Tatsqif

Amal saleh dalam Al Qur’an

Amal saleh dalam Al Qur’an

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

Sesungguhnya di antara musim kebaikan yang paling agung yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari yang penuh berkah ini merupakan hari-hari terbaik di dunia, yang Allah muliakan di atas seluruh hari lainnya, bahkan Allah bersumpah dengannya dalam Kitab-Nya yang mulia:
﴿ وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴾
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2).

Dari Ibnu Abbas radliallahu anhuma, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيامٍ العَمَلُ الصَّالحُ فِيها أَحَبُّ إِلى اللَّهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّامِ يعني: أَيامَ العشرِ، قالوا: يَا رسولَ اللَّهِ وَلا الجهادُ في سبِيلِ اللَّهِ؟ قالَ: وَلاَ الجهادُ فِي سبِيلِ اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرجَ بِنَفْسِهِ، وَمَالِهِ فَلَم يَرجِعْ منْ ذَلِكَ بِشَيءٍ رواه البخاريُّ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab:

“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”

(HR. al-Bukhari)

Penjelasan tentang amal saleh dalam Al Qur’an

Al-Qur’anul Karim dalam manhaj dakwahnya mendorong kepada amal saleh yang disertai iman kepada Allah Ta‘ālā dan dilakukan dengan ikhlas karena wajah-Nya Yang Mahamulia. Hal itu karena amal saleh adalah amal yang diridhai di sisi Allah Ta‘ālā, dan ia mencakup dua perkara:
Pertama: dilakukan sesuai dengan syariat Islam.
Kedua: tujuan amal tersebut adalah mencari keridaan Allah dan menaati-Nya.
Apabila suatu amal kehilangan dua perkara ini atau salah satunya, maka amal itu tidak diridhai di sisi Allah. Akibatnya, tidak ada pahala dan ganjaran baginya. Allah Ta‘ālā berfirman:
﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾
“Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Yang dimaksud dengan amal saleh yang benar adalah amal yang sesuai dengan syariat Islam dan ikhlas karena Allah Ta‘ālā semata.

Maka amal saleh adalah amal yang terpenuhi padanya dua syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:
إن العمل لا يقبل إلا إذا كان خالصا صوابا، فالخالص: أن يكون لوجه الله، والصواب: أن يكون على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم.
“Sesungguhnya amal tidak akan diterima kecuali apabila dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas artinya dilakukan karena Allah, sedangkan benar artinya sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.”

Berdasarkan hal itu, setiap amal yang sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan dilakukan untuk mengharap wajah Allah, maka itu adalah amal saleh.

Melaksanakan kewajiban dan amalan sunnah, serta meninggalkan perkara haram dan makruh, semuanya termasuk amal saleh yang akan diberi pahala oleh Allah. Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿ الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ﴾
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal-amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi: 46)

Al-Alusi dalam tafsirnya menukil dari Ibnu Mardawaih, Ibnu al-Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dalam salah satu riwayat bahwa yang dimaksud dengan al-bāqiyāt aṣ-ṣāliḥāt adalah:
جميع أعمال الحسنات
Seluruh amal kebaikan.

Pengertian Amal

Pertama: Makna secara bahasa

Asal kata (عمل) menunjukkan makna setiap perbuatan yang dilakukan.

Al-Khalil berkata:
“‘Amila’ berarti melakukan suatu pekerjaan, maka pelakunya disebut ‘āmil’ (orang yang bekerja).

Kesimpulannya, amal berarti pekerjaan dan perbuatan, sedangkan bentuk jamaknya adalah a‘māl (amal-amal).

Kedua: Makna secara istilah

Makna amal secara istilah tidak jauh berbeda dari makna bahasa.

Al-Munawi mendefinisikannya dengan berkata:
العمل: كل فعل من الحيوان بقصد، فهو أخص من الفعل؛ لأن الفعل قد ينسب إلى الحيوان الذي يقع منه فعل بغير قصد، وقد ينسب إلى الجماد، والعمل قلما ينسب إلى ذلك.
“Amal adalah setiap perbuatan makhluk hidup yang dilakukan dengan sengaja. Amal lebih khusus daripada fi‘l (perbuatan), karena fi‘l kadang disandarkan kepada makhluk hidup yang melakukan sesuatu tanpa sengaja, bahkan juga dapat disandarkan kepada benda mati. Sedangkan amal jarang disandarkan kepada hal-hal tersebut.”

