Indahnya Keseharian Bersama Nabi ﷺ

INDAHNYA KESEHARIAN BERSAMA NABI ﷺ
Saat-saat terindah dalam hidup kita adalah momen kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai. Momen yang penuh kasih sayang, perhatian, keceriaan dan kebahagiaan.
Pernahkah kita membayangkan, bagaimana indahnya keseharian para sahabat bersama manusia tercinta, yang mulia Rasulullah ﷺ? Kemudian kita bertanya, apa saja keistimewaan hidup bersama beliau ﷺ, apakah sama saja dengan momen-momen indah kita bersama keluarga atau orang yang kita cintai?
Marilah bersama kita menyelami keseharian para sahabat yang mulia bersama Nabi yang tercinta, sambil membayangkan jika kita bersama mereka.
KEISTIMEWAAN KESEHARIAN BERSAMA NABI ﷺ.
Meski Nabi ﷺ selalu bersama sahabatnya dalam kehidupan sehari-hari, baik suka maupun duka, namun kebersamaan itu sarat dengan nilai, pelajaran dan teladan, bukan kesenangan semu yang begitu saja berlalu, atau kebersamaan simbolik semata.
1. Talaqqi Syariat Secara Langsung.
Sebagai pembawa risalah Islam, Nabi ﷺ menjadi referensi para sahabat dalam setiap urusan, baik kecil maupun besar, untuk memahami syariat Allah Azza wa Jalla.
- Sekelompok Pemuda Mulazamah dan Belajar Langsung dari Nabi ﷺ:
Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairits berkata: “Kami mendatangi Nabi ﷺ saat masih muda dan sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga kami, maka beliau bertanya kepada kami tentang siapa saja yang kami tinggalkan di rumah, lalu kami pun memberitahunya. Beliau adalah sosok yang sangat santun lagi penyayang, kemudian beliau bersabda: ‘Kembalilah kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajarkanlah mereka (ilmu agama) dan perintahkanlah mereka (untuk beribadah). Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Apabila waktu shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam.'” (HR. Bukhari)
- Rujuk kepada Nabi dalam perkara-perkara penting. Apabila merasa kesulitan memahami suatu ayat atau hukum, sahabat segera bertanya kepada beliau, lalu datanglah penjelasan yang meyakinkan.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tatkala turun ayat ini: {Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman} (QS. Al-An’am: 82), hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka pun bertanya: ‘Siapa di antara kami yang tidak mencampuri imannya dengan kezaliman?’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Bukan begitu maksudnya. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya: {Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar}’ (QS. Luqman: 13).” (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah ﷺ meluruskan pemahaman mereka dan menjelaskan, bahwa kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan. Syirik adalah kezaliman terbesar, sebaliknya tauhid adalah keadilan teragung.
- Peran penting istri-istri Nabi ﷺ dalam menyerap ilmu dari beliau, terutama yang terkait dengan kehidupan rumah tangga. Firman Allah Ta’ala: “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)
2. Penyucian Jiwa (Tazkiyah).
Sebagai pendidik, Rasulullah ﷺ Membangun jiwa di atas landasan kejujuran, integritas, dan membersihkannya dari sisa-sisa residu jahiliyah. Sebab, di antara tugas utama Rasulullah ﷺ, adalah menyucikan jiwa umatnya. Firman Allah Ta’ala:
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164)
3. Metode Pendidikan terbaik.
Rasulullah ﷺ dalam setiap kesempatan, mengajarakan metode Pendidikan terbaik kepada sahabatnya, di antaranya:
- Belajar dasar-dasar iman, sebelum Al-Qur’an:
Jundub bin Abdillah berkata: “Kami dahulu bersama Nabi ﷺ saat masih remaja (menjelang baligh). Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an, kemudian kami mempelajari Al-Qur’an sehingga bertambahlah iman kami dengannya.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaki).
