Tatsqif

Mewujudkan Ketergantungan Hati kepada Allah

Mewujudkan Ketergantungan Hati kepada Allah

Ketergantungan hati kepada Allah merupakan salah satu ibadah yang paling agung. Hakikatnya adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung, berharap, dan memohon pertolongan dalam seluruh urusan kehidupan.

Seorang muslim yang berhasil mewujudkannya akan merasakan ketenangan hati, kekuatan jiwa, dan kemudahan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya “Al Washiyyah Asshugra” menjelaskan bahwa ketergantungan kepada Allah diwujudkan dengan melalui lima perkara:

Pertama: berusaha meraih keridaan Allah.

dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, Seorang mukmin menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap perkataan, perbuatan, dan keputusan hidupnya.

Kedua: menyerahkan seluruh urusan kepada Allah (tafwidh).

Seorang hamba meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur segala urusan. Oleh karena itu, setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa pilihan-Nya adalah yang terbaik.

Ketiga: senantiasa berdoa kepada Allah.

Karena doa merupakan bukti nyata bahwa seorang hamba menyadari kelemahan dan kebutuhannya kepada Rabbnya. Semakin sering seorang hamba berdoa, semakin kuat pula hubungan dan ketergantungannya kepada Allah.

Keempat: memperbanyak zikir kepada Allah.

Zikir menghidupkan hati, menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, menguatkan iman, dan menjadikan hati senantiasa merasa dekat dengan-Nya.

Kelima: berusaha berkontribusi dalam agama Allah

baik melalui dakwah, mengajarkan ilmu, beramal saleh, maupun berbagai bentuk kontribusi yang bermanfaat bagi agama dan kaum muslimin.

Kelima perkara tersebut merupakan jalan yang paling penting untuk membangun ketergantungan hati kepada Allah. Apabila seseorang senantiasa berusaha meraih keridaan Allah, menyerahkan urusannya kepada-Nya, memperbanyak doa dan zikir, serta berjuang untuk agama-Nya, maka ia telah mencapai derajat ketergantungan yang tinggi kepada Allah. Inilah tujuan yang dikehendaki syariat, yaitu agar hati manusia hanya bergantung kepada Allah semata.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa siapa saja yang menyempurnakan ketergantungan kepada Allah, memurnikan niat hanya untuk-Nya, serta memalingkan hatinya dari ketergantungan kepada makhluk, maka tidak dapat digambarkan betapa besar pengaruh positif yang akan muncul dalam kehidupannya. Allah akan melimpahkan berbagai kebaikan, keberkahan, kemudahan, petunjuk, dan pertolongan kepadanya. Di antara buah terbesar dari ketergantungan kepada Allah adalah memperoleh keridaan dan kecintaan-Nya, disertai taufik dalam setiap langkah kehidupan.

Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya “shaidul khatir” berkata: Aku pernah ditimpa sesuatu yang membatku sangat sedih. Aku berusaha sekuat tenaga memikirkan jalan keluar dari berbagai kesedihan itu dengan segala cara dan berbagai upaya, namun aku tidak menemukan jalan keluar. Lalu terlintas kepadaku firman Allah: Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.’ (QS. ath-Thalaq: 2). Maka aku mengetahui bahwa ketakwaan merupakan sebab keluarnya seseorang dari setiap kesedihan. Tidak lama kemudian aku bertekad untuk mewujudkan ketakwaan, lalu aku pun mendapatkan jalan keluarnya.

Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa “Semakin seorang hamba merendahkan diri kepada Allah, semakin besar kebutuhan, ketundukan, dan kepasrahannya kepada-Nya, maka ia akan semakin dekat kepada-Nya, semakin mulia di sisi-Nya, dan semakin tinggi kedudukannya. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling besar pengabdiannya kepada Allah. Kedudukan dan kehormatan seorang hamba di hadapan manusia akan berada pada tingkat yang paling tinggi apabila ia tidak membutuhkan mereka sedikit pun. Apabila engkau berbuat baik kepada mereka dalam keadaan tidak membutuhkan mereka, maka engkau akan menjadi orang yang paling mulia di sisi mereka. Namun kapan saja engkau membutuhkan mereka, walaupun hanya untuk seteguk air, niscaya kedudukanmu di sisi mereka akan berkurang sesuai kadar kebutuhanmu kepada mereka. Inilah termasuk hikmah dan rahmat Allah, agar seluruh agama hanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak ada sesuatu pun yang dipersekutukan dengan-Nya”.

Senada dengan itu, Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “AlFawaid” menjelaskan bahwa apabila seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidupnya, Allah akan mencukupi seluruh kebutuhannya, menghilangkan segala kegelisahan, memenuhi hatinya dengan cinta kepada-Nya, membimbing lisannya untuk senantiasa berzikir, dan mengarahkan seluruh anggota tubuhnya untuk taat kepada-Nya.

Sebaliknya, apabila dunia menjadi tujuan utamanya, Allah akan membiarkannya sibuk dengan berbagai kegelisahan, kesedihan, dan kesulitan hidup. Hatinya dipenuhi kecintaan kepada makhluk, lisannya sibuk menyebut mereka, dan seluruh tenaganya dihabiskan untuk melayani kepentingan manusia. Pada akhirnya, ia menjadi hamba bagi makhluk sesuai dengan kadar ketergantungannya kepada mereka.

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan bahwa semakin kuat harapan seorang hamba kepada Allah dan semakin besar keyakinannya terhadap rahmat serta pertolongan-Nya, maka semakin sempurna pula pengabdiannya kepada Allah dan semakin bebas ia dari ketergantungan kepada selain-Nya. Sebaliknya, siapa yang menggantungkan hati kepada makhluk dengan harapan memperoleh rezeki, pertolongan, kedudukan, atau petunjuk, maka hatinya akan tunduk kepada mereka sesuai kadar ketergantungannya. Walaupun secara lahiriah ia tampak memiliki kekuasaan atau kedudukan tinggi, pada hakikatnya ia tetap menjadi tawanan dari apa yang menjadi tempat bergantung hatinya.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya hanya menggantungkan harapan, dan seluruh kebutuhan hidupnya kepada Allah.

(Sumber: Kaifa Yuhaqqiq al muslim atta’alluq billah, Dr. Sultan Al Umairi)

Muh Huud I Wima, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button