Al-Kafawi berkata:
العمل: المهنة والفعل، والعمل يعم أفعال القلوب والجوارح.
“Amal adalah pekerjaan dan perbuatan. Amal mencakup perbuatan hati maupun anggota badan.”

Ash-Shaghani berkata:
تركيب الفعل يدل على إحداث شيء من العمل وغيره، فهذا يدل على أن الفعل أعم من العمل.
“Susunan kata fi‘l menunjukkan makna menghasilkan sesuatu, baik berupa amal maupun selainnya. Ini menunjukkan bahwa fi‘l lebih umum daripada amal.”

Dalam Mu‘jam al-Fuqahā’ disebutkan:
قال: العمل: بالتحريك مصدر عمل، جمع أعمال، كل فعل كان بقصد وفكر، سواء كان من أفعال القلوب كالنية، أم من أفعال الجوارح كالصلاة، والعملة: بضم العين أو كسرها، وسكون الميم، وفتح اللام: ما يعطاه الأجير أجرة عمله.
“Amal, dengan harakat pada huruf ‘ain, adalah mashdar dari kata ‘amila, bentuk jamaknya a‘māl. Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dan pemikiran, baik berupa perbuatan hati seperti niat, maupun perbuatan anggota badan seperti shalat.

Adapun al-‘umlah, dengan dhammah atau kasrah pada huruf ‘ain, sukun pada mim, dan fathah pada lam, berarti upah yang diberikan kepada pekerja sebagai balasan atas pekerjaannya.”

Disebutkan pula dari Qatadah رحمه الله bahwa maknanya adalah:
كل ما أريد به وجه الله تعالى.
“Segala sesuatu yang dengannya diharapkan wajah Allah Ta‘ālā.”

Dan dari Al-Hasan serta Ibnu ‘Atha’ رحمهما الله bahwa yang dimaksud adalah:
النيات الصالحات.
Niat-niat yang saleh.

Tidak diragukan lagi bahwa shalat, zakat, haji, puasa, jihad, amar ma‘ruf nahi mungkar, membaca Al-Qur’an, zikir, tasbih, tahmid, dan seluruh bentuk kebaikan termasuk dalam amal saleh yang semestinya dijaga oleh seorang mukmin agar memperoleh janji Allah Subhanahu wa Ta’ala:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا * خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya dan tidak ingin berpindah darinya.”
(QS. Al-Kahfi: 107–108)

Kata (عمل) disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim sebanyak 345 kali.

Bentuk-bentuk yang disebutkan adalah sebagai berikut:

Pertama: Fi‘il māḍi (kata kerja lampau) 94 kali. Seperti:
Surah Al-Baqarah ayat 62
﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, maka bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka, tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.”

Kedua: Fi‘il muḍāri‘ (kata kerja sekarang/akan datang) 166 kali, seperti:
Surah Al-Baqarah ayat 74
﴿ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴾
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang memancar darinya sungai-sungai, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya, dan ada pula yang jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.”

Ketiga: Fi‘il amr (kata perintah) 11 kali, seperti:

Surah Saba’ ayat 11
﴿ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴾
“(Yaitu) buatlah baju-baju besi yang sempurna dan ukurlah anyamannya dengan tepat, serta beramallah saleh. Sesungguhnya Aku Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”

Keempat: Isim (kata benda) 61 kali, seperti:

Surah Hud ayat 46
﴿ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ ﴾
Allah berfirman: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu. Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak saleh. Maka janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”

Kelima: Isim fā‘il (pelaku) 13 kali, seperti:
Surah At-Taubah ayat 60
﴿ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴾
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berutang, di jalan Allah, dan untuk ibnu sabil, sebagai kewajiban dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Seruan Al-Qur’an kepada Amal Saleh dan Penjelasan Amal Saleh adalah buah dari keimanan

Al-Qur’an dalam keseluruhan seruan-seruannya yang lurus dan memberi petunjuk terus mengajak kepada amal saleh dalam banyak ayatnya yang mulia. Hal itu karena amal saleh merupakan buah dari iman kepada Allah, hari akhir, dan kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ.