Maksudnya: Pendidikan dasar iman dan esensinya dipelajari secara praktis melalui keteladanan, perbuatan, dan bimbingan Nabi ﷺ. Dengan demikian, para sahabat memahami esensi Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum mempelajari lafal ayat-ayatnya. Setelah mempelajari Al-Qur’an, mereka semakin yakin dengan kebenaran ajaran Rasulullah ﷺ.
- Koreksi konsep via Pembelajaran Aplikatif.
✒ Kisah Arab Badui yang kencing di masjid.
Abu Hurairah mengabarkan: “Bahwa seorang Arab Badui kencing di dalam masjid, maka orang-orang pun segera bangkit untuk menghardiknya. Namun, Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: ‘Biarkanlah dia, dan tuangkanlah di atas kencingnya itu setimba air atau seember air. Karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan, dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.’” (HR. Al-Bukhari)
- Beberapa konsep penting dari hadits ini:
- Kebijaksanaan dalam Berdakwah: Nabi ﷺ menunjukkan sikap tenang dalam menghadapi kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan. Jika Badui tersebut diputus kencingnya saat itu, maka justru bisa membahayakan kesehatannya, atau semakin mengotori masjid karena kaget atau takut.
- Fikih Kemudahan: Prinsip utama Islam adalah memberikan kemudahan (taysir), bukan mempersulit (ta’sir), terutama kepada mereka yang baru belajar atau tidak tahu.
- Cara Menyucikan Najis: dalil bahwa najis di atas tanah atau lantai bisa disucikan dengan menyiramkan air hingga bekas najisnya hilang.
- Menyikapi suatu kesalahan dengan bijaksana: Nabi ﷺ mendidik para sahabat untuk tidak terburu-buru menggunakan kekerasan dalam memperbaiki kesalahan orang lain.
✒Kisah Sahabat Yang Bicara saat Salat:
Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami berkata: “Saat aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada seorang jamaah bersin. Aku pun mengucapkan: ‘Yarhamukallah’. Orang-orang pun memandang tajam kepadaku. Aku lalu berkata: ‘Aduhai, gawat aku! Mengapa kalian melihatku seperti itu?’ Mereka pun memukul-mukul paha mereka. Tatkala aku paham bahwa mereka bermaksud menyuruhku diam, aku pun diam. Setelah Rasulullah ﷺ selesai shalat – ayah dan ibuku sebagai tebusannya- aku tidak pernah melihat seorang pendidik pun, sebelum atau sesudahnya, yang lebih baik cara mengajarnya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak pula mencaciku. Beliau hanya bersabda: ‘Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya ada suatu perkataan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.‘” (HR. Muslim)
3. Empati dan Kasih Sayang Tanpa Batas.
Partisipasi sosial dan empati emosional terlihat jelas, beliau senantiasa menenangkan hati dan menghilangkan kesedihan para sahabat. Menjenguk yang sakit, menyalati serta mengiringi jenazah yang wafat.
- Penuh kasih sayang terhadap umatnya. Ini adalah sifat asli beliau, Firman Allah Ta’ala:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa baginya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)
- Perhatian penuh, bahkan kepada anak kecil:
Anas bin Malik berkata: “Nabi ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Aku punya adik kecil yang dipanggil Abu ‘Umair, apabila Nabi datang, beliau bertanya: ‘Wahai Abu ‘Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-Nughair (burung kecil)?'” (Muttafaq ‘alaih).
Faedah: Pertanyaan Nabi tentang burung yang telah mati milik anak kecil ini, demi menghiburnya, adalah puncak dari kasih sayang dan empati.
- “Umatku, umatku”:
Dalam hadits syafaat teragung, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kemudian aku tersungkur sujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku: ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Katakanlah, niscaya akan didengar. Mintalah, niscaya akan diberi. Dan berilah syafaat, niscaya syafaatmu akan dikabulkan.’ Maka aku pun berkata: ‘Wahai Rabbku, umatku, umatku’.” (Muttafaq alaihi).
