Esensi Pemahaman Salaf Saleh

110

Semangat untuk mengikuti pemahaman salaf saleh di kalangan umat Islam hari ini merupakan fenomena yang sangat menggembirakan. Slogan merujuk kepada Al- Qur`ān dan Sunnah berdasarkan pemahaman salaf saleh tidak asing lagi di kalangan aktifis dakwah. Hingga istilah “Ngaji Sunnah” pun tidak ketinggalan dalam ungkapan dan perbincangan orang-orang yang ingin meniti jalan keselamatan yang dijanjikan oleh Nabi shallahu alaihi wasallam. Sayangnya, istilah “pemahaman salaf” masih banyak yang belum mengerti esensinya. Kadang pemahaman satu atau dua atau segelintir orang di kalangan salaf terhadap suatu nas Al-Qur`ān atau hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam digeneralisir menjadi pemahaman salaf. Sementara di sisi lain, sebagian salaf atau bahkan jumhur salaf memiliki pemahaman atau pendapat yang menyelisihi pemahaman tersebut. Artikel ini berusaha untuk menyorot esensi pemahaman salaf terhadap nas Al-Qur`ān dan Sunnah Nabi shalllahu alaihi wasallam untuk mengenal kapan pemahaman itu dapat dipandang sebagai pemahaman salaf dan kapan dipandang sebagai pemahaman seorang salaf atau sebagian salaf yang tidak dapat digeneralisir.

Etimologi Pemahaman dan Salaf

Pemahaman salaf merupakan rangkaian dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu al-fahm dan as-salaf. Keduanya telah diadobsi menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia dan dapat ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

Dalam KBBI, kata paham diartikan sebagai antara lain; pengertian, pendapat, pikiran, aliran, haluan, pandangan, mengerti benar akan sesuatu, tahu benar akan sesuatu, dan semacamnya. Sedang kata salaf diartikan sebagai; sesuatu atau orang-orang terdahulu atau ulama-ulama terdahulu yang saleh.

Masing-masing arti kedua kata yang dikemukakan dalam KBBI tersebut tidak jauh beda dengan pengertian umumnya dalam bahasa Arab. Dalam inseklopedi Mu’jam Maqayis al-Lugah karya Ibn Faris, kata fa-ha-m yang dirangkai dari huruf ف – – ھـ dan م juga diartikan dengan pengetahuan akan sesuatu hal. Arti yang sama juga ditemukan dalam beberapa kitab tafsir. Dalam tafsir Al-Bagawiy misalnya, dikemukakan arti dari firman Allah:

{ ﻓَﻔَﮭﱠﻤْﻨَﺎھَﺎ } ﺳُﻠَﯿْﻤَﺎنَ sebagai ﻋﻠﻤﻨﺎه اﻟﻘﻀﯿﺔ وأﻟﮭﻤﻨﺎھﺎ ﺳﻠﯿﻤﺎن (Kami telah memberikan pengertian dan ilham kepada Sulaiman tentang hukum tersebut).

Sedang kata salaf di dalam bahasa Arab, antara lain di artikan sebagai orang-orang terdahulu yaitu orang-orang yang mendahului Anda. Dengan demikian secara etimologi, kata salaf dalam bahasa Arab tidak berbeda maknanya dalam KBBI.

Terminologi Salaf

Dengan pendekatan historis dan berdasar kepada sabda Nabi yang artinya: “Sebaikbaik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, lalu generasi berikutnya”, terminologi salaf atau salaf salih dimaksudkan sebagai generasi sahabat, tabiin dan atbā’ tabiin. Yaitu tiga generasi awal Islam.

Dengan demikian secara sederhana, pemahaman salaf dapat dikatakan pemahaman sahabat, pemahaman tabiin, pemahaman atbā’ tabiin. Atau diungkapkan dengan pemahaman sahabat, tabiin dan atbā’ tabiin.

Hakikat Pemahaman Salaf

Dalam memahami nas-nas Al-Qur`ān dan Sunnah, ada kalanya para salaf menyepakati suatu pemahaman darinya; ada kalanya mayoritasnya saja yang menyepakati suatu pemahaman. Terkadang juga, sebagian mereka mengungkapkan dan menyebarkan suatu pemahaman dari suatu nas tertentu secara meluas lalu tidak ditemukan satu pun di antara mereka yang menyelisihi paham yang menyebar tersebut, sehingga dipandang sebagai konsensus mereka.