Pentingnya amal saleh tampak jelas dalam banyak ayat Al-Qur’an yang menggandengkannya dengan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu karena iman memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan amal.

Amal saleh merupakan cerminan praktis dan penerapan nyata dari apa yang tertanam dalam hati seorang hamba. Seluruh rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, membutuhkan penerapan dalam bentuk perilaku nyata yang menunjukkan keimanan seorang hamba terhadapnya.

Sering kali kita mendapati dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mencela orang-orang yang mengatakan sesuatu namun tidak melakukannya. Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”
(QS. Aṣ-Ṣaff: 2–3)

Karena itulah kebanyakan seruan yang dibawa Al-Qur’anul Karim mendorong kepada amal saleh dan mengajak manusia kepadanya, sebab amal saleh merupakan buah dari iman kepada Allah, Rasul-Nya Muhammad ﷺ, dan hari akhir.

Dengan amal saleh tampaklah makna dua kalimat syahadat dalam bentuk perbuatan dan perilaku. Karena pentingnya amal saleh dalam Islam, banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkannya. Terkadang Al-Qur’an menggandengkannya dengan iman, terkadang menjelaskan balasan baik baginya, dan di tempat lain menegaskan bahwa yang bermanfaat bagi manusia di akhirat hanyalah amal-amal saleh. Allah Ta‘ālā juga menjelaskan bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakannya dan menegakkannya.

Allah Ta‘ālā berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Naḥl: 97)

Bintusy Syathi’ rahimahallah menyebutkan bahwa amal saleh digandengkan dengan iman pada tujuh puluh lima tempat dalam Al-Qur’anul Karim. Banyak ayat yang menjelaskan buah dan balasan baik yang diperoleh seorang hamba apabila mengerjakannya, yaitu pahala yang besar dan ganjaran agung dari Allah Ta‘ālā.

Pembahasan tentang amal saleh dalam Al-Qur’an secara umum terdapat pada sekitar dua ratus ayat. Demikian pula dalam sunnah Nabi ﷺ terdapat banyak hadis yang tidak mungkin dihitung jumlahnya dalam menjelaskan amal saleh, pentingnya, dan keutamaannya.

‘Aisyah binti asy-Syāṭi’, At-Tafsīr al-Bayānī lil-Qur’ān al-Karīm (cetakan ketujuh), Kairo: Dār al-Ma‘ārif, jilid 2, halaman 86, dengan sedikit penyesuaian.

Itu baru secara global. Adapun pembahasan amal saleh secara rinci, beserta cabang-cabang, jenis-jenis, dan buah-buahnya, maka tidak dapat dihitung dan dibatasi, karena sebagian besar kandungan Al-Kitab dan As-Sunnah berbicara tentang hal tersebut.

Yang termasuk amal saleh adalah seluruh amal dan ketaatan yang dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ālā, serta seluruh perbuatan baik yang membawa perbaikan bagi manusia.

Contoh-contoh amal saleh sangat banyak dan tidak mungkin dibatasi, seperti berbakti kepada kedua orang tua, memuliakan anak yatim, berinfak di jalan Allah untuk fakir miskin, menyambung silaturahmi, dan selainnya.

Banyak contoh amal saleh disebutkan dalam berbagai surah Al-Qur’an, seperti Surah Al-Isrā’, Al-An‘ām, dan ayat-ayat lainnya yang mendorong untuk melakukan kebaikan, menjelaskan keutamaannya bagi pelakunya, serta melarang perbuatan buruk dan perkara-perkara haram.

