Hadis

Hadis Badui Kelima: Apa yang Untuk Rabbku dan Apa yang Untukku?

HADIS BADUI KELIMA Apa yang untuk Rabbku dan Apa yang untukku?

Dari Sa‘d bin Abi Waqqash رضي الله عنه berkata:

جاء أعرابيٌّ إلى رسول الله ﷺ فقال: علِّمني كلامًا أقوله. قال: قل: لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، الله أكبر كبيرًا، والحمد لله كثيرًا، وسبحان الله ربِّ العالمين، لا حولَ ولا قوةَ إلا بالله العزيز الحكيم، قال: فهؤلاء لربي فما لي؟ قال: قل: اللهم اغفر لي، وارحمني، واهدني، وارزقني.

Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Ajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dapat aku ucapkan.”

Beliau bersabda, “Ucapkanlah: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Orang itu berkata, “Semua itu untuk Rabbku, lalu apa yang untukku?”

Beliau bersabda, “Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki.”

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar, Bab Keutamaan Tahlil, Tasbih, dan Doa, nomor (2696).

Perkataan: “Datang seorang Arab Badui”, yang dimaksud dengan Arab Badui adalah orang yang tinggal di pedalaman (padang pasir), baik ia berasal dari bangsa Arab maupun selain mereka.

Ia berkata kepada Nabi ﷺ: “Ajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dapat aku ucapkan.”

Maksudnya: kalimat-kalimat untuk berdzikir kepada Rabbnya Tabaraka wa Ta‘ala. Ia tidak membatasi dzikir tersebut pada keadaan tertentu atau tempat tertentu. Ia tidak mengatakan: aku mengucapkannya setelah salat, atau di pagi dan petang, atau ketika aku hendak tidur, atau yang semisal itu. Akan tetapi, yang ia kehendaki adalah dzikir secara mutlak.

Beliau ﷺ bersabda: “Ucapkanlah: La ilaha illallah.”

Kita telah mengetahui kandungan makna kalimat ini dan apa yang ditunjukkannya berupa tauhid. Bahwa ucapan “wahdahu” (Dia Maha Esa) merupakan penegasan tauhid dengan penetapan dan pengesaan. Dan ucapan “la syarika lah” (tidak ada sekutu bagi-Nya) merupakan penegasan dengan penafian adanya sekutu. Padahal, kalimat La ilaha illallah dengan dua sisi penafian dan penetapannya sudah mencakup makna tersebut. Karena ucapan “la ilaha” mengandung penafian sekutu dari Allah Tabaraka wa Ta‘ala, dan ucapan “illallah” mengandung makna “wahdahu”, yaitu pengesaan.

Kalimat ini didahulukan sebelum kalimat-kalimat setelahnya karena ia adalah kunci dan yang paling mulia. Ia adalah kalimat Islam dan kunci surga sebagaimana telah disebutkan, serta merupakan kewajiban pertama bagi seorang mukallaf. Kewajiban pertama atasnya adalah mengucapkan: La ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Oleh karena itu, beliau memulai dengan kalimat ini, yaitu tauhid yang menjadi awal seluruh amal. Sebab amal tidak sah kecuali dengannya. Ia juga menjadi penutup, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَن كان آخر كلامه: لا إله إلا الله؛ دخل الجنّة.

“Barang siapa akhir ucapannya adalah La ilaha illallah, maka ia masuk surga.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Jenazah, Bab tentang Talqin, nomor (3116), dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Kemudian sabda beliau: “Allahu akbar kabīran” (Allah Mahabesar dengan sebenar-benarnya kebesaran).

Perhatikan bahwa beliau tidak mengathafkan (menyambungkan dengan huruf penghubung) kalimat ini dengan kalimat sebelumnya. Beliau tidak mengatakan: La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wallahu akbar kabīran, tetapi beliau menyebutkannya secara tersendiri dan memisahkannya dari sebelumnya. Seakan-akan beliau menunjukkan bahwa setiap kalimat dari dzikir ini berdiri sendiri-sendiri.

Kata “kabīran” bisa dipahami sebagai maf‘ul muthlaq (objek penegas), atau sebagai hal yang berfungsi sebagai penegasan, yaitu dalam keadaan Mahabesar. Bisa juga bermakna: aku membesarkan-Nya dengan sebenar-benarnya kebesaran.