Semua kondisi tersebut dipandang sebagai pemahaman salaf terhadap nas. Karenanya Prof. Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaijiy dalam risetnya yang berjudul: Fahm alSalaf al-Shalih li al-Nushush al-Syar’iyyah wa al-Radd ‘ala al-Syubuhuhat haulahu mendefinisikan istilah pemahaman salaf sebagai: “Apa yang diketahui, dipahami dan disimpulkan oleh para sahabat, tabiin dan atbā’ tabiin dari keseluruhan nas-nas syariat atau sebagiannya sebagai sesuatu yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya di dalamnya, terkait dengan segala permasalahan agama yang bersifat teoritis ataupun praktis, dan sampai kepada kita, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun taqrir (persetujuan) mereka.”

Jadi, pemahaman salaf adalah apa yang mereka pahami sebagai sesuatu yang dimaksudkan Allah atau Rasul-Nya dari suatu nas. Tentu landasan mereka dalam mendeteksi maksud Allah dalam firman-Nya adalah apa yang mereka saksikan dari praktik dan penjelasan Rasulullah dalam mengamalkan dan menafsirkan Al-Qur`ān.

Adapun pemahaman hasil ijtihad individu sahabat atau tabiin dari suatu nas, atau dalam menjelaskan hukum tertentu, atau menafsirkan nas yang mereka perselisihkan dan menghasilkan pendapat yang beragam, atau pendapat mereka tidak dikenal, atau pendapat mereka keliru, maka semua itu hanya dipandang sebagai pemahaman sebagian salaf dan tidak dapat dikatakan atau digeneralisir sebagai pemahaman salaf secara mutlak.

Dengan demikian maka pemahaman salaf dapat diartikan sebagai “Apa yang diketahui, dipahami dan disimpulkan oleh keseluruhan atau mayoritas para sahabat, tabiin dan atbā’ tabiin dari keseluruhan atau sebagian nas-nas syariat sebagai sesuatu yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya di dalam nas tersebut”.

Konsekuensi dari Pemahaman Salaf Terhadap Nas-nas Syariat

Karena esensi pemahaman salaf adalah apa yang diinginkan dan dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya dari nas-nas syariat, baik yang bersifat akidah, teori maupun amaliah, maka perlu ditegaskan bahwa;

1. Semua keyakinan yang diyakini oleh para sahabat, tabiin dan atbā’ tabiin terkait tentang Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul, hari akhir, takdir dan semua prinsip dasar agama, maka keyakinan tersebut mereka
bangun di atas apa yang mereka pahami dari nas-nas Al-Qur`ān dan Sunnah sebagai hal yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalamnya.

2. Semua keyakinan yang menyelisihi keyakinan mereka maka keyakinan tersebut bertentangan dengan apa yang mereka pahami dari nas-nas Al-Qur`ān dan Sunnah. Dan bahwa keyakinan tersebut tidak dimaksudkan dan diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya menurut mereka.

3. Semua amal ibadah yang dilakukan oleh mereka, maka amalan tersebut dibangun di atas pemahaman mereka terhadap dali-dalil syariat yang terkait dengannya. Dan bahwa hal tersebut merupakan amalan yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya menurut mereka.

4. Semua amal ibadah yang bertentangan dengan amalan mereka, maka amalan tersebut bertentangan dengan apa yang mereka pahami dari nas-nas syariat yang terkait dengannya. Dan bahwa amalan tersebut tidak dimaksudkan dan diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya menurut mereka.

5. Semua keyakinan dan amal ibadah yang ditinggalkan oleh salaf saleh, padahal terdapat faktor yang mengharuskan mereka meyakini dan mengamalkannya, maka amal dan keyakinan tersebut tidak termasuk di antara kandungan nas-nas syariat menurut pemahaman mereka. Dan bahwa keyakinan dan amah ibadah tersebut tidak temasuk yang diinginkan dan diperintahkan Allah dan RasulNya menurut mereka. Ia tidak termasuk bagian dari agama, bahkan termasuk kategori bidah.