Di antara amal saleh yang paling banyak dianjurkan Al-Qur’anul Karim adalah shalat, karena shalat menghasilkan ruhaniyah, hubungan yang kuat dengan Allah, dan ketenangan bagi seorang hamba, serta menjauhkannya dari kemungkaran. Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)

Demikian pula zakat, karena zakat menghasilkan berbagai keutamaan besar yang manfaatnya kembali kepada individu maupun masyarakat. Allah Ta‘ālā berfirman:

﴿ خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا ﴾
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Kadang ayat-ayat itu menjelaskan bahwa amal-amal saleh menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa dan diampuninya kesalahan-kesalahan, serta bahwa kerugian pasti menimpa manusia kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Semua ini menunjukkan kepada kita, melalui penelaahan ayat-ayat Al-Qur’an, betapa besar perhatian dan kepedulian Al-Qur’an terhadap amal saleh, serta petunjuk kepada bentuk-bentuk dan sarana-sarananya.

Berikut beberapa nash yang menunjukkan makna-makna tersebut:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ ﴾
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Ar-Ra‘d: 29)

Dan firman-Nya:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Kahfi: 30)

Dan firman-Nya:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.”
(QS. Al-Kahfi: 107)

Dan firman-Nya:

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Naḥl: 97)

Dan firman-Nya:

﴿ وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا ﴾
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya.”
(QS. Maryam: 76)

Dan firman-Nya:

﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sungguh Kami akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memberi balasan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 7)

Dan firman-Nya:

﴿ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴾
“Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta akan mengganti rasa takut mereka menjadi keamanan. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.”
(QS. An-Nūr: 55)

Dan firman-Nya:

﴿ إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ ﴾
“Sesungguhnya Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari ketika para saksi berdiri.”
(QS. Ghāfir: 51)

Dan firman-Nya:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Rabb mereka akan memberi petunjuk kepada mereka karena iman mereka. Mengalir di bawah mereka sungai-sungai di dalam surga-surga kenikmatan.”
(QS. Yūnus: 9)

Dan firman Allah:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan bagi mereka rasa kasih sayang.”
(QS. Maryam: 96)

Dan firman-Nya:

﴿ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ﴾
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
(QS. Al-Baqarah: 25)

Dan firman-Nya:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ * وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ ﴾
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik serta diberi petunjuk menuju jalan Allah Yang Maha Terpuji.”
(QS. Al-Ḥajj: 23–24)

Dan firman Allah:

﴿ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ﴾
“Agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang kafir.”
(QS. Ar-Rūm: 45)

Dan firman-Nya تعالى:

﴿ أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلًا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat tinggal sebagai hidangan karena apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 19)

Dan firman-Nya:

﴿ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴾
“Agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka itulah yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.”
(QS. Saba’: 4)

Dan firman-Nya:
﴿ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ ﴾
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Mā’idah: 9)

Dan firman-Nya:

﴿ وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Beragamnya Amal Saleh

Amal-amal saleh itu sangat banyak. Amal saleh mencakup seluruh perkara yang diperintahkan Allah Ta‘ālā, baik yang wajib maupun yang dianjurkan, berupa ibadah maupun muamalah. Jika seorang muslim melaksanakannya dengan memperhatikan ketaatan kepada Rabbnya, tunduk kepada syariat-Nya, dan mengharap wajah Allah, maka ia termasuk orang-orang yang memiliki amal saleh.

Di antara amal saleh yang paling utama adalah ibadah-ibadah yang disebutkan dalam hadis Jibril, yaitu: shalat, zakat, puasa, dan haji. Semua itu merupakan rukun-rukun Islam yang sama sekali tidak boleh diremehkan ataupun dikurangi kedudukannya.

Kita telah melihat sebagian pengaruh ibadah dalam seruan Al-Qur’an sebelumnya yang memerintahkan penegakan ibadah dalam berbagai bentuk dan macamnya. Hal itu karena berbagai ibadah memiliki pengaruh yang jelas terhadap perilaku seseorang. Ibadah-itulah yang menyucikan jiwanya, menambah pengawasannya kepada Rabbnya dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, serta menumbuhkan rasa takut kepada-Nya. Dengan demikian, seseorang akan tercegah dari maksiat dan dari menyakiti manusia, serta terdorong untuk bersegera melakukan kebaikan.

Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat akan menjadi bahagia apabila jumlah orang-orang saleh dan orang-orang yang takut kepada Allah di dalamnya semakin banyak. Kebaikan pun akan bertambah, sedangkan kadar keburukan dan kejahatan akan semakin berkurang.

Seorang muslim hendaknya memperhatikan beberapa perkara dalam masalah amal-amal saleh, di antaranya:

1. Bersegera melakukannya

Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

﴿ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴾
“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”
(QS. Āli ‘Imrān: 133)

Dan firman-Nya تعالى:

﴿ سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ﴾
“Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.”
(QS. Al-Ḥadīd: 21)

Sebagaimana pula firman Allah Ta‘ālā tentang Nabi Musa عليه السلام:

﴿ وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى ﴾
“Dan aku bersegera datang kepada-Mu wahai Rabbku agar Engkau ridha.”
(QS. Ṭāhā: 84)

Dan firman-Nya tentang Nabi Zakariya عليه السلام dan keluarganya:

﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴾
“Sesungguhnya mereka dahulu bersegera dalam kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, serta mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiyā’: 90)

2. Terus-menerus melakukannya disertai kesungguhan

Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

﴿ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴾
“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana diperintahkan, demikian pula orang-orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Hūd: 112)

Demikian pula kesungguhan para wali Allah dalam ibadah mereka, sebagaimana firman-Nya:

﴿ إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ * تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴾
“Sesungguhnya yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya mereka tersungkur bersujud dan bertasbih memuji Rabb mereka serta tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. As-Sajdah: 15–16)

Dan firman-Nya:

﴿ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ * وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴾
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampun. Dan pada harta-harta mereka ada hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 17–19)

Dan firman-Nya:

﴿ وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا ﴾
“Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk Rabb mereka dengan bersujud dan berdiri.”
(QS. Al-Furqān: 64)

3. Mengharap diterimanya amal disertai rasa takut tidak diterima

Sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan sementara hati mereka penuh rasa takut.”
(QS. Al-Mu’minūn: 60)

Dan firman-Nya Ta’ala:

﴿ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Mā’idah: 27).

Buah-Buah Amal Saleh

Sesungguhnya amal saleh memiliki banyak buah dan pengaruh yang agung. Di antara buah-buah tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Amal saleh menjadi sebab bertambahnya ketakwaan dan keimanan. Semakin banyak amal saleh yang dilakukan, semakin bertambah pula iman seorang hamba, karena amal termasuk bagian dari iman. Agar suatu amal menjadi baik dan diterima, harus ada keikhlasan niat dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dalam pelaksanaannya.

Kedua: Amal-amal memiliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai jenis, kedudukan, dan keutamaannya. Amal wajib lebih utama daripada amal sunnah, dan sebagian amal lebih utama daripada amal lainnya dalam pahala dan ganjaran. Semakin utama suatu amal, semakin besar pula bertambahnya iman seorang hamba.

Ketiga: Amal saleh menjadi sebab bertambah kuatnya hubungan seorang hamba dengan Rabbnya dan semakin dekatnya ia kepada-Nya.

Keempat: Amal saleh juga menjadi sebab seorang hamba memperoleh kemuliaan, kekuatan, kedudukan yang tinggi, dan derajat yang luhur di sisi Allah Ta‘ālā pada hari kiamat.

Kelima: Amal saleh yang disertai niat yang baik menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam surga. Orang yang banyak melakukan amal saleh dan terus-menerus menjaganya akan diberi taufik oleh Allah Ta‘ālā untuk mendapatkan husnul khatimah.

Keenam: Amal saleh memberikan kepada pelakunya rasa nikmat dan kelezatan yang tidak membuatnya bosan. Seorang hamba akan selalu bersemangat untuk menambah amal salehnya terus-menerus. Sebab dari perasaan tersebut adalah karena amal saleh mendekatkan seorang hamba kepada Penciptanya, berbeda dengan kesibukan mengejar urusan dunia yang sering kali menimbulkan kebosanan dan hilangnya kenikmatan.

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button