Fikih

 Jual Beli Sende, apakah sah atau tidak? (Bagian 1)

Jual Beli Sende, merupakan di antara akad jual beli yang beredar di beberapa perkampungan Indonesia -atau bahkan perkotaan- dan sedikit membawa problematik mengenai status keabsahannya secara fikih islami.

Contoh praktik jual beli sende adalah sebagai berikut: si A menjual tanah kepada si B, dengan syarat: “Jika si A membawa kembali/mengembalikan uang dengan nominal yang sama ketika membeli tanah kepada si B, maka si B harus mengembalikan tanah yang telah dia beli”. Dengan kata lain, pengertian jual beli sende adalah: Proses jual beli antara dua orang atau lebih, dengan syarat ketika penjual mengembalikan harga barang maka si pembeli harus mengembalikan barang tersebut.

Konsekuensi dari jual beli adalah kepemilikan barang secara utuh, olehnya si B dapat menggunakan tanah tersebut sesuai kehendaknya. Namun, jika kita lihat akad ini secara batin, seakan-akan si A hanya meminjam uang kepada si B, dan tanah sebagai perantara atau barang jaminan. Ketika si B (peminjam) memakai tanah ini (konsekuensi dari akad jual beli), apakah hal ini masuk dalam kaidah “Pinjaman yang membawa keuntungan adalah riba”?

Tentu saja, jika seseorang mendapatkan pinjaman hasan (tanpa riba) ketika dibutuhkan, itu adalah hal yang sangat dianjurkan. Namun jika seseorang terpaksa harus melakukan akad seperti ini karena tidak mendapatkan pinjaman hasan, maka sudah sepantasnya kita membahas hukum akad sende agar menjadi jelas dan tidak menimbulkan syubhat.

Praktik jual beli sende sudah dikenal dalam buku-buku klasik fikih, bahkan setiap mazhab fikih memiliki nama khusus untuk praktik jual beli sende ini.

Dalam mazhab Hanafi jual beli ini disebut sebagai jual beli “wafa” yang artinya “menepati janji”, seakan-akan kedua belah pihak berjanji untuk menepati syarat yang dimaksudkan berupa pengembalian barang dan harga yang disebutkan dalam akad.

Baca Juga  Jual Beli Sende, apakah sah atau tidak? (Bagian 3, akhir)

Dalam mazhab Maliki termasuk dalam kategori jual beli “Tsun-ya” (الثنيا), yang memiliki arti “pengecualian”, seakan-akan akad tersebut berjalan sebagaimana mestinya, kecuali akad tersebut tidak memberikan kepemilikan yang penuh kepada pembeli.

Dalam mazhab Syafii dikenal sebagai praktik jual beli “Uhdah”, yang berarti “perjanjian”, seakan-akan dalam akad tersebut terdapat perjanjian antara kedua belah pihak yang wajib untuk dipenuhi.

Dalam mazhab Hambali dikenal termasuk dalam kategori jual beli “Amanah”, karena jual beli ini seakan-akan seperti akad gadai, dan barang gadai adalah amanah di tangan pegadai.

Terdapat beberapa nama lain untuk praktik jual beli ini, misalnya “Rahnul Muad”, “Al-Bai’ Al-Jaiz”, “Baiul Muamalah”, “Baiul Itho’ah”, “Baiul Tho’ah”, “Al-Baiul Mu’ad”, dan “Bai’u An-Naas”.

Setelah mengetahui nama dan pengertian serta contoh dari jual beli sende, mari kita lanjut membahas hukum jual beli ini.

(berlanjut bagian 2)

Rujukan

Hasyiah Ibn Abidin, Ibnu Abidin

Bahrul Raiq syarah Kanz Daqoiq, Ibn Nujaim

Mawahib Jalil syarah Mukhtashar Khalil, Syamsuddin Al-Hatthab

Muqoddimat Mumahhidat, Ibn Rusyud Al-Jad Al-Qurthubi

Hasyiah Showi, Abu Abbas Ash-Showi

Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar Al-Haitami

Fatawa Fiqhiyah Kubra, Ibnu Hajar Al-Haitami

Kassyaf Qina’, Al-Buhuti.

 

Usamah Maming, Lc., M.A.

Alumni S1 dan S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?