Di antara contoh pemahaman sahabat atau salaf saleh terhadap nas-nas Al-Qur`ān dan Sunnah yang menunjukkan ketauhidan dan pengagungan terhadap Allah, dan tidak bolehnya mengalihkan sedikit pun di antara bentuk-bentuk ibadah kepada selain-Nya adalah tidak bolehnya menjadikan orang yang telah wafat -meski ia seorang nabi- sebagai perantara antara seseorang dengan Allah dalam beribadah dan berdoa kepadaNya. Hal ini tergambar dalam perkataan dan doa Umar bin Khattab di hadapan para sahabat saat melakukan salat Istiska (salat minta hujan). Anas bin Malik radhyallahu anhu menuturkan bahwa, “Jika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan maka Umar bin Khatthab meminta kepada Paman Nabi, Abbas bin Abdul Mutthalib berdoa meminta hujan. Kemudian Umar juga berdoa dan membaca:

اﻟﻠﱠﮭُﻢﱠإِﻧﱠﺎ ﻛُﻨﱠﺎ ﻧَﺘَﻮَﺳﱠﻞُ إِﻟَﯿْﻚَ ﺑِﻨَﺒِﯿﱢﻨَﺎ ﺻَﻠﱠﻰ ﷲُ ﻋَﻠَﯿْﮫِ وَﺳَﻠﱠﻢَ ﻓَﺘَﺴْﻘِﯿﻨَﺎ، وَإِﻧﱠﺎ ﻧَﺘَﻮَﺳﱠﻞُ إِﻟَﯿْﻚَ ﺑِﻌَﻢﱢ ﻧَﺒِﯿﱢﻨَﺎ ﻓَﺎﺳْﻘِﻨَﺎ

“Ya Allah, sungguh dahulu kami bertawasul meminta hujan kepada-Mu dengan Nabi kami shallallahu alaihi wasallam dan Engkau berkenan menurunkan hujan kepada kami. Dan sungguh kini kami bertawasul meminta hujan kepada-Mu dengan doa paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami”. Maka turunlah hujan kepada mereka. (HR. Bukhari).

Cara Umar bin Khattab bertawasul dengan meminta kepada Abbas bin Abdul Mutthalib untuk berdoa meminta hujan setelah Rasulullah wafat yang diikuti oleh para sahabat lainnya merupakan pemahaman sahabat terhadap keseluruhan nas akidah akan tidak bolehnya bertawasul dengan orang yang telah wafat. Termasuk tidak bolehnya bertawasul dan minta doa kepada Nabi shallalahu alaihi wasallam setelah wafatnya.

Karena, sekiranya mereka memahami boleh bertawasul dan minta doa kepada orang yang telah wafat maka niscaya Umar atau sahabat lainnya pasti bertawasul dengan Nabi saat berdoa, karena Nabi jauh mulia dan lebih makbul doanya di sisi Allah dari pamannya Abbas bin Abdul Mutthalib dan siapa pun selain Nabi. Beralihnya para sahabat dari bertawasul dan meminta doa kepada Nabi setelah wafatnya kepada Abbas bin Abdul Mutthalib menunjukkan bahwa mereka memahami dari keseluruhan nas-nas akidah tentang tidak bolehnya bertawasul dan meminta doa kepada semua orang yang telah wafat.

Contoh lainnya adalah menerima dan menetapkan semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur`ān atau disebutkan oleh Rasulullah di dalam Sunnahnya sesuai makna lahir nasnya, tanpa menolak atau menakwilkannya adalah merupakan pemahaman para sahabat.

Mereka memahami dan menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan makna lahirnya, tanpa menolak dan menakwilkannya. Mereka tidak memandang bahwa menetapkan sifat-sifat Allah sesuai makna lahir dari nas Al-Qur`ān dan Sunnah berkonsekuensi pada tasybīh ataupun tajsīm. Meyakini bahwa menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan lahirnya berkonsekuensi tasybīh atau tajsīm sehingga harus ditakwilkan merupakan keyakinan yang bertentangan dengan pemahaman mereka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.