Sahabat Usaid bin Hudhair Bagian 1: Tombak itu….

Sahabat Usaid bin Hudhair
(di sadur dari situs Al-Kalim Tayyib, kisah-kisah sahabat)
Bagian 1: Tombak itu….
“Itu adalah para malaikat yang sedang mendengarkan bacaanmu, wahai Usaid…”
(Hadis Rasulullah ﷺ)
Sebelum Madinah dikenal sebagai kota yang menyambut hijrah Rasulullah ﷺ, kota itu masih bernama Yatsrib. Di sanalah, sejarah Islam membuka lembaran baru melalui sebuah misi dakwah yang kelak mengubah arah peradaban manusia.
Seorang pemuda Quraisy yang tampan, lembut, dan penuh wibawa bernama Mus’ab bin Umair datang ke Yatsrib. Ia adalah utusan pertama Rasulullah ﷺ, pembawa risalah Islam dalam misi dakwah pertama yang pernah dikenal dalam sejarah Islam.
Sesampainya di Yatsrib, Mus’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, salah seorang pemuka suku Khazraj. Rumah itu menjadi tempat singgahnya, sekaligus pusat dakwah yang darinya cahaya Islam mulai menyinari setiap sudut kota. Di sanalah ia mengajarkan tauhid, mengenalkan manusia kepada Allah, dan mengabarkan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya.
Hari demi hari, penduduk Yatsrib berdatangan memenuhi majelis Mus’ab. Mereka bukan hanya datang karena rasa ingin tahu, tetapi karena ada sesuatu yang begitu kuat menarik hati mereka. Tutur katanya mengalir lembut, hujahnya jernih dan mudah dipahami, akhlaknya memancarkan kelembutan, sementara wajahnya berseri oleh cahaya keimanan. Siapa pun yang memandangnya akan merasakan ketenangan, seakan melihat seseorang yang telah menemukan makna hidup yang sesungguhnya.
Namun, di balik semua itu, ada daya tarik yang jauh lebih agung daripada kepribadian Mus’ab sendiri.
Itulah Al-Qur’an.
Di sela-sela majelisnya, Mus’ab membacakan ayat-ayat Allah dengan suara yang merdu, penuh kasih, dan menyentuh relung jiwa. Setiap huruf yang keluar dari lisannya seakan mengetuk pintu-pintu hati yang telah lama terkunci. Hati yang keras menjadi luluh, mata yang selama ini enggan menangis mulai dibanjiri air mata. Jiwa-jiwa yang gelisah menemukan ketenangan, sementara mereka yang selama ini mencari kebenaran akhirnya melihat cahaya yang selama ini mereka rindukan.
Tidaklah sebuah majelis Mus’ab berakhir, melainkan selalu ada orang-orang yang mengucapkan syahadat dan bergabung ke dalam barisan kaum beriman.
Suatu hari, As’ad bin Zurarah mengajak Mus’ab menemui sekelompok orang dari kabilah Bani Abdul Asyhal. Mereka memasuki sebuah kebun yang rindang milik kabilah itu, lalu duduk di dekat sebuah sumur yang airnya jernih, di bawah naungan pohon-pohon kurma yang meneduhkan.
Tak lama kemudian, orang-orang mulai berdatangan. Sebagian telah memeluk Islam, sementara sebagian lainnya hanya ingin mendengar apa yang dibawa oleh pemuda Mekah itu. Mus’ab pun mulai berbicara tentang Allah, tentang kehidupan, tentang akhirat, dan tentang kemuliaan iman. Semua yang hadir terdiam. Mereka tenggelam dalam keindahan tutur katanya, seolah waktu berhenti mengalir.
Namun, tidak semua orang menyambut dakwah itu dengan gembira.
Berita tentang kehadiran Mus’ab akhirnya sampai kepada dua pemimpin besar suku Aus: Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz. Mereka mendengar bahwa seorang pemuda dari Mekah telah datang ke wilayah mereka dan mulai memengaruhi masyarakat, terutama orang-orang yang lemah.
Sa’ad bin Mu’adz berkata kepada Usaid,
“Wahai Usaid, pergilah menemui pemuda Quraisy itu! Ia datang ke perkampungan kita untuk menyesatkan orang-orang lemah di antara kita dan mencela sesembahan kita. Usirlah dia, dan peringatkan agar jangan sekali-kali menginjakkan kaki di negeri kita lagi.“
Kemudian ia menambahkan,
“Kalau bukan karena ia berada dalam perlindungan sepupuku, As’ad bin Zurarah, tentu aku sendiri yang akan menghadapinya.”
Mendengar itu, Usaid mengambil tombaknya. Dengan langkah tegap ia berjalan menuju kebun tempat Mus’ab menyampaikan dakwah. Ia datang bukan untuk mendengar, melainkan untuk menghentikan. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa perjalanan singkat menuju kebun itu akan menjadi perjalanan yang mengubah seluruh hidupnya.
(Bersambung pada Bagian 2…)