4. Kepemimpinan yang Bijaksana.
Sebagai pemimpin tertinggi kaum Muslimin, Rasulullah ﷺ tetap bermusyawarah dengan para sahabat, utamanya dalam perkara-perkara penting. Beliau juga berusaha menjaga dan melindungi mereka dari berbagai marabahaya. Kepentingan umat, di atas kepentinngan pribadi dan keluarganya.
- Sigap menjaga mereka dari bahaya:
Anas bin Malik berkata: “Nabi ﷺ adalah manusia yang paling baik, paling dermawan, dan paling pemberani. Pernah suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara (gemuruh yang menakutkan), maka orang-orang pun bergegas pergi menuju sumber suara tersebut. Namun (di tengah jalan) mereka berpapasan dengan Nabi ﷺ yang ternyata telah lebih dulu mendahului mereka. Beliau sedang kembali sambil bersabda: ‘Jangan takut, jangan takut.’ Beliau menunggangi kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana dengan pedang yang terkalung di lehernya, lalu bersabda: ‘Sesungguhnya kuda ini benar-benar cepat.’” (HR. Bukhari)
- Menjaga Persatuan dan Menolak Fanatisme Golonggan.
Kehadiran beliau mampu memutus akar fitnah dan perselisihan seketika, saat setan berusaha membakar panatisme golongan di antara kaum muslimin.
Jabir bin Abdillah berkata: “Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu peperangan, lalu seorang dari kaum Muhajirin memukul (bagian belakang) seorang dari kaum Anshar. Maka orang Anshar itu berteriak: ‘Wahai kaum Anshar!’ dan orang Muhajirin itu pun berteriak: ‘Wahai kaum Muhajirin!’ Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Mengapa masih ada seruan-seruan Jahiliyah ini?’ Mereka menjawab: ‘Wahai Rasulullah, seorang Muhajirin telah memukul seorang Anshar.’ Maka beliau bersabda: ‘Tinggalkanlah seruan-seruan itu, karena sesungguhnya seruan itu busuk.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Mendahulukan kepentingan umat daripada kepentingan diri dan keluarganya:
Dalam Shahih Al-Bukhari tertulis: Bab: Dalil bahwa bagian seperlima (dari ghanimah) diperuntukkan bagi kepentingan mendesak Rasulullah ﷺ dan kaum miskin. Serta: Bab tentang sikap Nabi ﷺ yang lebih mengutamakan Ahli Suffah (penghuni serambi masjid) dan para janda, ketika Fatimah datang mengadu kepada beliau perihal tangannya yang kelelahan akibat menumbuk gandum dan memutar alat penggiling, lalu meminta agar diberi pelayan dari tawanan perang, tapi beliau ﷺ menyerahkan urusannya kepada Allah.”
5. Teladan Nyata (Al-Qudwah al-‘Amaliyah).
Setelah perjanjian Hudaibiah disepakati, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya: “Bangkitlah, sembelihlah hewan kurban kalian, kemudian cukurlah rambut kalian.” (Perawi) berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari mereka yang bangkit meski beliau telah mengatakannya sebanyak tiga kali. Melihat itu, beliau pun masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan sikap para sahabat.” Ummu Salamah berkata: “Wahai Nabiyullah, apakah engkau menginginkan hal itu? Keluarlah, dan jangan berbicara sepatah kata pun dengan siapa pun, sampai engkau menyembelih untamu dan memanggil tukang cukurmu untuk mencukurmu.” Maka beliau pun keluar dan tidak berbicara dengan siapa pun sampai beliau menyembelih untanya dan memanggil tukang cukurnya lalu mencukurnya. Ketika para sahabat melihat hal itu, mereka pun bangkit dan menyembelih kurban, lalu sebagian mereka mencukur sebagian yang lain hingga hampir saja mereka saling melukai satu sama lain karena sesak. (HR. Bukhari)
Di sini, terlihat jelas bahwa teladan nyata lebih efektif daripada perintah lisan. Para sahabat meneladani perbuatan beliau, yang membuat kepatuhan mereka menjadi sangat kuat.