Setelah itu beliau menyebutkan dengan athaf: “walhamdulillahi katsīran” (dan segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak). Kalimat ini disambungkan dengan sebelumnya (takbir) karena keduanya sama-sama menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Bahwa Dia Mahabesar atas segala sesuatu, dan Dia pula yang berhak mendapatkan pujian mutlak dari segala sisi.

Adapun i‘rab (kedudukan gramatikal) kata “katsīran”, sama seperti kata “kabīran” sebelumnya, yaitu bermakna: hamdan katsīran (pujian yang banyak).

Dan (ucapan): Subhanallah Rabbil ‘alamin (Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam).

Kita telah mengetahui dalam pembahasan tentang Asmaul Husna dan dalam penjelasan dzikir-dzikir ini bahwa kata Rabb digunakan untuk makna Pencipta, Pemilik, Penguasa, dan Yang memelihara makhluk-Nya dengan berbagai nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi, dan makna-makna semisalnya. Semua makna tersebut termasuk dalam pengertian Rabb dan menjadi penjelas baginya.

Kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu selain Allah termasuk dalam al-‘alamin (seluruh alam). Firman Allah Ta‘ala:

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ ۝ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا [الشعراء:23-24].

“Fir‘aun berkata: ‘Siapakah Rabb seluruh alam?’ Musa menjawab: ‘Rabb langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.’” (QS. Asy-Syu‘ara: 23–24).

Maka segala sesuatu selain Allah Tabaraka wa Ta‘ala, baik di alam atas maupun alam bawah, termasuk di dalamnya. Namun redaksinya, sebagaimana kalian lihat, menggunakan bentuk jamak untuk makhluk berakal sebagai bentuk pengutamaan, karena mereka lebih mulia.

“Dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Beberapa malam yang lalu kita telah membahas makna kalimat ini. Kita katakan bahwa penafsiran yang paling dekat adalah: tidak ada perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain secara mutlak, bukan hanya dari ketaatan ke maksiat, atau dari maksiat ke ketaatan, tetapi mencakup seluruh keadaan manusia. Maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Dalam sebagian riwayat di luar Shahih disebutkan:

العلي العظيم

 al-‘Aliyy al-‘Azhim. Dan penyebutan al-‘Aziz al-Hakim (Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana) juga sangat sesuai di sini.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Bab-bab Perincian Pembahasan Pembukaan Salat, Bab tentang bacaan yang mencukupi bagi orang yang buta huruf dan non-Arab, nomor (832), dan dihasankan oleh Al-Albani.

Sebab jika tidak ada perpindahan dari satu keadaan ke keadaan lain kecuali dengan pertolongan-Nya, hal itu menunjukkan keperkasaan-Nya. Dialah yang tidak dapat dikalahkan dalam kehendak-Nya; apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Ini termasuk dalam makna keperkasaan. Dan Yang Mahaperkasa itu juga Mahabijaksana; Dia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan menjalankannya sesuai ketentuannya. Segala perubahan yang terjadi pada keadaan alam ini, baik pada benda-benda mati, pada makhluk hidup dari kalangan manusia dan selainnya, maupun pada keadaan tumbuhan, angin, dan selainnya, semuanya bersumber dari keperkasaan, hikmah, ilmu, dan pengaturan-Nya. Mahaagung kemuliaan-Nya dan Mahasuci nama-nama-Nya. Dalam semua itu terdapat hikmah yang sangat mendalam; keterkaitannya jelas dan tidak tersembunyi.

Orang Badui itu berkata: “Maka semua ini untuk Rabbku.”

Maksudnya: kalimat-kalimat ini, karena mengandung pujian kepada-Nya Tabaraka wa Ta‘ala, penetapan keesaan-Nya, serta berbagai bentuk penyucian.

“Lalu apa yang untukku?”

Maksudnya: doa apa yang dapat aku panjatkan untuk diriku yang membawa manfaat bagiku, baik dalam urusan agama maupun dunia? Hal ini sebagaimana dalam Surah Al-Fatihah:

فإذا قال العبدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [الفاتحة:2]، قال اللهُ تعالى: حمدني عبدي، وإذا قال: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة:3]، قال الله تعالى: أثنى عليَّ عبدي، وإذا قال: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ [الفاتحة:4]، قال: مجَّدني عبدي -وقال مرةً: فوَّض إليَّ عبدي-، فإذا قال: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

[الفاتحة:5]، قال: هذا بيني وبين عبدي، ولعبدي ما سأل.

