Cara Terbaik Menghadapi Cobaan Allah

224

Dalam kehidupan ini kita sering merasakan dua kondisi yang berbeda, bisa saja 12 jam yang pertama kita merasakan suasana senang penuh kegembiraan lalu 12 jam selanjutnya kita merasakan suasana sedih penuh kegundahan, atau mungkin saja hari kemarin kita merasakan kesenangan, tapi hari ini kita merasakan sebaliknya.

Dua keadaan ini akan selalu menyertai kehidupan kita, karena keduanya adalah bentuk ujian yang datang dari Allah yang akan datang silih berganti seiring waktu hidup kita di dunia ini, hingga ajal kita datang menjemput, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala: {Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami} (Q.S Al-Anbiya: 35).

Dua keadaan ini tidak mudah dilalui kecuali oleh orang-orang yang beriman secara hakiki, karena ketika orang beriman diuji dengan kondisi buruk dia akan bersabar, dan kesabarannya itu mendatangkan pahala dari Allah. Sebaliknya, saat dia diuji dengan kebaikan maka dia akan bersyukur dan kesyukurannya itu mendatangkan pahala juga dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam:

“ﻋَﺟَﺑًﺎ ﻷِﻣْرِ اﻟﻣُؤْﻣِنِ، إِنﱠ أَﻣْرَهُ ﻛُﻠﱠﮫُ ﺧَﯾْرٌ وَﻟَﯾْسَ ذَاكَ ﻷَِﺣَدٍ إِﻻﱠ ﻟِﻠْﻣُؤْﻣِنِ إِنْ أَﺻَﺎﺑﺗْﮫُ ﺳَرﱠاءُ ﺷَﻛَرَ ﻓَﻛَﺎنَ ﺧَﯾْرًا ﻟَﮫُ وَإِنْ أَﺻَﺎﺑَﺗْﮫُ ﺿَرﱠاءُ ﺻَﺑَرَ ﻓَﻛَﺎنَ ﺧَﯾْرًا ﻟَﮫُ” ) رواه ﻣﺳﻠم(

Artinya: “Begitu menakjubkan perkara orang yang beriman, sungguh setiap perkaranya, seluruhnya adalah kebaikan, dan tidak diberikan perkara seperti itu kepada siapa pun kecuali kepada orang yang beriman, saat dia ditimpa kebaikan dia bersyukur maka syukurnya itu mendatangkan kebaikan (pahala) baginya dan saat dia diterpa keburukan dia bersabar dan sabarnya itu mendatangkan kebaikan (pahala) baginya.” (H.R Muslim).

Maka sebagai orang yang beriman, saat kita mendapatkan kebaikan, sepantasnya kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala karena seluruh kenikmatan yang kita dapatkan, semuanya datang dari Allah ‘azza wajalla, Allah berfirman: {Dan segala nikmat yang ada padamu( datangnya) dari Allah} (Q.S An-Nahl: 53).

Saat seorang hamba bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadanya niscaya Allah akan menambah nikmat-Nya namun jika hamba itu mengingkari (tidak mensyukuri-Nya) maka baginya azab yang berat dari-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman: {Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat} (Q.S Ibrahim: 7 )

Dan Allah juga akan memberikan ganjaran pahala kepada orang yang bersyukur di akhirat kelak, sebagaimana firman-Nya: {Allah akan memberi balasan (pahala) kepada orang yang bersyukur} (Q.S Al-Imran: 144).

Bersyukur kepada Allah tidak akan terwujud kecuali kita melaksanakan tiga rukunnya sebagaimana yang dijelaskan oleh syekh Shalih Al- Fauzan dalam khutbahnya: “Syukur itu tidak akan terwujud kecuali melaksanakan tiga rukunnya: rukun yang pertama adalah membicarakan kenikmatan itu secara terang-terangan sebagaimana yang Allah terangkan
dalam firman-Nya: {Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)} (Q.S Adh-Dhuha: 11), yaitu dengan mengabarkan bahwa nikmat ini datang dari Allah sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Rukun yang kedua adalah hendaknya engkau mengakui dalam hatimu bahwa kenikmatan yang kamu peroleh datang dari Allah subhanahu wata’ala, bukan karena kemampuan atau kekuatanmu, akan tetapi merupakan keutamaan dari Allah untukmu. Rukun yang ketiga adalah engkau menjadikan kenikmatan yang kau peroleh untuk memudahkanmu dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah bukan untuk memaksiati Allah ‘azza wajalla.”

