Bagaimana cara Membedakan antara bersabar terhadap takdir dengan ridha terhadapnya?

Bagaimana cara membedakan antara bersabar terhadap takdir buruk/pahit dengan ridha terhadap takdir buruk/pahit, ustadz? Jazakallahu khairan.
Jawaban
*Ada Perbedaan antara Sabar dan Ridha*
Terdapat perbedaan antara sabar dan ridha, baik dalam definisi maupun hukum syar’i.
*1. Dari segi hukum*
Sabar adalah wajib. Jika seseorang tidak bersabar terhadap musibah yang menimpanya, ia berdosa dan membuka dirinya pada hukuman Allah.
Ridha adalah tingkatan yang lebih tinggi daripada sabar, yaitu tingkatan orang-orang yang mendahului dalam kebaikan. Oleh karena itu, ridha bersifat mustahab (disukai), bukan wajib. Seorang muslim tidak berdosa jika belum mencapainya, tetapi ia dituntut untuk berjuang melawan hawa nafsu dan godaan setan agar mencapai tingkat tinggi ini.
*Perkataan para ulama:*
1. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
” الرضا بالمصائب كالفقر والمرض والذل : مستحب في أحد قولي العلماء وليس بواجب ، وقد قيل : إنه واجب ، والصحيح أن الواجب هو الصبر” انتهى .
> “Ridha terhadap musibah seperti kemiskinan, sakit, dan kehinaan adalah mustahab menurut sebagian pendapat ulama dan bukan wajib. Ada yang mengatakan wajib, tetapi yang benar adalah wajibnya sabar.”
(Majmu‘ al-Fatawa, 10/682)
2. Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
” فما يقع من المصائب يستحب الرضا به عند أكثر أهل العلم ولا يجب ، لكن يجب الصبر عليه ” انتهى من ” مجموع فتاوى ابن عثيمين ” (2/92) .
> “Apa pun musibah yang menimpa, ridha padanya disukai oleh mayoritas ulama dan tidak wajib, tetapi sabar atas musibah itu wajib.”
(Majmu‘ Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 2/92)
*2. Dari segi definisi*
Sabar: menahan diri dari melakukan atau mengucapkan sesuatu yang menunjukkan kebencian terhadap takdir Allah atau musibah yang menimpa. Orang sabar menahan lidahnya dari mengeluh kepada selain Allah, hati dari rasa kesal, dan anggota tubuh dari segala yang menunjukkan kegelisahan seperti menampar dada, merobek pakaian, memecahkan benda, memukul kepala ke dinding, dan sejenisnya.
> Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
” الصبر : حبس اللسان عن الشكوى الى غير الله ، والقلب عن التسخط ، والجوارح عن اللطم وشق الثياب ونحوها ” انتهى .
“Sabar adalah menahan lidah dari mengeluh kepada selain Allah, hati dari kesal, dan anggota tubuh dari menampar, merobek pakaian, dan semisalnya.”
(‘Uddat al-Sabirin, hlm. 231)
*Ridha: adalah sabar ditambah tingkatan lebih tinggi.* Orang yang ridha bersabar tetapi juga merasa puas dengan takdir Allah, sehingga tidak merasakan sakit hati terhadap musibah yang menimpanya.
> Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
“الصبر : يتألم الإنسان من المصيبة جدا ويحزن ، ولكنه يصبر ، لا ينطق بلسانه ، ولا يفعل بجوارحه ، قابض على قلبه ، موقفه أنه قال : ( اللهم أجرني في مصيبتي، وأخلف لي خيرا منها ) ، ( إنا لله وإنا إليه راجعون ) …
الرضا : تصيبه المصيبة ، فيرضى بقضاء الله .
والفرق بين الرضا والصبر : أن الراضي لم يتألم قلبه بذلك أبدا ، فهو يسير مع القضاء ( إن إصابته ضراء صبر فكان خيرا له ، وإن أصابته سراء شكر فكان خيرا له ) ، ولا يرى الفرق بين هذا وهذا بالنسبة لتقبله لما قدره الله عز وجل ، أي إن الراضي تكون المصيبة وعدمها عنده سواء ” انتهى من ” مجموع فتاوى ابن عثيمين ” (3/206) .
