah yang memberi taufik menuju jalan-Nya yang lurus. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dan bertawakal. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Imam Asy-Syafi’i dan Totalitas dalam Menuntut Ilmu
Di antara perkataan yang dinukil dari Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu adalah:
> «لَوْ كُلِّفْتُ شِرَاءَ بَصَلَةٍ لَمَا فَهِمْتُ مَسْأَلَةً.»
“Seandainya aku dibebani untuk membeli satu buah bawang, niscaya aku tidak akan mampu memahami satu masalah ilmu.”
(Tadzkirah as-Sāmi’ wal-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wal-Muta’allim, hlm. 36).
Padahal beliau adalah salah seorang ulama paling jenius sepanjang sejarah. Kitab-kitab dan pemikirannya masih menjadi rujukan hingga hari ini. Maksud ucapan beliau bukanlah karena beliau tidak mampu membeli bawang atau tidak pandai berjual beli. Bagaimana mungkin, sementara beliau adalah penulis kitab Ar-Risalah dan Al-Umm, dua karya terbesar dalam sejarah fikih Islam?
Yang beliau maksud adalah bahwa tugas sekecil apa pun dapat menyita perhatian. Pikiran akan teralih kepadanya, waktu akan tersita untuk mengurusnya, dan konsentrasi terhadap ilmu akan sedikit berkurang. Inilah gambaran betapa besarnya perhatian para ulama terhadap penjagaan fokus dalam menuntut ilmu.
Demikianlah jalan para penuntut ilmu yang benar-benar ingin mencapai kedudukan tinggi dalam ilmu, menjadi penyebar ilmu, serta memberi manfaat kepada umat. Bukan sekadar menyandang gelar sebagai penuntut ilmu, sementara hati dan pikirannya justru dipenuhi urusan lain.
Tidaklah pantas seseorang mengaku sebagai penuntut ilmu, tetapi hatinya selalu rindu kepada dunia perdagangan, keuntungan bisnis, dan gemerlap harta. Ketika suatu hari ia mengalami kesulitan ekonomi, ia pun menyesali tahun-tahun yang telah dihabiskannya untuk belajar.
Demi Allah, tidaklah akan lurus keadaan seseorang apabila ia ingin tercatat sebagai penuntut ilmu, sementara batinnya terus berteriak mengajaknya ke majelis para pedagang, pasar-pasar, dan mengejar angka-angka keuntungan. Pilihannya hanya dua: mengikuti dorongan itu, atau mengendalikannya demi cita-cita yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, para ulama memasukkan qana’ah (merasa cukup) sebagai salah satu adab penting bagi penuntut ilmu. Mereka berkata:
> «أَنْ يَقْنَعَ مِنَ الْقُوتِ بِمَا تَيَسَّرَ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا، وَمِنَ اللِّبَاسِ بِمَا يَسْتُرُ مِثْلَهُ وَإِنْ كَانَ خَلِقًا، فَبِالصَّبْرِ عَلَى ضِيقِ الْعَيْشِ يَنَالُ سَعَةَ الْعِلْمِ، وَيَجْمَعُ شَمْلَ الْقَلْبِ عَنْ مُفْتَرَقَاتِ الْآمَالِ، فَتَتَفَجَّرُ فِيهِ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ.»
> “Seorang penuntut ilmu hendaknya merasa cukup dengan makanan yang mudah diperoleh meskipun sedikit, dan dengan pakaian yang sekadar menutup aurat meskipun sudah usang. Dengan bersabar menghadapi sempitnya kehidupan, ia akan memperoleh keluasan ilmu. Hatinya akan terhimpun dari berbagai angan-angan dunia, sehingga mata air hikmah akan memancar darinya.”
Kemudian disebutkan beberapa nasihat para imam:
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata:
> «لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيُفْلِحَ، وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِبَذْلِ النَّفْسِ، وَضِيقِ الْعَيْشِ، وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ.»
> “Tidak ada seorang pun yang berhasil meraih ilmu ini dengan hidup penuh kemewahan dan menjaga gengsi dirinya. Akan tetapi, yang akan berhasil adalah orang yang mencarinya dengan mengorbankan dirinya, bersabar menghadapi sempitnya kehidupan, dan melayani para ulama.”
Imam Malik رحمه الله berkata:
> «لَا يَبْلُغُ أَحَدٌ مِنْ هَذَا الْعِلْمِ مَا يُرِيدُ حَتَّى يَضْرِبَهُ الْفَقْرُ، وَيُؤْثِرَهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ.»
> “Seseorang tidak akan mencapai puncak ilmu yang diinginkannya hingga ia pernah merasakan kemiskinan, dan ia lebih mengutamakan ilmu daripada segala sesuatu yang lain.”
Imam Abu Hanifah رحمه الله berkata:
> «يُسْتَعَانُ عَلَى الْفِقْهِ بِجَمْعِ الْهَمِّ، وَيُسْتَعَانُ عَلَى حَذْفِ الْعَلَائِقِ بِأَخْذِ الْيَسِيرِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَلَا يَزِدْ.»
> “Untuk memperoleh pemahaman fikih diperlukan kesungguhan dan fokus. Sedangkan untuk memutus keterikatan dengan urusan dunia, hendaknya seseorang hanya mengambil sekadar yang dibutuhkan, tidak berlebihan.”
Inilah nasihat para imam besar yang kedudukannya dalam ilmu tidak diragukan lagi. Kehidupan mereka menjadi bukti bahwa kesabaran menghadapi kesempitan hidup, sikap qana’ah, serta fokus terhadap ilmu merupakan sebab penting bagi keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabatnya, serta segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam.



