Tarbawi

Hiasi dirimu dengan Kejujuran

Di antara sifat dan akhlak mulia yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah “As Shidq” atau sifat jujur, sebuah perangai yang memiliki banyak kaitan dengan permasalahan keislaman, seperti akidah, akhlak ataupun muamalah dengan berbagai cabangya seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur secara etimologi merupakan lawan dari dusta atau berbohong. Adapun secara istilah, maka jujur adalah pengabaran suatu hal sesuai dengan hakikatnya atau dalam kata lain keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.

Sifat jujur ini adalah salah satu sifat terpuji yang diperintahkan di dalam islam, Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri, bahkan banyak dalil-dalil dari Al Qur’an maupun Hadis Rasulullah SAW yang memerintahkan dan memotivasi untuk bersifat jujur,di antaranya Firman Allah SWT :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar atau jujur” QS.At Taubah : 119

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsiran ayat ini : “Maksud dari ayat di atas adalah bersifat jujurlah dan lazimilah sifat jujur tersebut serta bersamailah orang-orang yang jujur niscaya engkau akan selamat dari kebinasaan dan dengannya Allah akan menunjukkan bagimu jalan keluar dari berbagai masalah yang engkau hadapi”

Juga firman Allah SWT :

وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ حَدِيْثًا ࣖ

“Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” QS.An Nisa : 87

Dan ayat inilah yang menjadikan sifat jujur sangat mulia dikarenakan Allah SWT mensifati diriNya sendiri dengan sifat ini.

Adapun dalil dari Hadis Rasulullah SAW maka di antaranya :

Hadis Abdullah bin Masud radiallahu ‘anhu,bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا .

“Sesungguhnya sifat jujur mengantarkan seseorang kepada kebaikan, dan kebaikan memasukkan ke dalam Surga, dan tidaklah seseorang berusaha untuk bersifat jujur sampai menjadi orang yang jujur. Sebaliknya, sesungguhnya sifat dusta mengantarkan seseorang kepada keburukan, dan keburukan memasukkan seseorang ke dalam neraka, dan tidaklah seseorang berusaha untuk berdusta sampai menjadi pendusta”. Muttafaqun ‘Alaihi

Berkata Imam Nawawi ketika menjelaskan hadis ini :

“Bahwasanya dalam hadis ini terdapat perintah dan motivasi untuk berusaha memiliki sifat jujur, dan memberikan perhatian atasnya, sebagaimana hadis ini juga memerintahkan untuk menjauhi sifat dusta dan bermudah-mudahan dengannya. Karena jika seseorang bermudah-mudahan dengannya maka lambat laun ia akan terbiasa berdusta sehingga ia terkenal dengan kedustaannya. Adapun arti dari “yuktab” atau “dicatat” dalam hadis ini yaitu ia dihukumi dengan sifat tersebut dan berhak baginya mendapatkan kedudukan orang-orang yang jujur beserta pahalanya, atau sebaliknya kedudukan orang-orang yang dusta beserta dosanya. Dan yang dimaksudkan di sini adalah dengan menampakkannya kepada manusia, baik itu dengan Allah yang menakdirkan dia menjadi orang-orang jujur ataupun disebabkan karena telah terkenal di kalangan manusia bahwa ia adalah orang jujur”.[i]

Baca Juga  Islam dan Iman, Nikmat yang Paling Agung

Kemudian dalam hadis yang lain :

Hadis Abdullah bin ‘Amr bin Ash, Bahwa Rasulullah SAW bersabda :

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا : حِفْظُ أَمَانَةٍ ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ .

“Ada empat hal yang jika dia ada pada dirimu maka kamu tidak akan susah dan tidak akan ditinggalkan dunia: Menjaga amanah,bicara jujur,berakhlak mulia dan menjaga kesucian diri”. HR.Ahmad No.6652.

Hadis ini kendati sanadnya lemah namun makna yang terkandung di dalamnya benar serta mengingatkan kepada kita pentingnya keempat sifat ini serta hinanya dunia.

Beberapa perkataan salaf terkait sifat jujur ini :

  1. Abdullah bin Abbas ketika menafsirkan firman Allah SWT : ولا تلبسوا الحق بالباطل

Beliau berkata : “Dan janganlah kamu campur adukkan antara jujur dan dusta dalam perkataanmu”.[ii]

  1. Fudhail bin Iyadh : “Tidak ada segumpal daging dalam tubuh seseorang yang lebih dicintai Allah SWT daripada lisan yang jujur, sebaliknya tidak ada segumpal daging dalam tubuh seseorang yang lebih dibenci Allah SWT daripada lisan yang dusta”.[iii]
  2. Suatu hari Ahnaf bin Qais berujar kepada Anaknya : “Wahai anakku, cukuplah bagimu dari kemuliaan sifat jujur, ketika orang jujur perkataanya diterima oleh musuh. Adapun kehinaan sifat dusta, perkataanya tidak diterima baik oleh temannya apalagi musuhnya. Ketahuilah segala sesuatu ada perhiasaannya, dan perhiasaan sebuah ucapan adalah kejujurannya karena itu menunjukkan kesempurnaan akalnya”.[iv]
  3. Sebagian ulama mengatakan : “Di antara kemuliaan sifat jujur, dia akan dipercaya oleh musuhnya sekalipun”.[v]
  4. Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).[vi]

Beberapa manfaat yang akan dilahirkan dari sebuah kejujuran adalah:

1.Keselamatan keyakinan.