Orang yang bersyukur sungguh dia telah mensyukuri dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala: {Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri} (Q.S Lukman: 12)

Namun, saat kita mendapatkan musibah berupa keburukan maka sebagai orang beriman wajib bagi kita untuk bersabar, karena keburukan itu adalah bentuk cobaan dari Allah ‘azza wajalla sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 35 di atas. Juga dalam menghadapi keburukan itu Allah memerintahkan kita untuk meminta pertolongan melalui kesabaran dan shalat, sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla: {Dan Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan ( shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk} (Q.S Al- Baqarah: 45).

Adapun bentuk keburukan yang Allah ujikan, maka telah Allah subhanahu wata’ala kabarkan dalam firman-Nya: {Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan( masa paceklik). Dan Sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang- orang yang bersabar} (Q.S Al-Baqarah: 154).

Seseorang dikatakan bersabar jika dia sesuai dengan kriteria yang Al-Quran gambarkan dalam firman Allah ‘azza wajalla: {Yaitu orang- orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)} (Q.S Al-Baqarah ayat 156). Juga sifat sabar itu dinilai saat awal musibah datang menimpa, bukan saat musibah itu telah berlalu sebagaimana sabda Rasulullah shallahu’alaihi wasallam:

“إِﻧﱠﻣَﺎ اﻟﺻﱠﺑْرُ ﻋِﻧْدَ اﻟﺻﱠدْﻣَﺔِ اﻷُوْﻟَﻰ”

Artinya: “Sesungguhnya sabar itu dinilai saat musibah pertama kali menimpa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cobaan yang Allah berikan kepada kita telah Allah tetapkan dan harus terjadi sebab telah dituliskan di Lauh Mahfudzh, Allah subhanahu wata’ala berfirman: {Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah} (Q.S Al-Hadid: 22).

Cobaan berupa musibah atau keburukan akan senantiasa menyertai hamba-hamba Allah sampai mereka berjalan di atas muka bumi ini dalam kondisi dosa-dosanya telah dihapuskan. Dalam suatu hadis disebutkan:

“ﺳُﺋِلَ اﻟﻧﱠﺑِﻲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم: أي اﻟﻧﺎس أﺷد ﺑﻼء؟! ﻗﺎل: اﻷﻧﺑﯾﺎء ﺛم اﻷﻣﺛﺎل ﻓﺎﻷﻣﺛﺎل، ﯾُﺑْﺗﻠﻰ اﻟرﺟل ﻋﻠﻰ ﺣﺳب دﯾﻧﮫ؛ ﻓﺈن ﻛﺎن ﻓﻲ دﯾﻧﮫ ﺻُﻠْﺑًﺎ اﺷﺗد ﺑﻼؤه وإن ﻛﺎن ﻓﻲ دﯾﻧﮫ رِﻗﱠﺔ ھُوﱢنَ ﻋﻠﯾﮫ، ﻓﻣﺎ ﯾزال ﻛذﻟك، ﺣﺗﻰ ﯾﻣﺷﻲ ﻋﻠﻰ اﻷرض ﻣﺎ ﻟﮫ ﻣن ذﻧبٍ”

Artinya: “Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Manusia siapakah yang paling berat ujiannya (cobaannya)?”. Beliau bersabda, “Para nabi kemudian semisalnya dan semisalnya, seseorang diuji sesuai kadar keimanannya; apabila imannya kuat atau kokoh maka ujiannya akan diperberat dan apabila imannya lemah maka akan diringankan ujiannya, dan dia terus diuji seperti itu sampai dia berjalan di atas muka bumi sedangkan dia tidak punya dosa.” (HR. Tirmizi).

Bagi orang yang bersabar dalam tiap cobaan, Allah menjanjikan baginya pengampunan dan rahmat juga hidayah yang akan selalu menyertainya, Allah ‘azza wajalla berfirman tentang mereka yang bersabar: {Mereka itulah yang memeproleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah yang mendapatkan petunjuk( hidayat)} (Q.S AlBaqarah: 156).

Sedangkan di akhirat Allah akan memberikan ganjaran pahala yang tanpa batas bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar dalam tiap ujian atau cobaan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya: {Hanya orang- orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas} (Q.S Az- Zumar: 10).

Sebab itu, sudah seharusnya kita sebagai seorang hamba Allah ‘azza wajalla menjadikan syukur dan sabar sebagai dua kunci dalam menghadapi ujian atau cobaan dari Allah subhanahu wata’ala, karenanya kita harus membagi hati kita menjadi dua bagian yang sama, setengah hati kita untuk bersyukur dan setengahnya lagi untuk bersabar.

Demikianlah, semoga Allah ‘azza wajalla menjadikan kita sebagai hamba yang bersyukur ketika diberi kenikmatan dan hamba yang bersabar saat ditimpa musibah atau cobaan. Wallaahu a’lam.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.