Dalil-dalil Kehujahan Pemahaman Salaf Terhadap Nas (1)

150

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman Salaf Saleh terhadap nas-nas syariat. Dalil-dalil tersebut telah dituangkan oleh para ulama dan para peneliti dalam karya-karya mereka. Baik karya-karya yang secara spesifik membahas tentang hal tersebut ataupun karya-karya umum yang multi pembahasan.

Dalam kitab I’lamul-Muwaqqi’in, Imam Ibnul-Qayyim antara lain menyebutkan setidaknya 46 dalil tentang kewajiban mengikuti sahabat. Sedang Dr. Usman bin Ali Hasan dalam tesisnya yang berjudul “Manhaj al-Istidlal ‘ala Masail al-I’tiqad ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah”, selain menyebutkan dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah, juga mengemukakan dalil Ijmak, Atsar para ulama, juga menyebutkan dalil logika dan fitrah. Demikian juga, Prof. Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaijiy, tidak luput mengemukakan sejumlah dalil dari Al-Quran, Sunnah, atsar para ulama, logika dan fitrah manusia dalam salah satu jurnalnya yang telah dibukukan dengan judul “Fahm as-Salaf ash-Shalih li an-Nusush asy-Syar’iyyah wa ar-Radd ‘ala asy-Syubuhat Hawlahu”.

Dalam artikel ini, akan dikemukakan sebagian di antara dalil-dalil Al-Quran dan sunnah yang menunjukkan kehujahan pemahaman salaf dan wajibnya mengikuti pemahaman mereka.

Pertama, dalil-dalil Al-Quran:

  1. Allah berfirman:

{وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة: 100]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 10).

Secara gamblang ayat ini memuji orang-orang yang mengikuti kalangan Muhajirin dan Ansar dari para sahabat. Pengikutan terhadap para sahabat mencakup pengikutan terhadap aqidah dan amal yang dibangun di atas pemahaman mereka terhadap nas Al-Quran dan sunnah.

Ibnul-Qayyim menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil bagi Imam Malik atas wajibnya mengikuti para sahabat. Lalu beliau mengemukakan sisi pendalilan ayat tersebut atas wajibnya mengikuti mereka, yaitu karena sesungguhnya Allah Ta’ala memuji orang yang mengikuti mereka. Maka apabila mereka mengatakan satu perkataan, lalu ada yang mengikutinya sebelum mengetahui dalilnya, maka dia terhitung sebagai orang yang mengikuti sahabat. Dia menjadi terpuji dengan itu, dan berhak mendapatkan rida Allah, walaupun dia mengikuti sahabat semata-mata dengan taklid. (lihat: I’lam al-Muwaqqi’in: 5/556-557).

  1. Allah berfirman:

{فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

[البقرة: 137].

“Maka jika mereka beriman kepada semisal apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 137).

Ayat ini menegaskan bahwa hidayah yang diakui Allah adalah keimanan yang sama seperti keimanan Rasulullah dan para sahabat, sehingga dapat dikatakan bahwa keimanan yang ideal adalah model keimanan mereka. Keimanan tersebut tentunya merupakan hasil dari ilmu dan pemahaman terhadap nas wahyu ilahi.

  1. Allah berfirman:

{وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا}

[النساء 115].

“Dan Siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS. An Nisa’:115).

Orang-orang beriman yang hidup saat ayat ini turun kepada Rasulullah adalah para sahabat, sehingga merekalah orang-orang mukmin yang pertama-tama dimaksudkan ayat ini. Sedang jalan yang dimaksud adalah jalan mereka dalam urusan aqidah dan amalan. (lihat: Tafsir As-Sa’diy). 

Ancaman mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman mengandung perintah mengikuti jalan orang-orang mukmin. Sedang mengikuti jalan mereka bermakna mengikuti amalan dan pendapat hasil konsensus mereka. Sementara amal dan konsensus hanya lahir dari pemahaman. Dengan demikian, maka mengikuti pendapat dan keyakinan mereka berarti mengikuti pemahaman mereka.