Inilah manfaat yang paling menonjol yang bisa seseorang dapatkan dari sifat jujur, dengannya ia bisa terselamatkan dari perbuatan syirik nampak maupun tersembunyi.

Baca Juga  Menambang Perbendaharaan Surga Nan Berharga

2.Senantiasa berkorban demi menolong agama Allah.

Orang-orang yang jujur adalah mereka yang senantiasa mendahulukan keridhoan Allah dalam segala urusannya,sehingga tidak sedikit kita mendapatkan dari mereka menghabiskan umurnya dalam menegakkan serta menolong agama Allah SWT.

3.Wasilah dalam istiqamah di jalan Allah.

Dengan bersifat jujur seseorang mampu untuk mempertahankan keyakinannya dan tidak mudah goyah,sehingga ia senantiasa dapat untuk konsisten dan istiqamah di atas jalan Allah SWT.

4.Mampu menjauhi perkara-perkara yang meragukan.

Rasulullah SAW bersabda :

دع ما يريبك إلى مالا يريبك فإن الصدق طمأنينة والكذب ريبة

“Tinggalkanlah yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu,karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan”. HR.Tirmidzi No. 2455.

5.Sebab keberkahan dalam perdagangan.

Dalam jual beli tidak jarang kita dapatkan orang-orang yang tidak jujur dalam perdagangannya, sehingga mereka tidak mendapatkan keberkahan di dalamnya, sebaliknya orang yang senantiasa jujur dalam perdagangannya maka itulah yang akan diberkahi oleh Allah SWT sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW:

البيعان بالخيار مالم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما

“Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual belinya) selama keduanya belum berpisah, Jika keduanya jujur dan menanampakkan dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual belinya, sebaliknya jika keduanya menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual belinya”. Muttafaqun ‘alaihi.

Tidak dipungkiri bahwa untuk memiliki sifat jujur tidak mudah bagi sebagian orang, perlu ada mujahadah untuk membiasakan diri bersifat jujur, bahkan mungkin pada sebagian lainnya sangat berat untuk memupuk sifat mulia ini pada dirinya. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan beberapa kiat-kiat untuk melahirkan sifat jujur pada diri kita, di antaranya:

1.Muraqabatullah

Dengan memiliki keyakinan atas pengawasan Allah SWT maka seseorang tidak akan mudah untuk berdusta karena dia yakin bahwa Allah SWT mendengar dan mengetahui setiap ucapan yang dilontarkannya, sedikit atau banyaknya.

Allah SWT berfirman :

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَاcبِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ QS. AL Mujadilah: 7.

Baca Juga  Hakikat Dosa "Menyebabkan luka dan Membawa kepedihan" (Part. 1)

2.Rasa malu.

Rasa malu mampu menghalangi seseorang untuk berkata dusta karena khawatir akan dikenal sebagai pendusta di tengah masyarakat, sebagaimana malunya Abu Sufyan dicap sebagai pendusta di tengah kaumnya sehingga ia pun mempercayai kabar yang disampaikan Heraclius tentang kenabian Muhammad SAW, Abu Sufyan mengatakan : “Demi Allah sekiranya bukan rasa malu ketika mereka mengatakan kepadaku pendusta ,maka tentu aku tidak percaya kepada kaisar (Heraclius)”

Ibnu Hajar mengatakan : Dalam penggalan kisah ini terdapat isyarat bahwa masyarakat dahulu sebelum islam tidak menyenangi sifat dusta dan membenci orang-orang yang berdusta.

Maka seorang muslim tentu akan lebih malu jika dirinya dikenal sebagai pendusta.

3.Bergaul dengan orang-orang saleh.

Allah SWT telah memerintahkan demikian di dalam firmannya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar atau jujur. QS.At Taubah : 119.

4.Menebarkan sifat jujur di dalam keluarga.

Islam memerintahkan untuk menanamkan kepada anak-anak sejak dini sifat jujur agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, dan hal ini tidak terlepas dari peran dari orang karena tentu mereka akan mengikuti apa yang keluar dari perkataan dan perbuatan orang tuanya.

Di dalam sebuah hadis yang berasal dari Abdullah bin Amir, beliau berkata : Suatu ketika ibuku memanggilku sementara Rasulullah SAW sedang berada di rumah kami, Ibuku berkata : Kemarilah wahai anakku!, Maka Rasulullah SAW bertanya kepadanya : “Apa yang engkau akan berikan kepada anakmu?, Ibuku berkata : Saya ingin memberinya sebutir kurma, Rasulullah SAW pun mengatakan : “Apakah engkau tahu jika engkau tidak memberinya akan dicatat bagimu satu sifat dusta?”.

5.Doa

Kendatipun seseorang telah melakukan wasilah dan kiat di atas untuk memiliki sifat jujur, Namun hal yang tak kalah penting dan utama perlu dilakukan oleh seseorang adalah berdoa kepada Allah SWT, karena semua kembali kepada izin dan taufik dariNya.

 Wallahu A’lam.

[i] Syarah Nawawi ala Sahih Muslim: 16/160.

[ii] Tafsir Ibnu Katsir, Cet.Salamah: 1/245.

[iii] Raudhatul ‘Uqala, Abu Hatim al Bustiy: Hal. 52.

[iv] Nihayatul al Arbi Fii Funuun al Adab, an Nuwairy: 3/224.

[v] Uyuunu al Akhbar, Ibnu Qutaibah: 2/26.

[vi] Madaarij as Saalikin: 2/200.

Darul Idam, Lc., M.A.

Alumni Majister Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?