6. Pelindung dari Azab Allah.
Firman Allah Ta’ala: Dan (ingatlah), ketika orang-orang musyrik berkata: “Ya Allah, jika betul Al Quran ini, benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33)
Ibnu Abza ia berkata: “Dahulu Nabi ﷺ berada di Makkah, lalu Allah menurunkan ayat: {Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka} [QS. Al-Anfal: 33]. Kemudian Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, maka Allah menurunkan ayat: {Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampun (beristighfar)} [QS. Al-Anfal: 33]. Mereka (yang beristighfar) itu adalah sisa kaum Muslimin yang masih tinggal di Makkah dalam keadaan tertindas. Tatkala mereka akhirnya keluar dari Makkah, maka Allah menurunkan ayat: {Mengapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalang-halangi orang untuk mendatangi Masjidil Haram, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya?} [QS. Al-Anfal: 34]. Lalu Allah mengizinkan terjadinya Fathu Makkah, dan itulah azab yang telah dijanjikan kepada mereka (kaum musyrikin).” (Tafsir Thabari)
7. Nabi ﷺ pun mencandai sahabatnya:
Anas bin Malik meriwayatkan: Bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ untuk meminta tunggangan, maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Kami akan memberimu tunggangan anak unta.” Laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apa yang bisa aku lakukan dengan seekor anak unta?” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukankah semua unta dilahirkan oleh induknya?” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
KERINDUAN NABI ﷺ KEPADA KITA UMATNYA.
Pastilah kita semua merindukan Nabi ﷺ, tapi tahukah kita bahwa beliau juga sangat merindukan kita?
Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi pemakaman lalu bersabda: “Salam atas kalian، wahai kaum mukminin. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku sangat berharap sekiranya kita dapat melihat saudara-saudara kita.” Para sahabat bertanya: “Bukankah kami ini saudara-saudaramu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudara kita adalah mereka yang belum datang (lahir) hingga saat ini.” Mereka bertanya lagi: “Bagaimana engkau dapat mengenali mereka ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang memiliki kuda yang memiliki warna putih di dahi dan kakinya di tengah kawanan kuda yang hitam legam, bukankah ia akan mengenali kudanya?” Mereka menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka akan datang dengan wajah dan anggota wudhu yang bercahaya karena bekas wudhu. Dan aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ketahuilah akan ada orang-orang yang diusir dari telagaku sebagaimana diusirnya unta yang tersesat. Aku memanggil mereka: ‘Kemarilah!’ Namun dikatakan: ‘Sesungguhnya mereka telah mengubah (ajaranmu) setelahmu.’ Maka aku pun berkata: ‘Menjauhlah، menjauhlah!'” (HR. Muslim )
Bahkan doa mustajab beliau, disimpankan untuk umatnya. Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap Nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan yang ia gunakan untuk meminta. Dan aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku di akhirat kelak.” (HR. Bukhari)
Semenjak diutus sebagai nabi dan rasul, Beliau ﷺ hidup bersama sahabat selama 23 tahun, tentu banyak sekali momen-momen indah yang dialami para sahabat yang sarat makna dan hikmah, yang tidak bisa dicurahkan dalam artikel singkat ini.
Kendati kita ditakdirkan tidak hidup bersama beliau, namun kebersamaan itu bisa kita rasakan dengan berbagai sarana, seperti mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya, mengamalkan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari, membaca sirahnya, membela Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, serta memperbanyak shalawat kepada beliau ﷺ. Kita juga memohon kepada Allah Azza wa Jalla, agar kelak bisa tinggal bersama beliau di surga yang penuh kenikmatan. Amin