Karenanya, ayat ini menjadi dalil bagi para ulama dalam menetapkan kehujahan ijmak/konsensus para sahabat dan bahwa ijmak mereka merupakan hujah yang bersifat pasti. (lihat: Tafsir Ibn Katsir).

  1. Allah berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ}

[التوبة: 119]

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119).

 

Sebagian salaf mengemukakan bahwa yang dimaksud dalam kata ash-shadiqin pada ayat ini adalah para sahabat. (lihat: Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibn Katsir dan I’lam al-Muwaqqi’in karya Ibn Al-Qayyim). Sedang kebersamaan dengan mereka yang diperintahkan dalam ayat ini adalah kebersamaan dalam mengikuti ilmu, pemahaman, pengamalan dan keyakinan.

 

  1. Allah berfirman:

{كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ}

[آل عمران: 110].

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Kelompok yang pertama dan utama masuk dalam pujian sebagai umat terbaik dalam ayat ini adalah para sahabat, karena merekalah yang telah beriman dan mendengarkan ayat ini saat dibacakan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sedang sifat yang mengantarkan mereka meraih pujian tersebut berupa amar makruf, nahi mungkar dan keimanan kepada Allah hanya diraih dengan pemahaman, keyakinan dan amalan. Karakter yang menunjukkan bahwa pemahaman yang meluruskan aqidah dan amalan mereka perlu untuk diikuti oleh generasi setelah mereka.

  1. Allah berfirman:
  2.  

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…}

[البقرة: 143].

 

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat Islam, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kamu…”.  (QS. Al-Baqarah: 143).

 

Seperti halnya dengan ayat di atas bahwa para sahabatlah yang merupakan orang-orang yang pertama dan utama masuk ke dalam pujian ayat ini.

Kedua, dalil-dali Sunnah:

  1. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ …» (متفق عليه)

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian genrasi sesudahnya (yaitu generasi tabiin), kemudian generasi berikutnya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Ibnul-Qayyim, “Nabi Shallallahu alaihi wasallam memberitakan bahwa sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah generasi beliau secara mutlak. Hal tersebut mengharuskan untuk mendahulukan mereka dalam seluruh masalah kebaikan. (lihat: I’lam Al-Muwaqqi’in).

  1. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

«… فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» (أخرجه أبو داوود والترمذي، وأحمد).

“Karena sesungguhnya, siapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi 2676; dan Ahmad).

Hadis ini dengan lugas memerintahkan untuk berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur-Rasyidin. Sedang nas-nas yang berbentuk perintah jika tidak ada indikasi yang mengalihkannya dari fungsi utamanya maka ia besifat wajib. Karenanya hadis ini menjadi dalil utama atas wajibnya mengikuti sunnah mereka dalam pemahaman, ilmu, keyakinan dan pengamalan.

Menurut Ibnul-Qayyim, “Nabi Shallallahu alaihi wasallam menggabungkan sunnah para khalifah dengan Sunnah beliau sendiri. Beliau memerintahkan untuk mengikuti sunnah para khalifah, sebagaimana Beliau memerintahkan untuk mengikuti Sunnahnya. Dalam memerintahkan hal itu, Beliau bersungguh-sungguh, sampai-sampai memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. (Lihat: I’lam Al-Muwaqqi’in).

  1. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

« وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي» (أخرجه الترمذي).

“Dan sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga agama. Mereka semua di dalam neraka, kecuali satu agama.” Mereka bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Siapa saja yang mengikutiku dan mengikuti sahabatku“. (HR. Tirmidzi).

Siapa yang mencari keselamatan dari ancaman neraka di akhirat dan dari perpecahan di dunia maka hendaknya mengikuti sunnah Rasulullah dan para sahabat dalam hal ilmu, pemahaman, keyakinan dan pengamalan. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.