“Sabar: seseorang tetap merasa sedih dan sakit hati atas musibah, tetapi ia bersabar, tidak mengucapkan keluhan, dan menahan anggota tubuhnya. Ia berkata: ‘Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha’ (‘Ya Allah, ganti musibahku dengan yang lebih baik’) dan ‘Inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un’.
Ridha: seseorang terkena musibah, tetapi sepenuhnya ridha dengan takdir Allah. Perbedaannya: hati orang yang ridha tidak merasakan kesedihan sama sekali, sehingga ia menerima takdir Allah seperti menerima nikmat; musibah maupun kebaikan dianggap sama karena ridha terhadap ketetapan Allah.”
(Majmu‘ Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 3/206)
*3. Tentang perasaan dan kesulitan*
Seseorang masih boleh merasakan kesedihan dan tidak kuat menahan musibah, selama lidah, hati, dan anggota tubuhnya tetap menahan diri dari protes atau keluhan. Ini tidak membatalkan sabar. Sebagian besar sabar terjadi bersamaan dengan kesulitan, keletihan, dan cobaan.
*Sedangkan orang yang ridha* tidak merasakan kesedihan atau sakit hati, karena ia yakin Allah hanya memilih yang terbaik untuknya dan bersikap puas terhadap takdir Allah dengan hati yang tenteram.
> Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“الصبر مثل اسمه مر مذاقته … لكن عواقبه أحلى من العسل
فيرى الإنسان أن هذا الشيء ثقيل عليه ويكرهه ، لكنه يتحمله ويتصبر ، وليس وقوعه وعدمه سواء عنده ، بل يكره هذا ، ولكن إيمانه يحميه من السخط .
والرضا ، وهو أعلى من ذلك ، وهو أن يكون الأمران عنده سواء بالنسبة لقضاء الله وقدره ، وإن كان قد يحزن من المصيبة ؛ لأنه رجل يسبح في القضاء والقدر ، أينما ينزل به القضاء والقدر فهو نازل به على سهل أو جبل ، إن أصيب بنعمة ، أو أُصيب بضدها ، فالكل عنده سواء ، لا لأن قلبه ميت ، بل لتمام رضاه بربه سبحانه وتعالى يتقلب في تصرفات الرب عز وجل ، ولكنها عنده سواء ، إذ ينظر إليها باعتبارها قضاء لربه” انتهى من ” مجموع فتاوى ابن عثيمين ” (10/692) .
“Sabar seperti namanya, rasanya pahit, tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Orang melihat sesuatu itu berat dan tidak disukai, tetapi ia menahan diri dan bersabar. Ridha lebih tinggi, yaitu saat seseorang menerima segala sesuatu sama rata sesuai ketetapan Allah, meski ia mungkin sedih, tetapi ia sepenuhnya tunduk kepada ketentuan Allah.”
(Majmu‘ Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 10/692)
*4. Tingkatan tertinggi: Syukur*
Tingkatan lebih tinggi dari ridha adalah syukur, yaitu bersyukur kepada Allah atas musibah dan kesulitan yang menimpa, karena menyadari bahwa musibah itu sebenarnya merupakan nikmat dari Allah.
*Cara mencapai tingkatan sabar → ridha → syukur:*
*1. Menyadari pilihan Allah adalah terbaik.*
> Nabi ﷺ bersabda:
( مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ) رواه الترمذي ، وصححه الألباني في ” سنن صحيح الترمذي ” .
“Ajaibnya urusan seorang mukmin, semua urusannya baik. Jika mendapat kebaikan, ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapat musibah, ia bersabar, itu baik baginya.”
(HR. Muslim 2999)
*2. Merenungi musibah sebagai penebus dosa, hingga seseorang bertemu Allah dalam keadaan bersih dari kesalahan.*
> Nabi ﷺ bersabda:
( مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ) رواه الترمذي ، وصححه الألباني في ” سنن صحيح الترمذي ” .
“Musibah terus menimpa seorang mukmin atau mukminah dalam dirinya, anaknya, atau hartanya, hingga ia bertemu Allah tanpa dosa.”