Ketika seorang hamba mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Ketika ia mengucapkan Ar-Rahmanir Rahim, Allah berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Ketika ia mengucapkan Maliki yaumid din, Allah berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku,” dan pada riwayat lain: “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.” Ketika ia mengucapkan Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in, Allah berfirman: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Salat, Bab kewajiban membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan bahwa jika seseorang tidak mampu membaca Al-Fatihah dengan baik serta tidak memungkinkan baginya untuk mempelajarinya, maka ia membaca bacaan lain yang mudah baginya, nomor (395).

Maka di sini ia berkata: “Apa yang untukku?” yakni: doa apa yang bisa aku panjatkan untuk diriku sendiri. Nabi ﷺ pun mengajarkannya untuk berkata: “Ya Allah, ampunilah aku.”

Kita mengetahui bahwa ampunan mengandung makna penutupan (aib) dan pemaafan atas kesalahan. Beliau memulai dengan ini sebagai bentuk takhliyah (membersihkan dari dosa). Kemudian beliau menyebutkan setelahnya rahmat sebagai bentuk tahliyah (menghiasi dengan kebaikan): “Ampunilah aku dan rahmatilah aku.”

Rahmat di sini bermakna bahwa Allah Tabaraka wa Ta‘ala meliputi hamba-Nya dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya di dunia dan di akhirat. Jika Allah mengampuninya, Dia menutup aibnya dan melindunginya dari akibat buruk dosa-dosa dan kejahatannya. Jika Dia merahmatinya, maka hamba itu akan memperoleh berbagai rahmat, kelembutan, dan kebaikan di dunia dan di akhirat. Puncaknya adalah masuk surga, memandang wajah Allah Yang Maha Mulia, dan menikmati semua kenikmatan itu, sehingga hamba tersebut benar-benar menjadi hamba yang dirahmati.

“Dan berilah aku petunjuk.”

Beliau menyebutkan hidayah setelah rahmat. Hidayah di sini bersifat umum dan menyeluruh, yaitu diberi petunjuk kepada sebaik-baik keadaan, ucapan, dan perbuatan. Sesungguhnya seorang hamba tidak mungkin mendapatkan petunjuk dengan usahanya sendiri, melainkan hidayah itu hanya terwujud dengan petunjuk dari Rabbnya Tabaraka wa Ta‘ala. Maka siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah orang yang mendapat hidayah. Tidak ada petunjuk kecuali dengan petunjuk-Nya. Allah  berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ:

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

“Dan berilah aku rezeki.”

Rezeki di sini mencakup rezeki materi berupa harta dan makanan yang menjadi asupan bagi tubuh. Termasuk pula di dalamnya rezeki berupa ilmu, dan ini merupakan rezeki yang paling mulia dan paling utama, serta jenis-jenis rezeki lainnya.

“Dan sehatkanlah aku.”

Di sini terdapat permohonan kesehatan dan keselamatan setelah semua itu. Yaitu keselamatan dari berbagai ujian serta dari hal-hal yang dikhawatirkan berkaitan dengan agama dan dunianya. Makna ‘afiyah (kesehatan dan keselamatan) sangat luas. Seorang hamba sangat membutuhkan untuk memohon kepada Rabbnya Tabaraka wa Ta‘ala keselamatan dan kesejahteraan dalam agama, dunia, dan akhirat. Pembahasan tentang hal ini telah berlalu.

Hidayah dan rezeki termasuk bagian dari rahmat. Karena jika Allah Tabaraka wa Ta‘ala merahmati seorang hamba, maka Dia akan memberinya petunjuk dan rezeki. Semua itu merupakan bagian dari rahmat-Nya. Mahaagung kemuliaan-Nya dan Mahasuci nama-nama-Nya.

Maka ini termasuk bentuk pengaitan yang khusus setelah yang umum. Namun hidayah adalah kunci bagi perkara-perkara besar dalam agama. Adapun rezeki adalah perkara penting dalam urusan dunia manusia, yang dengannya tubuh dapat tegak dan bertahan. Kebutuhan manusia terhadap dua hal ini sangat besar, dan Allah Maha Mengetahui. Seorang hamba membutuhkan hidayah dan membutuhkan rezeki.

Maka kita memohon kepada Allah agar Dia menolong kami dan kalian untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Semoga shalawat tercurah kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button