Khutbah Jumat: Pelajaran Asyura: Syukur, Kesabaran dan Pertolongan Allah

Download Pdfnya Klik
Pelajaran Asyura: Syukur, Kesabaran dan Pertolongan Allah
Penulis:
(Kandidat Magister King Saud University, Riyadh, KSA)
Ustaz Faisal Reza Saputra, Lc.
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَقَيُّومُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ، أَرْسَلَ رُسُلَهُ حُجَّةً عَلَى الْعَالَمِينَ؛ لِيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ، وَيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْبَشِيرُ النَّذِيرُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيرُ، تَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ، فَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ الْأَبْرَارُ، وَصَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ، وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ؛
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللَّهِ:
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوهُ، وَابْتَدِرُوا أَمْرَهُ وَلَا تَعْصُوهُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ دُنْيَاكُمْ وَآخِرَتِكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [الطلاق: 2، 3]، ﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا ﴾ [الطلاق: 5]، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا ﴾ [الأنفال: 29]، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 70، 71].
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah memperjalankan kita hingga kita kembali berada di bulan yang penuh kemuliaan, bulan Muharram. Bulan ini adalah satu dari empat bulan haram yang diagungkan dalam Islam.
Di dalam bulan ini, terdapat satu hari yang mencatat sejarah besar peradaban manusia, yaitu Hari Asyura (10 Muharram). Jika kita merenungi Al-Qur’an dan Sunnah, Asyura bukanlah sekadar hari untuk berpuasa, melainkan sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkan kita tiga fondasi utama seorang mukmin: kesabaran di puncak ujian, keyakinan pada pertolongan Allah, dan perwujudan syukur.
Pertama: Kesabaran di Puncak Ujian
Mari kita kembali pada ribuan tahun lalu. Al-Qur’an mengabadikan momen paling mencekam bagi Bani Israil. Mereka berada di jalan buntu. Di depan mereka terbentang Laut Merah yang tak tertembus, sementara di belakang mereka, debu mengepul tebal dari pasukan Fir’aun yang bersenjata lengkap siap membantai mereka.
Ketakutan menyergap. Keputusasaan melanda. Al-Qur’an merekam kepanikan mereka:
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Maka tatkala kedua golongan itu telah saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.'” (QS. Asy-Syu’ara: 61)
Dalam situasi yang secara logika manusia adalah akhir dari segalanya, di sinilah kualitas tauhid dan kesabaran seorang Nabi diuji. Nabi Musa ‘Alaihissalam tidak membalas kepanikan itu dengan keluh kesah.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarij As-Salikin mendefinisikan hakikat kesabaran:
“Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah, menahan lisan dari meratap, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat (saat ditimpa musibah).”
Nabi Musa mempraktikkan tingkat sabar tertinggi, yaitu sabar yang diiringi dengan Yaqin (keyakinan mutlak).
Kedua: Kepastian Pertolongan Allah (Nashrullah)
Menjawab kepanikan kaumnya, Nabi Musa mengucapkan kalimat yang menjadi pegangan bagi setiap mukmin yang merasa terjepit oleh keadaan:
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”(QS. Asy-Syu’ara: 62)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan kedalaman makna ayat ini. Beliau berkata:
“Musa berkata demikian karena beliau memiliki keyakinan yang sempurna kepada janji Allah. Beliau tahu persis bahwa Allah yang memerintahkannya berjalan ke arah laut ini, tidak mungkin membiarkannya binasa dan telantar.”
Jamaah sekalian, ketika kesabaran dan keyakinan telah bulat, pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak masuk akal manusia. Allah perintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya, dan laut pun terbelah. Air yang tadinya merupakan rintangan mematikan, berubah menjadi jalan keselamatan bagi hamba-hamba yang bertauhid, dan menjadi kuburan bagi Fir’aun yang menyombongkan diri.
Pelajaran bagi kita: Sebesar apa pun “laut” masalah yang menghadang kita di depan, dan seberat apa pun “pasukan” tekanan hidup yang mengejar dari belakang, jika kita memegang prinsip “Inna ma’iya Rabbi” (Sesungguhnya Tuhanku bersamaku), maka Allah akan membukakan jalan keluar yang tidak pernah kita duga.
Ketiga: Manifestasi Syukur
Setelah Allah memberikan pertolongan yang begitu dahsyat, bagaimana cara menyikapinya? Di sinilah pelajaran ketiga berlabuh: Syukur yang diwujudkan dalam bentuk ibadah.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى. قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Inilah hakikat syukur. Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah di lisan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan anggota badan. Berpuasa di hari Asyura adalah bentuk merayakan kemenangan tauhid atas kezaliman, sekaligus bentuk rasa terima kasih kita kepada Allah atas segala pertolongan-Nya dalam hidup kita.
Bahkan, Allah memberikan pahala yang luar biasa bagi mereka yang mensyukuri hari tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu:
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Bayangkan saudaraku, hanya dengan berpuasa satu hari, Allah yang Maha Pengasih bersedia menghapus dosa-dosa kecil kita selama satu tahun penuh yang telah berlalu. Ini adalah karunia yang tak ternilai.
Semoga momentum Asyura ini menguatkan kesabaran kita dalam menghadapi badai kehidupan, menebalkan keyakinan kita akan datangnya pertolongan Allah, dan menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur melalui amal ibadah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرَرِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah,
Sebagai penutup khutbah hari ini, mari kita meluruskan niat untuk menghidupkan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Muharram ini. Selain berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura), sangat dianjurkan bagi kita untuk juga berpuasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram (Tasu’a).
Hal ini didasarkan pada tekad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayat beliau untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a).” (HR. Muslim)
هَذَا وَصَلُّوا – رَحِمَكُمُ اللَّهُ – عَلَى خَيْرِ الْبَرِيَّةِ، وَأَزْكَى الْبَشَرِيَّةِ: مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، صَاحِبِ الْحَوْضِ وَالشَّفَاعَةِ؛ فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهَ بِكُمْ – أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ -، فَقَالَ – جَلَّ وَعَلَا -:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الْأَرْبَعَةِ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَجُودِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كُرَبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِينَا يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي دِينِهِمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُمْ وَخَذَلَهُمْ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ شَأْنَ عَدُوِّهِمْ فِي سِفَالٍ، وَأَمْرَهُ فِي وَبَالٍ، اللَّهُمَّ عَجِّلْ لَهُمْ بِالنَّصْرِ وَالْفَرَجِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾
سُبْحَانَ رَبِّنَا رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ [النحل: 90].
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ وَنِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

+6285333345252