(HR. Tirmidzi, shahih Al-Albani)
*3. Menyadari Allah lembut dalam takdir-Nya, dibandingkan banyak orang yang terkena musibah lebih berat.*
> Ibnu Qayyim:
” عبودية العبد لربه في قضاء المصائب الصبر عليها ، ثم الرضا بها وهو أعلى منه ، ثم الشكر عليها وهو أعلى من الرضا ، وهذا إنما يتأتى منه ، إذا تمكن حبه من قلبه ، وعلم حسن اختياره له وبره به ولطفه به وإحسانه إليه بالمصيبة ، وإن كره المصيبة ” انتهى .
“Ibadah seorang hamba kepada Rabbnya dalam menghadapi musibah adalah dengan bersabar atasnya, kemudian dengan ridha terhadapnya yang merupakan tingkatan lebih tinggi daripada sabar, kemudian dengan bersyukur atasnya yang lebih tinggi lagi daripada ridha. Semua ini hanya bisa tercapai jika cinta hamba itu kepada Allah menempati hatinya, dan ia mengetahui kebijakan dan kebaikan pilihan Allah baginya, kelembutan-Nya terhadapnya, serta kebaikan dan karunia-Nya dalam musibah tersebut, meskipun ia tidak menyukai musibah itu.”
(Al-Fawa’id, 1/112-113)
*4. Memperhatikan akibat dari ujian, yaitu meningkatkan dzikir, doa, dan permohonan kepada Allah.*
*5. Menyadari pahala sabar dan ridha.*
> Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar dibalas pahala mereka tanpa hisab.”
(QS. Az-Zumar: 10)
> Nabi ﷺ bersabda:
( إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ) رواه الترمذي وصححه الألباني في ” سنن صحيح الترمذي ” .
“Besar ganjaran sebanding dengan besar cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha; siapa yang marah, baginya kemarahan.”
(HR. Tirmidzi, shahih Al-Albani)
Ridha Allah terhadap hamba lebih besar daripada masuk surga.
> Allah berfirman:
( وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ) التوبة/72
“Allah menjanjikan bagi orang-orang mukmin surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, tempat tinggal yang baik, dan keridhaan Allah lebih besar dari itu; itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Tawbah: 72)
Rasulullah ﷺ bersabda:
( إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ، فَيَقُولُونَ : لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ . فَيَقُولُ : هَلْ رَضِيتُمْ ؟ فَيَقُولُونَ : وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ . فَيَقُولُ : أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ ! فَيَقُولُونَ : يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ ؟ فَيَقُولُ : أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا ) رواه البخاري (6549) ، ومسلم (2829) .
> “Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: ‘Wahai penghuni surga!’ Mereka menjawab: ‘Labbaik, ya Rabb kami, segala kebaikan ada di tangan-Mu.’ Allah bertanya: ‘Apakah kalian ridha?’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana kami tidak ridha, ya Rabb, padahal Engkau telah memberi kami apa yang belum pernah Engkau beri kepada makhluk-Mu?’ Allah berfirman: ‘Tidakkah Aku beri kalian sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Mereka bertanya: ‘Ya Rabb, apa yang lebih baik dari itu?’ Allah berfirman: ‘Aku menghalalkan keridhaan-Ku bagi kalian, maka Aku tidak akan murka kepada kalian setelah itu selamanya.’”
(HR. Bukhari 6549, Muslim 2829)
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam Tariq al-Hijratain (1/417), setelah menyebut beberapa sebab yang menolong hamba untuk ridha terhadap takdir Allah:
” فهذه الأسباب ونحوها تثمر الصبر على البلاء ، فإن قويت أثمرت الرضا والشكر ” انتهى .
> “Sebab-sebab ini dan yang semisalnya menumbuhkan sabar atas musibah, dan jika semakin kuat, akan menghasilkan ridha dan syukur.”
*Kesimpulan:*
Sabar: menahan diri dan tetap taat meski terasa pahit.
Ridha: sabar + puas hati dengan takdir Allah.
Syukur: ridha + bersyukur bahkan atas musibah.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang sabar, ridha, dan bersyukur.
Wallahu a‘lam.



