Tatsqif

Masjid: Rumah Allah dan Pusat Peradaban Umat

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ﴿اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾.

Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan memohon petunjuk kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba‘d.

Wahai orang-orang yang beriman, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang agung.”

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya masjid memiliki kedudukan yang mulia dan derajat yang tinggi. Masjid adalah rumah Allah, benteng Islam, sumber iman dan keselamatan, tempat ditegakkannya shalat, turunnya rahmat, dan dikabulkannya doa-doa.

Keutamaannya tidak tersembunyi, pengaruhnya bagi manusia tidak akan terhapus, dan perannya tidak akan terlupakan. Masjid adalah tempat paling mulia di muka bumi. Di dalamnya dilaksanakan shalat sunnah dan shalat wajib. Allah memuliakan dan mengagungkannya, menyucikannya atas tempat-tempat lain, serta menisbatkannya kepada diri-Nya sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾.

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapa pun bersama Allah.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.”
HR. Muslim.

Allah menjadikan pemakmuran masjid sebagai tanda keimanan dan bukti kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾.

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka semoga mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Syariat memberi balasan bagi orang yang membangun rumah untuk Allah dengan rumah baginya di surga. Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

“Barang siapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di surga.”
HR. Bukhari dan Muslim.

Allah menjadikan orang-orang yang biasa mendatangi masjid sebagai ahli iman. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya. Nabi ﷺ bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ…» وَمِنْهُمْ: «وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya…”

Di antara mereka:

“Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.”
HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam berjalan menuju masjid dan berniat shalat di dalamnya terdapat pahala, ganjaran, akhir yang baik, serta permohonan ampun dan doa para malaikat agar ia mendapatkan rahmat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

“Shalat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan dibanding shalatnya di rumah dan di pasarnya sebanyak dua puluh lima kali lipat. Hal itu karena apabila ia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian keluar menuju masjid, tidak ada yang mengeluarkannya kecuali shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah melainkan diangkat untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. Apabila ia telah shalat, para malaikat terus mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya: Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya. Ya Allah, sayangilah dia. Dan salah seorang dari kalian senantiasa berada dalam shalat selama ia menunggu shalat.”
HR. Bukhari dan Muslim.

Wahai hamba-hamba Allah, masjid dahulu merupakan pusat pendidikan, bangunan ilmu, dan pusat amal yang tinggi. Di dalamnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan generasi setelah mereka mempelajari ilmu dunia dan akhirat yang mereka butuhkan. Dari masjid lahir para ulama besar, para fuqaha yang mendalam ilmunya, dan jiwa-jiwa dididik dengan pendidikan iman. Di dalamnya hati-hati disucikan dengan penyucian ruhani.

Di masjid pula para pemimpin yang gagah berani dididik, dan orang-orang mulia tumbuh. Masjid menjadi tempat menerima delegasi, utusan, dan duta. Ia menjadi titik awal pengibaran panji jihad, majelis peradilan dan fatwa, serta tempat berlindung bagi kaum lemah dan fakir yang tidak memiliki tempat tinggal. Di mihrabnya dibacakan ayat-ayat Allah yang terang, dan di atas mimbarnya disampaikan khutbah serta nasihat yang menyentuh hati.

Wahai hamba-hamba Allah, memakmurkan masjid ada dua bentuk. Pertama, pemakmuran secara fisik, yaitu dengan membangun dan mendirikannya. Ini adalah keutamaan besar dan kebaikan yang luas. Kedua, pemakmuran secara maknawi, yaitu dengan berdzikir kepada Allah, membaca Kitab-Nya, i‘tikaf, menegakkan shalat, dan bentuk-bentuk ketaatan serta pendekatan diri lainnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾.

“Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Di dalamnya bertasbih kepada-Nya pada pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan pandangan menjadi goncang. Agar Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan dan menambah untuk mereka dari karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”

Wahai hamba-hamba Allah, masjid yang paling utama adalah Masjidil Haram, kemudian Masjid Nabawi, kemudian Masjidil Aqsha. Itulah masjid-masjid yang tidak boleh dilakukan perjalanan khusus untuk beribadah kecuali kepada tiga masjid tersebut.

Masjid pertama yang dibangun di muka bumi adalah Masjidil Haram. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ»، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى»، قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً، وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi?” Beliau menjawab: “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya: “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau menjawab: “Empat puluh tahun. Di mana pun engkau mendapati waktu shalat, maka shalatlah, karena tempat itu adalah masjid.”
HR. Bukhari dan Muslim.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya masjid memiliki hukum-hukum syar‘i yang harus diketahui, serta adab-adab yang layak diperhatikan.

Di antaranya adalah menjaga masjid dari bid‘ah dan kesyirikan, memeliharanya dari najis, kemaksiatan, dan meninggikan suara. Masjid juga harus dijaga dari bau tidak sedap, ucapan kotor, dan perilaku yang buruk.

Masjid juga harus dijaga dari jual beli, berbagai bentuk mencari keuntungan dan pekerjaan duniawi, serta dari mengumumkan barang hilang, yaitu menanyakan barang-barang yang hilang di dalam masjid.

Ada pula sunnah dan adab lain yang harus diperhatikan dan dijaga. Di antaranya: menjaga dzikir ketika masuk dan keluar masjid, shalat dua rakaat sebelum duduk, tidak berbicara di dalamnya dengan pembicaraan dunia, tidak melangkahi pundak-pundak manusia, tidak berebut tempat, tidak menyempitkan orang lain di shaf, tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, tidak meludah, tidak membuang dahak dan ingus di dalamnya, tidak membunyikan jari-jari dan tidak menyilangkan jari-jari.

Hendaknya masjid dijaga dari najis, dari anak-anak yang bermain-main, dari orang gila, dan dari pelaksanaan hukuman had. Jika seseorang melakukan semua adab ini, sungguh ia telah menunaikan hak masjid.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرِ اللَّهُمَّ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا وَمُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحِ اللَّهُمَّ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْ بِالْحَقِّ إِمَامَنَا وَوَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin. Ya Allah, tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di setiap tempat. Ya Allah, jadilah Engkau penolong, pembantu, penguat, dan pelindung bagi mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berilah kami keamanan di negeri-negeri kami. Ya Allah, perbaikilah para imam kami dan para pemimpin kami. Berilah taufik di atas kebenaran kepada imam kami dan pemimpin urusan kami. Berilah taufik kepadanya dan kepada para pejabatnya untuk perkara yang membawa kebaikan bagi negeri dan hamba-hamba-Mu.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ، إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button